Senin, 29 Maret 2021

Bumi Dipijak dan Langit Dijunjung

 

Bumi Dipijak dan Langit Dijunjung

 

Semenjak semester ganjil 2021 saya mendapat tugas mengajar di kelas internasional di Pascasarjana IAIN Tulungagung. Kelas ini mahasiswanya berasal dari berbagai negara. Seingat saya mereka berasal dari Palestina, Yordania, Mesir, Arab Saudi, Malaysia, Myanmar, Polandia, Singapura, dan Thailand. 

Mengajar mahasiswa dengan beragam nationality menuntut penyesuaian di sana sini. Bahasa Inggris dengan berbagai aksen adalah penyesuaian pertama yang harus saya lakukan. Bahasa Inggris mereka sangat lancar dengan aksen masing-masing. Yang dari Yordan memiliki aksen yang mirip dengan aksen dari Mesir, tetapi sangat berbeda dengan yang dari Thailand. Yang dari Myanmar memiliki kekhasan yang luar biasa yang sangat berbeda dengan yang lain. Cukup sulit bagi saya untuk membiasakan pendengaran saya dengan aksen Myanmar. Di sisi lain, mereka pun dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan bahasa Inggris saya dengan aksen Indonesia yang bagi mereka pasti terdengar asing.

Penyesuaian kedua adalah terkait cara memanggil satu sama lain. Di Indonesia, terutama di jurusan saya, mahasiswa biasanya memanggil dosen perempuan dengan sebutan Mam yang merupakan kependekan dari Madam dan dipadu dengan nama dosen tersebut. Jadi, saya biasanya dipanggil Mam Nurul. Pola ini merupakan hybrid atau perpaduan antara budaya negara berbahasa Inggris dengan budaya Indonesia. Kembali ke masalah penyesuaian cara memanggil, saya yang sudah terbiasa dipanggil dengan sebutan Mam Nurul oleh mahasiswa, menjadi sedikit tersentak ketika salah satu mahasiswa asing memanggil saya dengan sebutan nama saja, yaitu Nurul, tanpa ‘bu’ maupun ‘mam’.

Ada juga yang memanggil saya dengan cara lain, yaitu dengan menyebut gelar doctor yang bagi saya terdengar kurang lazim.  Ada lagi yang puny cara lain. Pak Bartos, misalnya. Dia mahasiswa dari Polandia. Bahasa sehari-harinya bahasa Inggris. Dia secara konsisten memanggil saya dengan sebutan Profesor. Dia sebenarnya tahu bahwa sebutan Profesor di Indonesia hanyalah untuk mereka yang sudah sampai pada maqom Guru Besar. Dia juga tahu bahwa saya belum sampai pada maqom tersebut, tetapi dia tidak bisa tidak memanggil saya Profesor. Mengapa? Karena di negaranya professor bisa untuk siapapun yang sudah memiliki gelar doctor dan mengajar di perguruan tinggi. Berbekal pemahaman ini, dia senantiasa memanggil saya professor meski dia tahu bahwa itu kurang pas diterapkan di Indonesia. 

                                  Bu Maha Hosni, mahasiswi dari Mesir

Di sisi lain, saya juga harus menyesuaikan dengan cara memanggil mereka. Sebenarnya saya paham betul bahwa ketika kita memutuskan untuk memilih suatu bahasa dalam berkomunikasi, maka mau tidak mau kita harus menyesuaikan dengan kultur dari penutur bahasa tersebut. Bila tidak, potensi adanya kesalahpahaman sangatlah besar. Berdasar ini dan mengingat bahasa Inggris adalah media kami berkomunikasi, maka seyogyanya saya feel free saja memanggil mereka dengan sebutan nama saja tanpa sebutan ‘Bu’ atau ‘Pak’ karena begitulah kultur penutur asli bahasa Inggris. Tetapi mengingat mereka sudah berusia sangat dewasa, sudah menikah, dan sudah menjadi guru di instansi masing-masing, maka sebagai orang Jawa saya tidak kewetu memanggil mereka tanpa sebutan ‘Bu’ atau ‘Pak’. Kepada mereka saya memanggil selayaknya saya memanggil wanita atau laki-laki Indonesia yang sudah menikah, yaitu ‘Pak/Bu’ dan diikuti nama. Merespons akan hal ini, ada beberapa yang kemudian menyesuaikan. Mereka menunjukkan ekspresi gembira dengan sebutan yang saya berikan, dan mereka akhirnya memanggil saya dengan sebutan ‘Bu’. Kelompok ini sepertinya setuju dengan ungkapan ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.’

Akhirnya, kami berkomunikasi dengan membawa kultur kami masing-masing. Perbedaan kultur ini tidak berakibat pada kegagalan komunikasi. Pertemuan dua budaya ini menghasilkan komunikasi yang lancar, yang penuh dengan toleransi dan upaya untuk saling memahami. Titik temu dari dua budaya yang dibarengi dengan upaya saling memahami adalah pertemanan yang manis.

 

 

Malang, 30 Maret 2021/16 Sya’ban 1442

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...