Penggembira
Sebagai kader dan pengurus ‘Asyiyah, saya sangat antusias menyambut muktamar ke 48 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Solo. Dengan penuh antusias saya dan teman-teman Pengurus Ranting MSI dan jamaah masjid At-Taqwa Sengkaling, Malang berangkat ke Solo dengan mengendarai bus pariwisata. Kami bukanlah muktamirin, tetapi kami hadir sebagai penggembira.
We stay happy
Sesampai di lokasi stadion Manahan, kami betemu dengan penggembira dari kota lain yang jumlahnya ribuan. Di sini, kader dari berbagai kota di Indonesia berkumpul jadi saty. Laki-laki, perempuan, remaja, dewasa pratama, dewasa madya, hingga dewasa tua semuanya tumpleg bleg di sekitar Manahan. Lantas, apa yang dikerjakan di luar stadion? Mungkin bisa dikatakan we did nothing. Mengapa? Sebagai penggembira yang tidak terdaftar secara online, kami tidak bisa masuk ke stadion karena kapasitas stadion hanya 25 ribu (25.000) orang dan sudah dipenuhi oleh muktamirin, tamu undangan, dan penggembira terdaftar. Kami juga tidak memiliki hak untuk ikut agenda sidang muktamar, dan tidak pula memiliki hak suara hingga tidak bisa memilih ketua dan sekretaris umum. Pendek kata, hanya satu hak yang kami miliki, yaitu hak untuk BERGEMBIRA (meminjam istilah Pak Dahlan Iskan). Ya, hanya bergembira lah yang bisa kami lakukan di luar stadion.
Banyak diantara kami yang menyalurkan
kegembiraan atas terselenggaranya muktamar dengan duduk bergerombol sambil bercanda,
ada pula yang berkumpul sambil menyeru yel-yel yang membakar semangat
ber-Muhammadiyah, ada pula yang memantau acara di dalam stadion lewat
videotron, ada pula yang sibuk bikin content video YouTube, dan ada pula yang
memantau acara pembukaan yang tayang livestreaming lewat ponsel mereka.
Kegembiraan di luar arena pembukaan
Apakah kami merasa merugi dengan status sebagai
penggembira yang tidak memiliki hak apapun selain bergembira? Sama sekali
tidak. Tujuan kami datang ke lokasi muktamar bukan untuk menuntut hak untuk
bisa duduk di stadion dan menyaksikan RI 1 secara resmi membuka muktamar. Kami
juga tidak menuntut untuk diberi hak suara, tidak pula ngotot minta kursi di
tempat sidang. Tujuan kami datang adalah untuk memberi dukungan kepada para
pimpinan persyarikatan, muktamirin, dan panitia penyelenggara dengan iringan
doa semoga muktamar bisa berjalan lancar, aman, membawa kemaslahatan bagi umat,
dan mendatangkan ridha Allah SWT. Cukuplah bagi kami mengetahui bahwa pimpinan
persyarikatan serius memikirkan keberlangsungan dan keamjuan persyarikatan. Cukuplah bagi kami menyaksikan muktamar ini berjalan dengan sangat lancar, tanpa ada kendala yang berarti. Cukuplah bagi kami menyaksikan muktamar yang hampir zero plastic. Cukuplah bagi kami menyaksikan sidang-sidang yang tanpa huru hara dan pemilihan ketua umum dan sekretaris umum yang sangat adem, tanpa kemrungsung, tanpa suasana panas. Dengan tujuan itu, lelah karena jauhnya perjalanan menjadi sirna.
Haus lapar tidak terasa. Gerimis hujan tidak menyiksa dan biaya tidak lagi menjadi
kendala.
Semangat dan kegembiraan kami atas terselenggaranya muktamar agak sulit dinalar. Kami bergerak dengan hati, makanya apa yang kami lakukan hanya bisa dipahami dengan bahasa hati pula. Dengan sepenuh hati pula kami berdoa semoga kepemimpinan yang dilahirkan dalam muktamar yang kami hadiri bisa membawa kemaslahatan bagi warga persyarikatan, rakyat Indonesia keseluruhan, dan umat semesta. Sampai jumpa di muktamar berikunya.
Malang, 22 November 2022/27 Jumadil Akhir 1444H




Tidak ada komentar:
Posting Komentar