Kamis, 21 Juli 2022

Prof Nahiyah dan Bapak Dahlan Rais

 

Bu Nahiyah dan Bapak Dahlan Rais

Berwisata tidak harus mengunjungi tempat-tempat rekreasi semisal pantai, danau, taman kota, atau wahana permainan. Mengunjungi sahabat pun menurut saya bisa dianggap berwisata. Dengan mengunjungi sahabat, kita bisa saling bertukar kabar, saling memanjatkan doa, mengenang beberapa peristiwa lama yang mengesankan, dan tidak jarang membicarakan dan merancang masa depan. Kesemua itu bisa membuat pikiran segar, penuh optimisme, perasaan sering jadi adem, dan kadang berbunga-bunga. Ya,…itulah yang saya rasakan Ketika awal Juli 2022 saya bersama keluarga mengunjungi dua sahabat suami di Jogjakarta dan Surakarta.  

Prof Nahiyah

Prof Nahiyah Jahidi Faraz. Itulah nama dan gelar lengkap sahabat suami yang kami kunjungi di Jogjakarta tanggal 2 Juli 2022. Bertemu dan ngobrol dengan beliau layaknya berwisata di berbagai spot. Semangat di usia senja  adalah spot pertama yang saya singgahi. Prof Nahiyah menunjukkan bahwa usia dan semangat berkegiatan berbanding lurus. Semakin tinggi usia, maka semangat berkegiatan pun juga semakin tinggi. Di usianya yang sudah 70 lebih, beliau masih aktif mengajar di pascasarjana UNY, membimbing mahasiswa dalam menulis tesis dan disertasi, menguji tesis dan disertasi, serta masih aktif menulis buku. Kuantitas kegiatan akademik dan sosial yang beliau jalani di usia pensiun nyaris tidak berbeda dengan ketika belum pensiun.

Politik adalah spot berikutnya. Sebagai seseorang yang pernah menjadi anggota DPR, sangat dekat dengan keluarga Keraton, dan dekat dengan keluarga Gubernur DKI Anies Baswedan, maka beliau sangat paham politik, terutama situasi politik di negeri ini. Dengan Bahasa yang sangat mudah dipahami beliau menyampaikan harapan dan prediksinya tentang pilpres 2024. Ada tokoh yang saat ini sangat popular dan banyak orang yang mendambakannya untuk menjadi presiden. Berbeda dengan harapan banyak orang tersebut, menurut Prof Nahiyah, tokoh tersebut tidak mungkin bisa jadi presiden kecuali dengan campur tangan Allah. Campur tangan Allah adalah mutlak baginya bila ingin jadi presiden. Banyak hal yang tidak bisa dilogikan ketika sudah masuk dalam politik sehingga ketika ada seorang kepala daerah berkinerja bagus dan popular tidak serta merta bisa diterima mayoritas pemilih ketika dia nyapres. Begitulah garis besar pandangannya terhadap siapa yang akan memimpin negeri ini.

                    Kami dengan Prof Nahiyah di taman belakang kediaman beliau

Spot lain adalah spot perpaduan dua budaya, Arab dan Jawa. Prof Nahiyah adalah WNI berdarah Arab. Suasana Arab sangat terasa ketika berada di kediaman beliau. Perabot rumah tangga yang ada di ruang tamu, ruang makan, dan taman belakang bernuansa sangat Arab. Furniture dengan ukuran besar, kaligrafi, lampu kristal, tempat minum dan wadah gula yang tersaji di meja tamu semuanya sangat khas Arab. Suasana Jawa sangat terasa dengan caranya dalam menerima kami. Anjuran budaya Jawa untuk senantiasa gupuh, lungguh dan suguh ketika menerima tamu benar-benar beliau terapkan. Antusiasme dan kehangatan natural yang beliau tunjukkan ketika menerima kami adalah wujud gupuh dalam filosofi Jawa. Diterimanya kami di tempat yang nyaman lengkap dengan camilan dan makan malam adalah perwujudan dari lungguh, dan suguh.

Bagaimana menjaga semangat kerja dan berkarya, bagaimana mencermati dan menyikapi situasi politik di tanah air, dan bagaimana memperlakukan tamu adalah 3 pelajaran berharga yang bisa saya petik dari Prof Nahiyah. Kesemua itu bisa memperkaya batin dan mencerdaskan pikiran.

Bapak Dahlan Rais

Pelajaran senada juga saya peroleh dari sahabat lain, yang tinggal di Surakarta, yaitu Bapak Dahlan Rais, yang kami kunjungi pada hari Senin tgl 4 Juli 2022. Pak Dahlan Rais adalah dosen FKIP Prodi Bahasa Inggris Universitas Negeri Solo (UNS) yang saat ini sudah purna tugas. Bertemu dan berbincang dengan Pak Dahlan Rais sangatlah menarik. Seperti halnya Prof Nahiyah, Pak Dahlan Rais menunjukkan semangat kerja dan berkarya yang masih sangat tinggi di usia senjanya. Purna tugas sebagai ASN tidak berarti purna mengabdi pada sesama. Saat ini beliau masih aktif sebagai ketua Badan Pertimbangan Harian(BPH) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Selain aktif di kedua universitas tersebut, beliau juga masih aktif sebagai pengurus di PP Muhammadiyah, dan saat ini menjadi Ketua Dewan Formatur Mukatamar ke 48 Muhammadiyah. Usia senja tetapi kerja dan karya muda. Mungkin itulah yang pas untuk mendeskripsikan semangat kerja beliau.

