Tampilkan postingan dengan label Muhammadiyah/'Aisyiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhammadiyah/'Aisyiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juni 2023

Pengajian yang Menggembirakan, Mendekatkan, Mengingatkan, dan Mencerahkan

 

Pengajian yang Menggembirakan, Mendekatkan, Mengingatkan, dan Mencerahkan

 

        Salah satu agenda rutin Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang adalah pengajian dua bulanan bagi warga persyarikatan dengan PCM sebagai tuan rumah. Kegiatan rutin ini selain untuk memberi siraman ruhani bagi warga persyarikatan juga media untuk konsolidasi organisasi. Tanggal 11 Juni 2023 agenda rutin tersebut dilaksanakan di Gedung Serbaguna Karangkates dengan PCM Sumberpucung sebagai tuan rumah. Ada sederet agenda penting yang digelar, tiga diantaranya adalah pengukuhan Majelis dan Lembaga PDM periode 2022-2027, Halal Bihalal, dan Pengajian yang disampaikan oleh dr. Agus Taufiqurrahman, Sp. S., M. Kes dari PP Muhammadiyah.

Flyer untuk sosialisasi acara

        Sebagai gong alias acara pamungkas, pengajian yang dibawakan dr Agus Taufiqurrahman ini terasa menggembirakan, mendekatkan, mengingatkan, dan mencerahkan. Menggembirakan, karena dr Agus berceramah sembari menjadi entertainer. Dengan kemampuan menyanyi dan ditopang suara merdu, dr Agus tidak canggung menyanyi Mars ‘Aisyiyah, sebuah lagu yang identik dengan kaum ibu. Dengan luwes pula ia menirukan muadzin yang sedang adzan dengan nada tinggi, dan dengan nyaris sempurna dia bisa menirukan gaya khas Syeikh Sudais, imam masjidil Haram yang sangat popular, dalam membaca surah Al-Fatihah. Dengan kemampuannya berolah vocal tersebut menjadikan pengajian yang dibawakannya terasa cair, tidak monoton, tidak mengantukkan, melainkan menggembirakan. Hadirin jadi bersemangat mengikuti hingga akhir.

dr. Agus Taufiqurrahman, Sp. S., M. Kes

        Selain menggembirakan, pengajian oleh dr Agus juga terasa mendekatkan. Nyaris tanpa jarak. Itulah deskripsi yang pas untuk menggambarkan bagaimana dr Agus berinteraksi dengan audience. Warga Muhammadiyah Kabupaten Malang cukup majemuk dalam banyak hal, termasuk pendidikan dan profesi. Kemajemukan ini didekati oleh dr Agus dengan bahasa yang bisa diterima semua kalangan. Kombinasi antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa kelas menengah dia gunakan untuk menyampaikan dakwah. Dengan cara berbahasa yang demikian, audience dari kalangan manapun merasa terakomodir. Bahasa menjadi jembatan pendekat antara penceramah dengan audience. Cara dr Agus berbahasa yang sejalur dengan bahasa audience menjadikannya dekat audience. Penceramah dan audience terasa menyatu.

        Ceramah dr Agus juga bersifat mengingatkan. Apa yang disampaikan dr Agus bukan sekedar jokes atau guyonan yang bisa membuat audience tergelak panjang layaknya penonton lawak. Di balik kalimat-kalimat ringan berbahasa campuran Jawa Indonesia terdapat pesan yang sarat pengingat. Dia mengingatkan bahwa orang Islam, khususnya warga Muhammadiyah seyogyanya: (1) suka mengaji alias suka baca Al-Qur’an; (2) suka silaturahmi; (3) suka bersedekah; dan (4) suka beramal shaleh. Meski keempat kebiasaan mulia tersebut sudah sangat sering kita dengar, tetapi belum tentu keempatnya sudah menjadi gaya hidup kita. Perlu effort, perlu pembiasaan dan konsistensi untuk menjadikannya sebagai keseharian kita. Karenanya, pengingat seperti yang disampaikan dr Agus terasa sangat perlu.

Kedekatan penceramah dengan sebagian audience

        Tidak beda dengan jasmani yang selalu butuh nutrisi, ruhani kita juga perlu nutrisi.  Nutrisi yang berkualitas bisa membuat jasmani sehat dan kuat. Ceramah dengan gaya santai, dengan pilihan diksi sederhana nan mudah dipahami, namun sarat pengingat sangatlah mencerahkan. Ceramah seperti ini bisa membuat audience sadar akan apa yang harus dilakukan tanpa merasa digurui. Mereka bisa sadar akan kewajiban tanpa diingatkan dan tanpa ancaman. Mereka tergerak untuk melakukan kebaikan tanpa imbalan.

Kami hadir ke sini dalam rangka menutrisi ruhani.

        Hadir di pengajian adalah upaya kita untuk menutrisi ruhani kita. Supaya mendapatkan hasil yang maksimal, maka apa yang disampaikan di dalam pengajian haruslah sesuai dengan kebutuhan nutrisi ruhani kita. Apa yang disampaikan dr Agus dalam pengajian adalah contoh dari pengajian yang dibutuhkan oleh sebagian besar audience. Pesan-pesan kebaikan akan terasa layaknya nutrisi bila disampaikan dengan luwes dengan bahasa yang bisa diterima semua kalangan.

