Bu
Nahiyah dan Bapak Dahlan Rais
Berwisata tidak harus mengunjungi tempat-tempat rekreasi
semisal pantai, danau, taman kota, atau wahana permainan. Mengunjungi sahabat
pun menurut saya bisa dianggap berwisata. Dengan mengunjungi sahabat, kita bisa
saling bertukar kabar, saling memanjatkan doa, mengenang beberapa peristiwa
lama yang mengesankan, dan tidak jarang membicarakan dan merancang masa depan.
Kesemua itu bisa membuat pikiran segar, penuh optimisme, perasaan sering jadi
adem, dan kadang berbunga-bunga. Ya,…itulah yang saya rasakan Ketika awal Juli
2022 saya bersama keluarga mengunjungi dua sahabat suami di Jogjakarta dan
Surakarta.
Prof Nahiyah
Prof Nahiyah Jahidi Faraz. Itulah nama dan gelar lengkap sahabat
suami yang kami kunjungi di Jogjakarta tanggal 2 Juli 2022. Bertemu dan ngobrol
dengan beliau layaknya berwisata di berbagai spot. Semangat di usia senja adalah spot pertama yang saya singgahi. Prof
Nahiyah menunjukkan bahwa usia dan semangat berkegiatan berbanding lurus.
Semakin tinggi usia, maka semangat berkegiatan pun juga semakin tinggi. Di
usianya yang sudah 70 lebih, beliau masih aktif mengajar di pascasarjana UNY,
membimbing mahasiswa dalam menulis tesis dan disertasi, menguji tesis dan
disertasi, serta masih aktif menulis buku. Kuantitas kegiatan akademik dan
sosial yang beliau jalani di usia pensiun nyaris tidak berbeda dengan ketika
belum pensiun.
Politik adalah spot berikutnya. Sebagai seseorang yang pernah
menjadi anggota DPR, sangat dekat dengan keluarga Keraton, dan dekat dengan
keluarga Gubernur DKI Anies Baswedan, maka beliau sangat paham politik,
terutama situasi politik di negeri ini. Dengan Bahasa yang sangat mudah
dipahami beliau menyampaikan harapan dan prediksinya tentang pilpres 2024. Ada
tokoh yang saat ini sangat popular dan banyak orang yang mendambakannya untuk
menjadi presiden. Berbeda dengan harapan banyak orang tersebut, menurut Prof
Nahiyah, tokoh tersebut tidak mungkin bisa jadi presiden kecuali dengan campur
tangan Allah. Campur tangan Allah adalah mutlak baginya bila ingin jadi
presiden. Banyak hal yang tidak bisa dilogikan ketika sudah masuk dalam politik
sehingga ketika ada seorang kepala daerah berkinerja bagus dan popular tidak
serta merta bisa diterima mayoritas pemilih ketika dia nyapres. Begitulah
garis besar pandangannya terhadap siapa yang akan memimpin negeri ini.
Kami dengan Prof Nahiyah di taman belakang kediaman beliau
Spot lain adalah spot perpaduan dua budaya, Arab dan Jawa.
Prof Nahiyah adalah WNI berdarah Arab. Suasana Arab sangat terasa ketika berada
di kediaman beliau. Perabot rumah tangga yang ada di ruang tamu, ruang makan,
dan taman belakang bernuansa sangat Arab. Furniture dengan ukuran besar, kaligrafi,
lampu kristal, tempat minum dan wadah gula yang tersaji di meja tamu semuanya
sangat khas Arab. Suasana Jawa sangat terasa dengan caranya dalam menerima
kami. Anjuran budaya Jawa untuk senantiasa gupuh, lungguh dan suguh ketika
menerima tamu benar-benar beliau terapkan. Antusiasme dan kehangatan natural
yang beliau tunjukkan ketika menerima kami adalah wujud gupuh dalam
filosofi Jawa. Diterimanya kami di tempat yang nyaman lengkap dengan camilan
dan makan malam adalah perwujudan dari lungguh, dan suguh.
Bagaimana menjaga semangat kerja dan berkarya, bagaimana
mencermati dan menyikapi situasi politik di tanah air, dan bagaimana
memperlakukan tamu adalah 3 pelajaran berharga yang bisa saya petik dari Prof
Nahiyah. Kesemua itu bisa memperkaya batin dan mencerdaskan pikiran.
Bapak Dahlan Rais
Pelajaran senada juga saya peroleh dari sahabat lain, yang
tinggal di Surakarta, yaitu Bapak Dahlan Rais, yang kami kunjungi pada hari
Senin tgl 4 Juli 2022. Pak Dahlan Rais adalah dosen FKIP Prodi Bahasa Inggris
Universitas Negeri Solo (UNS) yang saat ini sudah purna tugas. Bertemu dan
berbincang dengan Pak Dahlan Rais sangatlah menarik. Seperti halnya Prof
Nahiyah, Pak Dahlan Rais menunjukkan semangat kerja dan berkarya yang masih
sangat tinggi di usia senjanya. Purna tugas sebagai ASN tidak berarti purna
mengabdi pada sesama. Saat ini beliau masih aktif sebagai ketua Badan
Pertimbangan Harian(BPH) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan
Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Selain aktif di kedua universitas
tersebut, beliau juga masih aktif sebagai pengurus di PP Muhammadiyah, dan saat
ini menjadi Ketua Dewan Formatur Mukatamar ke 48 Muhammadiyah. Usia senja
tetapi kerja dan karya muda. Mungkin itulah yang pas untuk mendeskripsikan
semangat kerja beliau.
