Rabu, 19 April 2023

Brodin Yang Saya Kenal

 


 

Brodin yang Saya Kenal

 

        Ahmad Bahrudin. Itulah nama salah satu teman sekelas saya ketika di S1 di Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Jember. Saya dan beberapa teman memanggilnya dengan sebutan yang lebih njawani, yaitu Brodin.

Saya mengenalnya sejak awal kuliah, tahun 1988. Kami satu kelompok di Penataran P4 Pola dukung 100 jam. Dalam kelompok tersebut ada sekitar 20 mahasiswa dari berbagai fakultas. Yang berasal dari FKIP seingat saya hanya saya dan Brodin. Durasi penataran yang sangat panjang memungkinkan kami untuk mengeksplorasi potensi dan kemampuan kami, terutama kemampuan dalam menalar kasus, kemampuan berargumentasi, dan kemampuan public speaking. Dari sinilah saya jadi tahu bahwa Brodin sangat potensial dalam public speaking. Tidak jarang meski dengan data dan kajian teori yang sangat terbatas dia bisa meyakinkan audience. Kepiawaiannya dalam memilih diksi, sense humor yang cukup tinggi, ditambah dengan geture yang tepat adalah modalnya dalam meyakinkan kami, teman2 sekelompok.

Karena kebetulan kami satu prodi, maka memudahkan bagi kami untuk tetap menjalin pertemanan meski penataran usai. Selanjutnya, hari-hari kami isi dengan aktifitas akademik dan non-akademik yang menuntut kami untuk siap kerjasama dengan berbagai pihak. Sepemantauan saya, Brodin termasuk mahasiswa yang bisa diterima banyak pihak. Baik dosen maupun mahasiswa menerimanya dengan tangan terbuka. Mungkin sikapnya yang supel dan ceria di segala suasana lah yang membuatnya mudah diterima semua pihak.


Keakraban Brodin (batik gelap) dengan sahabat lintas Angkatan: Thohir Affandi (depan) dan Ali Muafa (kemeja bergaris)

Selama perkuliahan, Brodin terlihat menonjol dalam hal public speaking, persis seperti yang ia tunjukkan ketika penataran. Di matakuliah apapun, bila dia berkesempatan berbicara, dia selalu menunjukkan kepiawaiannya dalam meyakinkan pendengarnya. Dengan kelebihan ini, dia pernah berseloroh sekaligus mengeluh kepada saya yang kurang lebih begini: “misalkan matkul Speaking sampai Speaking IV dan andai matku Structure hanya structure I, aku seneng banget.” Seloroh itu dia lontarkan karena dia merasa sangat kesulitan mengikuti kuliah Structure, sedangkan di matkul Speaking dia layaknya seniman yang mendapatkan panggung untuk menyalurkan potensinya.

Secara umum, layaknya Sebagian besar teman-teman sekelas saya, Brodin bisa meneyelesaikan studinya dengan cukup smooth. Setamat studi, saya tidak pernah kontak hingga sekitar tahun 2009 atau 2010 (tepatnya saya lupa) kami bertemu di Universitas Negeri Malang karena kebetulan kami sama-sama menempuh studi S3 di prodi yang berbeda. Brodin studi di Jurusan Teknologi Pembelajaran (TEP), sedangkan saya masih sangat setia dengan Pendidikan Bahasa Inggris. 

Nyaris tidak ada yang berubah pada diri Brodin yang saat itu sudah kandidat doctor. Dia tetap ceria, banyak cerita, dan selalu optimistis. Selama tinggal di Malang, dia sempat berkunjung ke rumah saya dan berkenalan dengan keluarga saya. Setamat studi S3 dan dia kembali ke Kalimantan, saya semakin tahu bahwa public speaking adalah jalannya. Kepiawaiannya berbicara di depan public ditopang dengan pendidikan paripurna menjadikannya sukses menjadi pembicara tentang teknologi pembelajaran sekaligus motivator.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai guru, pembicara seminar, dan motivator, Brodin tidak lupa dengan kami, teman-temannya sekelas yang tergabung di grup WA. Dia termasuk anggota grup yang aktif di grup. Sesekali seloroh dan guyonan adalah yang paling sering dia lontarkan.