Malang, 30 Juni 2023 M/12 Dzulhijjah 1444 H


Jumat, 09 Juni 2023

MAJELIS TAKLIM, SAYA, BIOSKOP, DAN BUYA HAMKA

 


MAJELIS TAKLIM, SAYA, BIOSKOP, DAN BUYA HAMKA

 

        Berbicara di depan mahasiswa tentang linguistik, riset dan statistik, atau tentang ketrampilan berbahasa adalah hal lumrah bagi saya karena memang itu pekerjaan saya. Orang Jawa menyebutnya sega jangan, sedangkan orang Inggris menyebutnya bread and butter case. Menjadi hal yang tidaK biasa ketika berbicara di depan public harus saya lakukan di gedung bioskop dengan topik tentang sebuah film. Inilah yang saya alami beberapa saat lalu.

Belajar kebaikan melalui nonton bareng (Nobar) ‘Buya Hamka’ 

Saya diundang oleh empat majelis taklim yang ada di Malang: Majelis Taklim Perindu Surga, Majelis Taklim Al Hidayah Araya, Majelis Dhuha Ummida, dan Majelis Dhuha Azzahrah untuk memberi review atau catatan tentang Film Buya Hamka Volume 1 pada tanggal 31 Mei 2023. Saya senang dengan undangan ini karena: pertama, kebesaran nama Buya Hamka. Ketokohan Buya dan multitalenta yang dimilikinya menyebabkan pembicaraan tentangnya terasa mencerahkan dan menyejukkan. Yang lebih penting dari itu adalah saya ingin kecipratan kebaikan dan ketokohan Buya. Saya ingin dapat berkah dari kebaikan Buya. Ngalap berkah. Mungkin itulah istilah yang pas.  Alasan kedua, menurut saya, ini adalah kesempatan untuk bisa membuka jaringan kerjasama antara ‘Aisyiyah—organisasi di mana saya selama ini aktif—dengan komunitas lain. Ketiga, undangan ini bisa untuk refreshing. Membicarakan topik yang sama secara berulang dalam kurun yang sangat lama seperti yang selama ini saya lakukan di kampus kadang membuat saya jenuh. Pembicaraan tentang film yang tentunya sangat berbeda dengan topik keseharian saya di kampus ibarat halaman baru dengan rumput dan bebatuan yang serba baru. Hal ini tentunya sangat menyegarkan dan menyehatkan hati dan pikiran.

Dengan tiga alasan tersebut, saya dengan ringan menuju venue, yaitu MOPIC Cinemas di Jl Soekarno Hatta Malang. Sesampainya di lokasi, saya diberitahu Panitia bahwa saya dengan jamaah Majelis Taklim Perindu Surga dan Majelis Dhuha Ummida di Studio 2, sedangkan Ibu-ibu dari Majelis Taklim Al Hidayah Araya dan Majelis Dhuha Azzahrah dengan Ustdazah Maya Novita, Lc. MA sebagai reviewer di Studio 1. Dengan pembagian ini, saya segera menuju Studio 2 dengan sekitar 100 orang ibu yang membuat seluruh kursi di tempat tersebut fully seated.

Acara diawali dengan nonton bareng (nobar) film Buya Hamka Volume 1. Bagi saya ini adalah kali kedua saya menontonnya. Sebelumnya saya sudah menonton dengan keluarga. Pemutaran film berlangsung sekitar 2 jam, dan setelah itu saya diberi kesempatan untuk memberi review.

Begitu berdiri di depan, saya merasa siap sekaligus grogi. Saya siap, karena film ini sudah saya tonton sebelumnya dan review tentang film tersebut sudah saya tulis dan unggah di blog. Saya grogi karena saya ada di komunitas baru, yang jamaahnya belum ada satupun yang saya kenal. Saya grogi juga karena film bukanlah bidang saya. Pengetahuan saya akan film sangat terbatas. Review yang saya siapkan cenderung pada impresi saya terhadap tokoh utama dalam film tersebut (Buya Hamka), dan sangat sedikit yang terkait dengan film-nya.


Perasaan grogi tersebut saya atasi dengan menarik nafas panjang beberapa kali dan mengucapkan doa rabbishrahli shadri wayassirli amri wahlul uqdatan millisaani yaf qahu qaulii…. Alhamdulillah, perasaan grogi teratasi, dan saya perkenalkan diri saya dan ‘Aisyiyah. Meski saya yakin para hadirin sudah cukup familiar dengan ‘Aisyiyah, tapi saya merasa wajib mengenalkannya sebagai upaya untuk membuka pintu kolaborasi.


