Jumat, 15 Juli 2022

BUKAN MASJID YANG MAINSTREAM

 

 


 

 

Bukan Masjid yang Mainstream

     Jogokariyan. Itulah nama masjid yang saya kunjungi tanggal 2 Juli 2022 (2 Dzulhijjah 1443) lalu. Masjid yang tidak terletak di pusat kota tetapi popularitasnya mendunia ini memang memiliki keunikan yang tidak dimiliki masjid pada umumnya.

Pertama, nama masjid ini keluar dari pakem nama masjid di Indonesia pada umumnya yang cenderung menggunakan Bahasa Arab, semisal At-Taqwa, Baiturrahman, Baitussalam, dll. Nama masjid ini diambil dari nama kampung dan sekaligus nama jalan di mana masjid tersebut berdiri, yaitu Jogokariyan. Nama masjid yang sangat njawani dan tidak berbau Arab sama sekali adalah keunikan pertama dari masjid ini.

          Nama masjid dengan menggunakan nama daerah setempat mengingatkan kita pada masjid Kuba, yaitu masjid yang didirikan oleh Rasulullah di daerah Kuba.  Dengan mengambil nama daerah setempat sebagai nama masjid, maka masyarakat setempat akan merasakan bahwa masjid tersebut benar-benar bagian dari mereka. Sense of belonging atau perasaan ikut memiliki masjid yang tumbuh subur di kalangan masyarakat akan berdampak positif. Kegiatan masjid akan sepenuhnya didukung sehingga masjid tidak akan sepi kegiatan. Masjid menjadi ramai dan hidup. Masjid menjadi bagian dari masyarakat karena masyarakat menjadi concern utama masjid, sesuai dengan salah satu program kerja takmir masjid tersebut, yaitu memasyarakatkan masjid dan memasjidkan masyarakat. Keberhasilan program kerja tersebut, salah satunya adalah karena pemberian nama masjid yang sangat lokal.   



Masjid Jogokariyan yang ditulis dengan tiga jenis huruf: aksara Jawa, Arab, dan Latin

Keunikan kedua masjid ini adalah keterbukaan masjid selama 24 jam. Masjid yang sudah sedemikian popular ini terbuka bagi siapapun yang ingin menjalankan salat ataupun hanya sekedar singgah untuk beristirahat. Takmir masjid tidak memiliki kekhawatiran akan adanya barang hilang atau rusak bila masjid dibuka di luar jam salat. Keterbukaan menjadi lebih sempurna karena pengunjung disiapkan air mineral gratis yang bisa dinikmati pengunjung. Keterbukaan dan keramahan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Keunikan ketiga terletak pada program-program kerja takmir, salah satunya adalah pendekatan kesejahteraan dalam dakwah. Kesejahteraan jamaah sepertinya menjadi isu sentral selain kegiatan-kegiatan yang sifatnya ubudiah. Dalam bulan Ramadhan, program pensejahteraan jamaah sangat nyata karena masjid ini bisa menyediakan ribuan porsi buka bersama gratis. Selain bulan Ramadhan, program yang sifatnya lebih berkesinambungan sangat tampak terlihat dengan adanya ATM beras. Yaitu suatu anjungan untuk menyalurkan sedekah beras untuk para dhuafa.


                                ATM alias Anjungan Terima Mandiri Beras untuk dhuafa

Selain ATM beras, upaya menyentuh masyarakat secara langsung bisa dilihat dari banyaknya kotak amal dengan peruntukan yang berbeda-beda. Di masjid pada umumnya kita temukan satu atau dua kotak amal yang sudah bisa ditebak peruntukannya, yaitu untuk operasional masjid. Nah, di masjid ini berbeda. Ada banyak kotak amal di sana dengan peruntukan yang berbeda-beda. Kotak infaq darurat kebencanaan, kotak shodaqoh beras, kotak infaq operasional masjid, infaq air minum, kotak infaq dunia Islam adalah sebagian kotak amal yang saya temui di teras masjid tersebut. Selain itu, ada ATM beras, yaitu suatu anjungan yang bisa digunakan menyalurkan sedekah beras untuk dhuafa.  

Merangkul jamaah dengan mensejahterakan mereka memang sejalan dengan visi masjid tersebut, yaitu terbentuknya masyarakat sejahtera lahir batin yang diridhai Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid. Kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara hablumminallah dan hablumminannas mungkin yang menggerakkan pengelola masjid hingga masjid ini hidup dengan kegiatan-kegiatan ubudiah dan muamalah. Kesadaran akan menyeimbangkan keduanya akan bisa menjaga ke-istiqomah-an kita dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai bentuk ibadah ritual yang telah di-syariat-kan yang akhirnya tereflesikan dalam perilaku luhur terhadap sesama. Menyeimbangkan keduanya dalam program kerja masjid menjadikan agama menjadi hidup, membumi, dan solutif.  Itulah pelajaran berharga yang bisa saya petik dari kunjungan singkat saya ke masjid Jogokariyan, sebuah masjid kampung yang mendunia, sebuah masjid yang berbeda dengan kebanyakan masjid lainnya, sebuah masjid yang anti mainstream.

 

Malang, 9 Juli 2022/10 Dzulhijjah 1443

 

 

2 komentar:

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...