Brodin dengan salah satu teman sekelas, Rodliyah (Odiek)

Dengan adanya grup WA, kami bisa saling tahu kondisi kami masing-masing, terutama sepak terjang dan kondisi Brodin karena dia termasuk anggota yang tidak pelit info. Banyak hal tentang dirinya yang dia share ke kami, termasuk kondisi kesehatannya. Seingat saya, bulan Februari 2023 dia share info tentang kesehatannya yang menurun dan harus rawat inap. Hampir seluruh anggota grup merespons-nya dengan doa-doa terbaik untuk kesembuhannya. Saya sempat japri dia dan menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Dia membalas dengan menyebut nama penyakitnya dan minta doa.

Tidak berselang lama dari waktu tersebut, tepatnya tanggal 10 Maret 2023, kami, anggota grup, dikejutkan dengan berita duka atas wafatnya Brodin. Speechless. Hanya ungkapan innalillahi wainna ilaihi raajiun yang bisa saya ucapkan. Sekali lagi speechless. Meskipun kematian adalah keniscayaan bagi setiap yang bernyawa, tetapi ketika hal tersebut benar-benar menimpa orang dekat kita, kita pasti merasa belum siap, kaget, belum bisa menerima, dan speechless adalah reaksi yang lazim terjadi.

Kematian memang bukanlah topik yang enak untuk dibicarakan. Itulah salah satu sebab mengapa tulisan ini bisa saya selesaikan setelah berselang cukup lama dari wafatnya Brodin. Kematian identik dengan kesendirian, kegelapan, dan pertanggungjawaban. Kematian memisahkan pihak yang mati dengan siapapun di dunia ini termasuk orang-orang terdekatnya, dan menempatkannya di tempat yang menurut penglihatan manusia sangat sempit, tanpa fasilitas apapun, termasuk lampu penerangan, dan sidang pertanggungjawaban sudah menunggu di depan mata.

Secara fitrah, manusia berkeinginan untuk hidup lama. Doa-doa harian yang kita panjatkan salah satunya berbunyi Allahuma thawil umuruna alias Ya Allah, karuniakanlah kami umur panjang. Doa-doa ulang tahun selalu menyisipkan ucapan semoga panjang umur bagi yang berulang tahun. dengan gaya bahasa hiperbola, Khairil Anwar menyebut "aku ingin hidup 1000 tahun lagi" di salah satu puisinya. Itu semua adalah sekelumit bukti betapa besar keinginan manusia untuk sedapat mungkin terhindar dari kematian.

Betapapun besar keinginan manusia untuk berumur panjang, namun kematian adalah hak prerogratif Allah, dan karenanya kematian bisa terjadi kapanpun dan bisa menimpa siapapun. Kematian bisa terjadi ketika seseorang sudah menuntaskan semua tugas-tugasnya di dunia, bisa juga terjadi ketika seseorang sedang di puncak karir, bisa juga terjadi ketika seseorang belum menapaki karir.

Mengingat kematian sedemikian misterinya, maka saya angkat topi dengan Brodin yang (mungkin) tanpa sadar menyiapkan datangnya kematian dengan perbuatan-perbuatan baik yang terlihat kecil yang dia lakukan secara konsisten. Selalu menyapa duluan, selalu menyebarkan optimisme, sering menawarkan kesediaan berbagi ilmu dengan honor ala kadarnya, bahkan dengan gratis, menawarkan diri menjadi tuan rumah untuk reuni kelas dengan gratis adalah contoh perbuatan yang bisa membuat orang lain dengan rela melangitkan doa untuk kebaikannya sebagai balasan. Tulisan sederhana ini juga salah satu bentuk penghormatan saya kepadanya, ucapan terimakasih saya atas kesediaannya banyak membantu saya ketika kami masih studi di Tegalboto, juga ucapan terimakasih atas kesediannya mengunjungi saya dan mengenal keluarga saya. Tulisan ini juga sebagai bentuk penyesalan saya yang tidak bersedia merespons inisiatifnya menggelar reuni pasca lebaran 1444H ini.

