Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Juli 2023

Mbakyu Anjarwati

 


Mbakyu Anjarwati

 

            Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung perempuan biasanya dipanggil mbakyu atau mbak saja atau yu saja. Tradisi ini juga terjadi pada keluarga saya. Saya yang terlahir sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara yang mayoritas perempuan, maka secara otomatis saya memiliki banyak mbakyu. Saya memanggil mereka secara beragam. Ada yang saya panggil yu, ada pula yang saya panggil mbak. Cara memanggil tersebut spontan, alami, tanpa direncanakan hingga saya sendiri tidak tahu mengapa dengan kakak X saya memanggil mbak, dan terhadap kakak Z saya memanggil yu. Semua berjalan sangat alami.

        Salah satu kakak yang saya panggil Yu adalah kakak ketiga. Nama aslinya menurut almarhum Bapak saya adalah Hajar, tetapi karena di ijazah SD tertulis Anjarwati, maka nama tersebut yang akhirnya disandangnya. Dalam keseharian saya memanggilnya Yu nJar. Sebutan tersebut bagi saya terasa sangat ringan, alami, dan mengakrabkan. Yu nJar pun terlihat demikian. Kami sama-sama menikmati dengan panggilan tersebut.

        Enam dari delapan bersaudara. Yu nJar nomor tiga dari kanan

            Kami kakak beradik, tetapi usia kami terpaut sangat jauh, yaitu 20 tahun.  Ketika saya masih kecil, saya melihat sosok Yu nJar sebagai sosok yang sangat pendiam. Dia sangat jarang bercengkerama dengan saya, adiknya. Berbicara dengan saya bila dirasa benar-benar perlu. Kediaman dan ke-anteng-an Yu nJar saat itu membuat saya sangat sungkan. Dia sangat nyungkani, dan karena penilaian saya yang sedemikian membuat hubungan kami menjadi sangat formal. Hubungan kami waktu itu saya rasakan layaknya guru dan murid, yaitu hubungan yang berjarak.   

Begitu saya remaja, saya baru menyadari bahwa Yu nJar tidaklah seformal yang saya kira. Dia ramah dengan caranya sendiri. Di balik sikap diam dan anteng dia simpan sikap tanggung jawab, keramahan dan kehangatan yang ia kemas dengan khas.


Sikap tanggung jawab dia wujudkan dalam bentuk kerelaannya menyisihkan penghasilannya untuk diserahkan kepada Ibuk untuk membantu keuangan keluarga. Ini bukan perkara mudah karena selain gaji PNS waktu itu belum setinggi sekarang, juga Yu nJar sendiri memiliki banyak kebutuhan. Meski demikian, bantuan bulanan untuk Ibuk tidak pernah absen. Hanya pribadi yang hangat dan penuh empati yang bisa berbagi dalam keadaan sempit.

Selain itu, Yu nJar memiliki cara yang khas untuk menyayangi saya  sebagai adiknya. Salah satu kekhasan tersebut adalah begitu Yu nJar memiliki putra putri, caranya memanggil saya berubah. Saya tidak lagi dipanggil nama tanpa sebutan, tetapi saya dipanggil dengan sebutan bulik.  Sebutan bulik ini secara konsisten dia sebut untuk memanggil saya. Bulik Nur adalah panggilan untuk saya.

Juga, Yu nJar memiliki cara tersendiri dalam menunjukkan kehangatannya terhadap saya. Setiap saat saya berkunjung ke rumahnya, Yu nJar selalu menemui saya dan menemani saya duduk. Tidak banyak cerita yang dia ceritakan, tidak banyak pula pertanyaan yang dia lontarkan.  Dia duduk dengan tenang sambil menyilakan saya menikmati hidangan yang tersedia.

Bentuk kehangatan Yu nJar terhadap saya: menemani saya duduk.