Gedung film sebagai titik awal kolaborasi

Begitu kalimat-kalimat ta’aruf selesai, saya mulai memberi catatan tentang film. Catatan terbagi dua: tentang Buya Hamka dan tentang filmnya. Terkait Buya Hamka, saya membuat highlight bahwa beliau adalah tokoh multitalenta dengan prestasi di atas rata-rata. Sebagai sastrawan, beliau outstanding. Dengan fasilitas mesin ketik manual dan ketrampilan mengetik ‘11’ jari, beliau bisa menghasilkan dua masterpieces: ‘Di bawah Lindungan Ka’bah’ dan ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wick’. Sebagai wartawan, beliau bisa menghasilkan tulisan laporan yang bisa membuat kaum penjajah kalang kabut. Sebagai leader, beliau punya jiwa leadership yang mumpuni, terbukti dengan kemampuannya memimpin Muhammadiyah Sumatra Timur yang bisa berkembang dan memiliki banyak cabang. Kepemimpinannya juga teruji ketika memimpin harian Pedoman Masyarakat, sebuah harian yang masih baru yang dengan kepemimpinan beliau bisa menembus oplah 5000 eksemplar per hari. Sebagai ulama, ke-ulama-annya teruji dengan kemampuannya menyebarkan ajaran Islam dengan berbagai cara, baik lisan maupun tertulis.


“Buya Hamka adalah tokoh multitalenta”

Terkait dengan posisinya sebagai ulama, ada satu hal yang saya lupa sampaikan di forum, yaitu keteguhan Buya dalam menjaga tegak lurusnya akidah. Dalam satu adegan Buya menolak perintah Gubernur Jepang untuk membungkukkan badan ke arah timur laut sebagai penghormatan kepada Kaisar Jepang. Buya menolaknya karena beliau tidak mau mengkontaminasi kemurnian akidah. Beliau anggap itu adalah sirik. Poin ini sebenarnya sangat relevan bila saya highlight di depan jamaah majelis taklim. Sangat disayangkan mengapa saya lupa pada waktu itu….

Selain itu, saya juga menggarisbawahi pribadi Buya sebagai suami dan ayah. Sebagai suami beliau sangat menghargai dan mencintai istri. Dan sebagai ayah, beliau adalah ayah yang sangat dekat dengan buah hatinya. Kepada mereka, Buya bersikap sangat lembut meskipun ketika kecil beliau mendapat perlakuan kasar dari Ayahanda.

Dari sisi film, saya sampaikan bahwa film biopic (film sejarah) ini menggunakan alur cerita yang tidak selazimnya cerita sejarah yang biasanya selalu kronologis. Kisah hidup Buya tidak dimulai dengan kelahiran dan masa kecilnya layaknya cerita sejarah lainnya. Film ini dimulai dengan kehidupan Buya ketika sudah menikah. Ini menjadikan film ini tidak membuat penonton ngantuk.

Hal lain yang saya beri catatan adalah film ini mengangkat Buya sebagai pribadi yang utuh, lengkap dengan sisi positif dan negatifnya. Pengakuan Buya bahwa beliau sudah terbujuk dengan janji-jani Nippon yang berujung pada penonaktifannya dari jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur membuktikan bahwa Buya adalah manusia biasa yang tidak luput dari salah. Kepiawaian sutradara dalam menyandingkan prestasi Buya dengan pengakuan akan bujukan Nippon menjadikan film ini sarat akan penghormatan yang tanpa pengkultusan. Buya sangat dijunjung tinggi, tapi tidak dikultuskan.

Catatan lain dari saya adalah pemakaian Bahasa Minang yang sangat dominan. Sebagai penyuka linguistik, saya sampaikan bahwa saya sangat suka karena bisa memperkenalkan bahas local.

Akhirnya, saya sampaikan bahwa film yang mengupas habis akan prestasi dan kepribadian Buya secara utuh ini merupakan tontonan yang sarat akan tuntunan. Banyak hal yang bisa dipelajari dari film ini hingga rasanya tidak sabar untuk menanti kelanjutannya.

 

*************

      Puaskah saya dengan apa yang saya sampaikan? Jujur, saya kurang puas. Setahu saya, me-review adalah membaca kritis. Memberi catatan dengan kajian kritis adalah ciri khas dari review. Apa yang saya sampaikan dalam forum ini masih jauh dari kajian kritis. Apa yang saya sampaikan sebatas kesan saya terhadap apa yang disajikan di film berdasarkan common sense.

        Meski saya kurang puas dengan performa saya, saya cukup senang dengan kesempatan ini karena berbicara di depan public tentang film di Gedung bioskop telah sejenak mengeluarkan saya dari zona nyaman saya. Saya jadi tersadar bahwa topik linguistic dengan tokoh-tokohnya semisal Haliday, Norman Fairclough, Van Dijk, dan mimbar kampus bukanlah satu-satunya zona nyaman. Di luar kampus ternyata ada zona yang tidak kalah nyaman untuk dinikmati, yaitu film, gedung bioskop, dan tokoh agamis seperti Buya Hamka. 

An alternative comfort zone

Untuk itu, dengan ini saya sampaikan terimakasih kepada Ibu-ibu jamaah majelis taklim yang telah mengundang saya. Undangan itulah yang menyadarkan saya bahwa kenyamanan hati dan pikiran bisa didapat dari berbagai tempat, termasuk tempat hiburan semisal Gedung bioskop. Semoga Allah senantiasa meridhai gerak kita, termasuk dakwah di Gedung bioskop.

