FILM “BUYA HAMKA” Volume 1
Saya bukanlah movie lover, dan dengan sendirinya saya bukan movie goer. Sepanjang hidup saya, intensitas saya ke bioskop bisa dihitung dengan jari. Saya memberikan apresiasi tinggi terhadap pemain film yang bisa memainkan perannya secara total, tapi menonton kerja mereka dengan mendatangi bioskop selama ini belum menjadi prioritas saya. Segala sesuatunya menjadi berbeda ketika film Buya Hamka di-release menjelang lebaran 2023. Saya semangat pergi ke bioskop untuk menontonnya karena sosok Buya Hamka selalu mengingatkan saya pada almarhum Bapak saya. Beliau sangat suka membaca majalah Kiblat dan Panji Masyarakat, dua majalah Islam yang sangat lekat dengan Buya Hamka. Tidak jarang setelah selesai membacanya Bapak bilang ke saya bahwa Buya Hamka adalah figur yang sangat cerdas hingga Bapak sangat senang menikmati pemikirannya. Alasan kedua, setahu saya, Buya Hamka adalah salah satu kader terbaik Muhammadiyah. Sebagai warga Muhammadiyah, saya sangat bangga bila ada kader yang prestasinya mendapat pengakuan pihak lain. Mengangkat kehidupan Buya dalam sebuah film berarti pengakuan terhadap capaiannya, dan secara otomatis akan mengangkat nama persyarikatan.
Film ini berdurasi sangat Panjang,
yaitu tujuh jam, dan karenanya film ini terbagi ke dalam tiga volume: volume 1,
2, dan 3. Pada awalnya saya mengira kehidupan Buya Hamka akan diceritakan
secara kronologis dari volume satu sampai tiga. Ternyata dugaan saya keliru.
Volume 1 mengangkat kehidupan Buya Hamka setelah menikah hingga tahun
kemerdekaan, bukan mengangkat kehidupan masa kecilnya.
Volume 1 ini
menggambarkan Buya Hamka dengan sangat komplit. Sebagai kepala keluarga, Buya
Hamka sangat dekat dengan istri dan
keempat buah hatinya. Sebagai penulis, beliau sangat konsisten dalam berkarya. Hanya
dengan mesin ketik manual, dan dengan dua jari beliau bisa menghasilkan banyak tulisan. Beliau bukan
penulis dengan semangat up and down alias kadang rajin dan kadang malas.
Malam-malamnya banyak dihabiskan untuk menulis. Kedekatannya dengan dunia tulis
menulis juga terbukti dengan kemampuannya memimpin Pedoman Masyarakat sebuah
surat kabar yang di bawah kepemimpinannya bisa mencapai oplah 5000 eksemplar,
sebuah prestasi yang belum ada satupun harian kala itu yang bisa mencapainya.
Buya
Hamka: ulama, sastrawan, wartawan, tokoh pergerakan dan persyarikatan
Dalam ber-Muhammadiyah, Buya bukan kader kaleng-kaleng. Beliau kader tulen. Beliau lahir dan besar di keluarga Muhammadiyah dan konsisten menjalankan ideologi Muhammadiyah. Beliau kader yang sangat bangga dengan ke-muhammadiyah-annya. Keseriusannya dalam mengurus persyarikatan mengantarnya pada posisi sebagai Ketua Muahammadiyah Sumatra Timur. Kecintaannya pada Muhammadiyah beliau tunjukkan, salah satunya dengan tetap menghadiri undangan Gubernur Jepang untuk melaksanakan sembahyang dengan menghadap ke timur sebagai peghormatan kepada kaisar Jepang. Buya menyadari bahwa hal tersebut syirik, tetapi bila undangan tersebut diabaikan, beliau khawatir Jepang akan menganggap semua warga Muhammadiyah sebagai pembangkang, dan ini tidak bagus. Sebab itulah beliau akhirnya memenuhi undangan Gubernur Jepang, tapi beliau tidak berkenan untuk membungkukkan badan menghadap ke timur seperti yang ‘disyariatkan’ oleh Jepang.