Selamat jalan, Brodin. Semoga Allah menerima semua kebaikan dan mencatatnya sebagai amal ibadah bagimu. Semoga pula Allah mengampuni semua salah hilafmu dan semoga Allah menempatkanmu di tempat termulia di sisi-Nya. Aamiin.....


Malang, 19 April 2023M/28 Ramadhan 1444H

 


Sabtu, 15 April 2023

On-the-Road Iftar

 

On-the-Road Iftar

          Tanggal 15 April 2023 saya dan keluarga belanja beberapa bahan bangunan di Depo Bangunan (swalayanan khusus bahan-bahan bangunan). Kami berangkat pukul 15.30. Untuk antisipasi kemacetan yang memungkinkan kami masih di jalan ketika saat maghrib tiba, maka kami sengaja membawa bekal makanan ringan.

 Jalanan ternyata sangat ramai. Bahu kiri dan kanan jalan hampir penuh mobil dari berbagai kota yang membuat mobil bergerak pelan meski tidak merayap. Di pinggir jalan yang kami lalui banyak penjual takjil dengan berbagai dagangannya dan dengan pembeli yang berkerumun. Suasana sore benar-benar meriah. Saya dan keluarga yang tidak pernah ngabuburit, saat ini benar-benar merasakan ngabuburit itu.

Kami tiba di Depo Bangunan sekitar jam 16 lebih sedikit. Suasana di toko tersebut sepi karena tidak terlalu banyak pengunjung. Kami segera menuju counter barang-barang bangunan yang kami perlukan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika akan menentukan pilihan, sehingga aktivitas ini menyita cukup banyak waktu.

Begitu pilihan untuk semua jenis barang sudah kami tentukan, kami menuju kasir. Urusan pembayaran belum selesai di saat adzan maghrib berkumandang. Pihak Depo Bangunan menyediakan takjil ringan untuk pembeli yang berpuasa. Kami segera membatalkan puasa dengan menikmati takjil yang mereka sediakan.

Begitu pembayaran selesai, kami segera meninggalkan kasir dan menuju mobil. Di dalam mobil kami melanjutkan pembatalan puasa dengan menikmati makanan ringan yang kami bawa dari rumah. Ada sensasi tersendiri ketika kami mamiri (makan minum ringan) di mobil dalam rangka berbuka puasa.

Begitu urusan mamiri kami anggap cukup, kami segera keluar dari area Depo Bangunan dan segera menuju masjid yang terletak sekitar 500 meter dari Depo untuk melaksanakan shalat maghrib. Sesampainya di masjid tersebut, kami segera ambil air wudlu. Tempat wudlu-nya sangat representatif. Tempatnya luas dan bersih. Saya tidak sempat menghitung berapa kran wudlu yang tersedia, tapi yang jelas lebih dari sepuluh. Tempat wudlu tersebut bersih. Tidak ada sampah tercecer. Tidak ada air menggenang. Tidak ada pakaian yang tercentel di area tersebut, dan tidak ada pula tulisan-tulisan larangan atau himbauan di dinding. Clean and clear.  

Saya shalat di tempat khusus putri. Di tempat ini saya lihat beberapa orang yang juga melaksanakan shalat maghrib. Sepertinya mereka musafir yang akan melanjutkan perjalanan ke tempat yang (mungkin) jauh. Begitu shalat selesai saya tunaikan, saya segera beranjak meninggalkan tempat. Di pintu utama masjid saya ‘dihadang’ oleh dua remaja. Dengan sopan mereka mengulurkan paket buka puasa terbungkus stereofoam.   

Paket buka puasa tersebut saya buka di mobil, dan ternyata isinya mie pangsit. Selama ini saya bukan penyuka mie. Sangat jarang saya makan mie. Bagi saya, mie bukanlah makanan yang menarik. Dia tidak bisa menggugah selera makan saya layaknya nasi lalapan atau sayur asem plus tempe goreng. Akan tetapi, mie yang saya terima dari remaja masjid tersebut terlihat beda. Bentuknya yang kecil memanjang dengan warna mengkilap karena minyak, ditambah dengan taburan ayam tumbuk halus plus bawang merah goreng, dilengkapi dengan pangsit goreng sebagai topping dan sayur selada dan beberapa cabe mentah membuatnya terlihat sangat menarik. Appetizing alias sangat menggoda selera makan.