 

Commuter Line Kereta Penataran menuju Malang, 9 Juni 2023

 


Selasa, 06 Juni 2023

MILAD

 



MILAD

 

                Tahun ini, tepatnya 19 Mei 2023 ‘Aisyiyah merayakan hari jadinya (milad) yang ke 106 dengan tema  Mencerahkan Perempuan, Mencerdaskan Bangsa. Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten memperingatinya pada tanggal 28 Mei 2023 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Universitas Muhammadiyah Malang, dan saya bertugas di Sie Acara.

        Acara ini dihadiri perwakilan dari Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA), amal usaha ‘Aisyiyah, sesepuh 'Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), dan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur. Jumlah hadirin secara keseluruhan sekitar 300 orang. Pra acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan menampilkan seni tari oleh murid-murid TK ABA 5 Dau dan SD Muhamammadiyah 8 Dau. Sedangkan putri-putri SMP ABSM Lawang menampilkan parade semaphore.

Sebagian panitia dengan sebagian hadirin sebagai background 

        Selama pra acara tersebut kami mendapat kabar bahwa Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, M. Pd yang sedianya memberi sambutan tidak bisa hadir, dan diwakilkan kepada Bapak Dr. Muhammad Nur Hakim, M. Ag, Asisten Rektor bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Mendegar kabar ini, Ibu Titin selaku ketua panitia segera mengontak beliau untuk mengkonfirmasi kehadiran. Sedikit ketegangan terjadi diantara kami ketika kami mengetahui bahwa Bapak Nur Hakim bisa hadir paling cepat 30 menit lagi. Kami sedikit panik karena ruangan sudah penuh tamu undangan, sedangkan membuka acara tanpa kehadiran ‘tuan rumah’ rasanya tidak mungkin. Membiarkan sekian banyak orang menunggu selama 30 menit tentunya ‘sesuatu’ dan ini tidak bagus.

        Kondisi ini akhirnya membuat pra acara diperpanjang. Inilah yang akhirnya parade semaphore yang sedianya tampil siang hari akhirnya tampil di pagi hari. Putri-putri ABSM yang cantik-cantik itu tampil memikat dengan bendera semaphore-nya, dan penampilan mereka bisa mengundang tepuk tangan panjang dari para hadirin. Masa tunggu berikutnya diisi dengan pemutaran video profile SMP BASM. Selanjutnya diputarlah video berisi ucapan selamat milad dari para tokoh Muhammadiyah. Ketua PDM dan PDA Kabupaten Malang, perwakilan dari LazisMu, dan beberapa akademisi adalah seingat saya yang muncul dengan ucapan selamatnya.


  Salah satu ucapan Selamat Milad

        Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya acara dimulai pukul 09.00 meski perwkilan Rektor UMM belum hadir. Pembukaan, pembacaan ayat suci, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berjalan smooth, lancar dan nyaris tanpa kendala. Meski di rundown tertulis sambutan Rektor UMM sebelum pidato milad, tetapi dengan pertimbangan efisiensi dan kondusifitas suasana, maka pidato milad oleh Ibu Mursyidah selaku Ketua PDA Kabupaten Malang kami awalkan sembari menunggu yang ditunggu.

        Dalam pidato milad disebutkan bahwa milad tahun 2023 yang bertema Kepemimpinan Perempuan Mencerahkan Peradaban Bangsa bermaksud untuk meneguhkan dan mendorong kepemimpinan perempuan untuk membangun peradaban bangsa secara kolektif. Selain itu, milad tahun ini diharapkan bisa meningkatkan semangat ta’awun merawat persatuan dan menebar kebaikan bagi sesama.

    Pemberian bingkisan kepada sesepuh 'Aisyiyah dilakukan setelah pidato milad. Ada 3 orang sesepuh yang tahun ini diundang, yaitu: Ibu Siti Chotijah, Ibu Muyasaroh, dan Ibu Masruhatin. Mengundang sesepuh dalam acara milad sudah mentradisi di PDA Kabupaten Malang sebagai upaya penghormatan atas perjuangan mereka dalam ber-'Aisyiyah.


Pemberian tali asih kepada sesepuh--nomer empat, lima, enam--dari kiri


        Dalam sambutan sebagai wakil Rektor UMM, Bapak Muhammad Nur Hakim menyampaikan tentang sosok intelektual ‘Aisyiyah, salah satunya Ibu Siti Bariyah yang merupakan Ketua ‘Aisyiyah pertama. Selain sebagai ketua, Ibu Siti Bariyah juga terkenal dengan kecerdasannya yang terbukti salah satunya di tulisannya yang berjudul Tafsir Maksoed Moehammadijah yang dimuat di Mohammadijah edisi no.9 pada tanggal 4 september 1923.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Sekretari PDM Kabupaten Malang Dr Ridwan Joharmawan. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pentingnya peran ‘Aisyiyah dalam organisasi Muhammadiyah. Selain itu, beliau juga menyampaikan cerita bagaimana Ibunda yang aktivis ‘Aisyiyah menanamkan ideologi Muhammadiyah sewaktu beliau masih kecil yang kesemuanya membekas dan berdampak sampai sekarang.