Kehangatan lain yang Yu nJar tujukan ke saya adalah kesediannya hadir di acara pernikahan Fatin, anak pertama saya, pada bulan Juli 2022. Dengan kondisi fisik yang tidak terlalu prima, Yu nJar rela menempuh perjalanan dari Nganjuk ke Malang hanya untuk mendampingi saya dalam pernikahan anak saya. Pengorbanannya semakin membuat saya tersentuh karena Yu nJar sempat terjatuh dua kali di rumah saya. Kondisi fisik yang kurang prima, capek karena perjalanan jauh, plus situasi rumah yang belum dikenalnya mungkin menjadi penyebab jatuhnya mbakyu saya yang satu ini. Sungguh, peristiwa tersebut sangat membekas dalam ingatan saya.


Yu nJar (berdiri kedua dari kiri) dalam pernikahan Fatin

Ketika ingatan akan peristiwa jatuh tersebut masih lekat dalam pikiran, tiba-tiba saya disentakkan oleh kabar bahwa Yu nJar wafat pada tanggal 24 Juni 2023, sekitar pukul 19.00. Berita duka ini betul-betul membuat saya berduka. Kita tahu bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Meski demikian, ketika kematian tersebut menimpa orang dekat kita, kita pasti kelimpungan. Kita merasa belum siap dan sering mempertanyakan kok cepat sekali. Itulah yang saya rasakan ketika berita duka tersebut muncul di grup keluarga. Speechless. Tidak percaya.

Kematian selalu tidak enak untuk dibicarakan karena kematian selalu diasosiakan dengan kesendirian dan pertanggungjawaban. Datangnya kematian berarti perpisahan dengan semua dan segala hal yang kita cintai. Pasangan, putra putri, handai taulan, kerabat, mahasiswa, harta benda, jabatan, dan lain-lain harus kita tinggalkan. Tinggallah kita sendiri, sebatang kara. Kesendirian bukanlah suatu yang enak untuk dibayangkan. Selain kesendirian yang tidak mengenakkan, pertanggunjawaban akan apa yang sudah kita lakukan menanti di pelupuk mata. Membayangkan mimbar pertanggungjawaban bukanlah hal yang menyenangkan.

Yu nJar telah sampai pada titik itu, dan kami harus dengan rela melepasnya. Panggilan Allah terhadap Yu nJar menyadarkan saya bahwa kehidupan ini mirip dengan perjalanan naik bus kota yang setiap saat bisa berhenti di halte. Setiap penumpang bus kota sudah tahu di halte mana dia akan berhenti. Sebaliknya, dalam kehidupan ini kita tahu bahwa pasti kita akan berhenti di satu titik, tetapi kita tidak tahu di titik mana kita akan berhenti.

Akhirnya, saya sampaikan selamat jalan, Yu nJar…. Doaku untukmu: semoga Allah menerima semua kebaikanmu selama ini, mengampunimu atas semua salah khilaf, dan menempatkanmu di tempat tertinggi, di sisi-Nya. Aku akan selalu ingat senyummu yang khas, diam dan antengmu, panggilanmu untukku, pengabdianmu kepada Ibuk dan Bapak, dan pengorbananmu dalam menghormati pernikahan putri pertamaku. Selamat jalan, Yu.......

Malang, 1 Juli 2023 M/13 Dzulhijjah 1444 H      


Selasa, 13 Juni 2023

WISUDA 232

 


WISUDA 232

 

        Wisuda 232 adalah wisuda Universitas Airlangga yang dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 3 Juni 2023. Putri pertama saya, Fatin Philia Hikmah, salah satu wisudawan S2 dan Profesi dari Fakultas Psikologi. Saya sekeluarga hadir di acara yang digelar di Airlangga Convention Center tersebut. Hadir di wisuda Unair kali ini merupakan pengalaman ketiga saya. Tahun 2018 Fatin wisuda S1, dan 2019 Opik wisuda, dan di keduanya saya hadir.


Fatin dengan toga hitamnya

Dengan berbekal undangan dengan nomor kursi 1603 dan 1604, saya dan suami memasuki ruang tempat berlangsungnya acara. Wali wisudawan ditempatkan di lantai dua dengan tribun berkursi sebagai tempat duduk. Rektor dan jajarannya, para wisudawan, wali mahasiswa berprestasi, dan undangan VIP ada di lantai bawah.