Sikap sangat dewasa
beliau tunjukkan ketika beliau harus lengser dari jabatan Ketua Muhammadiyah
Sumatra Timur. Kedekatannya dengan Jepang menyebabkan fitnah yang menyebabkan suara
pengurus terpecah: sebagian menganggap beliau telah berhianat, dan sebagian tetap
yakin beliau masih lurus. Dalam ‘persidangan’
oleh para pengurus, Buya menyebut bahwa tuduhan tersebut tidak sepenuhnya
benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah, dan karenanya beliau dengan gentle minta maaf. Kasus ini berujung dengan surat pemberhentiannya
dari jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur.
Buya Hamka adalah
sosok pembelajar sejati. Never too old to learn. Mungkin itu salah prinsip
hidupnya. Menulis roman adalah hal yang lumrah baginya. Begitu beliau mencoba
menulis tetang tasawuf, beliau merasa masih perlu berguru dengan Ayahanda, H.
Rasul, yang ilmu agamanya jauh lebih tinggi. Kedatangan Buya pada Ayahanda
untuk berguru agama selain menunjukkan semangat belajar Buya yang tidak pernah
padam, juga menandakan beliau adalah anak yang berbakti dengan orang tua.
Friksi yang terjadi antara beliau dengan Ayahanda tidak menghalanginya untuk
tetap berkenan sowan dan sungkem kepada sang ayah.
Selain keteladanan,
ada hal lain yang menarik dalam film ini, yaitu dari sisi linguistic. Dari
sisi linguistic, film ini sangat menarik. Film ini menyuguhkan banyak dialog
dalam Bahasa Minang yang sulit dipahami oleh mereka yang bukan dari Minang.
Dialog antara Buya Hamka dengan istrinya hampir 100% menggunakan Bahasa Minang.
Saya yang sama sekali tidak paham, sangat mengandalkan subtitle, dan hasilnya
adalah saya mengerti makna dari sedikit kosa kata. Ambo (saya),
rancak (bagus/indah), engku (tuan/mas) adalah tiga kosa kata
yang saya mengerti artinya dari subtitle. Mengangkat Bahasa lokal dengan tetap
memberi kemudahan bagi yang tidak paham dalam karya sebesar itu sangatlah bagus
untuk kelestarian Bahasa lokal tersebut. Bahasa Minang yang dulunya dipahami
hanya oleh orang Minang sekarang menjadi dikenal oleh siapapun yang menonton
film ini, dan tidak terbatas pada orang Minang.
Indahnya rangkaian kata dan kalimat yang
diucapkan oleh Buya Hamka adalah aspek linguistic lain yang menarik. Buya Hamka
seorang penulis. Beliau menulis berbagai genre: roman, news, hingga tulisan
tentang tasawuf. Tidaklah mengherankan bila kata dan kalimat yang dirangkainya
terasa indah dan enak didengar, menggugah hati dan pikiran hingga banyak yang
bisa dijadikan quote. Ada beberapa quote penyemangat kerja di film ini, tapi
yang paling saya ingat adalah: "Salah
satu pekerjaan terkejam dalam hidup ialah membiarkan pemikiran cemerlang
menjadi budak bagi tubuh yang malas yang mendahulukan istirahat sebelum
lelah" Kalimat ini seperti menampar saya. Saya tersadar betapa banyak waktu saya yang terbuang
untuk rebahan, bercanda dan ngobrolkan yang kurang perlu, dan scroll WA yang
sebenarnya isinya sudah diketahui yang karenanya banyak pekerjaan yang
tertunda.
Sebagai
biopic atau film sejarah, film ini sangat enak untuk dinikmati. Jauh dari kesan
monoton. Dengan mengangkat kehidupan Buya ketika sudah dewasa dan bukan
mengangkat kelahiran dan kehidupan masa kecilnya sebagai pembuka, maka film ini
tidak terasa flat alias lempeng. Dengan menampilkan Buya Hamka secara utuh
baik sisi positif maupun maupun negative menjadikan penghargaan terhadap Buya
terkesan natural dan tidak mengkultuskan. Keteladanan ucap dan sikap Buya yang
bisa diperankan dengan sangat apik oleh para pemainnya menjadikan film ini sebagai
tuntunan yang sangat enak untuk ditonton. Semoga penonton film ini bisa
terinspirasi dengan keteladanan yang Buya tunjukkan sehingga bisa lahir banyak Buya
Hamka baru.
Malang,
13 Mei 2023
