Minggu, 28 Februari 2021

PAK ALI

 

PAK ALI

Pada tanggal 27 Februari 2021 saya mengikuti acara Reuni Mengantar Purnabakti Pak Ali Saukah yang digelar oleh Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Acara yang digelar secara daring ini dihadiri oleh mahasiswa Pak Ali yang telah beliau ajar semenjak awal 1980 sampai dengan sekarang. Acara ini cukup meriah. Ada lebih dari 300 partisipan yang hadir di ruang zoom. Acara diisi dengan sambutan dari Pak Ali, peluncuran buku, dan sambutan kesan-kesan dari alumni dari berbagai daerah: Kalimantan, Sorong, Jember, Malang, dan daerah-daerah lain.

 

Saya dan Pak Ali

Saya tidak mengenal Pak Ali secara dekat. Saya nyaris tidak pernah kontak secara pribadi dengan beliau karena saya tidak pernah menjadi mahasiswa bimbingan beliau baik thesis maupun disertasi. Saya pun juga yakin beliau tidak kenal banyak dengan saya lantaran saya bukanlah mahasiswa dengan prestasi outstanding. Saya mahasiswa dengan prestasi sangat standar hingga sangat wajar bila Pak Ali maupun dosen lain tidak ingat dengan saya.

Terlepas dari ketidakdekatan itu, saya menyimpan kenangan yang sangat dalam akan Pak Ali. Bagi saya, beliau adalah guru yang bisa membawa academic transformation alias transformasi akademik. Ya,…..transformasi akademik itu benar-benar terjadi pada diri saya.

Pak Ali di ruang zoom, dan saya sebagai 'hadirin' tampak di pojok kiri atas.

 

Pak Ali dan Transformasi

Dengan mengikuti matakuliah Inferential Statistics yang Pak Ali ampu ketika saya S2, persepsi saya terhadap statistik sedikit banyak berubah. Pada awalnya, apa yang muncul di benak terkait statistik adalah angka dan rumus yang membuat kepala saya pening. Semenjak remaja saya sangat alergi dengan angka. Bagi saya, deretan angka dan rumus sangatlah tidak menarik. Mencermati pola kalimat, memperhatikan keunikan kosa kata, menemukan pola tindak tutur, dan mempelajari aspek-aspek lain dari bahasa menurut saya jauh lebih menantang dan menarik bila dibanding dengan mengutak atik deretan rumus dan angka. Pak Ali sepertinya paham betul tentang suasana kebatinan saya dan teman-teman terhadap angka. Oleh sebab itu, ketika pertemuan pertama di matakuliah Inferential Statistics, beliau bilang “I know that most of you are allergic with numbers”.  

Selanjutnya adalah pekan-pekan yang berat bagi saya. Konsep-konsep dasar statistik yang bagi teman-teman jurusan matematika mungkin sangat sepele, tetapi tidak demikian bagi saya. Angka tetaplah angka, yaitu suatu lambang yang sangat sulit saya temukan sisi cantiknya. Rumus tetaplah rumus, sesuatu yang bagi saya tidak ada indahnya. Di tengah kegalauan dan kekacauan pikiran, saya selalu mencermati kalimat Pak Ali yang intinya kurang lebih: jangan fokus pada angka dan rumus. Fokuslah pada konsep. Gunakan waktu, tenaga, dan fikiran untuk memahami konsep-konsep, sedangkan hitung-hitungan yang rumit itu biarlah dikerjakan oleh SPSS. Menerapkan rumus tetap perlu, tapi lakukan hanya sekali saja, dan selebihnya biarlah itu urusan SPSS.

Saking seringnya wejangan itu beliau sampaikan, lambat laun bawah sadar saya menerimanya sebagai kebenaran. Fikiran saya sedikit demi sedikit mulai berubah. Saya mulai konsentrasi pada konsep-konsep statistik, dan mengabaikan rumus dan angka. Dengan pemahaman akan konsep-konsep statistik, saya bisa belajar SPSS dengan mudah karena paham alurnya. Pekan-pekan berat itu akhirnya terlampaui, dan saya berhasil mendapat nilai A di matakuliah Inferential Statistics. Orang seperti saya, yang awalnya sangat alergi dengan angka, pada akhirnya mendapat nilai A di matakuliah yang identik dengan angka dan rumus, tentulah sangat bahagia. Nilai A di matakuliah tersebut adalah ‘sesuatu’, begitulah kata anak jaman sekarang.

Selang beberapa saat dari itu dan sampai dengan sekarang, saya ditugasi mengampu matakuliah Research Statistics di kampus saya, di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Tulungagung. Sudah 11 tahun saya mengampu matakuliah tersebut. Pada awalnya, saya merasa ini tugas yang cukup berat, tetapi lambat laun saya bisa menikmatinya. Kepada mahasiswa saya sampaikan seperti apa yang Pak Ali sampaikan, yaitu dalam belajar statistik tidak perlu hafal rumus, tidak perlu pula mengerjakan hitung-hitungan secara manual, tapi pahamilah konsep. Jauh di dalam lubuk hati saya tersimpan keinginan bahwa mahasiswa saya bisa berubah persepsi tentang statistik setelah saya ajar seperti berubahnya saya setelah mengikuti kuliah Pak Ali.

Bagi para ahli statistik dan ahli matematika, apa yang saya peroleh bukanlah capaian yang wow!! Tapi bagi saya, berubahnya cara pandang terhadap statistik adalah sebuah lompatan besar alias a great leap. Menurut saya, hanya figur yang transformatif sajalah yang bisa mengubah keyakinan yang sudah mengakar selama bertahun-tahun. Pak Ali bisa melakukan itu. Pak Ali bisa membelokkan keyakinan saya tentang statistik yang saya yakini sebagai sesuatu yang sangat menyebalkan menjadi sesuatu yang bisa dinikmati. Inilah yang saya maksud dengan transformasi, yaitu perubahan mindset yang akhirnya diikuti perubahan perilaku.

Closing Remarks

Akhirnya, saya sampaikan terimakasih sebesar-besarnya kepada Pak Ali atas transformative learning yang secara natural telah beliau lakukan hingga terjadi transformasi pada diri saya. Semoga saya bisa melakukan transformative learning hingga bisa membuat transformasi pada mahasiswa saya seperti yang Pak Ali lakukan. Terakhir, saya sampaikan selamat memasuki masa purnatugas sebagai ASN, dan selamat memasuki tugas baru di Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Ridha Allah SWT semoga senantiasa menyertai Pak Ali di manapun Pak Ali bertugas. Aamiin… 

 

Malang, 28 Februari 2021/17 Rajab 1442H

2 komentar:

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...