Jumat, 29 Januari 2021

SKP dan BKD: Serupa tapi tak Sama

SKP dan BKD: Serupa tetapi tak Sama

 Setiap awal tahun, Pegawai Negeri Sipil, termasuk dosen diwajibkan menyelesaikan SKP(Sasaran Kerja Pegawai) dan Beban Kerja Dosen (BKD) dalam waktu yang hampir bersamaan. 

Setiap kali menyelesaikan SKP dan BKD, saya seperti dihadapkan pada teka teki serupa tapi tak sama, yaitu suatu permainan yang menuntut kita untuk bisa menemukan beberapa perbedaan dari dua gambar yang sangat mirip. Kemiripan dua gambar menyebabkan beberapa perbedaan kecil tidak tampak bila kita tidak benar-benar cermat dan jeli. Ada rasa penasaran setiap saat menemui permainan ini. Ada rasa tertantang bila ada perbedaan yang belum bisa ditemukan, dan ada rasa lega bila misteri tempat perbedaan telah bisa terkuak.

SKP dan BKD menurut saya juga memberikan sensasi itu. Istilah-istilah yang muncul di keduanya sangat mirip atau bahkan sama hingga membuat keduanya seperti sama. Ada pertanyaan yang sering muncul di benak setiap saat mengerjakan keduanya. Apa yang membedakannya? Paling tidak ada empat kesamaan sekaligus perbedaan di keduanya.

Dari konten atau isi, keduanya serupa tapi beda. Keduanya serupa karena sama-sama berisi rencana kerja beserta realisasinya. SKP dan BKD berisi rencana kerja dosen dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Ketiga unsur tersebut wajib ada baik di SKP maupun di BKD.

Meski demikian, keduanya beda dalam hal target ketercapaian rencana. SKP secara eksplisit menyebutkan target yang meliputi waktu capaian, kuantitas capaian, dan kualitas capaian. Waktu capaian bisa satu semester, satu tahun, atau lebih dari itu. Target kuantitas bisa jumlah SKS, jumlah semester, jumlah mahasiswa, jumlah publikasi, jumlah kegiatan, dll. Target kualitas maksudnya ketuntasan pelaksanaan suatu rencana. BKD tidak mencantumkan target layaknya SKP. Di Rencana BKD hanya disebutkan besarnya SKS dari masing-masing kegiatan.

 Titik beda lain adalah tentang realisasi dari rencana kegiatan. Di SKP ketercapaian target dari masing-masing kegiatan ditulis dalam bentuk angka. Angka realisasi ini bisa sama persis, bisa di bawah, atau di atas angka yang ditargetkan. Sebaliknya, ketercapaian suatu kegiatan di BKD ditandai dengan rekomendasi selesai untuk kegiatan yang bisa tuntas dalam satu semester, lanjutkan untuk aktifitas yang belum bisa selesai, dan beban lebih bila kegiatan sudah tuntas tetapi jumlah SKS dalam semester tersebut sudah terpenuhi.

          Dari sisi waktu, SKP dan BKD berbeda. SKP dirancang untuk memantau kinerja selama satu tahun, sedangkan BKD dibuat untuk satu semester. Jadi, dalam satu tahun seorang dosen manghasilkan dua BKD dan satu SKP.

          Terkait dengan pembobotan, SKP dan BKD serupa tetapi tak sama. Keduanya serupa karena semua aktifitas di SKP dan BKD sama-sama diberi nilai atau grade dalam bentuk angka. Di SKP, aktifitas tri dharma perguruan tinggi dinilai dengan satuan angka kredit (AK). Di BKD, aktifitas dosen dinilai dengan SKS.  

          Dari sisi penilai, SKP dan BKD serupa tetapi berbeda. SKP diperiksa dan dinilai oleh atasan langsung dan atasan pejabat penilai. SKP saya diperiksa dan dinilai oleh Ketua Jurusan (Kajur) dan atasan dari Kajur (Dekan). Sedangkan rencana kerja di BKD diperiksa oleh Ketua Jurusan, dan laporan BKD diperiksa oleh asesor yang ditunjuk dan disahkan oleh Rektor.

