Covid-19, Mekanis, dan Angka Psikologis
Apa itu angka
psikologis? Sederhananya, angka psikologis adalah angka yang biasanya menjadi
target capaian keberhasilan, atau angka obsesi, atau angka impian. Ciri
utamanya adalah dia angka bulat, cantik, dan mudah diingat, semisal 100, 1000,
10.000, dll. Kinerja seseorang yang menduduki jabatan tertentu biasanya kita
lihat di 100 hari pertama. Bila di 100 hari pertama dia bisa kerja maksimal dan
bisa membuat pihak lain terkesan, maka dia akan mudah menjalani hari-hari
berikutnya. Sebaliknya, bila di 100 hari pertama dia kurang bisa membuat kesan
positif, maka hari-hari berikutnya dia akan mendapatkan banyak catatan dari
lingkungan sekitarnya. Jadi, dalam kasus ini 100 adalah angka psikologis baik
bagi penilai maupun yang dinilai. Contoh lain, angka 1000 adalah angka impian
bagi YouTuber karena 1000 adalah jumlah minimal pemirsa yang harus diraih untuk
bisa mendapatkan honor dari YouTube. Angka
1000 pertama bagi YouTuber secara psikologis sangatlah melegakan. Angka ini
memotivasinya untuk bisa mencapai angka 2000, 3000, dan seterusnya. Angka target
atau angka obsesi adalah angka yang bisa memberi efek psikologis bagi yang bisa
meraihnya, makanya dia disebut angka psikologis.
Angka-angka cantik
semisal 1000, 10.000 bila menembus jumlah kasus covid-19 bisa pula bisa menimbulkan
dampak psikologis. Berbeda dengan dampak psikologis seperti yang diuraikan di
atas, angka-angka psikologis dalam kasus covid-19 bisa menimbulkan
keterkejutan, kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan. Hal ini karena
angka-angka cantik tersebut bukanlah obsesi, bukan pula target yang ingin
diraih, melainkan angka-angka yang sangat dihindari.
Baik dari sisi
penambahan kasus harian maupun akumulasi jumlah kasus, kita sudah melampaui beberapa
kali angka psikologis. Dalam hal penambahan kasus harian, angka ratusan
bertahan cukup lama hingga akhirnya mencapai angka psikologis 1000. Kemudian
menyentuh angka 5000-an di bulan November, dan akhirnya tembus 10.000-an ke
atas mulai Januari 2021. Begitupun akumulasi kasus. Per 27 Juli 2020 kita
menyentuh angka psikologis 100.000, dan angka psikologis 500.000 di bulan November,
dan angka 1 juta tersentuh per 26 Januari 2021.
Ketika kita menyentuh angka psikologis pertama
kali, kita tersentak kaget, seolah tidak percaya kita bisa ‘meraihnya’. Seiring
dengan berjalannya waktu dan semakin ‘akrab’-nya kita dengan corona, maka
angka-angka penambahan kasus baik yang angka biasa maupun angka psikologis
ditanggapi secara biasa-biasa saja oleh masyarakat. Angka-angka tersebut
seperti sudah kehilangan daya magisnya. Masyarakat tidak lagi terhentak dengan
angka cantik 500.000 atau bahkan 1.000.000. Angka-angka tersebut seperti tidak
ada bedanya dengan jumlah penonton sepak bola atau jumlah pemudik di musim
lebaran.
Mengapa demikian?
Ada dua kemungkinan. Pertama, masyarakat
sudah jenuh dengan kasus covid-19. Sebelas bulan bukanlah waktu yang singkat
untuk kejadian yang tidak mengenakkan semacam pandemi. Durasi yang sedemikian
lama membuat kita tidak kuat untuk konsentrasi penuh memikirkan covid-19.
Banyaknya urusan yang harus diselesaikan menyebabkan kita me-nomorsekian-kan
urusan pandemi. Karena itulah, data-data yang rutin dikeluarkan gugus tugas
ditanggapi dengan biasa saja. Data covid bukan lagi sesuatu yang harus diburu.
Kedua, data harian yang rutin muncul selama 11 bulan membuatnya terkesan sangat
mekanis. Kesan mekanis inilah yang akhirnya membuat angka-angka cantik memudar
daya tariknya, dan angka psikologis kehilangan efek psikologisnya. Karenanya, angka-angka
penambahan kasus covid-19 kita anggap sebatas data statistik yang tidak
berimplikasi pada banyak hal. Kita sepertinya abai bahwa di balik angka-angka
tersebut terdapat banyak pesan terkait dengan besarnya jumlah fasilitas kesehatan
yang tersedia, berapa lama lagi sekolah harus tutup, berapa lama lagi WFO harus
dibatasi, berapa lama lagi aktifitas sosial bisa normal seperti dulu, dll.
Akhirnya, menjadi
mekanis karena berhadapan dengan sesuatu yang berulang adalah hal yang natural.
Akan tetapi, ke-mekanis-an tersebut seyogyanya tidak membuat kita nirhati dan
nirperasaan sehingga kita tetap sadar bahwa di balik angka cantik satu juta
kasus tersimpan duka mendalam (meminjam istilah Menteri Kesehatan). Wafatnya
sekitar 600 tenaga kesehatan, wafatnya hampir 30 ribu saudara kita, lamanya
sekolah harus tutup dan banyaknya PHK adalah titik-titik luka batin yang
seyogyanya mebuat kita tidak mekanistis dalam menyikapi data. Semoga satu juta
kasus adalah angka cantik dan angka psikologis terakhir yang kita ‘capai’ dalam
kasus covid-19. Semoga.
Malang, 18 Jumadil Akhir 1442H/1 Februari
2021
Kudapan renyah di tengah hari. Keren bunda😍. Semoga kita dan keluarga selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam segala urusan. Aamiin
BalasHapusThank you, Sist..
HapusBetullll sekali...
BalasHapus