KETIKA LITERASI SUDAH MENTRADISI…..
Pengajian
online yang diselenggarakan oleh Jaringan Alumni Luar Negeri (Jalar)
bekerjasama dengan Pondok Pesantren Raden Sunan Ampel (PPRRSA) Jember tanggal 21
Januari 2021 yang lalu mengkonfirmasi akan pentingnya berliterasi. Pengajian dengan
tema Warisan Intelektual Nusantara di
Timur Tengah menghadirkan narasumber Ahmad Ginanjar Sya’ban, dosen
Pascasarjana UNUSIA, dan founder SAFINA (Santri Filologi Nusantara). Di
pengajian online tersebut dibentangkan banyak karya para ulama tanah air yang
melegenda sampai sekarang. Dari sekian banyak karya tersebut, saya akan focus
pada tiga karya yang terkait dengan ilmu bahasa.
Hâsyiah
Tadrij al-Adânî (Morfologi Arab) adalah kitab pertama yang
dimunculkan dalam pengajian online ini. Kitab ini ditulis oleh ulama berdarah Banten
yang lahir dan besar di Saudi yang bernama Syaikh ´Abd al-Haqq b. Abd al-Hannân
al-Bantanî al-Makkî yang wafat tahun 1906. Beliau adalah cucu dari Syaikh
Nawawi Banten, seorang ulama asal Banten yang memiliki banyak karya, dan wafat
tahun 1897. Hâsyiah Tadrij al-Adânî (Morfologi Arab) adalah karya fenomenal. Meski
kitab ini ditulis di akhir abad 18, tapi kitab ini sampai sekarang masih
menjadi rujukan bagi mereka yang belajar morfologi Arab. Kitab ini sampai
sekarang ini masih dicetak di berbagai negara semisal Iran, Turki, Arab Saudi,
Mesir, Libaonon.
Kitab Hâsyiah Tadrij al-Adânî yang dicetak di berbagai negara
Tasywiqul
Khillan adalah kitab ketiga yang merupakan legacy dari KH Salim Makhsum, seorang ulama asal Semarang. Kitab
ini merupakan hasiyah atau catatan panjang atas kitab Syarah Mukhtashor Jiddan karya Sayyid Ahmad Zayni Dahlan. Syarah Mukhtashor Jiddan adalah
penjelasan terhadap kitab Jurumiyah, sebuah
kitab tatabahasa Arab yang sangat melegenda yang ditulis oleh Syaikh
As-Shanhajy. KH Salim Makhsum menyelesaikan karyanya tahun 1886H/1303H, tetapi
karya tersebut naik cetak baru 54 tahun berikutnya, yaitu tahun 1940.
So What?
Tiga ulama yang disebut di atas memiliki multi
talenta. Beliau bertiga tidak hanya membahas tentang ilmu-ilmu agama seperti
lazimnya ulama, melainkan membahas pula ilmu linguistik, khususnya ilmu sharaf
atau morphology dan ilmu nahwu atau ilmu gramatika/tatabahasa. Banyak orang
paham tentang ilmu sharaf tetapi tidak banyak orang yang bisa membuat orang
lain paham melalui bahasa tulis yang sampai melegenda seperti halnya Syaikh
´Abd al-Haqq b. Abd al-Hannân. Kedalaman ilmu, kemahiran berbahasa, dan
kepiawaian menulis yang dimiliki Syaikh adalah kombinasi yang bisa mengantarkan
karya beliau sedemikian fenomenal.
Hal senada terjadi pada Syaikh Ahmad bin Muhammad
Zain bin Musthafa al-Fathoni. Beliau menulis syarah atau penjelasan dari kitab Awamil
al-Jurjani, sebuah kitab yang membahas tentang ilmu nahwu atau tatabahasa
Arab. Banyak orang yang paham ilmu nahwu, tetapi tidak banyak orang yang bisa
memberi penjelasan (tafsir) tentang tulisan tentang ilmu nahwu. Untuk bisa
menjelaskan atau menafsirkan dengan gamblang diperlukan pemahaman komprehensif
dan mendalam akan kitab yang dibahas, kemampuan berfikir kritis, serta
kehandalan dalam merangkai kata dan kalimat. Kepaduan ketiganyalah yang bisa menjadikan
syarah alias penjelasan atau tafsir tersebut bisa melegenda sampai sekarang. Sebangun
dengan ini, KH Salim Makshum berhasil menulis catatan panjang tentang Syarah Mukhtashor Jiddan yang notabene
adalah penjelasan dari Jurumiyah. Tanpa
pemahaman mendalam dan komprehensif terhadap dua kitab tersebut, dan ditopang
dengan kemahiran dalam menulis, rasanya mustahil lahir catatan panjang atau
review panjang yang berjudul Tasywiqul
Khillan. Karya ketiga ulama tersebut membuktikan bahwa ketiganya memiliki
pengetahuan linguistik yang sangat dalam dan tradisi literasi yang sangat baik.
