Fatin si Anak mBarep
Fatin Philia
Hikmah. Begitulah nama lengkap anak pertama saya. Panggilan sehari-harinya
cukup Fatin saja. Fatin lahir tgl 14 November 1995, di Rumah Bersalin ‘Aisyiyah
Tongan, Malang. Semenjak masa kehamilan sampai dengan melahirkannya, saya
nyaris tidak mengalami kesulitan berarti. Ketika mengandung Fatin, saya mengalami
masa ngebo, yaitu masa di mana seorang ibu hamil tidak menolak semua
jenis makanan. Ke-ngebo-an ini sangat memudahkan saya karena dengan ngebo,
asupan gizi cukup sehingga badan menjadi sehat, dan akhirnya saya bisa
beraktivitas seperti biasa. Kemudahan ini berlanjut dengan kelahirannya.
Melahirkan Fatin tidak terlalu sulit. Dengan bobot 3.2kg, Fatin bisa lahir
secara normal tanpa kesulitan yang berarti.
Masa-masa
selanjutnya adalah masa yang normal seperti yang dialami anak lainnya. Yang
agak berbeda adalah Fatin tidak mengalami merangkak (mbrangkang, Jawa
red), tetapi ngesot, yaitu berjalan dengan menggunakan pantat. Apapun
cara yang Fatin tempuh untuk bergerak dan berjalan, bagi saya tetap sangat
menarik. Dan setiap progress yang dia raih melalui cara tersebut membuat
saya sangat gembira dan berharap ada progress selanjutnya.
Fatin dan
Pendidikan
Terlahir di Malang,
Fatin menempuh pendidikan dari pra sekolah sampai SMA di kota tersebut. BA Baitul
Makmur Sengkaling adalah TK di mana Fatin sekolah pertama kali. Di sekolah ini
Fatin belajar banyak hal, termasuk cara berinteraksi dengan orang lain.
Menyanyi, berdoa, makan dengan benar, shalat, dll adalah ilmu-ilmu dasar yang
Fatin peroleh dari para guru. Fatin menimba ilmu di sekolah ini selama 2 tahun,
tepatnya dari 1998-2000.
Setamat dari TK,
Fatin melanjutkan studinya ke SD Dinoyo 2. Di SD ini Fatin mengalami banyak
lompatan. Pada awalnya dia sangat pemalu seperti halnya ketika masih di TK.
Lambat laun, dia mulai berubah dan lumayan aktif dengan banyak kegiatan hingga
banyak murid dan guru yang mengenalnya.
Setamat SD, Fatin
melanjtkan ke MTs Negeri I Malang, sebuah madrasah tsanawiyah yang cukup
terkenal di Malang. Tidak banyak catatan yang bisa saya bagikan tentang masa2
ini. Selanjutnya, Fatin melanjutkan studi ke SMA Negeri 3 Malang. Di SMA ini
dia aktif di Sie Kerohanian Islam (SKI). Di organisasi ini dia mengenal banyak
teman yang menyukai organisasi. Sepemantauan saya, di organisasi inilah Fatin
mulai menyukai buku-buku agama dan mulai punya ketertarikan pada masjid.
Ketertarikannya
pada kegiatan keagamaan dan masjid semakin menguat ketika Fatin melanjutkan
studi di UNAIR, tepatnya di Fakultas Psikologi. Di masjid Ulul Azmi, masjid
kampus UNAIR, Fatin mendapat banyak teman yang sefrekuensi, yang sampai ketika dia
menempuh S2 pun masih berlanjut.
Fatin dan
Literasi
Fatin termasuk
tipe anak yang suka membaca dan menulis. Dunia literasi diakrapinya sejak kelas
I SD. Tulisan Fatin dimuat pertama kali di majalah BOBO Ketika dia masih kelas
I. Tulisan tentang pengalamannya pergi ke dokter itu bisa membuat kepercayaan
dirinya muncul. Sikap pemalunya sedikit demi sedikit mulai berkurang. Setelah
tulisan pertama tersebut, Fatin semakin semangat menulis di BOBO. Salah satu
tulisannya yang saya ingat adalah tentang pemilihan presiden secara langsung.
Seingat saya dia menulis tentang beragamnya pilihan keluarga besar kami. Ada
budhe yang memilih tokoh X, ada pula kerabat yang memilih tokoh Y. Begitulah
kurang lebih tulisan Fatin waktu itu. Puncak prestasi literasi Fatin selama SD
adalah ketika dia terpilih sebagai delegasi Konferensi Anak BOBO tahun 2007.
Tulisan yang meloloskannya pada acara bergengsi tersebut adalah tentang peundungan
atau bullying. Melalui konferensi ini Fatin bisa bertemu dengan Gubernur DKI
Fauzi Bowo, Ibu Jusuf Kala (istri Wakil Presiden kala itu), dan akademisi
sekaligus aktris Ninik L. Karim.
