Senin, 29 Maret 2021

Bumi Dipijak dan Langit Dijunjung

 

Bumi Dipijak dan Langit Dijunjung

 

Semenjak semester ganjil 2021 saya mendapat tugas mengajar di kelas internasional di Pascasarjana IAIN Tulungagung. Kelas ini mahasiswanya berasal dari berbagai negara. Seingat saya mereka berasal dari Palestina, Yordania, Mesir, Arab Saudi, Malaysia, Myanmar, Polandia, Singapura, dan Thailand. 

Mengajar mahasiswa dengan beragam nationality menuntut penyesuaian di sana sini. Bahasa Inggris dengan berbagai aksen adalah penyesuaian pertama yang harus saya lakukan. Bahasa Inggris mereka sangat lancar dengan aksen masing-masing. Yang dari Yordan memiliki aksen yang mirip dengan aksen dari Mesir, tetapi sangat berbeda dengan yang dari Thailand. Yang dari Myanmar memiliki kekhasan yang luar biasa yang sangat berbeda dengan yang lain. Cukup sulit bagi saya untuk membiasakan pendengaran saya dengan aksen Myanmar. Di sisi lain, mereka pun dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan bahasa Inggris saya dengan aksen Indonesia yang bagi mereka pasti terdengar asing.

Penyesuaian kedua adalah terkait cara memanggil satu sama lain. Di Indonesia, terutama di jurusan saya, mahasiswa biasanya memanggil dosen perempuan dengan sebutan Mam yang merupakan kependekan dari Madam dan dipadu dengan nama dosen tersebut. Jadi, saya biasanya dipanggil Mam Nurul. Pola ini merupakan hybrid atau perpaduan antara budaya negara berbahasa Inggris dengan budaya Indonesia. Kembali ke masalah penyesuaian cara memanggil, saya yang sudah terbiasa dipanggil dengan sebutan Mam Nurul oleh mahasiswa, menjadi sedikit tersentak ketika salah satu mahasiswa asing memanggil saya dengan sebutan nama saja, yaitu Nurul, tanpa ‘bu’ maupun ‘mam’.

Ada juga yang memanggil saya dengan cara lain, yaitu dengan menyebut gelar doctor yang bagi saya terdengar kurang lazim.  Ada lagi yang puny cara lain. Pak Bartos, misalnya. Dia mahasiswa dari Polandia. Bahasa sehari-harinya bahasa Inggris. Dia secara konsisten memanggil saya dengan sebutan Profesor. Dia sebenarnya tahu bahwa sebutan Profesor di Indonesia hanyalah untuk mereka yang sudah sampai pada maqom Guru Besar. Dia juga tahu bahwa saya belum sampai pada maqom tersebut, tetapi dia tidak bisa tidak memanggil saya Profesor. Mengapa? Karena di negaranya professor bisa untuk siapapun yang sudah memiliki gelar doctor dan mengajar di perguruan tinggi. Berbekal pemahaman ini, dia senantiasa memanggil saya professor meski dia tahu bahwa itu kurang pas diterapkan di Indonesia. 

                                  Bu Maha Hosni, mahasiswi dari Mesir

Di sisi lain, saya juga harus menyesuaikan dengan cara memanggil mereka. Sebenarnya saya paham betul bahwa ketika kita memutuskan untuk memilih suatu bahasa dalam berkomunikasi, maka mau tidak mau kita harus menyesuaikan dengan kultur dari penutur bahasa tersebut. Bila tidak, potensi adanya kesalahpahaman sangatlah besar. Berdasar ini dan mengingat bahasa Inggris adalah media kami berkomunikasi, maka seyogyanya saya feel free saja memanggil mereka dengan sebutan nama saja tanpa sebutan ‘Bu’ atau ‘Pak’ karena begitulah kultur penutur asli bahasa Inggris. Tetapi mengingat mereka sudah berusia sangat dewasa, sudah menikah, dan sudah menjadi guru di instansi masing-masing, maka sebagai orang Jawa saya tidak kewetu memanggil mereka tanpa sebutan ‘Bu’ atau ‘Pak’. Kepada mereka saya memanggil selayaknya saya memanggil wanita atau laki-laki Indonesia yang sudah menikah, yaitu ‘Pak/Bu’ dan diikuti nama. Merespons akan hal ini, ada beberapa yang kemudian menyesuaikan. Mereka menunjukkan ekspresi gembira dengan sebutan yang saya berikan, dan mereka akhirnya memanggil saya dengan sebutan ‘Bu’. Kelompok ini sepertinya setuju dengan ungkapan ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.’

Akhirnya, kami berkomunikasi dengan membawa kultur kami masing-masing. Perbedaan kultur ini tidak berakibat pada kegagalan komunikasi. Pertemuan dua budaya ini menghasilkan komunikasi yang lancar, yang penuh dengan toleransi dan upaya untuk saling memahami. Titik temu dari dua budaya yang dibarengi dengan upaya saling memahami adalah pertemanan yang manis.

 

 

Malang, 30 Maret 2021/16 Sya’ban 1442

Minggu, 28 Februari 2021

PAK ALI

 

PAK ALI

Pada tanggal 27 Februari 2021 saya mengikuti acara Reuni Mengantar Purnabakti Pak Ali Saukah yang digelar oleh Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Acara yang digelar secara daring ini dihadiri oleh mahasiswa Pak Ali yang telah beliau ajar semenjak awal 1980 sampai dengan sekarang. Acara ini cukup meriah. Ada lebih dari 300 partisipan yang hadir di ruang zoom. Acara diisi dengan sambutan dari Pak Ali, peluncuran buku, dan sambutan kesan-kesan dari alumni dari berbagai daerah: Kalimantan, Sorong, Jember, Malang, dan daerah-daerah lain.

