Sabtu, 13 Mei 2023

FILM "BUYA HAMKA" Volume 1

 

FILM “BUYA HAMKA” Volume 1

 

Saya bukanlah movie lover, dan dengan sendirinya saya bukan movie goer. Sepanjang hidup saya, intensitas saya ke bioskop bisa dihitung dengan jari. Saya memberikan apresiasi tinggi terhadap pemain film yang bisa memainkan perannya secara total, tapi menonton kerja mereka dengan mendatangi bioskop selama ini belum menjadi prioritas saya. Segala sesuatunya menjadi berbeda ketika film Buya Hamka di-release menjelang lebaran 2023. Saya semangat pergi ke bioskop untuk menontonnya karena sosok Buya Hamka selalu mengingatkan saya pada almarhum Bapak saya. Beliau sangat suka membaca majalah Kiblat dan Panji Masyarakat, dua majalah Islam yang sangat lekat dengan Buya Hamka. Tidak jarang setelah selesai membacanya Bapak bilang ke saya bahwa Buya Hamka adalah figur yang sangat cerdas hingga Bapak sangat senang menikmati pemikirannya. Alasan kedua, setahu saya, Buya Hamka adalah salah satu kader terbaik Muhammadiyah. Sebagai warga Muhammadiyah, saya sangat bangga bila ada kader yang prestasinya mendapat pengakuan pihak lain. Mengangkat kehidupan Buya dalam sebuah film berarti pengakuan terhadap capaiannya, dan secara otomatis akan mengangkat nama persyarikatan.

Kegembiraan kami dalam menyambut film Buya Hamka

          Film ini berdurasi sangat Panjang, yaitu tujuh jam, dan karenanya film ini terbagi ke dalam tiga volume: volume 1, 2, dan 3. Pada awalnya saya mengira kehidupan Buya Hamka akan diceritakan secara kronologis dari volume satu sampai tiga. Ternyata dugaan saya keliru. Volume 1 mengangkat kehidupan Buya Hamka setelah menikah hingga tahun kemerdekaan, bukan mengangkat kehidupan masa kecilnya.

Volume 1 ini menggambarkan Buya Hamka dengan sangat komplit. Sebagai kepala keluarga, Buya Hamka  sangat dekat dengan istri dan keempat buah hatinya. Sebagai penulis, beliau sangat konsisten dalam berkarya. Hanya dengan mesin ketik manual, dan dengan dua jari beliau  bisa menghasilkan banyak tulisan. Beliau bukan penulis dengan semangat up and down alias kadang rajin dan kadang malas. Malam-malamnya banyak dihabiskan untuk menulis. Kedekatannya dengan dunia tulis menulis juga terbukti dengan kemampuannya memimpin Pedoman Masyarakat sebuah surat kabar yang di bawah kepemimpinannya bisa mencapai oplah 5000 eksemplar, sebuah prestasi yang belum ada satupun harian kala itu yang bisa mencapainya.  

Buya Hamka: ulama, sastrawan, wartawan, tokoh pergerakan dan persyarikatan

Dalam ber-Muhammadiyah, Buya bukan kader kaleng-kaleng. Beliau kader tulen. Beliau lahir dan besar di keluarga Muhammadiyah dan konsisten menjalankan ideologi Muhammadiyah. Beliau kader yang sangat bangga dengan ke-muhammadiyah-annya. Keseriusannya dalam mengurus persyarikatan mengantarnya pada posisi sebagai Ketua Muahammadiyah Sumatra Timur. Kecintaannya pada Muhammadiyah beliau tunjukkan, salah satunya dengan tetap menghadiri undangan Gubernur Jepang untuk melaksanakan sembahyang dengan menghadap ke timur sebagai peghormatan kepada kaisar Jepang. Buya menyadari bahwa hal tersebut syirik, tetapi bila undangan tersebut diabaikan, beliau khawatir Jepang akan menganggap semua warga Muhammadiyah sebagai pembangkang, dan ini tidak bagus. Sebab itulah beliau akhirnya memenuhi undangan Gubernur Jepang, tapi beliau tidak berkenan untuk membungkukkan badan menghadap ke timur seperti yang ‘disyariatkan’ oleh Jepang.

