Bumi Dipijak dan Langit Dijunjung
Semenjak
semester ganjil 2021 saya mendapat tugas mengajar di kelas internasional di
Pascasarjana IAIN Tulungagung. Kelas ini mahasiswanya berasal dari berbagai
negara. Seingat saya mereka berasal dari Palestina, Yordania, Mesir, Arab
Saudi, Malaysia, Myanmar, Polandia, Singapura, dan Thailand.
Mengajar mahasiswa dengan beragam nationality menuntut penyesuaian di sana
sini. Bahasa Inggris dengan berbagai aksen adalah penyesuaian pertama yang
harus saya lakukan. Bahasa Inggris mereka sangat lancar dengan aksen
masing-masing. Yang dari Yordan memiliki aksen yang mirip dengan aksen dari
Mesir, tetapi sangat berbeda dengan yang dari Thailand. Yang dari Myanmar
memiliki kekhasan yang luar biasa yang sangat berbeda dengan yang lain. Cukup
sulit bagi saya untuk membiasakan pendengaran saya dengan aksen Myanmar. Di
sisi lain, mereka pun dituntut untuk bisa menyesuaikan dengan bahasa Inggris
saya dengan aksen Indonesia yang bagi mereka pasti terdengar asing.
Penyesuaian kedua adalah terkait cara memanggil
satu sama lain. Di Indonesia, terutama di jurusan saya, mahasiswa biasanya
memanggil dosen perempuan dengan sebutan Mam
yang merupakan kependekan dari Madam dan
dipadu dengan nama dosen tersebut. Jadi, saya biasanya dipanggil Mam Nurul. Pola ini merupakan hybrid atau perpaduan antara budaya negara berbahasa Inggris dengan budaya
Indonesia. Kembali ke masalah penyesuaian cara memanggil, saya yang sudah
terbiasa dipanggil dengan sebutan Mam Nurul
oleh mahasiswa, menjadi sedikit tersentak ketika salah satu mahasiswa asing memanggil saya
dengan sebutan nama saja, yaitu Nurul, tanpa ‘bu’ maupun ‘mam’.
Ada juga yang memanggil saya dengan cara lain,
yaitu dengan menyebut gelar doctor yang bagi saya terdengar kurang lazim. Ada lagi yang puny cara lain. Pak Bartos,
misalnya. Dia mahasiswa dari Polandia. Bahasa sehari-harinya bahasa Inggris.
Dia secara konsisten memanggil saya dengan sebutan Profesor. Dia sebenarnya
tahu bahwa sebutan Profesor di Indonesia hanyalah untuk mereka yang sudah
sampai pada maqom Guru Besar. Dia juga tahu bahwa saya belum sampai pada maqom
tersebut, tetapi dia tidak bisa tidak memanggil saya Profesor. Mengapa? Karena
di negaranya professor bisa untuk siapapun yang sudah memiliki gelar doctor dan
mengajar di perguruan tinggi. Berbekal pemahaman ini, dia senantiasa memanggil
saya professor meski dia tahu bahwa itu kurang pas diterapkan di Indonesia.
Bu Maha Hosni, mahasiswi dari Mesir
Di sisi lain, saya juga harus menyesuaikan dengan
cara memanggil mereka. Sebenarnya saya paham betul bahwa ketika kita memutuskan
untuk memilih suatu bahasa dalam berkomunikasi, maka mau tidak mau kita harus
menyesuaikan dengan kultur dari penutur bahasa tersebut. Bila tidak, potensi adanya
kesalahpahaman sangatlah besar. Berdasar ini dan mengingat bahasa Inggris
adalah media kami berkomunikasi, maka seyogyanya saya feel free saja memanggil mereka dengan sebutan nama saja tanpa
sebutan ‘Bu’ atau ‘Pak’ karena begitulah kultur penutur asli bahasa Inggris. Tetapi
mengingat mereka sudah berusia sangat dewasa, sudah menikah, dan sudah menjadi
guru di instansi masing-masing, maka sebagai orang Jawa saya tidak kewetu memanggil mereka tanpa sebutan
‘Bu’ atau ‘Pak’. Kepada mereka saya memanggil selayaknya saya memanggil wanita
atau laki-laki Indonesia yang sudah menikah, yaitu ‘Pak/Bu’ dan diikuti nama. Merespons
akan hal ini, ada beberapa yang kemudian menyesuaikan. Mereka menunjukkan
ekspresi gembira dengan sebutan yang saya berikan, dan mereka akhirnya memanggil
saya dengan sebutan ‘Bu’. Kelompok ini sepertinya setuju dengan ungkapan ‘di
mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.’
Akhirnya, kami berkomunikasi dengan membawa kultur kami
masing-masing. Perbedaan kultur ini tidak berakibat pada kegagalan komunikasi.
Pertemuan dua budaya ini menghasilkan komunikasi yang lancar, yang penuh dengan
toleransi dan upaya untuk saling memahami. Titik temu dari dua budaya yang
dibarengi dengan upaya saling memahami adalah pertemanan yang manis.
Malang,
30 Maret 2021/16 Sya’ban 1442

Tidak ada komentar:
Posting Komentar