Ada kelegaan mendalam begitu melihat deretan wisudawan dengan toga hitam. Sejenak terbayang kembali bagaimana Fatin harus mengikuti kuliah luring selama beberapa saat, kemudian berpindah ke moda daring sampai semua teori habis. Terlintas juga bagaimana rebyek-nya mencari responden untuk penelitian tesis. Pasang poster di status, mengontak teman yang sekiranya punya relasi yang bisa digiring untuk dijadikan responden adalah salah satu dinamika yang harus Fatin lalui untuk menyelesaikan tesis.

Tensi meninggi ketika harus menyelesaikan tujuh kasus sebagai syarat mutlak untuk menyandang gelar psikolog professional. Dimulai dengan magang di PLP di Universitas Muhammadiyah Malang, dan dilanjutkan dengan mencari subyek berkasus yang penyelesaiannya diuji kebenarannya oleh dewan penguji. Mencari dan menyelesaikan tujuh kasus bukanlah pekerjaan mudah. Masing-masing kasus menuntut kajian teori mendalam, metodologi penyelesaian yang pas, keluwesan dalam menyelesaikan kendala teknis di lapangan, dan ketangguhan serta kemahiran berargumentasi ketika sidang. Saya tahu, Fatin jatuh bangun dalam menyelesaikan ini semua. Mengulang salah satu kasus yang sudah naik ke meja sidang adalah pengalaman kurang menyenangkan yang mengandung banyak hikmah. Menemukan bahwa suatu lembaga ternyata kurang tepat dijadikan sebagai tempat penyelesaian kasus setelah dilakukan observasi dalam kurun cukup lama adalah pengalaman lain yang menuntut kesabaran ekstra.

Terselesaikannya tujuh kasus bukanlah akhir, karena Fatin masih harus diuji kelayakannya oleh organisasi profesi, yaitu HIMPSI. Dalam ujian ini, Fatin diuji oleh Ibu Esti Hayu, psikolog dari Universitas Gadjah Mada. Ujian ini menjadi penanda berakhirnya serangkaian ujian yang harus Fatin lalui.

Kelelahan dan kegalauan yang sering menggelayut selama proses studi dan profesi terasa sirna begitu melihat Fatin bertoga hitam dengan kombinasi kuning dan biru muda. Alhamdulillah. Orang Inggris bilang every after cloud, there is a rainbow. Cloud alias mendung itu sudah berlalu, dan rainbow alias pelangi itu sudah hadir. Kehadiran pelangi dalam kehidupan Fatin yang disimbulkan dengan toga hitam itulah yang membuat saya lega dan wisuda 232 terasa sangat istimewa bagi saya.


Kebahagiaan Fatin kebahagiaan adiknya juga

***********

        Keistimewaan Wisuda 232 selain karena saya dan keluarga betul-betul engaged juga karena gaya MC dalam memandu acara. Seperti halnya wisuda di kampus lain, beberapa mahasiswa berprestasi diberi kesempatan berbicara di depan. Yang membedakan Wisuda 232 dengan wisuda lainnya adalah tugas memanggil mahasiswa berprestasi tersebut dilakukan oleh Rektor, Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak. dan bukan oleh MC. Dengan gayanya yang sangat santai, Rektor memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk tampil. Dengan tanpa menyebut nama dan fakultas, pemanggilan terlihat random, tapi saya yakin tidak random. Semuanya sudah disiapkan. List nama sudah ada di map Rektor. How did I know? Pertama, mereka yang maju sudah menyiapkan teks di HP masing-masing. Kedua, yang maju memiliki karakteristik yang sama: memiliki prestasi lebih atau keunikan lain. Ada yang berapi-api cerita tentang bagaimana dia bisa mendapatkan bea siswa bidik misi. Ada pula yang sangat bangga bagaimana dia bisa mendapat predikat mahasiswa termuda. Dengan usia yang baru 24 tahun mahasiswi tersebut sudah menyandang gelar doctor. Ada pula yang dengan PD-nya menyebutkan sederet prestasi nasional dan internasional yang diraihnya. Selain itu, ada pula yang dengan santainya menyebut bahwa dia maju bukan karena prestasi tetapi karena lamanya studi yang dia tempuh. Dengan polosnya dia menyebut bahwa meski IPK-nya tertinggi di fakultasnya, yaitu 3.87, dia tidak bisa dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi karena masa studinya mencapai 6 tahun. Tepuk tangan Panjang membahana begitu mahasiswa FISIP tersebut mengakhiri sambutannya. Mahasiswa tersebut sebagai satu-satunya mahasiswa yang maju ke depan yang orang tuanya tidak duduk di tribun kehormatan.