Akhirnya, tanpa pikir panjang, saya pun menyantapnya dengan lahap, meski sejatinya saya bukan penyuka mie. Mie tersebut terasa sangat sedap di lidah. Bumbunya terasa kuat, tapi tidak terlalu spicy hingga bisa berdamai dengan indra pengecap saya. Pangsitnya renyah hingga membuat suasana makan menjadi seru. Cabe mentahnya kecil, sekecil mata burung, hingga terasa tidak terlalu pedas ketika diceplus. Perpaduan antara rasa mie yang sedap, rasa lapar karena sudah sekian belas jam tidak makan, dan suasana makan di jalanan membuat saya sangat lahap menyantap mie tersebut. Saya menyantapnya sampai tuntas hingga serpihan mie terkahir.  

Kenikmatan menyantap mie yang saya ceritakan membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah bahwa salah satu kegembiaraan orang yang berpuasa adalah ketika berbuka puasa.  Antusiasme saya terhadap mie, makanan yang selama ini tidak menarik bagi saya, seolah membenarkan ungkapan bahwa lauk terenak adalah rasa lapar. Mamiri di swalayan bahan bangunan dan menikmati buka puasa pemberian takmir masjid di mobil memberikan sensai tersendiri dan membuat Ramadhan tahun ini menjadi lebih berwarna. Semoga Allah SWT menerima puasa dan semua ibadah kita. Aamiin…..

 

Malang, 16 April 2023/26 Ramadhan 1444

  


Rabu, 08 Februari 2023

COVID-19 & CORONA RISTAWAN

 

COVID-19 & CORONA RISTAWAN


Maaf, lagi-lagi tentang Corona. Saat ini Corona memang makhluk Tuhan paling seksi di bumi karena hari-hari ini tiada detik tanpa pembicaraan tentangnya. Tentunya masing-masing orang punya parameter sendiri dalam menentukan keseksiannya. Corona akan terlihat seksi bagi politisi bila dilihat dari perspektif bagaimana pemerintah menanagani wabah ini, bagaimana pemerintah menggunakan anggaran negara, dan bagaimana pemerintah menjalankan UU yang ada untuk memutus rantai penyebarannya. Pebisnis akan melihatnya sangat seksi karena saat ini banyak terbuka peluang bisnis baru meski banyak pula bisnis yang tutup karenanya. Seperti halnya mereka, saya yang suka dengan ilmu linguistik pun melihat ada yang menarik dari wabah corona, yaitu cerita di balik nama COVID-19.

COVID-19

Corona berasal dari bahasa Latin yang bermakna mahkota (crown), dan dia dijadikan nama virus yang pertama kali ditemukan di tahun 1964 oleh seorang wanita Scotlandia bernama June Almeida. Virus ini punya banyak varian, dua diantaranya menjadi penyebab penyakit SARS dan MERS. Virus Corona yang saat ini lagi mewabah merupakan jenis baru yang berbeda dengan yang menyebabkan SARS dan MERS. Karenanya, beberapa bulan lalu pemerintah Cina sempat menyebutnya Novel Corona yang bermakna Corona jenis baru. Per 23 Februari 2020, WHO mengumumkan secara resmi bahwa virus Corona jenis baru yang pertama kali muncul di Wuhan akhir tahun 2019 disebut COVID-19 yang merupakan akronim dari Corona Virus Disease 2019. Jadi, nama wabah yang saat ini lagi pandemi berawal dari Corona, kemudian menjadi Novel Corona, dan akhirnya COVID-19.

 

Corona Ristawan

Corona yang satu ini bukan nama virus, melainkan nama seorang dokter yang aktif di sebuah rumah sakit di Lamongan Jawa Timur. Namanya menjadi sangat relevan dibicarakan saat ini karena kebetulan namanya sama persis dengan nama virus penyebab Covid-19. Lebih menarik lagi karena dokter ini ternyata diamanati oleh PP Muhammadiyah untuk menjadi ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Ini menjadi menarik karena seseorang yang bernama Corona harus mengurusi virus Corona. Keduanya memiliki nama yang sama. Bedanya yang satu manusia, dan yang satunya virus.