Acara seremonial milad ditutup dengan doa oleh Wakil Ketua PDA Kabupaten Malang, Ibu Supraptiningsih. Seminar dengan tema Mengatasi Kecanduan Internet dengan narasumber dr. Zuhrotun Ulya, Sp.Kj, M.H. adalah acara selanjutnya. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh hadirin. Hadirin dengan patuh mengikuti arahan narasumber untuk melakukan self-assessment. Sesi tanya jawab juga sanagt diminati oleh audience. Beberapa hadirin menyampaikan kasus kecanduan internet di lingkungan mereka, dan direspons dengan sangat bagus oleh narsum hingga hadirin bisa terpuaskan dengan jawabannya.


Seminar Kesehatan Jiwa

Sesi seminar berakhir sekitar pukul 12.00, dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian resepsi milad ke 106 ‘Aisyiyah.


 Sebagian anggota PCA dan PDA

So what?

      Terselenggaranya resepsi milad dengan menghadirkan perwkilan dari PCA, pengurus PDA, PDM, PWA, sesepuh, dan AUA, menurut saya seperti me-recharge baterai laptop atau HP. Milad seperti recharging karena milad menyadarkan bahwa ‘Aisyiyah adalah organisasi besar. Anggotanya banyak, menyebar di berbagai penjuru. Kesadaran ini bisa menumbuhkan semangat yang kadang nglokro ketika kita mendapati sangat sedikit kader yang bisa digerakkan untuk menjalankan program kerja. Milad juga menyadarkan bahwa 'Aisyiyah adalah organisasi senior. 106 tahun alias satu abad lebih bukanlah waktu yang singkat. Hanya organisasi yang teruji dalam banyak aspek yang bisa bertahan dan eksis dalam kurun sedemikian panjang. Mengingat akan hal ini bisa membangkitkan semangat dalam menjalankan tugas-tugas organisasi.  

Milad layaknya ngisi baterai karena di acara ini kita bisa dapat banyak ilmu. Ilmu sejarah bisa didapat dari Bapak Muhammad Nur Hakim yang berbicara banyak tentang tokoh-tokoh intelektual ‘Aisyiyah. Ilmu strategi penguatan ideologi didapat dari Bapak Ridwan Joharmawan, sekretaris PDM. Ilmu Kesehatan jiwa didapat dari seminar tentang kecanduan internet.

Milad layaknya nge-charge relasi antara PDA dengan PCA, dan antar PCA. Jauhnya jarak antara PCA satu dengan lainnya menjadi salah satu kendala dalam menjalankan roda organisasi. Bertemunya anggota PCA dan pengurus PDA di satu simpul dalam resepsi milad bisa mendekatkan jarak yang jauh. Saling bertegur sapa, saling mengucapkan salam, dan saling memaanjatkan doa secara luring bisa memperkuat emosi dan mempererat persaudaraan antar anggota.

Akhirnya, semoga resepsi milad 106 ‘Aisyiyah bisa menjadi ajang konsolidasi yang bisa memperkuat organisasi sehingga program-program kerja keumatan bisa tertunaikan dengan sempurna. Ridha dan ampunan Allah adalah yang kita tuju dengan persyarikatan sebagai titian. Semoga milad 106 dengan berbagai kegiatannya bisa menjadi kran penderas ridha dan ampunan-Nya. Aamiin…

 

Malang, 7 Juni 2023

 


Sabtu, 13 Mei 2023

FILM "BUYA HAMKA" Volume 1

 

FILM “BUYA HAMKA” Volume 1

 

Saya bukanlah movie lover, dan dengan sendirinya saya bukan movie goer. Sepanjang hidup saya, intensitas saya ke bioskop bisa dihitung dengan jari. Saya memberikan apresiasi tinggi terhadap pemain film yang bisa memainkan perannya secara total, tapi menonton kerja mereka dengan mendatangi bioskop selama ini belum menjadi prioritas saya. Segala sesuatunya menjadi berbeda ketika film Buya Hamka di-release menjelang lebaran 2023. Saya semangat pergi ke bioskop untuk menontonnya karena sosok Buya Hamka selalu mengingatkan saya pada almarhum Bapak saya. Beliau sangat suka membaca majalah Kiblat dan Panji Masyarakat, dua majalah Islam yang sangat lekat dengan Buya Hamka. Tidak jarang setelah selesai membacanya Bapak bilang ke saya bahwa Buya Hamka adalah figur yang sangat cerdas hingga Bapak sangat senang menikmati pemikirannya. Alasan kedua, setahu saya, Buya Hamka adalah salah satu kader terbaik Muhammadiyah. Sebagai warga Muhammadiyah, saya sangat bangga bila ada kader yang prestasinya mendapat pengakuan pihak lain. Mengangkat kehidupan Buya dalam sebuah film berarti pengakuan terhadap capaiannya, dan secara otomatis akan mengangkat nama persyarikatan.