        Meski acara ini menyita cukup banyak waktu, tetapi peran MC yang digantikan oleh Rektor menjadikan acara wisuda terasa lebih cair, tidak terlalu kaku karena protokoler. Begitu acara ini selesai, acara selanjutnya adalah penyerahan ijazah yang mewajibkan wisudawan maju, menerima ijazah dari dekan, dan berjabat tangan dengan Dekan dan Rektor.


We are a full team

        Begitu Fatin sudah menerima ijazah, acara selanjutnya adalah foto bersama dan selanjutnya pulang. Dalam perjalanan pulang, saya berdialog dengan Gusti Allah dalam hati: terimakasih atas semua karunia-Mu, ya Allah. Berikanalah Ridha-Mu pada Fatin dan keluarganya, karuniakanlah keberkahan kepada ilmu yang sudah Fatin raih supaya bisa membawa kemudahan hidup di dunia dan akhirat, dan membawa manfaat bagi sesama. Aamiin….  

Malang, 13 Juni 2023

 

 

 


Selasa, 02 Agustus 2022

MANTU

 

MANTU

Tanggal 24 Juli 2022/25 Dzulhijjah 1443H, hari Ahad, saya punya gawe, yaitu mantu anak mbarep—Fatin Philia Hikmah—yang menikah dengan Ahmad Faizul Walida Ismani. Bagi saya, gawe tersebut bukanlah gawe sederhana.

Secara sosial, mantu bukanlah gawe sederhana karena ini adalah pengumuman disahkannya hubungan Fatin dan Faiz sebagai suami istri. Terikatnya Fatin dan Faiz secara hukum agama dan negara berimplikasi pada banyak hal, tidak hanya implikasi di dunia, tetapi sampai di akhirat. Secara sosial pula, peristiwa mantu berarti menyatunya dua keluarga, yaitu keluarga saya dan keluarga besan yang tentunya berimplikasi pada penyesuaian dalam banyak hal. Secara ekonomi, mantu juga bukan peristiwa biasa. Sebagai event yang dihelat oleh institusi selevel rumah tangga, mantu bukanlah peristiwa biasa secara ekonomi. Event ini melibatkan banyak vendors, yang berarti pula banyak tenaga kerja terserap, dan itu berarti roda ekonomi berputar.

Nah, bagaimana gambaran peristiwa mantu yang saya dan keluarga helat tanggal 24 Juli 2022? Berikut gambarannya.

Persiapan

Banyak sekali yang harus dilakukan sebelum hari H. Hal pertama yang menjadi fokus perhatian pada tahap ini adalah menentukan konsep acara. Setelah melalui banyak pembicaraan dan dengan berbagai pertimbangan, maka SYUKURAN adalah konsep yang kami ambil. Konsep ini menentukan banyak hal. Pertama jumlah undangan. Dengan syukuran sebagai konsep acara, maka jumlah undangan sangat terbatas. Tanpa berniat eksklusif dan tanpa mengurangi rasa hormat tehadap banyak kerabat dan sahabat, maka undangan yang kami sebar sekitar 250 dengan estimasi sekitar 500 tamu. Kedua, dengan syukuran sebagai konsep, maka kami putuskan tidak menerima uang sumbangan (buwuhan). Tujuan kami adalah menjadikan acara mantu ini sebagai media berbagi rasa bahagia atas kesempatan yang Allah berikan kepada kami mengantarkan anak mbarep sampai memasuki jenjang rumah tangga. Bisa membesarkan anak, mendampinginya sekolah hingga pendidikan tinggi, dan menikahkannya sesuai sunnah Rasul adalah rahmat dan karunia Allah yang wajib disyukuri. Salah satu bentuk syukur yang kami ambil adalah berbagi dengan kerabat dan sahabat dekat.