Seperti halnya Prof Nahiyah, filosofi Jawa gupuh, lungguh,
suguh pun diterapkan betul oleh Pak Dahlan. Dengan hangatnya kami diterima
dan diajak keliling kampus UMS, kampus yang salah satu inisiator berdirinya
adalah Ibu beliau. Kunjungan kami menjadi seperti campus tour. Pertama,
kami dibawa untuk melihat Gedung Edutorium K.H Ahmad Dahlan. Gedung dengan
kapasitas sekitar 8.000 orang ini akan menjadi venue kegiatan Muktamar ke 48
Muhammadiyah bulan November 2022. Pak
Dahlan menjelaskan bahwa Gedung yang dibiayai secara swadana tersebut dirancang
oleh dosen UMS sendiri. Peruntukan Gedung ini adalah untuk acara-acara besar
semisal wisuda, konferensi, dan lain-lain.
Dirasa puas melihat Edutorium, kami diajak berkeliling kampus
UMS yang ternyata sangat luas. Saya tidak tahu persis berapa luas areal kampus
tersebut. Luasnya areal membuat kampus tersebut menjadi seperti kampus negeri
yang biasanya berlahan sangat luas. Saking luasnya lahan, kampus tersebut
sampai memiliki 4 masjid untuk memudahkan sivitas akademika menjalankan shalat.
Kampus ini sepertinya menganut paham green campus. Sepanjang
jalan penghubung antara gedung satu dengan lainnya dipenuhi dengan pohon yang
terawat dengan baik hingga terasa asri. Pemisahan antara sampah organik dan
non-organik terlihat di mana-mana. Banyaknya papan bertulis UMS Kampus
Cantik tanpa Plastik semakin menguatkan dugaan saya akan konsep go green
yang dianut oleh kampus tersebut. Dugaan saya semakin terbukti ketika saya
tiba di Gedung Induk Siti Walidah, tempat di mana Pak Dahlan ngantor. Gedung
tersebut didesain sedemikian rupa hingga bisa hemat energi. Gedung ini
semaksimal mungkin menggunakan matahari sebagai sumber pencahayaan dan
menggunakan mungkin angin sebagai sumber penghawaan. Prinsip hemat energi
diupayakan semaksimal mungkin di gedung ini.
Kami diapit Bapak/Ibu Dahlan Rais di Editorium KH Ahmad Dahlan
Konsep ramah lingkungan ternyata juga diterapkan oleh Pak Dahlan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di kampus tersebut, beliau memberi teladan kepada sivitas akademika yang lain dalam bersikap ramah lingkungan. Beliau menerapkan hidup dengan minimalis dalam pemakaian plastic. Ketika kami makan pagi di Edupark, rumah makan di lingkungan Edutorium, saya tahu bahwa beliau menghindari air mineral botol. Beliau memilih air mineral dari galon yang dituang di gelas. Usut punya usut, ternyata hal tersebut telah menjadi lifestyle beliau. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan saya yang sangat suka minum air mineral botol sekali pakai sehingga dalam sehari saya bisa memakai dan membuang 4 botol plastic. Betapa tidak ramahnya saya terhadap lingkungan…….
Closing Remarks
Dua sahabat senior tersebut menurut saya memiliki kesamaan,
yaitu sikap rendah hati alias humble. Keduanya menunjukkan bahwa dengan
bersikap rendah hati, seseorang bukannya terlihat rendah, teapi malah terlihat ‘tinggi’.
Keduanya adalah figure yang sudah memiliki semuanya. Status sosial yang beliau
pegang memungkinkannya untuk mendapatkan berbagai kemudahan (privileges) dari
sekitarnya. Dengan privileges tersebut sangat wajar bagi beliau untuk lupa
dengan sahabat lama seperti suami saya yang tidak memiliki daya untuk bisa
membuat keduanya semakin berkibar. Akan tetapi, hal tersebut tidak beliau lakukan.
Kami, yang notabene orang sangat biasa, diterima dengan sangat baik, lengkap
dengan tiga sikap yang diajarkan filosofi Jawa dalam menerima tamu, yaitu gupuh,
lungguh, suguh. Bahkan beliau menyampaikan terimakasih karena kami berkenan
berkunjung. Prof Nahiyah dan Bapak
Dahlan Rais dalam pandangan saya adalah figure yang bisa melampaui sesuatu yang
sangat rendah tetapi sulit dicapai banyak orang, yaitu rendah hati. Dalam hati
saya berdoa semoga ridha Allah SWT senantiasa mengalir bagi beliau berdua, dan
semoga saya dan keluarga bisa meneladani keduanya. Aamiin…..
Malang, 22 Juli 2022
Tidak ada komentar:
Posting Komentar