 

Saya dan Pak Ali

Saya tidak mengenal Pak Ali secara dekat. Saya nyaris tidak pernah kontak secara pribadi dengan beliau karena saya tidak pernah menjadi mahasiswa bimbingan beliau baik thesis maupun disertasi. Saya pun juga yakin beliau tidak kenal banyak dengan saya lantaran saya bukanlah mahasiswa dengan prestasi outstanding. Saya mahasiswa dengan prestasi sangat standar hingga sangat wajar bila Pak Ali maupun dosen lain tidak ingat dengan saya.

Terlepas dari ketidakdekatan itu, saya menyimpan kenangan yang sangat dalam akan Pak Ali. Bagi saya, beliau adalah guru yang bisa membawa academic transformation alias transformasi akademik. Ya,…..transformasi akademik itu benar-benar terjadi pada diri saya.

Pak Ali di ruang zoom, dan saya sebagai 'hadirin' tampak di pojok kiri atas.

 

Pak Ali dan Transformasi

Dengan mengikuti matakuliah Inferential Statistics yang Pak Ali ampu ketika saya S2, persepsi saya terhadap statistik sedikit banyak berubah. Pada awalnya, apa yang muncul di benak terkait statistik adalah angka dan rumus yang membuat kepala saya pening. Semenjak remaja saya sangat alergi dengan angka. Bagi saya, deretan angka dan rumus sangatlah tidak menarik. Mencermati pola kalimat, memperhatikan keunikan kosa kata, menemukan pola tindak tutur, dan mempelajari aspek-aspek lain dari bahasa menurut saya jauh lebih menantang dan menarik bila dibanding dengan mengutak atik deretan rumus dan angka. Pak Ali sepertinya paham betul tentang suasana kebatinan saya dan teman-teman terhadap angka. Oleh sebab itu, ketika pertemuan pertama di matakuliah Inferential Statistics, beliau bilang “I know that most of you are allergic with numbers”.  

Selanjutnya adalah pekan-pekan yang berat bagi saya. Konsep-konsep dasar statistik yang bagi teman-teman jurusan matematika mungkin sangat sepele, tetapi tidak demikian bagi saya. Angka tetaplah angka, yaitu suatu lambang yang sangat sulit saya temukan sisi cantiknya. Rumus tetaplah rumus, sesuatu yang bagi saya tidak ada indahnya. Di tengah kegalauan dan kekacauan pikiran, saya selalu mencermati kalimat Pak Ali yang intinya kurang lebih: jangan fokus pada angka dan rumus. Fokuslah pada konsep. Gunakan waktu, tenaga, dan fikiran untuk memahami konsep-konsep, sedangkan hitung-hitungan yang rumit itu biarlah dikerjakan oleh SPSS. Menerapkan rumus tetap perlu, tapi lakukan hanya sekali saja, dan selebihnya biarlah itu urusan SPSS.

Saking seringnya wejangan itu beliau sampaikan, lambat laun bawah sadar saya menerimanya sebagai kebenaran. Fikiran saya sedikit demi sedikit mulai berubah. Saya mulai konsentrasi pada konsep-konsep statistik, dan mengabaikan rumus dan angka. Dengan pemahaman akan konsep-konsep statistik, saya bisa belajar SPSS dengan mudah karena paham alurnya. Pekan-pekan berat itu akhirnya terlampaui, dan saya berhasil mendapat nilai A di matakuliah Inferential Statistics. Orang seperti saya, yang awalnya sangat alergi dengan angka, pada akhirnya mendapat nilai A di matakuliah yang identik dengan angka dan rumus, tentulah sangat bahagia. Nilai A di matakuliah tersebut adalah ‘sesuatu’, begitulah kata anak jaman sekarang.

Selang beberapa saat dari itu dan sampai dengan sekarang, saya ditugasi mengampu matakuliah Research Statistics di kampus saya, di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Tulungagung. Sudah 11 tahun saya mengampu matakuliah tersebut. Pada awalnya, saya merasa ini tugas yang cukup berat, tetapi lambat laun saya bisa menikmatinya. Kepada mahasiswa saya sampaikan seperti apa yang Pak Ali sampaikan, yaitu dalam belajar statistik tidak perlu hafal rumus, tidak perlu pula mengerjakan hitung-hitungan secara manual, tapi pahamilah konsep. Jauh di dalam lubuk hati saya tersimpan keinginan bahwa mahasiswa saya bisa berubah persepsi tentang statistik setelah saya ajar seperti berubahnya saya setelah mengikuti kuliah Pak Ali.

Bagi para ahli statistik dan ahli matematika, apa yang saya peroleh bukanlah capaian yang wow!! Tapi bagi saya, berubahnya cara pandang terhadap statistik adalah sebuah lompatan besar alias a great leap. Menurut saya, hanya figur yang transformatif sajalah yang bisa mengubah keyakinan yang sudah mengakar selama bertahun-tahun. Pak Ali bisa melakukan itu. Pak Ali bisa membelokkan keyakinan saya tentang statistik yang saya yakini sebagai sesuatu yang sangat menyebalkan menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Inilah yang saya maksud dengan transformasi, yaitu perubahan mindset yang akhirnya diikuti perubahan perilaku.

Closing Remarks

Akhirnya, saya sampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak Ali atas transformative learning yang secara natural telah beliau lakukan hingga terjadi transformasi pada diri saya. Semoga saya bisa melakukan transformative learning hingga bisa membuat transformasi pada mahasiswa saya seperti yang Pak Ali lakukan. Terakhir, saya sampaikan selamat memasuki masa purnatugas sebagai ASN, dan selamat memasuki tugas baru di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Ridha Allah SWT semoga senantiasa menyertai Pak Ali di manapun Pak Ali bertugas. Aamiin… 

 

Malang, 28 Februari 2021/17 Rajab 1442H

Rabu, 17 Februari 2021

KETIKA LITERASI SUDAH MENTRADISI.....