Kegembiraan kami dalam menyambut film Buya Hamka

          Film ini berdurasi sangat Panjang, yaitu tujuh jam, dan karenanya film ini terbagi ke dalam tiga volume: volume 1, 2, dan 3. Pada awalnya saya mengira kehidupan Buya Hamka akan diceritakan secara kronologis dari volume satu sampai tiga. Ternyata dugaan saya keliru. Volume 1 mengangkat kehidupan Buya Hamka setelah menikah hingga tahun kemerdekaan, bukan mengangkat kehidupan masa kecilnya.

Volume 1 ini menggambarkan Buya Hamka dengan sangat komplit. Sebagai kepala keluarga, Buya Hamka  sangat dekat dengan istri dan keempat buah hatinya. Sebagai penulis, beliau sangat konsisten dalam berkarya. Hanya dengan mesin ketik manual, dan dengan dua jari beliau  bisa menghasilkan banyak tulisan. Beliau bukan penulis dengan semangat up and down alias kadang rajin dan kadang malas. Malam-malamnya banyak dihabiskan untuk menulis. Kedekatannya dengan dunia tulis menulis juga terbukti dengan kemampuannya memimpin Pedoman Masyarakat sebuah surat kabar yang di bawah kepemimpinannya bisa mencapai oplah 5000 eksemplar, sebuah prestasi yang belum ada satupun harian kala itu yang bisa mencapainya.  

Buya Hamka: ulama, sastrawan, wartawan, tokoh pergerakan dan persyarikatan

Dalam ber-Muhammadiyah, Buya bukan kader kaleng-kaleng. Beliau kader tulen. Beliau lahir dan besar di keluarga Muhammadiyah dan konsisten menjalankan ideologi Muhammadiyah. Beliau kader yang sangat bangga dengan ke-muhammadiyah-annya. Keseriusannya dalam mengurus persyarikatan mengantarnya pada posisi sebagai Ketua Muahammadiyah Sumatra Timur. Kecintaannya pada Muhammadiyah beliau tunjukkan, salah satunya dengan tetap menghadiri undangan Gubernur Jepang untuk melaksanakan sembahyang dengan menghadap ke timur sebagai peghormatan kepada kaisar Jepang. Buya menyadari bahwa hal tersebut syirik, tetapi bila undangan tersebut diabaikan, beliau khawatir Jepang akan menganggap semua warga Muhammadiyah sebagai pembangkang, dan ini tidak bagus. Sebab itulah beliau akhirnya memenuhi undangan Gubernur Jepang, tapi beliau tidak berkenan untuk membungkukkan badan menghadap ke timur seperti yang ‘disyariatkan’ oleh Jepang.

Sikap sangat dewasa beliau tunjukkan ketika beliau harus lengser dari jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur. Kedekatannya dengan Jepang menyebabkan fitnah yang menyebabkan suara pengurus terpecah: sebagian menganggap beliau telah berhianat, dan sebagian tetap yakin beliau masih lurus.  Dalam ‘persidangan’ oleh para pengurus, Buya menyebut bahwa tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah, dan karenanya beliau dengan gentle  minta maaf. Kasus ini berujung dengan surat pemberhentiannya dari jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur.

Buya Hamka adalah sosok pembelajar sejati. Never too old to learn. Mungkin itu salah prinsip hidupnya. Menulis roman adalah hal yang lumrah baginya. Begitu beliau mencoba menulis tetang tasawuf, beliau merasa masih perlu berguru dengan Ayahanda, H. Rasul, yang ilmu agamanya jauh lebih tinggi. Kedatangan Buya pada Ayahanda untuk berguru agama selain menunjukkan semangat belajar Buya yang tidak pernah padam, juga menandakan beliau adalah anak yang berbakti dengan orang tua. Friksi yang terjadi antara beliau dengan Ayahanda tidak menghalanginya untuk tetap berkenan sowan dan sungkem kepada sang ayah.

Selain keteladanan, ada hal lain yang menarik dalam film ini, yaitu dari sisi linguistic. Dari sisi linguistic, film ini sangat menarik. Film ini menyuguhkan banyak dialog dalam Bahasa Minang yang sulit dipahami oleh mereka yang bukan dari Minang. Dialog antara Buya Hamka dengan istrinya hampir 100% menggunakan Bahasa Minang. Saya yang sama sekali tidak paham, sangat mengandalkan subtitle, dan hasilnya adalah saya mengerti makna dari sedikit kosa kata. Ambo (saya), rancak (bagus/indah), engku (tuan/mas) adalah tiga kosa kata yang saya mengerti artinya dari subtitle. Mengangkat Bahasa lokal dengan tetap memberi kemudahan bagi yang tidak paham dalam karya sebesar itu sangatlah bagus untuk kelestarian Bahasa lokal tersebut. Bahasa Minang yang dulunya dipahami hanya oleh orang Minang sekarang menjadi dikenal oleh siapapun yang menonton film ini, dan tidak terbatas pada orang Minang.

