PAK ALI
Pada tanggal 27 Februari 2021
saya mengikuti acara Reuni Mengantar
Purnabakti Pak Ali Saukah yang digelar oleh Fakultas Sastra Universitas
Negeri Malang. Acara yang digelar secara daring ini dihadiri oleh mahasiswa Pak
Ali yang telah beliau ajar semenjak awal 1980 sampai dengan sekarang. Acara ini
cukup meriah. Ada lebih dari 300 partisipan yang hadir di ruang zoom. Acara diisi
dengan sambutan dari Pak Ali, peluncuran buku, dan sambutan kesan-kesan dari
alumni dari berbagai daerah: Kalimantan, Sorong, Jember, Malang, dan
daerah-daerah lain.
Saya
dan Pak Ali
Saya tidak mengenal Pak Ali secara
dekat. Saya nyaris tidak pernah kontak secara pribadi dengan beliau karena saya
tidak pernah menjadi mahasiswa bimbingan beliau baik thesis maupun disertasi. Saya
pun juga yakin beliau tidak kenal banyak dengan saya lantaran saya bukanlah
mahasiswa dengan prestasi outstanding. Saya
mahasiswa dengan prestasi sangat standar hingga sangat wajar bila Pak Ali
maupun dosen lain tidak ingat dengan saya.
Terlepas dari ketidakdekatan
itu, saya menyimpan kenangan yang sangat dalam akan Pak Ali. Bagi saya, beliau
adalah guru yang bisa membawa academic
transformation alias transformasi akademik. Ya,…..transformasi akademik itu
benar-benar terjadi pada diri saya.
Pak
Ali dan Transformasi
Dengan mengikuti matakuliah
Inferential Statistics yang Pak Ali ampu ketika saya S2, persepsi saya terhadap
statistik sedikit banyak berubah. Pada awalnya, apa yang muncul di benak
terkait statistik adalah angka dan rumus yang membuat kepala saya pening.
Semenjak remaja saya sangat alergi dengan angka. Bagi saya, deretan angka dan
rumus sangatlah tidak menarik. Mencermati pola kalimat, memperhatikan keunikan
kosa kata, menemukan pola tindak tutur, dan mempelajari aspek-aspek lain dari
bahasa menurut saya jauh lebih menantang dan menarik bila dibanding dengan mengutak
atik deretan rumus dan angka. Pak Ali sepertinya paham betul tentang suasana
kebatinan saya dan teman-teman terhadap angka. Oleh sebab itu, ketika pertemuan
pertama di matakuliah Inferential Statistics, beliau bilang “I know that most of you are allergic with
numbers”.
Selanjutnya adalah pekan-pekan
yang berat bagi saya. Konsep-konsep dasar statistik yang bagi teman-teman
jurusan matematika mungkin sangat sepele, tetapi tidak demikian bagi saya.
Angka tetaplah angka, yaitu suatu lambang yang sangat sulit saya temukan sisi cantiknya.
Rumus tetaplah rumus, sesuatu yang bagi saya tidak ada indahnya. Di tengah
kegalauan dan kekacauan pikiran, saya selalu mencermati kalimat Pak Ali yang intinya
kurang lebih: jangan fokus pada angka dan rumus. Fokuslah pada konsep. Gunakan
waktu, tenaga, dan fikiran untuk memahami konsep-konsep, sedangkan
hitung-hitungan yang rumit itu biarlah dikerjakan oleh SPSS. Menerapkan rumus
tetap perlu, tapi lakukan hanya sekali saja, dan selebihnya biarlah itu urusan
SPSS.
Saking seringnya wejangan itu
beliau sampaikan, lambat laun bawah sadar saya menerimanya sebagai kebenaran.
Fikiran saya sedikit demi sedikit mulai berubah. Saya mulai konsentrasi pada
konsep-konsep statistik, dan mengabaikan rumus dan angka. Dengan pemahaman akan
konsep-konsep statistik, saya bisa belajar SPSS dengan mudah karena paham
alurnya. Pekan-pekan berat itu akhirnya terlampaui, dan saya berhasil mendapat
nilai A di matakuliah Inferential Statistics. Orang seperti saya, yang awalnya
sangat alergi dengan angka, pada akhirnya mendapat nilai A di matakuliah yang
identik dengan angka dan rumus, tentulah sangat bahagia. Nilai A di matakuliah
tersebut adalah ‘sesuatu’, begitulah kata anak jaman sekarang.
Selang beberapa saat dari itu
dan sampai dengan sekarang, saya ditugasi mengampu matakuliah Research
Statistics di kampus saya, di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN
Tulungagung. Sudah 11 tahun saya mengampu matakuliah tersebut. Pada awalnya,
saya merasa ini tugas yang cukup berat, tetapi lambat laun saya bisa
menikmatinya. Kepada mahasiswa saya sampaikan seperti apa yang Pak Ali
sampaikan, yaitu dalam belajar statistik tidak perlu hafal rumus, tidak perlu
pula mengerjakan hitung-hitungan secara manual, tapi pahamilah konsep. Jauh di
dalam lubuk hati saya tersimpan keinginan bahwa mahasiswa saya bisa berubah
persepsi tentang statistik setelah saya ajar seperti berubahnya saya setelah
mengikuti kuliah Pak Ali.
Bagi para ahli statistik dan ahli matematika, apa yang saya peroleh bukanlah capaian yang wow!! Tapi bagi saya, berubahnya cara pandang terhadap statistik adalah sebuah lompatan besar alias a great leap. Menurut saya, hanya figur yang transformatif sajalah yang bisa mengubah keyakinan yang sudah mengakar selama bertahun-tahun. Pak Ali bisa melakukan itu. Pak Ali bisa membelokkan keyakinan saya tentang statistik yang saya yakini sebagai sesuatu yang sangat menyebalkan menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Inilah yang saya maksud dengan transformasi, yaitu perubahan mindset yang akhirnya diikuti perubahan perilaku.
Closing Remarks
Akhirnya, saya sampaikan
terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak Ali atas transformative learning yang secara natural telah beliau lakukan
hingga terjadi transformasi pada diri saya. Semoga saya bisa melakukan transformative
learning hingga bisa membuat transformasi pada mahasiswa saya seperti yang
Pak Ali lakukan. Terakhir, saya sampaikan selamat memasuki masa purnatugas
sebagai ASN, dan selamat memasuki tugas baru di Universitas Muhammadiyah
Kalimantan Timur. Ridha Allah SWT semoga senantiasa menyertai Pak Ali di
manapun Pak Ali bertugas. Aamiin…
Malang, 28 Februari 2021/17 Rajab 1442H

Aamiin ya Rabb. Bunda generasi penerus pak Ali😍
BalasHapusThank you, Sis....
Hapus