Sikap sangat dewasa beliau tunjukkan ketika beliau harus lengser dari jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur. Kedekatannya dengan Jepang menyebabkan fitnah yang menyebabkan suara pengurus terpecah: sebagian menganggap beliau telah berhianat, dan sebagian tetap yakin beliau masih lurus.  Dalam ‘persidangan’ oleh para pengurus, Buya menyebut bahwa tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah, dan karenanya beliau dengan gentle  minta maaf. Kasus ini berujung dengan surat pemberhentiannya dari jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur.

Buya Hamka adalah sosok pembelajar sejati. Never too old to learn. Mungkin itu salah prinsip hidupnya. Menulis roman adalah hal yang lumrah baginya. Begitu beliau mencoba menulis tetang tasawuf, beliau merasa masih perlu berguru dengan Ayahanda, H. Rasul, yang ilmu agamanya jauh lebih tinggi. Kedatangan Buya pada Ayahanda untuk berguru agama selain menunjukkan semangat belajar Buya yang tidak pernah padam, juga menandakan beliau adalah anak yang berbakti dengan orang tua. Friksi yang terjadi antara beliau dengan Ayahanda tidak menghalanginya untuk tetap berkenan sowan dan sungkem kepada sang ayah.

Selain keteladanan, ada hal lain yang menarik dalam film ini, yaitu dari sisi linguistic. Dari sisi linguistic, film ini sangat menarik. Film ini menyuguhkan banyak dialog dalam Bahasa Minang yang sulit dipahami oleh mereka yang bukan dari Minang. Dialog antara Buya Hamka dengan istrinya hampir 100% menggunakan Bahasa Minang. Saya yang sama sekali tidak paham, sangat mengandalkan subtitle, dan hasilnya adalah saya mengerti makna dari sedikit kosa kata. Ambo (saya), rancak (bagus/indah), engku (tuan/mas) adalah tiga kosa kata yang saya mengerti artinya dari subtitle. Mengangkat Bahasa lokal dengan tetap memberi kemudahan bagi yang tidak paham dalam karya sebesar itu sangatlah bagus untuk kelestarian Bahasa lokal tersebut. Bahasa Minang yang dulunya dipahami hanya oleh orang Minang sekarang menjadi dikenal oleh siapapun yang menonton film ini, dan tidak terbatas pada orang Minang.

        Indahnya rangkaian kata dan kalimat yang diucapkan oleh Buya Hamka adalah aspek linguistic lain yang menarik. Buya Hamka seorang penulis. Beliau menulis berbagai genre: roman, news, hingga tulisan tentang tasawuf. Tidaklah mengherankan bila kata dan kalimat yang dirangkainya terasa indah dan enak didengar, menggugah hati dan pikiran hingga banyak yang bisa dijadikan quote. Ada beberapa quote penyemangat kerja di film ini, tapi yang paling saya ingat adalah: "Salah satu pekerjaan terkejam dalam hidup ialah membiarkan pemikiran cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas yang mendahulukan istirahat sebelum lelah" Kalimat ini seperti menampar saya. Saya tersadar betapa banyak waktu saya yang terbuang untuk rebahan, bercanda dan ngobrolkan yang kurang perlu, dan scroll WA yang sebenarnya isinya sudah diketahui yang karenanya banyak pekerjaan yang tertunda.

        Sebagai biopic atau film sejarah, film ini sangat enak untuk dinikmati. Jauh dari kesan monoton. Dengan mengangkat kehidupan Buya ketika sudah dewasa dan bukan mengangkat kelahiran dan kehidupan masa kecilnya sebagai pembuka, maka film ini tidak terasa flat alias lempeng. Dengan menampilkan Buya Hamka secara utuh baik sisi positif maupun maupun negative menjadikan penghargaan terhadap Buya terkesan natural dan tidak mengkultuskan. Keteladanan ucap dan sikap Buya yang bisa diperankan dengan sangat apik oleh para pemainnya menjadikan film ini sebagai tuntunan yang sangat enak untuk ditonton. Semoga penonton film ini bisa terinspirasi dengan keteladanan yang Buya tunjukkan sehingga bisa lahir banyak Buya Hamka baru.

 

Malang, 13 Mei 2023

        


Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...