                     Undangan: salah satu bukti dan saksi dari ikatan suci Fatin & Faiz 

Ketiga, konsep syukuran dan jumlah undangan yang telah ditetapkan menjadi pijakan untuk melakukan persiapan yang sifatnya sangat teknis, yaitu menentukan gedung sebagai venue, catering, dekor, make up, Wedding Organizer, dll. Dengan berbagai pertimbangan, maka kami tetapkan Convention Hall Sengkaling sebagai venue acara, Duta Catering sebagai penyedia hidangan, dan Extra Ordinary WO sebagai pengatur acara. Sedangkan tempat bermalam bagi kerabat dekat dan keluarga besan adalah Muslim Guest House dan Putri Utari Guest House.

Pelaksanaan

Hari yang ditunggu-tunggu, yaitu 24 Juli 2022 (Ahad) itu tiba juga. Acara ini terbagi dalam dua sesi, yaitu akad nikah dan syukuran. Akad nikah diawali dengan penyambutan calon mempelai pria oleh kami, keluarga calon mempelai perempuan. Dalam penyambutan ini ada sesi saling berjabat tangan antar orang tua, sambutan kulanuwun dari pihak pria yang disampaikan oleh Pakdhe-nya Faiz dan direspons dengan sambutan selamat datang oleh Pakdhe-nya Fatin (Mas Yudi). Selanjutnya adalah pengalungan melati ke calon mempelai pria oleh suami saya (ayah mempelai perempuan), dan dilanjut dengan pemberian minum kepada calon mempelai pria oleh saya.


                    Pengalungan melati: Salah satu prosesi dalam penyambutan

Begitu acara penyambutan selesai, maka dilanjut dengan acara akad nikah. Yang terlibat dalam acara ini adalah petugas pencatat dari KUA, saksi, dan suami saya selaku wali nikah. Sebagai saksi dari pihak Fatin adalah Dik Samsu (adik suami, yang berarti Om-nya Fatin), dan Ustadz Asrukhin menjadi saksi dari pihak pria. Maharnya  berupa uang tunai sebesar dua juta empat ratus tujuh puluh ribu rupiah (Rp 2.470.000).

Ijab kabul dilaksanakan dalam Bahasa Arab. Kalimat-kalimat Bahasa Arab yang diucapkan oleh suami saya selaku wali nikah disambut dengan sangat lancar oleh mempelai pria hingga sekali ucap langsung dianggap sudah sah. Penyerahan mahar, penanda tanganan buku nikah, dan pembacaan sighat taklik adalah acara selanjutnya sekaligus penutup dari prosesi akad nikah. Pemasangan cincin dan sungkeman yang notabene di luar prosesi nikah dilaksanakan langsung setelah akad nikah usai.

                                         Ijab Kabul dalam Bahasa Arab oleh wali nikah


                                    

                                              Fatin & Faiz sudah sah sebagai suami istri

Salah satu cita-cita yang sering Fatin lontarkan adalah keinginannya menikah dengan didampingi para gurunya. Alhamdu lillah, cita-cita terkabul. Kedua guru yang selama ini menjadi panutan Fatin—Ustadz Afri Andiarto dari Ustadz Khaliel Anwar—bisa  hadir. Ustadz Afri Andiarto berkenan memimpin doa untuk kedua mempelai dan dilanjutkan dengan tausiah oleh Ustadz Khaliel Anwar.


                                        Ustadz Afri Ardianto untuk dua mempelai

Tausiah Ustadz ini menandai akhir dari prosesi acara akad nikah. Selanjutnya adalah acara syukuran yang diisi dengan ramah tamah dan menikmati hidangan. Di sela-sela tersebut adalah foto bersama dengan mempelai berdua. Hampir semua tamu mendapat kesempatan untuk foto bersama.

Seluruh rangkaian acara berakhir pada pukul 13.00. Semua acara berjalan lancar, nyaris tidak ada kendala. Alhamdu lillah.    

Closing Remarks

Apa yang saya rasakan ketika akan, sedang, dan sesudah mantu? Secara umum, saya merasa lega, senang, dan bahagia. Sebagai orang tua, membesarkan, menyekolahkan anak sampai jenjang pendidikan tinggi dirasa belum komplit bila belum mengantarkan anak ke gerbang rumah tangga. Dengan terselenggaranya acara mantu seperti yang saya paparkan di atas, maka tidaklah berlebihan bila saya merasa lega karena sudah bisa menggenapi tugas besar sebagai orang tua.