 

 

 

KETIKA LITERASI SUDAH MENTRADISI…..

 

    Pengajian online yang diselenggarakan oleh Jaringan Alumni Luar Negeri (Jalar) bekerjasama dengan Pondok Pesantren Raden Sunan Ampel (PPRRSA) Jember tanggal 21 Januari 2021 yang lalu mengkonfirmasi akan pentingnya berliterasi. Pengajian dengan tema Warisan Intelektual Nusantara di Timur Tengah menghadirkan narasumber Ahmad Ginanjar Sya’ban, dosen Pascasarjana UNUSIA, dan founder SAFINA (Santri Filologi Nusantara). Di pengajian online tersebut dibentangkan banyak karya para ulama tanah air yang melegenda sampai sekarang. Dari sekian banyak karya tersebut, saya akan focus pada tiga karya yang terkait dengan ilmu bahasa.

Hâsyiah Tadrij al-Adânî (Morfologi Arab) adalah kitab pertama yang dimunculkan dalam pengajian online ini. Kitab ini ditulis oleh ulama berdarah Banten yang lahir dan besar di Saudi yang bernama Syaikh ´Abd al-Haqq b. Abd al-Hannân al-Bantanî al-Makkî yang wafat tahun 1906. Beliau adalah cucu dari Syaikh Nawawi Banten, seorang ulama asal Banten yang memiliki banyak karya, dan wafat tahun 1897.  Hâsyiah Tadrij al-Adânî (Morfologi Arab) adalah karya fenomenal. Meski kitab ini ditulis di akhir abad 18, tapi kitab ini sampai sekarang masih menjadi rujukan bagi mereka yang belajar morfologi Arab. Kitab ini sampai sekarang ini masih dicetak di berbagai negara semisal Iran, Turki, Arab Saudi, Mesir, Libaonon.



                             Kitab Hâsyiah Tadrij al-Adânî  yang dicetak di berbagai negara

Tashil Nail Al-Amani fi Syarah Awamil al-Jurjani yang ditulis oleh SyaikhAhmadbin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathoni adalah kitab kedua. Kitab ini merupakan syarah atau penjelasan dari kitab Awamil al-Jurjani sebuah kitab tentang ilmu nahwu atau tatabahasa Arab. Tashil Nail Al-Amani fi Syarah Awamil al-Jurjani dianggap syarah yang paling otoritatif terhadap kitab Awamil al-Jurjani. Kitab ini pula sudah dicetak ratusan kali.

Tasywiqul Khillan adalah kitab ketiga yang merupakan legacy dari KH Salim Makhsum, seorang ulama asal Semarang. Kitab ini merupakan hasiyah atau catatan panjang atas kitab Syarah Mukhtashor Jiddan karya Sayyid Ahmad Zayni Dahlan. Syarah Mukhtashor Jiddan adalah penjelasan terhadap kitab Jurumiyah, sebuah kitab tatabahasa Arab yang sangat melegenda yang ditulis oleh Syaikh As-Shanhajy. KH Salim Makhsum menyelesaikan karyanya tahun 1886H/1303H, tetapi karya tersebut naik cetak baru 54 tahun berikutnya, yaitu tahun 1940.

So What?

Tiga ulama yang disebut di atas memiliki multi talenta. Beliau bertiga tidak hanya membahas tentang ilmu-ilmu agama seperti lazimnya ulama, melainkan membahas pula ilmu linguistik, khususnya ilmu sharaf atau morphology dan ilmu nahwu atau ilmu gramatika/tatabahasa. Banyak orang paham tentang ilmu sharaf tetapi tidak banyak orang yang bisa membuat orang lain paham melalui bahasa tulis yang sampai melegenda seperti halnya Syaikh ´Abd al-Haqq b. Abd al-Hannân. Kedalaman ilmu, kemahiran berbahasa, dan kepiawaian menulis yang dimiliki Syaikh adalah kombinasi yang bisa mengantarkan karya beliau sedemikian fenomenal.

Hal senada terjadi pada Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathoni. Beliau menulis syarah atau penjelasan dari kitab  Awamil al-Jurjani, sebuah kitab yang membahas tentang ilmu nahwu atau tatabahasa Arab. Banyak orang yang paham ilmu nahwu, tetapi tidak banyak orang yang bisa memberi penjelasan (tafsir) tentang tulisan tentang ilmu nahwu. Untuk bisa menjelaskan atau menafsirkan dengan gamblang diperlukan pemahaman komprehensif dan mendalam akan kitab yang dibahas, kemampuan berfikir kritis, serta kehandalan dalam merangkai kata dan kalimat. Kepaduan ketiganyalah yang bisa menjadikan syarah alias penjelasan atau tafsir tersebut bisa melegenda sampai sekarang. Sebangun dengan ini, KH Salim Makshum berhasil menulis catatan panjang tentang   Syarah Mukhtashor Jiddan yang notabene adalah penjelasan dari Jurumiyah. Tanpa pemahaman mendalam dan komprehensif terhadap dua kitab tersebut, dan ditopang dengan kemahiran dalam menulis, rasanya mustahil lahir catatan panjang atau review panjang yang berjudul Tasywiqul Khillan. Karya ketiga ulama tersebut membuktikan bahwa ketiganya memiliki pengetahuan linguistik yang sangat dalam dan tradisi literasi yang sangat baik.