Dari sudut pandang literasi, karya ketiga ulama
tersebut merupakan bukti kuat betapa kuatnya tradisi literasi beliau bertiga. Dengan
mampu menulis karya yang sedemikian fenomenal ketiga ulama tersebut pasti
memiliki budaya baca yang sangat bagus. Tulisan yang baik dihasilkan oleh
mereka yang memiliki budaya baca yang baik. Mustahil bisa menulis dengan baik
tanpa ada proses membaca yang lebih dari cukup. Menulis dan membaca adalah satu
paket. Seorang penulis sudah pasti pembaca yang baik, tetapi pembaca yang baik
belum tentu penulis (yang baik).
Menulis sudah mentradisi. Menulis menjadi lifestyle. Menulis menjadi bagian dari
keseharian. Mungkin begitulah gambaran yang pas bagi ketiga ulama tersebut
dalam berliterasi. Menulis sampai menghasilkan tulisan yang diterima publik secara
luas dalam kurun waktu sekian lama pastilah butuh perjuangan.
Menulis adalah ketrampilan menuangkan ide dalam
bahasa tulis yang menuntut keterpaduan banyak hal. Pemahaman terhadap ide yang
ditulis, kekayaan kosa kata, pemahaman akan tatabahasa, kemampuan mengelola dan
mengatur ide hingga ide bisa tersaji dengan runtut adalah sebagian aspek yang
disyaratkan dalam menulis. Di atas itu semua, ada satu hal yang lebih penting,
yaitu kemauan untuk menulis. Ini adalah syarat mutlak, tetapi sayangnya ini tidak
bisa dipelajari di sekolah formal. Kemauan menulis muncul biasanya karena
kesadaran akan manfaat besar bila kita bisa menulis. Kemauan mengalahkan
kemalasan dalam menulis bisa muncul bila kita sadar akan kekuatan bahasa tulis
yang bisa menembus ruang dan waktu. Written
language crosses time and space. Kesadaran akan manfaat besar dari tulisan
bisa melibas berbagai kesulitan-kesulitan teknis semisal keterbatasan kosa
kata, minimnya pengetahuan tatabahasa, terbatasnya ketrampilan meruntutkan ide
dll yang kesemuanya itu bisa dipelajari sambil berlatih alias learning by doing.
Tiga ulama yang karyanya saya sebutkan di atas
menunjukkan bahwa beliau bertiga mampu mengatasi semua kesulitan dalam hal
menulis, terutama kesulitan dalam mengalahkan diri sendiri, yaitu enggan dalam
menulis. Ketiga ulama tersebut sepertinya sadar betul bahwa ada banyak manfaat
yang diperoleh umat bila beliau bertiga berkenan berbagi ilmu dengan bahasa
tulis. Kesadaran ini yang mungkin akhirnya membuat beliau bertiga mentradisikan
literasi. Hasil dari mentradisinya literasi adalah legacy yang sama-sama bisa kita nikmati.
Bila literasi sudah menjadi tradisi, maka lahirlah
legacy. Itulah hasil renungan saya
sehabis mengikuti pengajian online ini. Menghadiri pengajian online dengan
tema-tema semacam ini adalah salah satu upaya saya untuk mentradisikan literasi
dalam kehidupan saya dan keluarga. Saya sadar bahwa menulis bukanlah
ketrampilan yang bisa dibangun secara instan. Dia dibangun melalui tradisi,
konsistensi, dan kadang ‘provokasi’. Pengajian online yang membentangkan karya
literasi seabad lalu yang masih relevan sampai sekarang adalah salah satu
bentuk dari ‘provokasi’ untuk me-recharge
semangat berliterasi.
Malang,
18 Februari 2021M/6 Rajab 1442H

Terima kasih catatan indahnya yang menginspirasi, Ibunda Nurul. Sangat mem'provokasi' untuk terus berusaha menumbuhkan budaya literasi. Semoga kelak juga bisa seperti Ibunda yang bisa mengembangkan budaya literasi, minimal di lingkungan keluarga.
BalasHapusSerasa membaca catatan pakar nahwu Sharaf🤗. Keren bunda😍
BalasHapus