Di sisi lain ada juga perasaan kuatir kehilangan. Kami berempat sangat lah dekat. Saya merasa kami berempat adalah tim yang sangat solid. Kegembiraan bagi salah satu dari kami adalah kegembiraan bagi yang lain. Kesedihan bagi yang satu juga kesedihan bagi yang lain. Kerepotan, kesedihan, dan kegembiraan bagi kami sifatnya sangat kolektif. Dengan menikahnya Fatin dengan Faiz, ada kekhawatiran pada diri saya bahwa kesolidan tersebut akan berkurang. Akan tetapi, sebagai ibu, saya harus melawan perasaan khawatir tersebut dan menggantinya dengan keyakinan, harapan, dan doa bahwa kehadiran Faiz dalam kehidupan Fatin dan kami akan menjadikan kami tim yang lebih kuat dan lebih solid. Saya yakin Fatin dan Faiz adalah anak yang taat adab, terutama adab terhadap orang tua dan keluarga.


                                                Kami semakin solid

Muncul juga perasaan takut sulit beradaptasi dengan kehadiran menantu. Saya tidak terbiasa dengan anak laki-laki karena dua anak saya perempuan semua. Hadirnya Faiz sebagai anak laki-laki menuntut saya untuk beradaptasi dalam banyak hal mengingat karakter laki-laki dan perempuan banyak perbedaannya.  Akan tetapi, perasaan ini bisa saya lawan dengan keyakinan bahwa Faiz adalah anak yang supel, mudah bergaul dan mudah beradaptasi. Sifat Faiz yang saya yakini lentur itu bisa menjadi pemudah bagi kami untuk saling menyesuaikan. Saya yakin, siapapun orangnya yang jadi menantu saya, saya akan tetap dituntut untuk beradaptasi. Adaptasi bagi sesuatu yang baru adalah keniscayaan. Dengan keyakinan ini, saya terima Faiz dengan sangat terbuka. Seiring dengan berjalannya waktu, kami bisa bersenyawa.

In a nutshell, mantu adalah bukan gawe sederhana. Ada banyak ke-rebyek-an yang mengiringinya. Namun demikian, di balik kerebyekan, ada perasaan lega, bahagia, dan penuh syukur atas kesempatan yang Allah berikan untuk bisa mantu. Kekhawatiran akan ditinggal anak yang dimantu dan kesulitan beradaptasi dengan menantu adalah riak kecil yang bisa teratasi. Akhirnya, acara mantu ini adalah dimulainya kehidupan baru bagi Fatin dan Faiz. Doa Bunda adalah semoga rumah tangga kalian nanti bisa menjadi pintu penderas turunnya rahmat dan ridha Allah. Semoga kalian nanti mendapatkan keturunan yang nyaman dipandang mata dan bisa menjadi pemimpin kaum beriman. Aamiin……

 

Malang, 2 Agustus 2022    

Sabtu, 23 Juli 2022

Fatin si Anak mBarep

 

Fatin si Anak mBarep

Fatin Philia Hikmah. Begitulah nama lengkap anak pertama saya. Panggilan sehari-harinya cukup Fatin saja. Fatin lahir tgl 14 November 1995, di Rumah Bersalin ‘Aisyiyah Tongan, Malang. Semenjak masa kehamilan sampai dengan melahirkannya, saya nyaris tidak mengalami kesulitan berarti. Ketika mengandung Fatin, saya mengalami masa ngebo, yaitu masa di mana seorang ibu hamil tidak menolak semua jenis makanan. Ke-ngebo-an ini sangat memudahkan saya karena dengan ngebo, asupan gizi cukup sehingga badan menjadi sehat, dan akhirnya saya bisa beraktivitas seperti biasa. Kemudahan ini berlanjut dengan kelahirannya. Melahirkan Fatin tidak terlalu sulit. Dengan bobot 3.2kg, Fatin bisa lahir secara normal tanpa kesulitan yang berarti.

