MAJELIS
TAKLIM, SAYA, BIOSKOP, DAN BUYA HAMKA
Berbicara di depan mahasiswa tentang
linguistik, riset dan statistik, atau tentang ketrampilan berbahasa adalah hal lumrah
bagi saya karena memang itu pekerjaan saya. Orang Jawa menyebutnya sega
jangan, sedangkan orang Inggris menyebutnya bread and butter case. Menjadi
hal yang tidaK biasa ketika berbicara di depan public harus saya lakukan di gedung
bioskop dengan topik tentang sebuah film. Inilah yang saya alami beberapa saat
lalu.
Belajar kebaikan melalui nonton
bareng (Nobar) ‘Buya Hamka’
Saya
diundang oleh empat majelis taklim yang ada di Malang: Majelis Taklim Perindu
Surga, Majelis Taklim Al Hidayah Araya, Majelis Dhuha Ummida, dan Majelis Dhuha
Azzahrah untuk memberi review atau catatan tentang Film Buya Hamka Volume 1 pada
tanggal 31 Mei 2023. Saya senang dengan undangan ini karena: pertama, kebesaran
nama Buya Hamka. Ketokohan Buya dan multitalenta yang dimilikinya menyebabkan
pembicaraan tentangnya terasa mencerahkan dan menyejukkan. Yang lebih penting dari itu adalah saya ingin kecipratan kebaikan dan ketokohan Buya. Saya ingin dapat berkah dari kebaikan Buya. Ngalap berkah. Mungkin itulah istilah yang pas. Alasan
kedua, menurut saya, ini adalah kesempatan untuk bisa membuka jaringan kerjasama
antara ‘Aisyiyah—organisasi di mana saya selama ini aktif—dengan komunitas
lain. Ketiga, undangan ini bisa untuk refreshing. Membicarakan
topik yang sama secara berulang dalam kurun yang sangat lama seperti yang
selama ini saya lakukan di kampus kadang membuat saya jenuh. Pembicaraan
tentang film yang tentunya sangat berbeda dengan topik keseharian saya di
kampus ibarat halaman baru dengan rumput dan bebatuan yang serba baru. Hal ini
tentunya sangat menyegarkan dan menyehatkan hati dan pikiran.
Dengan
tiga alasan tersebut, saya dengan ringan menuju venue, yaitu MOPIC Cinemas di
Jl Soekarno Hatta Malang. Sesampainya di lokasi, saya diberitahu Panitia bahwa
saya dengan jamaah Majelis Taklim Perindu Surga dan Majelis Dhuha Ummida di
Studio 2, sedangkan Ibu-ibu dari Majelis Taklim Al Hidayah Araya dan Majelis
Dhuha Azzahrah dengan Ustdazah Maya Novita, Lc. MA sebagai reviewer di Studio
1. Dengan pembagian ini, saya segera menuju Studio 2 dengan sekitar 100 orang
ibu yang membuat seluruh kursi di tempat tersebut fully seated.
Acara
diawali dengan nonton bareng (nobar) film Buya Hamka Volume 1. Bagi saya ini
adalah kali kedua saya menontonnya. Sebelumnya saya sudah menonton dengan
keluarga. Pemutaran film berlangsung sekitar 2 jam, dan setelah itu saya diberi
kesempatan untuk memberi review.
Begitu berdiri di depan, saya merasa siap sekaligus grogi. Saya siap, karena film ini sudah saya tonton sebelumnya dan review tentang film tersebut sudah saya tulis dan unggah di blog. Saya grogi karena saya ada di komunitas baru, yang jamaahnya belum ada satupun yang saya kenal. Saya grogi juga karena film bukanlah bidang saya. Pengetahuan saya akan film sangat terbatas. Review yang saya siapkan cenderung pada impresi saya terhadap tokoh utama dalam film tersebut (Buya Hamka), dan sangat sedikit yang terkait dengan film-nya.
Perasaan grogi tersebut saya atasi dengan menarik nafas panjang beberapa kali dan mengucapkan doa rabbishrahli shadri wayassirli amri wahlul uqdatan millisaani yaf qahu qaulii…. Alhamdulillah, perasaan grogi teratasi, dan saya perkenalkan diri saya dan ‘Aisyiyah. Meski saya yakin para hadirin sudah cukup familiar dengan ‘Aisyiyah, tapi saya merasa wajib mengenalkannya sebagai upaya untuk membuka pintu kolaborasi.
Gedung film sebagai titik awal
kolaborasi
Begitu
kalimat-kalimat ta’aruf selesai, saya mulai memberi catatan tentang film.
Catatan terbagi dua: tentang Buya Hamka dan tentang filmnya. Terkait Buya
Hamka, saya membuat highlight bahwa beliau adalah tokoh multitalenta
dengan prestasi di atas rata-rata. Sebagai sastrawan, beliau outstanding.
