Sabtu, 16 Januari 2021

SCORING AND GRADING

 

Scoring and Grading

Scoring yang dalam bahasa Indonesia berarti koreksi adalah tahapan di mana seorang guru/dosen mengoreksi atau memeriksa pekerjaan peserta ujian (baca: murid/mahasiswa). Dengan berdasar pada kunci jawaban yang telah disiapkan sebelumnya, guru/dosen mencermati jawaban murid/mahasiswa. Sesuai dan tidaknya jawaban peserta ujian dengan kunci jawaban akan menentukan besaran angka atau simbol apapun yang akan guru/dosen tulis di lembar jawaban. Salah benarnya jawaban untuk soal pilihan ganda biasanya ditandai dengan angka karena memang jenis soal ini memungkinkan untuk itu. Sebaliknya, salah benarnya jawaban untuk soal esai bisa ditandai dengan simbol yang lebih bervariasi. Ada yang suka memberi simbol dua bintang untuk jawaban sempurna dan satu bintang untuk jawaban setengah sempurna. Ada pula yang menandai dengan wajah senyum untuk jawaban sempurna dan wajah cemberut untuk jawaban yang kurang diharapkan. Pendek kata, scoring adalah proses pengolahan jawaban ujian yang banyak berdasarkan pada kunci jawaban. Jadi, menurut saya ini adalah tahapan yang mudah bagi penguji karena templat sudah ada. Bila sesuai templat berarti bagus, bila menyimpang dari templat berarti kurang bagus.

Nah, bagaimana dengan grading alias penilaian? Ini adalah tahapan di mana guru/dosen memberikan nilai akhir kepada murid/mahasiswa. Ada banyak item yang dilibatkan dalam tahap ini, salah satunya adalah hasil scoring. Angka atau simbol-simbol yang dihasilkan di tahap scoring dipadu dengan angka dan simbul-simbul lain yang diperoleh dari aspek lain, semisal kehadiran, keaktifan, kemampuan kerjasama, dll. Perpaduan dari aspek-aspek itulah yang akhirnya mewujud menjadi nilai akhir atau grade.

Dari sinilah saya anggap bahwa grading lebih sulit bila dibanding dengan scoring. Scoring adalah pekerjaan yang semata-mata mengandalkan pikiran karena rujukannya jelas dan terukur, yaitu kunci jawaban. Ukuran benar dan salah sudah tergambar sangat jelas di kunci jawaban. Sebaliknya, grading mengharuskan guru/dosen memasukkan aspek lain yaitu attitude atau sikap murid/mahasiswa. Di tahap ini kehadiran dan keaktifan mahasiswa/murid diperhitungkan. Sikap mereka juga jadi bahan pertimbangan. Tidak jarang, saya mendapatkan angka hasil scoring lumayan tinggi, tetapi kehadiran dan keaktifan sangat minimal. Sering juga saya mendapatkan nilai dari scoring sangat membahagiakan, tetapi ada beberapa catatan attitude yang kurang menyenangkan. Bila data scoring dan aspek lain tidak berbanding lurus seperti itu, maka proses timbang sana timbang sini terjadi. Terjadilah dialog panjang antara pikiran dan perasaan. Pikiran mengakui bahwa si A excellent yang dibuktikan dengan angka scoring, tetapi perasaan kurang sreg mengingat beberapa catatan perilaku yang kurang mengenakkan. Tidak jarang, subjektifitas mengemuka dan bisa sedikit memudarkan kilau angka scoring. Ketidaksinkronan antara pikiran dan perasaan inilah yang terkadang bagi saya cukup menyiksa. Inilah yang saya maksud dengan menilai lebih rumit daripada mengoreksi karena melibatkan pikiran dan emosi. Grading is emotionally more challenging than scoring.

Tidak jarang pula saya mendapatkan data yang berbanding lurus, yaitu tinggi di angka scoring, dan tinggi pula di aspek-aspek yang lain.  Angka maksimal di kertas ujian dibarengi dengan kehadiran maksimal, dipadu dengan keaktifan yang bertanggung jawab di kelas, ditambah dengan kemampuan membangun human relation yang mengesankan membuat semuanya terasa mudah. Bisa pula minimnya angka di lembar jawaban senada dengan minimnya jumlah kehadiran, tiadanya keaktifan di kelas, dan hal-hal kurang mengenakkan lainnya. Pada kasus seperti ini, mengoreksi dan menilai sama-sama terasa mudah. Nilai maksimal (A- atau A) bisa dengan mudah dikeluarkan untuk kasus pertama, dan nilai minimal untuk kasus kedua. Dalam kasus apapun, bila pikiran dan perasaan klop, beban memang terasa sangat ringan.

Keadilan harus ditegakkan. Inilah prinsip yang harus dipegang teguh oleh siapapun, termasuk saya sebagai dosen. Tidak dibenarkan bila ketidaknyamanan karena catatan perilaku murid/mahasiswa yang kurang mengenakkan bisa menghilangkan haknya untuk mendapatkan nilai maksimal. Tetapi, tidak dibenarkan pula bila maksimalnya angka di kertas ujian membuat murid/mahasiswa abai terhadap aspek-aspek lain di luar nilai ujian. Murid/mahasiswa memiliki hak untuk mendapatkan nilai sesuai dengan usahanya di satu sisi, sementara di sisi lain mereka juga punya hak untuk mendapatkan pencerahan tentang nilai-nilai/values.  

 

Malang, 2 Jumadil Akhir 1442H/16 Januari 2021


3 komentar:

  1. Catatan yang inspiratif dan bergizi. Selalu terpukau dengan diksi yang dipilih😍

    BalasHapus
  2. Mengukur, menakar, menilai, menimbang, mengoreksi,....dll. masih banyak yg perlu dipertimbangkan..

    BalasHapus

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...