SKP dan BKD: Serupa tetapi tak Sama
Setiap awal tahun, Pegawai Negeri Sipil, termasuk dosen diwajibkan menyelesaikan SKP(Sasaran Kerja Pegawai) dan Beban Kerja Dosen (BKD) dalam waktu yang hampir bersamaan.
Setiap kali menyelesaikan SKP dan
BKD, saya seperti dihadapkan pada teka teki serupa tapi tak sama, yaitu suatu
permainan yang menuntut kita untuk bisa menemukan beberapa perbedaan dari dua
gambar yang sangat mirip. Kemiripan dua gambar menyebabkan beberapa perbedaan
kecil tidak tampak bila kita tidak benar-benar cermat dan jeli. Ada rasa
penasaran setiap saat menemui permainan ini. Ada rasa tertantang bila ada
perbedaan yang belum bisa ditemukan, dan ada rasa lega bila misteri tempat
perbedaan telah bisa terkuak.
SKP dan BKD menurut saya juga
memberikan sensasi itu. Istilah-istilah yang muncul di keduanya sangat mirip
atau bahkan sama hingga membuat keduanya seperti sama. Ada pertanyaan yang
sering muncul di benak setiap saat mengerjakan keduanya. Apa yang
membedakannya? Paling tidak ada empat kesamaan sekaligus perbedaan di keduanya.
Dari konten atau isi, keduanya serupa
tapi beda. Keduanya serupa karena sama-sama berisi rencana kerja beserta
realisasinya. SKP dan BKD berisi rencana kerja dosen dalam menjalankan Tri
Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian,
dan pengabdian pada masyarakat. Ketiga unsur tersebut wajib ada baik di SKP
maupun di BKD.
Meski demikian, keduanya beda
dalam hal target ketercapaian rencana. SKP secara eksplisit menyebutkan target yang
meliputi waktu capaian, kuantitas capaian, dan kualitas capaian. Waktu capaian
bisa satu semester, satu tahun, atau lebih dari itu. Target kuantitas bisa jumlah
SKS, jumlah semester, jumlah mahasiswa, jumlah publikasi, jumlah kegiatan, dll.
Target kualitas maksudnya ketuntasan pelaksanaan suatu rencana. BKD tidak
mencantumkan target layaknya SKP. Di Rencana BKD hanya disebutkan besarnya SKS
dari masing-masing kegiatan.
Titik beda lain adalah tentang realisasi dari
rencana kegiatan. Di SKP ketercapaian target dari masing-masing kegiatan
ditulis dalam bentuk angka. Angka realisasi ini bisa sama persis, bisa di bawah,
atau di atas angka yang ditargetkan. Sebaliknya, ketercapaian suatu kegiatan di
BKD ditandai dengan rekomendasi selesai untuk
kegiatan yang bisa tuntas dalam satu semester, lanjutkan untuk aktifitas yang belum bisa selesai, dan beban lebih bila kegiatan sudah tuntas
tetapi jumlah SKS dalam semester tersebut sudah terpenuhi.
Dari
sisi waktu, SKP dan BKD berbeda. SKP dirancang untuk memantau kinerja selama
satu tahun, sedangkan BKD dibuat untuk satu semester. Jadi, dalam satu tahun
seorang dosen manghasilkan dua BKD dan satu SKP.
Terkait
dengan pembobotan, SKP dan BKD serupa tetapi tak sama. Keduanya serupa karena semua
aktifitas di SKP dan BKD sama-sama diberi nilai atau grade dalam bentuk angka. Di SKP, aktifitas tri dharma perguruan
tinggi dinilai dengan satuan angka kredit (AK). Di BKD, aktifitas dosen dinilai
dengan SKS.
Dari
sisi penilai, SKP dan BKD serupa tetapi berbeda. SKP diperiksa dan dinilai oleh
atasan langsung dan atasan pejabat penilai. SKP saya diperiksa dan dinilai oleh
Ketua Jurusan (Kajur) dan atasan dari Kajur (Dekan). Sedangkan rencana kerja di
BKD diperiksa oleh Ketua Jurusan, dan laporan BKD diperiksa oleh asesor yang
ditunjuk dan disahkan oleh Rektor.