Dengan fasilitas mesin ketik manual dan ketrampilan mengetik ‘11’ jari, beliau
bisa menghasilkan dua masterpieces: ‘Di bawah Lindungan Ka’bah’ dan ‘Tenggelamnya
Kapal Van Der Wick’. Sebagai wartawan, beliau bisa menghasilkan tulisan laporan
yang bisa membuat kaum penjajah kalang kabut. Sebagai leader, beliau punya
jiwa leadership yang mumpuni, terbukti dengan kemampuannya memimpin Muhammadiyah
Sumatra Timur yang bisa berkembang dan memiliki banyak cabang. Kepemimpinannya
juga teruji ketika memimpin harian Pedoman Masyarakat, sebuah harian
yang masih baru yang dengan kepemimpinan beliau bisa menembus oplah 5000
eksemplar per hari. Sebagai ulama, ke-ulama-annya teruji dengan kemampuannya
menyebarkan ajaran Islam dengan berbagai cara, baik lisan maupun tertulis.
Terkait
dengan posisinya sebagai ulama, ada satu hal yang saya lupa sampaikan di forum,
yaitu keteguhan Buya dalam menjaga tegak lurusnya akidah. Dalam satu adegan
Buya menolak perintah Gubernur Jepang untuk membungkukkan badan ke arah timur
laut sebagai penghormatan kepada Kaisar Jepang. Buya menolaknya karena beliau
tidak mau mengkontaminasi kemurnian akidah. Beliau anggap itu adalah sirik.
Poin ini sebenarnya sangat relevan bila saya highlight di depan jamaah majelis
taklim. Sangat disayangkan mengapa saya lupa pada waktu itu….
Selain
itu, saya juga menggarisbawahi pribadi Buya sebagai suami dan ayah. Sebagai
suami beliau sangat menghargai dan mencintai istri. Dan sebagai ayah, beliau
adalah ayah yang sangat dekat dengan buah hatinya. Kepada mereka, Buya bersikap
sangat lembut meskipun ketika kecil beliau mendapat perlakuan kasar dari
Ayahanda.
Dari
sisi film, saya sampaikan bahwa film biopic (film sejarah) ini menggunakan alur
cerita yang tidak selazimnya cerita sejarah yang biasanya selalu kronologis.
Kisah hidup Buya tidak dimulai dengan kelahiran dan masa kecilnya layaknya
cerita sejarah lainnya. Film ini dimulai dengan kehidupan Buya ketika sudah
menikah. Ini menjadikan film ini tidak membuat penonton ngantuk.
Hal
lain yang saya beri catatan adalah film ini mengangkat Buya sebagai pribadi
yang utuh, lengkap dengan sisi positif dan negatifnya. Pengakuan Buya bahwa beliau
sudah terbujuk dengan janji-jani Nippon yang berujung pada penonaktifannya dari
jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur membuktikan bahwa Buya adalah manusia
biasa yang tidak luput dari salah. Kepiawaian sutradara dalam menyandingkan
prestasi Buya dengan pengakuan akan bujukan Nippon menjadikan film ini sarat
akan penghormatan yang tanpa pengkultusan. Buya sangat dijunjung tinggi, tapi
tidak dikultuskan.
Catatan
lain dari saya adalah pemakaian Bahasa Minang yang sangat dominan. Sebagai
penyuka linguistik, saya sampaikan bahwa saya sangat suka karena bisa
memperkenalkan bahas local.
Akhirnya,
saya sampaikan bahwa film yang mengupas habis akan prestasi dan kepribadian
Buya secara utuh ini merupakan tontonan yang sarat akan tuntunan. Banyak hal
yang bisa dipelajari dari film ini hingga rasanya tidak sabar untuk menanti
kelanjutannya.
*************
Puaskah saya dengan apa yang saya
sampaikan? Jujur, saya kurang puas. Setahu saya, me-review adalah
membaca kritis. Memberi catatan dengan kajian kritis adalah ciri khas dari review.
Apa yang saya sampaikan dalam forum ini masih jauh dari kajian kritis. Apa yang
saya sampaikan sebatas kesan saya terhadap apa yang disajikan di film berdasarkan
common sense.
Meski saya kurang puas dengan performa saya, saya cukup senang dengan kesempatan ini karena berbicara di depan public tentang film di Gedung bioskop telah sejenak mengeluarkan saya dari zona nyaman saya. Saya jadi tersadar bahwa topik linguistic dengan tokoh-tokohnya semisal Haliday, Norman Fairclough, Van Dijk, dan mimbar kampus bukanlah satu-satunya zona nyaman. Di luar kampus ternyata ada zona yang tidak kalah nyaman untuk dinikmati, yaitu film, gedung bioskop, dan tokoh agamis seperti Buya Hamka.
An alternative comfort zone
Untuk itu, dengan ini saya sampaikan terimakasih kepada Ibu-ibu jamaah majelis
taklim yang telah mengundang saya. Undangan itulah yang menyadarkan saya bahwa
kenyamanan hati dan pikiran bisa didapat dari berbagai tempat, termasuk tempat
hiburan semisal Gedung bioskop. Semoga Allah senantiasa meridhai gerak kita,
termasuk dakwah di Gedung bioskop.
Commuter
Line Kereta Penataran menuju Malang, 9 Juni 2023




Tidak ada komentar:
Posting Komentar