Dari sudut pandang literasi, karya ketiga ulama tersebut merupakan bukti kuat betapa kuatnya tradisi literasi beliau bertiga. Dengan mampu menulis karya yang sedemikian fenomenal ketiga ulama tersebut pasti memiliki budaya baca yang sangat bagus. Tulisan yang baik dihasilkan oleh mereka yang memiliki budaya baca yang baik. Mustahil bisa menulis dengan baik tanpa ada proses membaca yang lebih dari cukup. Menulis dan membaca adalah satu paket. Seorang penulis sudah pasti pembaca yang baik, tetapi pembaca yang baik belum tentu penulis (yang baik).

Menulis sudah mentradisi. Menulis menjadi lifestyle. Menulis menjadi bagian dari keseharian. Mungkin begitulah gambaran yang pas bagi ketiga ulama tersebut dalam berliterasi. Menulis sampai menghasilkan tulisan yang diterima publik secara luas dalam kurun waktu sekian lama pastilah butuh perjuangan.

Menulis adalah ketrampilan menuangkan ide dalam bahasa tulis yang menuntut keterpaduan banyak hal. Pemahaman terhadap ide yang ditulis, kekayaan kosa kata, pemahaman akan tatabahasa, kemampuan mengelola dan mengatur ide hingga ide bisa tersaji dengan runtut adalah sebagian aspek yang disyaratkan dalam menulis. Di atas itu semua, ada satu hal yang lebih penting, yaitu kemauan untuk menulis. Ini adalah syarat mutlak, tetapi sayangnya ini tidak bisa dipelajari di sekolah formal. Kemauan menulis muncul biasanya karena kesadaran akan manfaat besar bila kita bisa menulis. Kemauan mengalahkan kemalasan dalam menulis bisa muncul bila kita sadar akan kekuatan bahasa tulis yang bisa menembus ruang dan waktu. Written language crosses time and space. Kesadaran akan manfaat besar dari tulisan bisa melibas berbagai kesulitan-kesulitan teknis semisal keterbatasan kosa kata, minimnya pengetahuan tatabahasa, terbatasnya ketrampilan meruntutkan ide dll yang kesemuanya itu bisa dipelajari sambil berlatih alias learning by doing.

Tiga ulama yang karyanya saya sebutkan di atas menunjukkan bahwa beliau bertiga mampu mengatasi semua kesulitan dalam hal menulis, terutama kesulitan dalam mengalahkan diri sendiri, yaitu enggan dalam menulis. Ketiga ulama tersebut sepertinya sadar betul bahwa ada banyak manfaat yang diperoleh umat bila beliau bertiga berkenan berbagi ilmu dengan bahasa tulis. Kesadaran ini yang mungkin akhirnya membuat beliau bertiga mentradisikan literasi. Hasil dari mentradisinya literasi adalah legacy yang sama-sama bisa kita nikmati.

Bila literasi sudah menjadi tradisi, maka lahirlah legacy. Itulah hasil renungan saya sehabis mengikuti pengajian online ini. Menghadiri pengajian online dengan tema-tema semacam ini adalah salah satu upaya saya untuk mentradisikan literasi dalam kehidupan saya dan keluarga. Saya sadar bahwa menulis bukanlah ketrampilan yang bisa dibangun secara instan. Dia dibangun melalui tradisi, konsistensi, dan kadang ‘provokasi’. Pengajian online yang membentangkan karya literasi seabad lalu yang masih relevan sampai sekarang adalah salah satu bentuk dari ‘provokasi’ untuk me-recharge semangat berliterasi.


Malang, 18 Februari 2021M/6 Rajab 1442H

 

 

Jumat, 05 Februari 2021

RECHARGING

 

RECHARGING


Gadget perlu di-recharge supaya bisa berfungsi secara maksimal. Pikiran kita juga perlu di-recharge supaya ilmu yang sudah mengendap sekian lama bisa dimunculkan dan bisa dimanfaatkan kembali. Rasa cinta kita termasuk cinta kita terhadap Rasul pun perlu di-recharge supaya tetap membara dan semakin membara. Menghadiri pengajian online yang diadakan oleh Jalar (Jaringan Alumni Luar Negeri) bekerjasama dengan Pondok Pesantren Raden Rahmat Sunan Ampel (PPRRSA) Jember tanggal 4 Februari 2021 adalah salah satu upaya saya untuk me-recharge pikiran dan batin saya supaya pikiran bisa kembali segar, dan kecintaan terhadap Rasul semakin membara.

Pengajian online dengan judul “Berkat Shalawat Hidup Sukses Dunia Akhirat” menghadirkan Ustadz Dr. Alfian Iqbal Zahasfan. Ada banyak ilmu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Alfian tentang shalawat kepada Rasul yang notabene adalah ekspresi cinta kepada Rasul. Paparan beliau tentang shalawat meliputi landasan atau dalil yang menegaskan pentingnya kita bershalawat, keuntungan atau keutamaan bershalawat, dan shalawat yang dipadu dengan doa.

Landasan pertama atau dalil atas pentingnya kita bershalawat, yaitu QS Al-Ahzab 56 yang intinya Allah dan para malaikat bershalawat untuk Nabi dan seruan kepada kita untuk bershalawat dan penyampaian salam kepada Nabi dengan penuh rasa hormat. Selain itu, Hadits riwayat At-Tarmidzi no hadits 484 menyebutkan bahwa orang yang paling dekat dengan Nabi kelak di hari kiamat adalah mereka yang banyak bershalawat.