Bagaimana dia bisa bernama Corona? Usut punya usut, ternyata dia adalah putra ketiga, dan karenanya orang tuanya berupaya mencari nama dengan C sebagai huruf pertama mengingat putra pertama dan kedua sudah berawalan dengan huruf A dan B. Di saat bingung mencari nama itulah, sang ayah membaca merk mobil Corona. Sang ayah tertarik dengan nama itu karena berawalan dengan huru C, terdengar indah, dan bermakna indah pula, yaitu mahkota. Akhirnya diambillah nama merk mobil tersebut sebagai nama putra ketiga.

So, What?

Ada pihak yang meyakini bahwa nama hanyalah label yang bisa menjadi pembeda antara orang yang satu dengan yang lain. Ungkapan legendaris Shakespeare what is in a name?  di kisah Romeo and Juliet sepertinya mengikuti aliran ini. Akan tetapi, ada pihak yang meyakini bahwa nama bukanlah semata-mata label diri, melainkan branding diri. Kelompok ini meyakini bahwa citra diri, kepercayaan diri, cara berpikir, dan perilaku seseorang bisa terbangun karena nama yang disandangnya. Nama diri yang menyiratkan optimisme dan harapan akan mendorong pemiliknya untuk berperilaku penuh semangat dalam bekerja dan pantang menyerah. Saya ada di kelompok kedua karena sepengetahuan saya, selalu ada banyak cerita di balik nama. Nama bisa merepresentasikan banyak hal, diantaranya sejarah, bunyi, bentuk dan fungsi, bahkan doa.  

Name is history alias nama merepresentasikan sejarah. Tidak jarang nama menyiratkan peristiwa penting di masa lampau, penemu sebuah temuan yang fenomenal, dan juga tahun ditemukannya sebuah temuan penting. Mexican flu adalah nama penyakit yang disebabkan oleh virus yang muncul pertama kalinya di kota Mexico. Nama ini menggambarkan dengan jelas bahwa di suatu masa, di kota Mexico telah terjadi peristiwa besar, yaitu munculnya virus penyebab penyakit yang mewabah di banyak negara. Contoh lain dari nama yang merepresentasikan sejarah adalah nama skala suhu fahrenheit yang diambil dai nama penemunya, yaitu ilmuwan Jerman Gabriel Fahrenheit (1636-1786). Dengan diabadikannya nama penemu pada hasil temuannya, maka khalayak akan belajar sejarah dari temuan tersebut, minimal mengetahui nama penemunya. Tahun temuan adalah aspek lain dari sejarah yang bisa kita jumpai pada sebuah nama. Angka 19 di COVID-19 menandakan tahun tersebut adalah tahun ditemukannya virus Corona jenis baru, yang menjadi penyebab COVID-19. Dengan disematkannya angka 19, khalayak menjadi sadar bahwa tahun 2019 adalah tahun penting bagi epidemiologi karena di tahun tersebut ada virus baru yang menyebabkan pandemi di seantero bumi dan merenggut banyak nyawa. Jejak sejarah menjadi tergambar sangat jelas dengan menjadikan tahun kemunculan virus sebagai bagian dari nama.

Name is the representation of sounds, shapes, and functions alias nama merupakan representasi bunyi, bentuk dan fungsi. Keterkaitan antara nama dengan bentuk atau fungsi tertentu sering kita jumpai. Binatang melata di dinding kita namai cicak karena bunyi yang dihasilkannya, dan kain penutup kepala disebut kerudung karena fungsinya mengerudungi. Keduanya adalah contoh dari keterkaitan antara nama dengan bunyi dan fungsi dari benda yang dilabeli. Hal senada terjadi pada virus Corona. Nama Corona menyiratkan keterkaitan antara nama dan bentuk. Virus ini bentuknya mirip dengan mahkota, maka oleh penemunya dia diberi nama Corona yang bermakna mahkota. Sedangkan nama Novel Corona menyiratkan keterkaitan antara nama dan sifat. Novel, diambil dari bahasa Inggris, bermakna baru. Maka nama Novel Corona berarti virus Corona jenis baru.

