Rabu, 17 Februari 2021

KETIKA LITERASI SUDAH MENTRADISI.....

 

 

 

KETIKA LITERASI SUDAH MENTRADISI…..

 

    Pengajian online yang diselenggarakan oleh Jaringan Alumni Luar Negeri (Jalar) bekerjasama dengan Pondok Pesantren Raden Sunan Ampel (PPRRSA) Jember tanggal 21 Januari 2021 yang lalu mengkonfirmasi akan pentingnya berliterasi. Pengajian dengan tema Warisan Intelektual Nusantara di Timur Tengah menghadirkan narasumber Ahmad Ginanjar Sya’ban, dosen Pascasarjana UNUSIA, dan founder SAFINA (Santri Filologi Nusantara). Di pengajian online tersebut dibentangkan banyak karya para ulama tanah air yang melegenda sampai sekarang. Dari sekian banyak karya tersebut, saya akan focus pada tiga karya yang terkait dengan ilmu bahasa.

Hâsyiah Tadrij al-Adânî (Morfologi Arab) adalah kitab pertama yang dimunculkan dalam pengajian online ini. Kitab ini ditulis oleh ulama berdarah Banten yang lahir dan besar di Saudi yang bernama Syaikh ´Abd al-Haqq b. Abd al-Hannân al-Bantanî al-Makkî yang wafat tahun 1906. Beliau adalah cucu dari Syaikh Nawawi Banten, seorang ulama asal Banten yang memiliki banyak karya, dan wafat tahun 1897.  Hâsyiah Tadrij al-Adânî (Morfologi Arab) adalah karya fenomenal. Meski kitab ini ditulis di akhir abad 18, tapi kitab ini sampai sekarang masih menjadi rujukan bagi mereka yang belajar morfologi Arab. Kitab ini sampai sekarang ini masih dicetak di berbagai negara semisal Iran, Turki, Arab Saudi, Mesir, Libaonon.



                             Kitab Hâsyiah Tadrij al-Adânî  yang dicetak di berbagai negara

Tashil Nail Al-Amani fi Syarah Awamil al-Jurjani yang ditulis oleh SyaikhAhmadbin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathoni adalah kitab kedua. Kitab ini merupakan syarah atau penjelasan dari kitab Awamil al-Jurjani sebuah kitab tentang ilmu nahwu atau tatabahasa Arab. Tashil Nail Al-Amani fi Syarah Awamil al-Jurjani dianggap syarah yang paling otoritatif terhadap kitab Awamil al-Jurjani. Kitab ini pula sudah dicetak ratusan kali.

Tasywiqul Khillan adalah kitab ketiga yang merupakan legacy dari KH Salim Makhsum, seorang ulama asal Semarang. Kitab ini merupakan hasiyah atau catatan panjang atas kitab Syarah Mukhtashor Jiddan karya Sayyid Ahmad Zayni Dahlan. Syarah Mukhtashor Jiddan adalah penjelasan terhadap kitab Jurumiyah, sebuah kitab tatabahasa Arab yang sangat melegenda yang ditulis oleh Syaikh As-Shanhajy. KH Salim Makhsum menyelesaikan karyanya tahun 1886H/1303H, tetapi karya tersebut naik cetak baru 54 tahun berikutnya, yaitu tahun 1940.

So What?

Tiga ulama yang disebut di atas memiliki multi talenta. Beliau bertiga tidak hanya membahas tentang ilmu-ilmu agama seperti lazimnya ulama, melainkan membahas pula ilmu linguistik, khususnya ilmu sharaf atau morphology dan ilmu nahwu atau ilmu gramatika/tatabahasa. Banyak orang paham tentang ilmu sharaf tetapi tidak banyak orang yang bisa membuat orang lain paham melalui bahasa tulis yang sampai melegenda seperti halnya Syaikh ´Abd al-Haqq b. Abd al-Hannân. Kedalaman ilmu, kemahiran berbahasa, dan kepiawaian menulis yang dimiliki Syaikh adalah kombinasi yang bisa mengantarkan karya beliau sedemikian fenomenal.

Hal senada terjadi pada Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathoni. Beliau menulis syarah atau penjelasan dari kitab  Awamil al-Jurjani, sebuah kitab yang membahas tentang ilmu nahwu atau tatabahasa Arab. Banyak orang yang paham ilmu nahwu, tetapi tidak banyak orang yang bisa memberi penjelasan (tafsir) tentang tulisan tentang ilmu nahwu. Untuk bisa menjelaskan atau menafsirkan dengan gamblang diperlukan pemahaman komprehensif dan mendalam akan kitab yang dibahas, kemampuan berfikir kritis, serta kehandalan dalam merangkai kata dan kalimat. Kepaduan ketiganyalah yang bisa menjadikan syarah alias penjelasan atau tafsir tersebut bisa melegenda sampai sekarang. Sebangun dengan ini, KH Salim Makshum berhasil menulis catatan panjang tentang   Syarah Mukhtashor Jiddan yang notabene adalah penjelasan dari Jurumiyah. Tanpa pemahaman mendalam dan komprehensif terhadap dua kitab tersebut, dan ditopang dengan kemahiran dalam menulis, rasanya mustahil lahir catatan panjang atau review panjang yang berjudul Tasywiqul Khillan. Karya ketiga ulama tersebut membuktikan bahwa ketiganya memiliki pengetahuan linguistik yang sangat dalam dan tradisi literasi yang sangat baik.