Terkait dengan hadits ini, Ustadz Dr. Alfian menjelaskannya dengan analogi seseorang yang sedang jatuh cinta maka dia akan sering-sering menyebut nama orang yang membuatnya jatuh cinta. Mengingat bershalawat adalah menyebut dan mengagungkan nama Rasul, maka barang siapa yang sering melakukannya bisa dipastikan sangat mencintainya. Bila dia sudah mencintai Rasul, bisa dipastikan pula bahwa selain dia sering menyebut nama Rasul juga menjalankan ajaran-ajaran Rasul. Dari sini, wajar bila Rasul menyampaikan bahwa yang dekat dengan beliau adalah mereka yang sering bershalawat. Shalawat adalah representasi dari cinta.

Selain QS Al-Ahzab 56 dan Hadits riwayat At-Tirmidzi dengan nomer hadits 484 di atas, Ustadz Dr Alfian juga menyebutkan keuntungan bershalawat, minimal ada 4: akan dibalas oleh Allah dengan 10 kali shalawat bila kita bershalawat 1 kali, Allah akan menaikkan kita 10 derajat, Allah akan memberikan 10 kebaikan, dan Allah akan mengampuni 10 dosa kecil kita.

Hal terakhir yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Akfian adalah perpaduan antara shalawat dan doa. Dengan menyitir hadits riwayat At-Tarmidzi nomer 2457, Ustadz menegaskan bahwa Doaku adalah shalawat dan shalawat adalah doaku. Mengapa? Karena di dalam hadits tersebut disebutkan bahwa bila doa kita hanya berisi shalawat, maka hajat kita akan terpenuhi dan dosa kita akan diampuni.

Kyai Ahmad Nafi memberikan tambahan ulasan yang sangat menarik. Menurut beliau, bershalawat seyogyanya tidak hanya ketika butuh saja. Kita bershalawat seyogyanya dilandasi rasa cinta sepenuhnya kepada Rasul. Dalam proses kita mencintai Rasul dengan rutin bershalawat, nanti akan ada moment of truth, yaitu suatu sesi di mana Allah menunjukkan kebenaran-Nya. Di saat kita dalam kondisi terhimpit kesulitan, dan di saat yang sama kita bershalawat, dan saat itulah pertolongan Allah datang. Dan dari sini kita akan semakin yakin dengan fadhilah dari shalawat, dan pada akhirnya kita bisa menjadi perindu shalawat.

Itulah kurang lebih ilmu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Alfian Iqbal dan Kyai Ahmad Nafi. Paparan beliau berdua membuat saya bercermin dan merenungi diri. Seberapa besar cinta saya sama Rasul? Berapa kali saya menunjukkan romantisme saya kepada Rasul dengan bershalawat? Kalaupun bershalawat, seberapa ihlas cinta itu saya sampaikan? Kalaupun bershalawat, seberapa perhitungan matematis alias hitungan untung rugi yang sudah saya kalkulasi?

Paparan singkat beliau berdua seperti pelecut untuk belajar ihlas mencintai Allah dengan cara mencintai kekasih-Nya dengan ihlas seihlas-ihlasnya hingga moment of the truth itu datang sesuai dengan yang Dia programkan. Bukan sesuatu yang mudah, tapi juga bukan sesuatu yang tidak mungkin.

 

Malang, 5 Februari 2021M/21 Jumadil Akhir 1442H

 

Minggu, 31 Januari 2021

COVID-19, MEKANIS, DAN ANGKA PSIKOLOGIS

 

Covid-19, Mekanis, dan Angka Psikologis

 Awalnya heboh, kemudian datar alias biasa-biasa saja, kemudian nyaris tak terdengar, dan akhirnya senyap. Itulah gambaran respons masyarakat terhadap penambahan jumlah kasus positif covid-19. Ketika kasus pertama diumumkan Presiden awal Maret 2020, masyarakat menanggapinya dengan heboh dan penuh rasa horor. Hari-hari selanjutnya kehebohan masih saja terjadi sampai beberapa lama. Lambat laun, kasus positif baik yang di angka biasa maupun yang di angka psikologis ditanggapi dengan datar, tanpa kehebohan, tanpa rasa was-was, apalagi rasa horor.

Apa itu angka psikologis? Sederhananya, angka psikologis adalah angka yang biasanya menjadi target capaian keberhasilan, atau angka obsesi, atau angka impian. Ciri utamanya adalah dia angka bulat, cantik, dan mudah diingat, semisal 100, 1000, 10.000, dll. Kinerja seseorang yang menduduki jabatan tertentu biasanya kita lihat di 100 hari pertama. Bila di 100 hari pertama dia bisa kerja maksimal dan bisa membuat pihak lain terkesan, maka dia akan mudah menjalani hari-hari berikutnya. Sebaliknya, bila di 100 hari pertama dia kurang bisa membuat kesan positif, maka hari-hari berikutnya dia akan mendapatkan banyak catatan dari lingkungan sekitarnya. Jadi, dalam kasus ini 100 adalah angka psikologis baik bagi penilai maupun yang dinilai. Contoh lain, angka 1000 adalah angka impian bagi YouTuber karena 1000 adalah jumlah minimal pemirsa yang harus diraih untuk bisa  mendapatkan honor dari YouTube. Angka 1000 pertama bagi YouTuber secara psikologis sangatlah melegakan. Angka ini memotivasinya untuk bisa mencapai angka 2000, 3000, dan seterusnya. Angka target atau angka obsesi adalah angka yang bisa memberi efek psikologis bagi yang bisa meraihnya, makanya dia disebut angka psikologis.

Angka-angka cantik semisal 1000, 10.000 bila menembus jumlah kasus covid-19 bisa pula bisa menimbulkan dampak psikologis. Berbeda dengan dampak psikologis seperti yang diuraikan di atas, angka-angka psikologis dalam kasus covid-19 bisa menimbulkan keterkejutan, kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan. Hal ini karena angka-angka cantik tersebut bukanlah obsesi, bukan pula target yang ingin diraih, melainkan angka-angka yang sangat dihindari.