Setamat SD, Fatin
masih aktif menulis. Salah satu karyanya berupa buku yang berjudul Setiap
Detik Bersama Allah diterbitkan oleh Quanta. Buku ini lumayan diterima oleh
khalayak. Selain itu, Fatin juga menerbitkan buku secara indie, yaitu Asyiknya
belajar psikologi, dan Mondok yuk…... Buku yang terakhir terbit,
berjudul Katarsis, ditulisnya secara kolaborasi dengan 2 sahabatnya,
Khusnul dan Sita. Buku ini juga diterima sangat baik oleh khalayak. In
nutshell, dunia literasi adalah salah satu passion Fatin. Semoga ke depan
Fatin tetap konsisten menekuni bidang ini.
Fatin dan Orang
Tua
Bagaimanakah Fatin
dengan orang tua? Fatin sangat dekat dengan kami, orang tuanya. Dia selama ini
berusaha sedapat mungkin menjunjung tinggi adab terhadap orang tua. Dia sepertinya
meyakini bahwa ridha ortu adalah pintu untuk mendapat ridha Allah. Fatin selalu
berupaya untuk membuat hati saya nyaman. Misalnya, suatu saat dia pernah aktif
di sebuah komunitas. Saya kurang sreg dengan komunitas tersebut, tapi saya
tidak kewetu untuk melarangnya ketika dia minta ijin. Akhirnya dia saya
ijinkan untuk bergabung ke dalamnya. Lambat laun dia menyadari akan apa yang
saya sembunyikan dan akhirnya dia keluar dari komunitas tersebut.
Fatin juga
berupaya taat adab untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bagi saya tidak terlalu
penting. Dia selalu berupaya mengambil makanan setelah saya atau ayahnya. Dia selalu
mempersilakan kami untuk ambil makanan lebih dulu sebelum dia melakukannya. Ketika
saya atau ayahnya memanggil, dia akan berupaya untuk menyahutnya walau serepot
apapun dia. Singkat kata, menciptakan kenyamanan bagi ortu dan taat adab adalah
salah satu ciri khas Fatin dalam berinteraksi dengan ortu.
Fatin dengan
Guru
Fatin meyakini
bahwa guru adalah satu sumber ilmu. Keberkahan hidup bisa diperoleh, salah
satunya adalah melalui guru. Fatin yakin betul akan hal itu. Dengan guru yang
dia yakini kelurusan ilmunya, maka dia akan sami’na waathakna. Dia akan
manut sepenuhnya. Dia menyebut bunder ser adalah sikapnya terhadap
gurunya. Kadang sulit dipahami ada generasi milenial yang masih punya pemikiran
seperti. Saya menyaksikan sendiri betapa selama ini dia selalu berusaha
berprasangka baik dengan gurunya, berupaya tidak pernah menyebut sisi negative gurunya,
dan selalu berupaya mentaati apa yang sang guru sampaikan.
Fatin dan Masa
Depan
Bagaimanakah Fatin
menatap masa depan? Dengan bekal akademik dan skill yang dia miliki, serta
ketaatannya pada ajaran agama, guru, dan ortu, semoga Fatin bisa menentukan langkah
tepat untuk masa depannya. Keberaniannya dalam menentukan masa depan dia
tunjukkan dengan melangkah ke pelaminan dengan pemuda asal Magetan, Ahmad
Faizul Walida Ismani, pada tanggal 24 Juli 2022. Keputusan ini sempat membuat
saya tersentak. Sepertinya baru beberapa pekan lalu saya menggendongnya ke rumah
sakit untuk imunisasi, sekarang sudah menikah. Betapa manis kebersamaan saya
dan Fatin selama ini hingga waktu seperempat abad lebih pun terasa sangat
singkat. Sesulit apapun, pernikahan ini harus disambut dengan gembira dan
teriring doa semoga Allah meridhai sehingga berbagai kesulitan yang mungkin
muncul dalam rumah tangga nanti bisa terlampaui dengan sempurna.
Paper bag, salah satu saksi pernikahan Fatin dan Faiz
Bunda akan selalu
mohon kepada Allah untuk keharmonisan dan kelanggengan rumah tanggamu, Fatin. Pertahankan
semangat berliterasimu, tingkatkan kedekatanmu kepada Allah, dan pertahankan
kekuatanmu dalam menjunjung tinggi adab terhadap ortu dan guru. Bunda akan
selalu berdoa untukmu dan merasa senantiasa dekat walau setelah ini kita tidak
bisa jalan-jalan sesering dulu. Selamat menempuh hidup baru, Fatin. Tulisan
sederhana ini sengaja Bunda tulis sebagai hadiah perkawinanmu. I love you….
Malang, 23 Juli
2022
Selamat mb Fatin. Barakallah. Mbrebes mili baca tulisan bundaš
BalasHapusMakasih, Sist.....
BalasHapus