Masa-masa selanjutnya adalah masa yang normal seperti yang dialami anak lainnya. Yang agak berbeda adalah Fatin tidak mengalami merangkak (mbrangkang, Jawa red), tetapi ngesot, yaitu berjalan dengan menggunakan pantat. Apapun cara yang Fatin tempuh untuk bergerak dan berjalan, bagi saya tetap sangat menarik. Dan setiap progress yang dia raih melalui cara tersebut membuat saya sangat gembira dan berharap ada progress selanjutnya.

Fatin dan Pendidikan

Terlahir di Malang, Fatin menempuh pendidikan dari pra sekolah sampai SMA di kota tersebut. BA Baitul Makmur Sengkaling adalah TK di mana Fatin sekolah pertama kali. Di sekolah ini Fatin belajar banyak hal, termasuk cara berinteraksi dengan orang lain. Menyanyi, berdoa, makan dengan benar, shalat, dll adalah ilmu-ilmu dasar yang Fatin peroleh dari para guru. Fatin menimba ilmu di sekolah ini selama 2 tahun, tepatnya dari 1998-2000.

Setamat dari TK, Fatin melanjutkan studinya ke SD Dinoyo 2. Di SD ini Fatin mengalami banyak lompatan. Pada awalnya dia sangat pemalu seperti halnya ketika masih di TK. Lambat laun, dia mulai berubah dan lumayan aktif dengan banyak kegiatan hingga banyak murid dan guru yang mengenalnya.

Setamat SD, Fatin melanjtkan ke MTs Negeri I Malang, sebuah madrasah tsanawiyah yang cukup terkenal di Malang. Tidak banyak catatan yang bisa saya bagikan tentang masa2 ini. Selanjutnya, Fatin melanjutkan studi ke SMA Negeri 3 Malang. Di SMA ini dia aktif di Sie Kerohanian Islam (SKI). Di organisasi ini dia mengenal banyak teman yang menyukai organisasi. Sepemantauan saya, di organisasi inilah Fatin mulai menyukai buku-buku agama dan mulai punya ketertarikan pada masjid.

Ketertarikannya pada kegiatan keagamaan dan masjid semakin menguat ketika Fatin melanjutkan studi di UNAIR, tepatnya di Fakultas Psikologi. Di masjid Ulul Azmi, masjid kampus UNAIR, Fatin mendapat banyak teman yang sefrekuensi, yang sampai ketika dia menempuh S2 pun masih berlanjut.

 

Fatin dan Literasi

Fatin termasuk tipe anak yang suka membaca dan menulis. Dunia literasi diakrapinya sejak kelas I SD. Tulisan Fatin dimuat pertama kali di majalah BOBO Ketika dia masih kelas I. Tulisan tentang pengalamannya pergi ke dokter itu bisa membuat kepercayaan dirinya muncul. Sikap pemalunya sedikit demi sedikit mulai berkurang. Setelah tulisan pertama tersebut, Fatin semakin semangat menulis di BOBO. Salah satu tulisannya yang saya ingat adalah tentang pemilihan presiden secara langsung. Seingat saya dia menulis tentang beragamnya pilihan keluarga besar kami. Ada budhe yang memilih tokoh X, ada pula kerabat yang memilih tokoh Y. Begitulah kurang lebih tulisan Fatin waktu itu. Puncak prestasi literasi Fatin selama SD adalah ketika dia terpilih sebagai delegasi Konferensi Anak BOBO tahun 2007. Tulisan yang meloloskannya pada acara bergengsi tersebut adalah tentang peundungan atau bullying. Melalui konferensi ini Fatin bisa bertemu dengan Gubernur DKI Fauzi Bowo, Ibu Jusuf Kala (istri Wakil Presiden kala itu), dan akademisi sekaligus aktris Ninik L. Karim.

Setamat SD, Fatin masih aktif menulis. Salah satu karyanya berupa buku yang berjudul Setiap Detik Bersama Allah diterbitkan oleh Quanta. Buku ini lumayan diterima oleh khalayak. Selain itu, Fatin juga menerbitkan buku secara indie, yaitu Asyiknya belajar psikologi, dan Mondok yuk…... Buku yang terakhir terbit, berjudul Katarsis, ditulisnya secara kolaborasi dengan 2 sahabatnya, Khusnul dan Sita. Buku ini juga diterima sangat baik oleh khalayak. In nutshell, dunia literasi adalah salah satu passion Fatin. Semoga ke depan Fatin tetap konsisten menekuni bidang ini.