Seperti halnya Prof Nahiyah, filosofi Jawa gupuh, lungguh, suguh pun diterapkan betul oleh Pak Dahlan. Dengan hangatnya kami diterima dan diajak keliling kampus UMS, kampus yang salah satu inisiator berdirinya adalah Ibu beliau. Kunjungan kami menjadi seperti campus tour. Pertama, kami dibawa untuk melihat Gedung Edutorium K.H Ahmad Dahlan. Gedung dengan kapasitas sekitar 8.000 orang ini akan menjadi venue kegiatan Muktamar ke 48 Muhammadiyah bulan November 2022.   Pak Dahlan menjelaskan bahwa Gedung yang dibiayai secara swadana tersebut dirancang oleh dosen UMS sendiri. Peruntukan Gedung ini adalah untuk acara-acara besar semisal wisuda, konferensi, dan lain-lain.

Dirasa puas melihat Edutorium, kami diajak berkeliling kampus UMS yang ternyata sangat luas. Saya tidak tahu persis berapa luas areal kampus tersebut. Luasnya areal membuat kampus tersebut menjadi seperti kampus negeri yang biasanya berlahan sangat luas. Saking luasnya lahan, kampus tersebut sampai memiliki 4 masjid untuk memudahkan sivitas akademika menjalankan shalat.

Kampus ini sepertinya menganut paham green campus. Sepanjang jalan penghubung antara gedung satu dengan lainnya dipenuhi dengan pohon yang terawat dengan baik hingga terasa asri. Pemisahan antara sampah organik dan non-organik terlihat di mana-mana. Banyaknya papan bertulis UMS Kampus Cantik tanpa Plastik semakin menguatkan dugaan saya akan konsep go green yang dianut oleh kampus tersebut. Dugaan saya semakin terbukti ketika saya tiba di Gedung Induk Siti Walidah, tempat di mana Pak Dahlan ngantor. Gedung tersebut didesain sedemikian rupa hingga bisa hemat energi. Gedung ini semaksimal mungkin menggunakan matahari sebagai sumber pencahayaan dan menggunakan mungkin angin sebagai sumber penghawaan. Prinsip hemat energi diupayakan semaksimal mungkin di gedung ini.

                      Kami diapit Bapak/Ibu Dahlan Rais di Editorium KH Ahmad Dahlan

Konsep ramah lingkungan ternyata juga diterapkan oleh Pak Dahlan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di kampus tersebut, beliau memberi teladan kepada sivitas akademika yang lain dalam bersikap ramah lingkungan. Beliau menerapkan hidup dengan minimalis dalam pemakaian plastic. Ketika kami makan pagi di Edupark, rumah makan di lingkungan Edutorium, saya tahu bahwa beliau menghindari air mineral botol. Beliau memilih air mineral dari galon yang dituang di gelas. Usut punya usut, ternyata hal tersebut telah menjadi lifestyle beliau. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan saya yang sangat suka minum air mineral botol sekali pakai sehingga dalam sehari saya bisa memakai dan membuang 4 botol plastic. Betapa tidak ramahnya saya terhadap lingkungan…….

Closing Remarks

Dua sahabat senior tersebut menurut saya memiliki kesamaan, yaitu sikap rendah hati alias humble. Keduanya menunjukkan bahwa dengan bersikap rendah hati, seseorang bukannya terlihat rendah, teapi malah terlihat ‘tinggi’. Keduanya adalah figure yang sudah memiliki semuanya. Status sosial yang beliau pegang memungkinkannya untuk mendapatkan berbagai kemudahan (privileges) dari sekitarnya. Dengan privileges tersebut sangat wajar bagi beliau untuk lupa dengan sahabat lama seperti suami saya yang tidak memiliki daya untuk bisa membuat keduanya semakin berkibar. Akan tetapi, hal tersebut tidak beliau lakukan. Kami, yang notabene orang sangat biasa, diterima dengan sangat baik, lengkap dengan tiga sikap yang diajarkan filosofi Jawa dalam menerima tamu, yaitu gupuh, lungguh, suguh. Bahkan beliau menyampaikan terimakasih karena kami berkenan berkunjung.  Prof Nahiyah dan Bapak Dahlan Rais dalam pandangan saya adalah figure yang bisa melampaui sesuatu yang sangat rendah tetapi sulit dicapai banyak orang, yaitu rendah hati. Dalam hati saya berdoa semoga ridha Allah SWT senantiasa mengalir bagi beliau berdua, dan semoga saya dan keluarga bisa meneladani keduanya. Aamiin…..

 

Malang, 22 Juli 2022


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...