Scoring and Grading
Scoring yang
dalam bahasa Indonesia berarti koreksi adalah tahapan di mana seorang
guru/dosen mengoreksi atau memeriksa pekerjaan peserta ujian (baca:
murid/mahasiswa). Dengan berdasar pada kunci jawaban yang telah disiapkan
sebelumnya, guru/dosen mencermati jawaban murid/mahasiswa. Sesuai dan tidaknya
jawaban peserta ujian dengan kunci jawaban akan menentukan besaran angka atau simbol
apapun yang akan guru/dosen tulis di lembar jawaban. Salah benarnya jawaban
untuk soal pilihan ganda biasanya ditandai dengan angka karena memang jenis
soal ini memungkinkan untuk itu. Sebaliknya, salah benarnya jawaban untuk soal
esai bisa ditandai dengan simbol yang lebih bervariasi. Ada yang suka memberi simbol
dua bintang untuk jawaban sempurna dan satu bintang untuk jawaban setengah
sempurna. Ada pula yang menandai dengan wajah senyum untuk jawaban sempurna dan
wajah cemberut untuk jawaban yang kurang diharapkan. Pendek kata, scoring adalah proses pengolahan jawaban
ujian yang banyak berdasarkan pada kunci jawaban. Jadi, menurut saya ini adalah
tahapan yang mudah bagi penguji karena templat sudah ada. Bila sesuai templat
berarti bagus, bila menyimpang dari templat berarti kurang bagus.
Nah, bagaimana dengan grading alias penilaian? Ini adalah tahapan di mana guru/dosen
memberikan nilai akhir kepada murid/mahasiswa. Ada banyak item yang dilibatkan
dalam tahap ini, salah satunya adalah hasil scoring.
Angka atau simbol-simbol yang dihasilkan di tahap scoring dipadu dengan angka dan simbul-simbul lain yang diperoleh
dari aspek lain, semisal kehadiran, keaktifan, kemampuan kerjasama, dll. Perpaduan
dari aspek-aspek itulah yang akhirnya mewujud menjadi nilai akhir atau grade.
Dari sinilah saya anggap bahwa grading lebih sulit bila dibanding dengan
scoring. Scoring adalah pekerjaan
yang semata-mata mengandalkan pikiran karena rujukannya jelas dan terukur,
yaitu kunci jawaban. Ukuran benar dan salah sudah tergambar sangat jelas di
kunci jawaban. Sebaliknya, grading mengharuskan
guru/dosen memasukkan aspek lain yaitu attitude
atau sikap murid/mahasiswa. Di tahap ini kehadiran dan keaktifan
mahasiswa/murid diperhitungkan. Sikap mereka juga jadi bahan pertimbangan.
Tidak jarang, saya mendapatkan angka hasil scoring
lumayan tinggi, tetapi kehadiran dan keaktifan sangat minimal. Sering juga saya
mendapatkan nilai dari scoring sangat
membahagiakan, tetapi ada beberapa catatan attitude
yang kurang menyenangkan. Bila data scoring
dan aspek lain tidak berbanding lurus seperti itu, maka proses timbang sana
timbang sini terjadi. Terjadilah dialog panjang antara pikiran dan perasaan.
Pikiran mengakui bahwa si A excellent
yang dibuktikan dengan angka scoring, tetapi
perasaan kurang sreg mengingat
beberapa catatan perilaku yang kurang mengenakkan. Tidak jarang, subjektifitas
mengemuka dan bisa sedikit memudarkan kilau angka scoring. Ketidaksinkronan antara pikiran dan perasaan inilah yang
terkadang bagi saya cukup menyiksa. Inilah yang saya maksud dengan menilai
lebih rumit daripada mengoreksi karena melibatkan pikiran dan emosi. Grading is emotionally more challenging than
scoring.
Tidak jarang pula saya mendapatkan data yang
berbanding lurus, yaitu tinggi di angka scoring,
dan tinggi pula di aspek-aspek yang lain. Angka maksimal di kertas ujian dibarengi
dengan kehadiran maksimal, dipadu dengan keaktifan yang bertanggung jawab di
kelas, ditambah dengan kemampuan membangun human
relation yang mengesankan membuat semuanya terasa mudah. Bisa pula minimnya
angka di lembar jawaban senada dengan minimnya jumlah kehadiran, tiadanya
keaktifan di kelas, dan hal-hal kurang mengenakkan lainnya. Pada kasus seperti
ini, mengoreksi dan menilai sama-sama terasa mudah. Nilai maksimal (A- atau A) bisa
dengan mudah dikeluarkan untuk kasus pertama, dan nilai minimal untuk kasus
kedua. Dalam kasus apapun, bila pikiran dan perasaan klop, beban memang terasa
sangat ringan.
Keadilan harus ditegakkan. Inilah prinsip yang
harus dipegang teguh oleh siapapun, termasuk saya sebagai dosen. Tidak
dibenarkan bila ketidaknyamanan karena catatan perilaku murid/mahasiswa yang
kurang mengenakkan bisa menghilangkan haknya untuk mendapatkan nilai maksimal.
Tetapi, tidak dibenarkan pula bila maksimalnya angka di kertas ujian membuat
murid/mahasiswa abai terhadap aspek-aspek lain di luar nilai ujian.
Murid/mahasiswa memiliki hak untuk mendapatkan nilai sesuai dengan usahanya di
satu sisi, sementara di sisi lain mereka juga punya hak untuk mendapatkan
pencerahan tentang nilai-nilai/values.
Malang,
2 Jumadil Akhir 1442H/16 Januari 2021
Catatan yang inspiratif dan bergizi. Selalu terpukau dengan diksi yang dipilih😍
BalasHapusThank you, Sis...
HapusMengukur, menakar, menilai, menimbang, mengoreksi,....dll. masih banyak yg perlu dipertimbangkan..
BalasHapus