Baik dari sisi penambahan kasus harian maupun akumulasi jumlah kasus, kita sudah melampaui beberapa kali angka psikologis. Dalam hal penambahan kasus harian, angka ratusan bertahan cukup lama hingga akhirnya mencapai angka psikologis 1000. Kemudian menyentuh angka 5000-an di bulan November, dan akhirnya tembus 10.000-an ke atas mulai Januari 2021. Begitupun akumulasi kasus. Per 27 Juli 2020 kita menyentuh angka psikologis 100.000, dan angka psikologis 500.000 di bulan November, dan angka 1 juta tersentuh per 26 Januari 2021.

 Ketika kita menyentuh angka psikologis pertama kali, kita tersentak kaget, seolah tidak percaya kita bisa ‘meraihnya’. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin ‘akrab’-nya kita dengan corona, maka angka-angka penambahan kasus baik yang angka biasa maupun angka psikologis ditanggapi secara biasa-biasa saja oleh masyarakat. Angka-angka tersebut seperti sudah kehilangan daya magisnya. Masyarakat tidak lagi terhentak dengan angka cantik 500.000 atau bahkan 1.000.000. Angka-angka tersebut seperti tidak ada bedanya dengan jumlah penonton sepak bola atau jumlah pemudik di musim lebaran.

Mengapa demikian? Ada dua kemungkinan. Pertama, masyarakat sudah jenuh dengan kasus covid-19. Sebelas bulan bukanlah waktu yang singkat untuk kejadian yang tidak mengenakkan semacam pandemi. Durasi yang sedemikian lama membuat kita tidak kuat untuk konsentrasi penuh memikirkan covid-19. Banyaknya urusan yang harus diselesaikan menyebabkan kita me-nomorsekian-kan urusan pandemi. Karena itulah, data-data yang rutin dikeluarkan gugus tugas ditanggapi dengan biasa saja. Data covid bukan lagi sesuatu yang harus diburu.

Kedua, data harian yang rutin muncul selama 11 bulan membuatnya terkesan sangat mekanis. Kesan mekanis inilah yang akhirnya membuat angka-angka cantik memudar daya tariknya, dan angka psikologis kehilangan efek psikologisnya. Karenanya, angka-angka penambahan kasus covid-19 kita anggap sebatas data statistik yang tidak berimplikasi pada banyak hal. Kita sepertinya abai bahwa di balik angka-angka tersebut terdapat banyak pesan terkait dengan besarnya jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia, berapa lama lagi sekolah harus tutup, berapa lama lagi WFO harus dibatasi, berapa lama lagi aktifitas sosial bisa normal seperti dulu, dll.  

Akhirnya, menjadi mekanis karena berhadapan dengan sesuatu yang berulang adalah hal yang natural. Akan tetapi, ke-mekanis-an tersebut seyogyanya tidak membuat kita nirhati dan nirperasaan sehingga kita tetap sadar bahwa di balik angka cantik satu juta kasus tersimpan duka mendalam (meminjam istilah Menteri Kesehatan). Wafatnya sekitar 600 tenaga kesehatan, wafatnya hampir 30 ribu saudara kita, lamanya sekolah harus tutup dan banyaknya PHK adalah titik-titik luka batin yang seyogyanya mebuat kita tidak mekanistis dalam menyikapi data. Semoga satu juta kasus adalah angka cantik dan angka psikologis terakhir yang kita ‘capai’ dalam kasus covid-19. Semoga.

 

Malang, 18 Jumadil Akhir 1442H/1 Februari 2021

Jumat, 29 Januari 2021

SKP dan BKD: Serupa tapi tak Sama

SKP dan BKD: Serupa tetapi tak Sama

 Setiap awal tahun, Pegawai Negeri Sipil, termasuk dosen diwajibkan menyelesaikan SKP(Sasaran Kerja Pegawai) dan Beban Kerja Dosen (BKD) dalam waktu yang hampir bersamaan. 

Setiap kali menyelesaikan SKP dan BKD, saya seperti dihadapkan pada teka teki serupa tapi tak sama, yaitu suatu permainan yang menuntut kita untuk bisa menemukan beberapa perbedaan dari dua gambar yang sangat mirip. Kemiripan dua gambar menyebabkan beberapa perbedaan kecil tidak tampak bila kita tidak benar-benar cermat dan jeli. Ada rasa penasaran setiap saat menemui permainan ini. Ada rasa tertantang bila ada perbedaan yang belum bisa ditemukan, dan ada rasa lega bila misteri tempat perbedaan telah bisa terkuak.

SKP dan BKD menurut saya juga memberikan sensasi itu. Istilah-istilah yang muncul di keduanya sangat mirip atau bahkan sama hingga membuat keduanya seperti sama. Ada pertanyaan yang sering muncul di benak setiap saat mengerjakan keduanya. Apa yang membedakannya? Paling tidak ada empat kesamaan sekaligus perbedaan di keduanya.

Dari konten atau isi, keduanya serupa tapi beda. Keduanya serupa karena sama-sama berisi rencana kerja beserta realisasinya. SKP dan BKD berisi rencana kerja dosen dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Ketiga unsur tersebut wajib ada baik di SKP maupun di BKD.

Meski demikian, keduanya beda dalam hal target ketercapaian rencana. SKP secara eksplisit menyebutkan target yang meliputi waktu capaian, kuantitas capaian, dan kualitas capaian. Waktu capaian bisa satu semester, satu tahun, atau lebih dari itu. Target kuantitas bisa jumlah SKS, jumlah semester, jumlah mahasiswa, jumlah publikasi, jumlah kegiatan, dll. Target kualitas maksudnya ketuntasan pelaksanaan suatu rencana. BKD tidak mencantumkan target layaknya SKP. Di Rencana BKD hanya disebutkan besarnya SKS dari masing-masing kegiatan.