        Indahnya rangkaian kata dan kalimat yang diucapkan oleh Buya Hamka adalah aspek linguistic lain yang menarik. Buya Hamka seorang penulis. Beliau menulis berbagai genre: roman, news, hingga tulisan tentang tasawuf. Tidaklah mengherankan bila kata dan kalimat yang dirangkainya terasa indah dan enak didengar, menggugah hati dan pikiran hingga banyak yang bisa dijadikan quote. Ada beberapa quote penyemangat kerja di film ini, tapi yang paling saya ingat adalah: "Salah satu pekerjaan terkejam dalam hidup ialah membiarkan pemikiran cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas yang mendahulukan istirahat sebelum lelah" Kalimat ini seperti menampar saya. Saya tersadar betapa banyak waktu saya yang terbuang untuk rebahan, bercanda dan ngobrolkan yang kurang perlu, dan scroll WA yang sebenarnya isinya sudah diketahui yang karenanya banyak pekerjaan yang tertunda.

        Sebagai biopic atau film sejarah, film ini sangat enak untuk dinikmati. Jauh dari kesan monoton. Dengan mengangkat kehidupan Buya ketika sudah dewasa dan bukan mengangkat kelahiran dan kehidupan masa kecilnya sebagai pembuka, maka film ini tidak terasa flat alias lempeng. Dengan menampilkan Buya Hamka secara utuh baik sisi positif maupun maupun negative menjadikan penghargaan terhadap Buya terkesan natural dan tidak mengkultuskan. Keteladanan ucap dan sikap Buya yang bisa diperankan dengan sangat apik oleh para pemainnya menjadikan film ini sebagai tuntunan yang sangat enak untuk ditonton. Semoga penonton film ini bisa terinspirasi dengan keteladanan yang Buya tunjukkan sehingga bisa lahir banyak Buya Hamka baru.

 

Malang, 13 Mei 2023

        


Selasa, 22 November 2022

PENGGEMBIRA

 

Penggembira

          Sebagai kader dan pengurus ‘Asyiyah, saya sangat antusias menyambut muktamar ke 48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Solo. Dengan penuh antusias saya dan teman-teman Pengurus Ranting MSI dan jamaah masjid At-Taqwa Sengkaling, Malang berangkat ke Solo dengan mengendarai bus pariwisata. Kami bukanlah muktamirin, tetapi kami hadir sebagai penggembira.

                                            Rombongan Penggembira

Setelah transit untuk bersih diri dan shalat subuh di Sukoharjo, kami sampai di Solo sekitar pukul 07.00. Bus berhenti di parkiran Kraton Mangkunegaran. Untuk bisa sampai di stadion Manahan (lokasi pembukaan Muktamar), kami harus berjalan sejauh 3-4km. Capek kah? Jelas capek. Mengeluh kah kami? Enggak. Kami tidak mengeluh karena hati sangat gembira. Pertemuan dengan penggembira lain di sepanjang jalan adalah hiburan tersendiri bagi kami yang bisa menipiskan rasa capek.

               We stay happy

Sesampai di lokasi stadion Manahan, kami betemu dengan penggembira dari kota lain yang jumlahnya ribuan. Di sini, kader dari berbagai kota di Indonesia berkumpul jadi saty. Laki-laki, perempuan, remaja, dewasa pratama, dewasa madya, hingga dewasa tua semuanya tumpleg bleg di sekitar Manahan. Lantas, apa yang dikerjakan di luar stadion? Mungkin bisa dikatakan we did nothing. Mengapa? Sebagai penggembira yang tidak terdaftar secara online, kami tidak bisa masuk ke stadion karena kapasitas stadion hanya 25 ribu (25.000) orang dan sudah dipenuhi oleh muktamirin, tamu undangan, dan penggembira terdaftar. Kami juga tidak memiliki hak untuk ikut agenda sidang muktamar, dan tidak pula memiliki hak suara hingga tidak bisa memilih ketua dan sekretaris umum. Pendek kata, hanya satu hak yang kami miliki, yaitu hak untuk BERGEMBIRA (meminjam istilah Pak Dahlan Iskan). Ya, hanya bergembira lah yang bisa kami lakukan di luar stadion.  

Banyak diantara kami yang menyalurkan kegembiraan atas terselenggaranya muktamar dengan duduk bergerombol sambil bercanda, ada pula yang berkumpul sambil menyeru yel-yel yang membakar semangat ber-Muhammadiyah, ada pula yang memantau acara di dalam stadion lewat videotron, ada pula yang sibuk bikin content video YouTube, dan ada pula yang memantau acara pembukaan yang tayang livestreaming lewat ponsel mereka.