Fatin dan Orang Tua  

Bagaimanakah Fatin dengan orang tua? Fatin sangat dekat dengan kami, orang tuanya. Dia selama ini berusaha sedapat mungkin menjunjung tinggi adab terhadap orang tua. Dia sepertinya meyakini bahwa ridha ortu adalah pintu untuk mendapat ridha Allah. Fatin selalu berupaya untuk membuat hati saya nyaman. Misalnya, suatu saat dia pernah aktif di sebuah komunitas. Saya kurang sreg dengan komunitas tersebut, tapi saya tidak kewetu untuk melarangnya ketika dia minta ijin. Akhirnya dia saya ijinkan untuk bergabung ke dalamnya. Lambat laun dia menyadari akan apa yang saya sembunyikan dan akhirnya dia keluar dari komunitas tersebut.

Fatin juga berupaya taat adab untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bagi saya tidak terlalu penting. Dia selalu berupaya mengambil makanan setelah saya atau ayahnya. Dia selalu mempersilakan kami untuk ambil makanan lebih dulu sebelum dia melakukannya. Ketika saya atau ayahnya memanggil, dia akan berupaya untuk menyahutnya walau serepot apapun dia. Singkat kata, menciptakan kenyamanan bagi ortu dan taat adab adalah salah satu ciri khas Fatin dalam berinteraksi dengan ortu.

Fatin dengan Guru

Fatin meyakini bahwa guru adalah satu sumber ilmu. Keberkahan hidup bisa diperoleh, salah satunya adalah melalui guru. Fatin yakin betul akan hal itu. Dengan guru yang dia yakini kelurusan ilmunya, maka dia akan sami’na waathakna. Dia akan manut sepenuhnya. Dia menyebut bunder ser adalah sikapnya terhadap gurunya. Kadang sulit dipahami ada generasi milenial yang masih punya pemikiran seperti. Saya menyaksikan sendiri betapa selama ini dia selalu berusaha berprasangka baik dengan gurunya, berupaya tidak pernah menyebut sisi negative gurunya, dan selalu berupaya mentaati apa yang sang guru sampaikan.

Fatin dan Masa Depan

Bagaimanakah Fatin menatap masa depan? Dengan bekal akademik dan skill yang dia miliki, serta ketaatannya pada ajaran agama, guru, dan ortu, semoga Fatin bisa menentukan langkah tepat untuk masa depannya. Keberaniannya dalam menentukan masa depan dia tunjukkan dengan melangkah ke pelaminan dengan pemuda asal Magetan, Ahmad Faizul Walida Ismani, pada tanggal 24 Juli 2022. Keputusan ini sempat membuat saya tersentak. Sepertinya baru beberapa pekan lalu saya menggendongnya ke rumah sakit untuk imunisasi, sekarang sudah menikah. Betapa manis kebersamaan saya dan Fatin selama ini hingga waktu seperempat abad lebih pun terasa sangat singkat. Sesulit apapun, pernikahan ini harus disambut dengan gembira dan teriring doa semoga Allah meridhai sehingga berbagai kesulitan yang mungkin muncul dalam rumah tangga nanti bisa terlampaui dengan sempurna.

                            Paper bag, salah satu saksi pernikahan Fatin dan Faiz

Bunda akan selalu mohon kepada Allah untuk keharmonisan dan kelanggengan rumah tanggamu, Fatin. Pertahankan semangat berliterasimu, tingkatkan kedekatanmu kepada Allah, dan pertahankan kekuatanmu dalam menjunjung tinggi adab terhadap ortu dan guru. Bunda akan selalu berdoa untukmu dan merasa senantiasa dekat walau setelah ini kita tidak bisa jalan-jalan sesering dulu. Selamat menempuh hidup baru, Fatin. Tulisan sederhana ini sengaja Bunda tulis sebagai hadiah perkawinanmu. I love you….

 

Malang, 23 Juli 2022

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...