 Titik beda lain adalah tentang realisasi dari rencana kegiatan. Di SKP ketercapaian target dari masing-masing kegiatan ditulis dalam bentuk angka. Angka realisasi ini bisa sama persis, bisa di bawah, atau di atas angka yang ditargetkan. Sebaliknya, ketercapaian suatu kegiatan di BKD ditandai dengan rekomendasi selesai untuk kegiatan yang bisa tuntas dalam satu semester, lanjutkan untuk aktifitas yang belum bisa selesai, dan beban lebih bila kegiatan sudah tuntas tetapi jumlah SKS dalam semester tersebut sudah terpenuhi.

          Dari sisi waktu, SKP dan BKD berbeda. SKP dirancang untuk memantau kinerja selama satu tahun, sedangkan BKD dibuat untuk satu semester. Jadi, dalam satu tahun seorang dosen manghasilkan dua BKD dan satu SKP.

          Terkait dengan pembobotan, SKP dan BKD serupa tetapi tak sama. Keduanya serupa karena semua aktifitas di SKP dan BKD sama-sama diberi nilai atau grade dalam bentuk angka. Di SKP, aktifitas tri dharma perguruan tinggi dinilai dengan satuan angka kredit (AK). Di BKD, aktifitas dosen dinilai dengan SKS.  

          Dari sisi penilai, SKP dan BKD serupa tetapi berbeda. SKP diperiksa dan dinilai oleh atasan langsung dan atasan pejabat penilai. SKP saya diperiksa dan dinilai oleh Ketua Jurusan (Kajur) dan atasan dari Kajur (Dekan). Sedangkan rencana kerja di BKD diperiksa oleh Ketua Jurusan, dan laporan BKD diperiksa oleh asesor yang ditunjuk dan disahkan oleh Rektor.

          Ya,….itulah beberapa poin kemiripan dan perbedaan yang ada di SKP dan BKD. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu dicatat ketika menyelesaikan keduanya. Pertama, keduanya mengisyaratkan supaya kita terbiasa bertindak berdasar rencana, tidak dadakan. Rencana kegiatan yang ditulis dengan rinci menjadi guideline dalam melaksanakan kegiatan di lapangan. Selain itu, rencana yang tertulis ibarat janji yang diikrarkan sehingga bisa menjadi pengingat bagi yang membuatnya untuk senantiasa konsisten menjalankan apa yang sudah diikrarkan. Menulis apa yang akan dikerjakan dan mengerjakan apa yang sudah ditulis adalah pelajaran penting dari SKP dan BKD.

          Kedua, mengerjakan SKP dan BKD bukanlah pekerjaan yang memerlukan kajian teori yang sampai mengernyitkan dahi, bukan pula pekerjaan yang menuntut penerapan rumus-rumus statistik yang njlimet. Meski demikian, keduanya memerlukan konsentrasi penuh. Keduanya tidak bisa disambi-sambi. Menyeleraskan antara jenis kegiatan, nilai AK, jumlah SKS, nomor surat penugasan, bukti fisik kegiatan, plus ketrampilan mengoperasikan program excel memerlukan waktu dan tenaga khusus serta konsentrasi penuh.

          Ketiga, file yang rapi akan sangat membantu. Menyelesaikan keduanya memerlukan banyak dokumen. Nomor SK, nama matakuliah, jumlah mahasiswa, nama kegiatan, sertifikat, dll adalah data-data yang diperlukan untuk menyelesaikan SKP dan BKD. Bila dokumen yang berisi data-data yang dibutuhkan sudah di tangan, mengerjakan SKP dan BKD tentunya akan sangat ringan. Keduanya bisa terselesaikan dalam sekali duduk. Belajar rapi dan tertib dalam mengumpulkan file alias good at filing adalah pelajaran berharga lain yang bisa kita petik dari SKP dan BKD.

          Keempat, SKP dan BKD pada dasarnya berisi rencana menjalankan kegiatan tri dharma perguruan tinggi beserta realisasinya. Tujuan utama dari keduanya adalah sama, yaitu untuk memantau kinerja dosen. Karena itulah, saya berharap ke depan keduanya diintegrasikan. Rencana per semester masuk ke dalam rencana tahunan sehingga semua kegiatan dalam satu tahun bisa direncanakan dari awal.

          Terakhir, mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa SKP dan BKD yang notabene adalah bread and butter case alias permasalahan sehari-hari perlu ditulis? Bagi saya, menulis adalah aktifitas berbagi ide dengan sesama yang bisa membuat pikiran jadi lepas. Ide, sesederhana apapun dia, bila tidak tertuang dalam tulisan, dia akan menggelayut terus di pikiran, dan ini sangat mengganggu. Sebaliknya, bila ide bisa tertuang dalam rangkaian kalimat dan paragraf akan bisa membuat pikiran jadi ringan dan beban seolah hilang. Itulah yang terjadi pada SKB dan BKD di mata saya. Keduanya memang kegiatan rutin yang saking rutinnya keduanya terlihat sangat biasa. Dari dua hal yang terlihat sangat biasa tersebut, saya mendapatkan titik yang menarik, yaitu kemiripan dan perbedaan keduanya. Andai ide tersebut saya biarkan mengendap di kepala saya, dia akan menjadi beban saya. Oleh sebab itulah, akhirnya jadilah tulisan sederhana ini. Sesederhana apapun tulisan ini, tapi dia sudah membuat saya lepas dan relieved. Terimakasih sudah membaca tulisan ringan dan sederhana namun bisa membuat saya lega ini😊💖.

