Minggu, 31 Januari 2021

COVID-19, MEKANIS, DAN ANGKA PSIKOLOGIS

 

Covid-19, Mekanis, dan Angka Psikologis

 Awalnya heboh, kemudian datar alias biasa-biasa saja, kemudian nyaris tak terdengar, dan akhirnya senyap. Itulah gambaran respons masyarakat terhadap penambahan jumlah kasus positif covid-19. Ketika kasus pertama diumumkan Presiden awal Maret 2020, masyarakat menanggapinya dengan heboh dan penuh rasa horor. Hari-hari selanjutnya kehebohan masih saja terjadi sampai beberapa lama. Lambat laun, kasus positif baik yang di angka biasa maupun yang di angka psikologis ditanggapi dengan datar, tanpa kehebohan, tanpa rasa was-was, apalagi rasa horor.

Apa itu angka psikologis? Sederhananya, angka psikologis adalah angka yang biasanya menjadi target capaian keberhasilan, atau angka obsesi, atau angka impian. Ciri utamanya adalah dia angka bulat, cantik, dan mudah diingat, semisal 100, 1000, 10.000, dll. Kinerja seseorang yang menduduki jabatan tertentu biasanya kita lihat di 100 hari pertama. Bila di 100 hari pertama dia bisa kerja maksimal dan bisa membuat pihak lain terkesan, maka dia akan mudah menjalani hari-hari berikutnya. Sebaliknya, bila di 100 hari pertama dia kurang bisa membuat kesan positif, maka hari-hari berikutnya dia akan mendapatkan banyak catatan dari lingkungan sekitarnya. Jadi, dalam kasus ini 100 adalah angka psikologis baik bagi penilai maupun yang dinilai. Contoh lain, angka 1000 adalah angka impian bagi YouTuber karena 1000 adalah jumlah minimal pemirsa yang harus diraih untuk bisa  mendapatkan honor dari YouTube. Angka 1000 pertama bagi YouTuber secara psikologis sangatlah melegakan. Angka ini memotivasinya untuk bisa mencapai angka 2000, 3000, dan seterusnya. Angka target atau angka obsesi adalah angka yang bisa memberi efek psikologis bagi yang bisa meraihnya, makanya dia disebut angka psikologis.

Angka-angka cantik semisal 1000, 10.000 bila menembus jumlah kasus covid-19 bisa pula bisa menimbulkan dampak psikologis. Berbeda dengan dampak psikologis seperti yang diuraikan di atas, angka-angka psikologis dalam kasus covid-19 bisa menimbulkan keterkejutan, kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan. Hal ini karena angka-angka cantik tersebut bukanlah obsesi, bukan pula target yang ingin diraih, melainkan angka-angka yang sangat dihindari.

Baik dari sisi penambahan kasus harian maupun akumulasi jumlah kasus, kita sudah melampaui beberapa kali angka psikologis. Dalam hal penambahan kasus harian, angka ratusan bertahan cukup lama hingga akhirnya mencapai angka psikologis 1000. Kemudian menyentuh angka 5000-an di bulan November, dan akhirnya tembus 10.000-an ke atas mulai Januari 2021. Begitupun akumulasi kasus. Per 27 Juli 2020 kita menyentuh angka psikologis 100.000, dan angka psikologis 500.000 di bulan November, dan angka 1 juta tersentuh per 26 Januari 2021.

 Ketika kita menyentuh angka psikologis pertama kali, kita tersentak kaget, seolah tidak percaya kita bisa ‘meraihnya’. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin ‘akrab’-nya kita dengan corona, maka angka-angka penambahan kasus baik yang angka biasa maupun angka psikologis ditanggapi secara biasa-biasa saja oleh masyarakat. Angka-angka tersebut seperti sudah kehilangan daya magisnya. Masyarakat tidak lagi terhentak dengan angka cantik 500.000 atau bahkan 1.000.000. Angka-angka tersebut seperti tidak ada bedanya dengan jumlah penonton sepak bola atau jumlah pemudik di musim lebaran.

Mengapa demikian? Ada dua kemungkinan. Pertama, masyarakat sudah jenuh dengan kasus covid-19. Sebelas bulan bukanlah waktu yang singkat untuk kejadian yang tidak mengenakkan semacam pandemi. Durasi yang sedemikian lama membuat kita tidak kuat untuk konsentrasi penuh memikirkan covid-19. Banyaknya urusan yang harus diselesaikan menyebabkan kita me-nomorsekian-kan urusan pandemi. Karena itulah, data-data yang rutin dikeluarkan gugus tugas ditanggapi dengan biasa saja. Data covid bukan lagi sesuatu yang harus diburu.

Kedua, data harian yang rutin muncul selama 11 bulan membuatnya terkesan sangat mekanis. Kesan mekanis inilah yang akhirnya membuat angka-angka cantik memudar daya tariknya, dan angka psikologis kehilangan efek psikologisnya. Karenanya, angka-angka penambahan kasus covid-19 kita anggap sebatas data statistik yang tidak berimplikasi pada banyak hal. Kita sepertinya abai bahwa di balik angka-angka tersebut terdapat banyak pesan terkait dengan besarnya jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia, berapa lama lagi sekolah harus tutup, berapa lama lagi WFO harus dibatasi, berapa lama lagi aktifitas sosial bisa normal seperti dulu, dll.  

Akhirnya, menjadi mekanis karena berhadapan dengan sesuatu yang berulang adalah hal yang natural. Akan tetapi, ke-mekanis-an tersebut seyogyanya tidak membuat kita nirhati dan nirperasaan sehingga kita tetap sadar bahwa di balik angka cantik satu juta kasus tersimpan duka mendalam (meminjam istilah Menteri Kesehatan). Wafatnya sekitar 600 tenaga kesehatan, wafatnya hampir 30 ribu saudara kita, lamanya sekolah harus tutup dan banyaknya PHK adalah titik-titik luka batin yang seyogyanya mebuat kita tidak mekanistis dalam menyikapi data. Semoga satu juta kasus adalah angka cantik dan angka psikologis terakhir yang kita ‘capai’ dalam kasus covid-19. Semoga.

 

Malang, 18 Jumadil Akhir 1442H/1 Februari 2021

3 komentar:

  1. Kudapan renyah di tengah hari. Keren bunda😍. Semoga kita dan keluarga selalu diberi kesehatan dan kemudahan dalam segala urusan. Aamiin

    BalasHapus

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...