Ya,….itulah
beberapa poin kemiripan dan perbedaan yang ada di SKP dan BKD. Ada beberapa hal
yang menurut saya perlu dicatat ketika menyelesaikan keduanya. Pertama, keduanya mengisyaratkan supaya
kita terbiasa bertindak berdasar rencana, tidak dadakan. Rencana kegiatan yang ditulis dengan rinci menjadi guideline dalam melaksanakan kegiatan di
lapangan. Selain itu, rencana yang tertulis ibarat janji yang diikrarkan
sehingga bisa menjadi pengingat bagi yang membuatnya untuk senantiasa konsisten
menjalankan apa yang sudah diikrarkan. Menulis apa yang akan dikerjakan dan
mengerjakan apa yang sudah ditulis adalah pelajaran penting dari SKP dan BKD.
Kedua, mengerjakan SKP dan BKD bukanlah
pekerjaan yang memerlukan kajian teori yang sampai mengernyitkan dahi, bukan
pula pekerjaan yang menuntut penerapan rumus-rumus statistik yang njlimet. Meski demikian, keduanya
memerlukan konsentrasi penuh. Keduanya tidak bisa disambi-sambi. Menyeleraskan antara jenis kegiatan, nilai AK,
jumlah SKS, nomor surat penugasan, bukti fisik kegiatan, plus ketrampilan
mengoperasikan program excel memerlukan waktu dan tenaga khusus serta konsentrasi
penuh.
Ketiga, file yang
rapi akan sangat membantu. Menyelesaikan keduanya memerlukan banyak dokumen.
Nomor SK, nama matakuliah, jumlah mahasiswa, nama kegiatan, sertifikat, dll
adalah data-data yang diperlukan untuk menyelesaikan SKP dan BKD. Bila dokumen
yang berisi data-data yang dibutuhkan sudah di tangan, mengerjakan SKP dan BKD tentunya
akan sangat ringan. Keduanya bisa terselesaikan dalam sekali duduk. Belajar rapi
dan tertib dalam mengumpulkan file alias good
at filing adalah pelajaran berharga lain yang bisa kita petik dari SKP dan BKD.
Keempat, SKP dan
BKD pada dasarnya berisi rencana menjalankan kegiatan tri dharma perguruan
tinggi beserta realisasinya. Tujuan utama dari keduanya adalah sama, yaitu
untuk memantau kinerja dosen. Karena itulah, saya berharap ke depan keduanya
diintegrasikan. Rencana per semester masuk ke dalam rencana tahunan sehingga
semua kegiatan dalam satu tahun bisa direncanakan dari awal.
Terakhir, mungkin Anda bertanya-tanya,
mengapa SKP dan BKD yang notabene adalah bread
and butter case alias permasalahan sehari-hari perlu ditulis? Bagi saya,
menulis adalah aktifitas berbagi ide dengan sesama yang bisa membuat pikiran
jadi lepas. Ide, sesederhana apapun dia, bila tidak tertuang dalam tulisan, dia
akan menggelayut terus di pikiran, dan ini sangat mengganggu. Sebaliknya, bila
ide bisa tertuang dalam rangkaian kalimat dan paragraf akan bisa membuat
pikiran jadi ringan dan beban seolah hilang. Itulah yang terjadi pada SKB dan
BKD di mata saya. Keduanya memang kegiatan rutin yang saking rutinnya keduanya terlihat sangat biasa. Dari dua hal yang
terlihat sangat biasa tersebut, saya mendapatkan titik yang menarik, yaitu kemiripan
dan perbedaan keduanya. Andai ide tersebut saya biarkan mengendap di kepala
saya, dia akan menjadi beban saya. Oleh sebab itulah, akhirnya jadilah tulisan
sederhana ini. Sesederhana apapun tulisan ini, tapi dia sudah membuat saya
lepas dan relieved. Terimakasih sudah
membaca tulisan ringan dan sederhana namun bisa membuat saya lega ini๐๐.
Malang, 29 Januari 2021M/15 Jumadil Akhir 1442H
memulai ngerjakannya bagiku kadang terasa berat..
BalasHapusHmmm....iya memang Pak. Memulainya kadang terasa berat........
HapusTerima kasih catatannya, Ibunda. Jadi paham tugas-tugas dosen selain mengajar ternyata juga banyak. Thank you for writing this, Ibu Nurul.
BalasHapusThank you, Mbak Zahra.....
Hapus