 

Malang, 29 Januari 2021M/15 Jumadil Akhir 1442H 

Sabtu, 16 Januari 2021

SCORING AND GRADING

 

Scoring and Grading

Scoring yang dalam bahasa Indonesia berarti koreksi adalah tahapan di mana seorang guru/dosen mengoreksi atau memeriksa pekerjaan peserta ujian (baca: murid/mahasiswa). Dengan berdasar pada kunci jawaban yang telah disiapkan sebelumnya, guru/dosen mencermati jawaban murid/mahasiswa. Sesuai dan tidaknya jawaban peserta ujian dengan kunci jawaban akan menentukan besaran angka atau simbol apapun yang akan guru/dosen tulis di lembar jawaban. Salah benarnya jawaban untuk soal pilihan ganda biasanya ditandai dengan angka karena memang jenis soal ini memungkinkan untuk itu. Sebaliknya, salah benarnya jawaban untuk soal esai bisa ditandai dengan simbol yang lebih bervariasi. Ada yang suka memberi simbol dua bintang untuk jawaban sempurna dan satu bintang untuk jawaban setengah sempurna. Ada pula yang menandai dengan wajah senyum untuk jawaban sempurna dan wajah cemberut untuk jawaban yang kurang diharapkan. Pendek kata, scoring adalah proses pengolahan jawaban ujian yang banyak berdasarkan pada kunci jawaban. Jadi, menurut saya ini adalah tahapan yang mudah bagi penguji karena templat sudah ada. Bila sesuai templat berarti bagus, bila menyimpang dari templat berarti kurang bagus.

Nah, bagaimana dengan grading alias penilaian? Ini adalah tahapan di mana guru/dosen memberikan nilai akhir kepada murid/mahasiswa. Ada banyak item yang dilibatkan dalam tahap ini, salah satunya adalah hasil scoring. Angka atau simbol-simbol yang dihasilkan di tahap scoring dipadu dengan angka dan simbul-simbul lain yang diperoleh dari aspek lain, semisal kehadiran, keaktifan, kemampuan kerjasama, dll. Perpaduan dari aspek-aspek itulah yang akhirnya mewujud menjadi nilai akhir atau grade.

Dari sinilah saya anggap bahwa grading lebih sulit bila dibanding dengan scoring. Scoring adalah pekerjaan yang semata-mata mengandalkan pikiran karena rujukannya jelas dan terukur, yaitu kunci jawaban. Ukuran benar dan salah sudah tergambar sangat jelas di kunci jawaban. Sebaliknya, grading mengharuskan guru/dosen memasukkan aspek lain yaitu attitude atau sikap murid/mahasiswa. Di tahap ini kehadiran dan keaktifan mahasiswa/murid diperhitungkan. Sikap mereka juga jadi bahan pertimbangan. Tidak jarang, saya mendapatkan angka hasil scoring lumayan tinggi, tetapi kehadiran dan keaktifan sangat minimal. Sering juga saya mendapatkan nilai dari scoring sangat membahagiakan, tetapi ada beberapa catatan attitude yang kurang menyenangkan. Bila data scoring dan aspek lain tidak berbanding lurus seperti itu, maka proses timbang sana timbang sini terjadi. Terjadilah dialog panjang antara pikiran dan perasaan. Pikiran mengakui bahwa si A excellent yang dibuktikan dengan angka scoring, tetapi perasaan kurang sreg mengingat beberapa catatan perilaku yang kurang mengenakkan. Tidak jarang, subjektifitas mengemuka dan bisa sedikit memudarkan kilau angka scoring. Ketidaksinkronan antara pikiran dan perasaan inilah yang terkadang bagi saya cukup menyiksa. Inilah yang saya maksud dengan menilai lebih rumit daripada mengoreksi karena melibatkan pikiran dan emosi. Grading is emotionally more challenging than scoring.

Tidak jarang pula saya mendapatkan data yang berbanding lurus, yaitu tinggi di angka scoring, dan tinggi pula di aspek-aspek yang lain.  Angka maksimal di kertas ujian dibarengi dengan kehadiran maksimal, dipadu dengan keaktifan yang bertanggung jawab di kelas, ditambah dengan kemampuan membangun human relation yang mengesankan membuat semuanya terasa mudah. Bisa pula minimnya angka di lembar jawaban senada dengan minimnya jumlah kehadiran, tiadanya keaktifan di kelas, dan hal-hal kurang mengenakkan lainnya. Pada kasus seperti ini, mengoreksi dan menilai sama-sama terasa mudah. Nilai maksimal (A- atau A) bisa dengan mudah dikeluarkan untuk kasus pertama, dan nilai minimal untuk kasus kedua. Dalam kasus apapun, bila pikiran dan perasaan klop, beban memang terasa sangat ringan.

Keadilan harus ditegakkan. Inilah prinsip yang harus dipegang teguh oleh siapapun, termasuk saya sebagai dosen. Tidak dibenarkan bila ketidaknyamanan karena catatan perilaku murid/mahasiswa yang kurang mengenakkan bisa menghilangkan haknya untuk mendapatkan nilai maksimal. Tetapi, tidak dibenarkan pula bila maksimalnya angka di kertas ujian membuat murid/mahasiswa abai terhadap aspek-aspek lain di luar nilai ujian. Murid/mahasiswa memiliki hak untuk mendapatkan nilai sesuai dengan usahanya di satu sisi, sementara di sisi lain mereka juga punya hak untuk mendapatkan pencerahan tentang nilai-nilai/values.  

 

Malang, 2 Jumadil Akhir 1442H/16 Januari 2021


Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...