          Ya,….itulah beberapa poin kemiripan dan perbedaan yang ada di SKP dan BKD. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu dicatat ketika menyelesaikan keduanya. Pertama, keduanya mengisyaratkan supaya kita terbiasa bertindak berdasar rencana, tidak dadakan. Rencana kegiatan yang ditulis dengan rinci menjadi guideline dalam melaksanakan kegiatan di lapangan. Selain itu, rencana yang tertulis ibarat janji yang diikrarkan sehingga bisa menjadi pengingat bagi yang membuatnya untuk senantiasa konsisten menjalankan apa yang sudah diikrarkan. Menulis apa yang akan dikerjakan dan mengerjakan apa yang sudah ditulis adalah pelajaran penting dari SKP dan BKD.

          Kedua, mengerjakan SKP dan BKD bukanlah pekerjaan yang memerlukan kajian teori yang sampai mengernyitkan dahi, bukan pula pekerjaan yang menuntut penerapan rumus-rumus statistik yang njlimet. Meski demikian, keduanya memerlukan konsentrasi penuh. Keduanya tidak bisa disambi-sambi. Menyeleraskan antara jenis kegiatan, nilai AK, jumlah SKS, nomor surat penugasan, bukti fisik kegiatan, plus ketrampilan mengoperasikan program excel memerlukan waktu dan tenaga khusus serta konsentrasi penuh.

          Ketiga, file yang rapi akan sangat membantu. Menyelesaikan keduanya memerlukan banyak dokumen. Nomor SK, nama matakuliah, jumlah mahasiswa, nama kegiatan, sertifikat, dll adalah data-data yang diperlukan untuk menyelesaikan SKP dan BKD. Bila dokumen yang berisi data-data yang dibutuhkan sudah di tangan, mengerjakan SKP dan BKD tentunya akan sangat ringan. Keduanya bisa terselesaikan dalam sekali duduk. Belajar rapi dan tertib dalam mengumpulkan file alias good at filing adalah pelajaran berharga lain yang bisa kita petik dari SKP dan BKD.

          Keempat, SKP dan BKD pada dasarnya berisi rencana menjalankan kegiatan tri dharma perguruan tinggi beserta realisasinya. Tujuan utama dari keduanya adalah sama, yaitu untuk memantau kinerja dosen. Karena itulah, saya berharap ke depan keduanya diintegrasikan. Rencana per semester masuk ke dalam rencana tahunan sehingga semua kegiatan dalam satu tahun bisa direncanakan dari awal.

          Terakhir, mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa SKP dan BKD yang notabene adalah bread and butter case alias permasalahan sehari-hari perlu ditulis? Bagi saya, menulis adalah aktifitas berbagi ide dengan sesama yang bisa membuat pikiran jadi lepas. Ide, sesederhana apapun dia, bila tidak tertuang dalam tulisan, dia akan menggelayut terus di pikiran, dan ini sangat mengganggu. Sebaliknya, bila ide bisa tertuang dalam rangkaian kalimat dan paragraf akan bisa membuat pikiran jadi ringan dan beban seolah hilang. Itulah yang terjadi pada SKB dan BKD di mata saya. Keduanya memang kegiatan rutin yang saking rutinnya keduanya terlihat sangat biasa. Dari dua hal yang terlihat sangat biasa tersebut, saya mendapatkan titik yang menarik, yaitu kemiripan dan perbedaan keduanya. Andai ide tersebut saya biarkan mengendap di kepala saya, dia akan menjadi beban saya. Oleh sebab itulah, akhirnya jadilah tulisan sederhana ini. Sesederhana apapun tulisan ini, tapi dia sudah membuat saya lepas dan relieved. Terimakasih sudah membaca tulisan ringan dan sederhana namun bisa membuat saya lega ini๐Ÿ˜Š๐Ÿ’–.

 

Malang, 29 Januari 2021M/15 Jumadil Akhir 1442H 

4 komentar:

  1. memulai ngerjakannya bagiku kadang terasa berat..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmm....iya memang Pak. Memulainya kadang terasa berat........

      Hapus
  2. Terima kasih catatannya, Ibunda. Jadi paham tugas-tugas dosen selain mengajar ternyata juga banyak. Thank you for writing this, Ibu Nurul.

    BalasHapus

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...