                                 Kegembiraan di luar arena pembukaan

Apakah kami merasa merugi dengan status sebagai penggembira yang tidak memiliki hak apapun selain bergembira? Sama sekali tidak. Tujuan kami datang ke lokasi muktamar bukan untuk menuntut hak untuk bisa duduk di stadion dan menyaksikan RI 1 secara resmi membuka muktamar. Kami juga tidak menuntut untuk diberi hak suara, tidak pula ngotot minta kursi di tempat sidang. Tujuan kami datang adalah untuk memberi dukungan kepada para pimpinan persyarikatan, muktamirin, dan panitia penyelenggara dengan iringan doa semoga muktamar bisa berjalan lancar, aman, membawa kemaslahatan bagi umat, dan mendatangkan ridha Allah SWT. Cukuplah bagi kami mengetahui bahwa pimpinan persyarikatan serius memikirkan keberlangsungan dan keamjuan persyarikatan. Cukuplah bagi kami menyaksikan muktamar ini berjalan dengan sangat lancar, tanpa ada kendala yang berarti. Cukuplah bagi kami menyaksikan muktamar yang hampir zero plastic. Cukuplah bagi kami menyaksikan sidang-sidang yang tanpa huru hara dan pemilihan ketua umum dan sekretaris umum yang sangat adem, tanpa kemrungsung, tanpa suasana panas.  Dengan tujuan itu, lelah karena jauhnya perjalanan menjadi sirna. Haus lapar tidak terasa. Gerimis hujan tidak menyiksa dan biaya tidak lagi menjadi kendala.

                                                       kegembiraan dalam wujud lain

Semangat dan kegembiraan kami atas terselenggaranya muktamar agak sulit dinalar. Kami bergerak dengan hati, makanya apa yang kami lakukan hanya bisa dipahami dengan bahasa hati pula. Dengan sepenuh hati pula kami berdoa semoga kepemimpinan yang dilahirkan dalam muktamar yang kami hadiri bisa membawa kemaslahatan bagi warga persyarikatan, rakyat Indonesia keseluruhan, dan umat semesta. Sampai jumpa di muktamar berikunya.

 

Malang, 22 November 2022/27 Jumadil Akhir 1444H

 

 

Rabu, 12 Mei 2021

TA'AWUN

 

Ta’awun

Kata ta’awun itu berasal dari bahasa Arab, yang artinya kurang lebih adalah tolong menolong atau sikap tolong menolong antar sesame manusia. Yang lebih kuat mengulurkan tangannya untuk mereka yang lemah, yang berkecukupan membantu mereka yang berkekurangan, dan yang longgar membantu mereka yang sempit. Itulah gambaran sikap ta’awun. Kesadaran ber-ta’awun bila dimiliki oleh setiap individu, maka akan banyak masalah social yang akan bisa diatasi karena ta’awun bisa menguatkan yang lemah, bisa memudahkan mereka yang kesulitan, meringankan mereka yang merasa berat, dan melepaskan mereka yang sedang terbelenggu.

Kemudian, ta’awun yang seperti apa yang harus kita lakukan? Yang jelas, ta’awun atau tolong menolong yang sesuai dengan Al-Qur’an, yaitu QS AL-Maidah ayat 2. Artinya: “…dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…” (QS Al-Maidah [5]: 2). Di penggalan ayat tersebut, kata ta’awun secara eksplisit muncul 2 kali. Yang pertama, kata ta’awun dipadu dengan dengan kata al-bir dan takwa. Jadi ini jelas sekali, bahwa kita diperintahkan untuk berta’awun atau saling tolong menolong dalam hal kebaikan baik secara, khususnya kebaikan-kebaikan yang bisa meningkatkan ketakwaan. Yang kedua, kata ta’awun diawali dengan kata la yang artinya ‘jangan’ yang berarti larangan dan kata itsmi dan udlwan yang artinya perbuatan maksiat dan perbuatan yang melanggar agama. Jadi, jelas sekali di sini bahwa meski tolong menolong itu sanagt baik, tetapi kita dilarang bekerjasama dalam hal maksiyat dan melanggar agama.

Berpegang pada ini, saat ini Muhammadiyah menggelorakan semangat ber-ta’awun. Terbentuknya LazisMu, terbentuknya M3C, terselenggaranya baksos secara berkala adalah salah satu bentuk upaya untuk membumikan semangat gotong royong dan kebiasaan membantu pihak lain yang merupakan anjuran Al-Qur’an.

Terkait dengan itu, maka pada bulan Ramadhan 1442H/2021M banyak Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) di Kabupaten Malang yang mengadakan kegiatan bakti social dalam bentuk pemberian bantuan kepada warga yang berkekurangan. PCA Dampit adalah salah satunya. Bekerjasama dengan LazisMu, PCA ini pada tanggal 9 Mei 2021 mengadakan Bakti Sosial dengan menyalurkan bantuan kepada 9 warga dusun Rembun yang rumahnya terdampak gempa. Selain itu, kegiatan ini juga menyalurkan ratusan paket sembako kepada warga desa Bumirejo Kecamatan Dampit. Kegiatan ini dihadiri beberapa Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Malang.

                          Pimpinan Daerah 'Aisyiyah Kabupaten Malang dalam acara Baksos di PCA Dampit


                    Ratusan paket sembako yang siap disalurkan untuk warga desa Bumirejo



                                Salah satu warga desa Rembun yang rumahnya terdampak gempa

 

Malang, 27 Ramadhan 1442H/9 Mei 2021

 

 

 

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...