Dari sudut pandang literasi, karya ketiga ulama tersebut merupakan bukti kuat betapa kuatnya tradisi literasi beliau bertiga. Dengan mampu menulis karya yang sedemikian fenomenal ketiga ulama tersebut pasti memiliki budaya baca yang sangat bagus. Tulisan yang baik dihasilkan oleh mereka yang memiliki budaya baca yang baik. Mustahil bisa menulis dengan baik tanpa ada proses membaca yang lebih dari cukup. Menulis dan membaca adalah satu paket. Seorang penulis sudah pasti pembaca yang baik, tetapi pembaca yang baik belum tentu penulis (yang baik).

Menulis sudah mentradisi. Menulis menjadi lifestyle. Menulis menjadi bagian dari keseharian. Mungkin begitulah gambaran yang pas bagi ketiga ulama tersebut dalam berliterasi. Menulis sampai menghasilkan tulisan yang diterima publik secara luas dalam kurun waktu sekian lama pastilah butuh perjuangan.

Menulis adalah ketrampilan menuangkan ide dalam bahasa tulis yang menuntut keterpaduan banyak hal. Pemahaman terhadap ide yang ditulis, kekayaan kosa kata, pemahaman akan tatabahasa, kemampuan mengelola dan mengatur ide hingga ide bisa tersaji dengan runtut adalah sebagian aspek yang disyaratkan dalam menulis. Di atas itu semua, ada satu hal yang lebih penting, yaitu kemauan untuk menulis. Ini adalah syarat mutlak, tetapi sayangnya ini tidak bisa dipelajari di sekolah formal. Kemauan menulis muncul biasanya karena kesadaran akan manfaat besar bila kita bisa menulis. Kemauan mengalahkan kemalasan dalam menulis bisa muncul bila kita sadar akan kekuatan bahasa tulis yang bisa menembus ruang dan waktu. Written language crosses time and space. Kesadaran akan manfaat besar dari tulisan bisa melibas berbagai kesulitan-kesulitan teknis semisal keterbatasan kosa kata, minimnya pengetahuan tatabahasa, terbatasnya ketrampilan meruntutkan ide dll yang kesemuanya itu bisa dipelajari sambil berlatih alias learning by doing.

Tiga ulama yang karyanya saya sebutkan di atas menunjukkan bahwa beliau bertiga mampu mengatasi semua kesulitan dalam hal menulis, terutama kesulitan dalam mengalahkan diri sendiri, yaitu enggan dalam menulis. Ketiga ulama tersebut sepertinya sadar betul bahwa ada banyak manfaat yang diperoleh umat bila beliau bertiga berkenan berbagi ilmu dengan bahasa tulis. Kesadaran ini yang mungkin akhirnya membuat beliau bertiga mentradisikan literasi. Hasil dari mentradisinya literasi adalah legacy yang sama-sama bisa kita nikmati.

Bila literasi sudah menjadi tradisi, maka lahirlah legacy. Itulah hasil renungan saya sehabis mengikuti pengajian online ini. Menghadiri pengajian online dengan tema-tema semacam ini adalah salah satu upaya saya untuk mentradisikan literasi dalam kehidupan saya dan keluarga. Saya sadar bahwa menulis bukanlah ketrampilan yang bisa dibangun secara instan. Dia dibangun melalui tradisi, konsistensi, dan kadang ‘provokasi’. Pengajian online yang membentangkan karya literasi seabad lalu yang masih relevan sampai sekarang adalah salah satu bentuk dari ‘provokasi’ untuk me-recharge semangat berliterasi.


Malang, 18 Februari 2021M/6 Rajab 1442H

 

 

2 komentar:

  1. Terima kasih catatan indahnya yang menginspirasi, Ibunda Nurul. Sangat mem'provokasi' untuk terus berusaha menumbuhkan budaya literasi. Semoga kelak juga bisa seperti Ibunda yang bisa mengembangkan budaya literasi, minimal di lingkungan keluarga.

    BalasHapus
  2. Serasa membaca catatan pakar nahwu Sharaf🤗. Keren bunda😍

    BalasHapus

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...