Name is hopes alias nama adalah doa. Nama merepresentasikan harapan dan doa. Disadari atau tidak ternyata nama bisa memengaruhi kepribadian, perkembangan emosi dan sifat pemiliknya. Nama yang baik akan menciptakan citra diri yang baik bagi pemiliknya, dan begitu sebaliknya. Orang akan cenderung berupaya berlaku sesuai dengan citra yang diciptakan oleh namanya. Oleh sebab itu, ketika nama yang meyiratkan citra dan harapan yang baik akan mendorong penyandangnya untuk berbuat terbaik sesuai dengan makna dari namanya. Nama juga bisa membentuk image. Nama yang baik akan menciptakan image yang baik bagi penyandangnya, dan begitu sebaliknya. Bila seseorang diberi nama Mawar, maka penyandang nama tersebut akan tercitrakan sebagai individu dengan tampilan fisik yang memesona dengan kepribadian yang menarik layaknya bunga mawar. Inilah yang terjadi pada kasus nama Corona Ristawan yang saya angkat di awal tulisan ini. Dengan memberi nama putranya Corona yang bermakna mahkota, sang orang tua berharap dan berdoa semoga sang putra kelak menjadi anak yang penuh prestasi karena hanya individu dengan prestasi terbaik yang biasanya mendapatkan mahkota (corona). Dengan diangkatnya dr Corona Ristawan sebagai Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) dan sekarang ditarik ke dalam Tim BNPB, menunjukkan bahwa mahkota yang tersirat dalam namanya sudah terpasang di atas kepalanya.

Sebaliknya, nama juga mencitrakan seseorang menjadi sangat buruk dan terstigma. Spanish Flu atau flu Spanyol akan mencitrakan bangsa Spanyol sebagai sumber penyakit yang menjadi pandemi di tahun 1920. Mungkin karena alasan inilah WHO menghindari menyebut nama negara atau wilayah atau nama seseorang ketika akan memberi nama penyakit yang saat ini sedang mewabah di seantero planet bumi. Misalnya nama pandemi ini dinamai Wuhan Corona, maka hampir bisa dipastikan betapa terstigmanya kota Wuhan dan ini akan berimplikasi pada munculnya sikap rasis dan anti Wuhan. Sungguh, bukan situasi yang sehat baik secara mental maupun sosial.

Nama bukanlah sesuatu yang random. Mungkin begitulah kesimpulan yang pas untuk contoh-contoh kasus di atas. Di baliknya ada pola, ada sejarah, dan ada doa. Mencermati nama, kita bisa belajar banyak tentang keteraturan bahasa, kita bisa menggali sejarah, kita juga bisa ‘mendengar’ doa yang terpanjat oleh pemberi nama. Name is not nothing, but something. 

Akhirnya, bagaimana nama dengan segala cerita di baliknya bisa dihubungkan dengan WFH yang merupakan tema besar dari antologi yang akan memuat tulisan ini? Sepintas tulisan ini memang tidak terkait langsung dengan WFH karena di tulisan ini saya tidak menulis sama sekali tentang WFH dengan segala pernak perniknya. Akan tetapi, semua proses dari tulisan amat sederhana ini—mulai dari membaca sampai revisi—saya lakukan di rumah. Jadi, tulisan singkat sederhana ini tidak bercerita tentang WFH dengan segala dinamikanya, tetapi ini adalah produk dari WFH. Itulah kaitan antara keduanya. Semoga bisa dipahami. Terimakasih...... (Malang, 6 Januari 2021)


Catatan: Tulisan ini dimuat di Antologi Work From Home, IAIN Tulungagung Press, 2021.



Senin, 02 Januari 2023

REUNI

 


REUNI

Reuni pada dasarnya adalah menyatukan kembali pihak-pihak yang terpisah atau terceraikan. Reuni bisa diibaratkan upaya mengumpulkan tulang yang berserak. Acara reuni biasanya dinamai dengan berbagai istilah semisal temu kangen, temu alumni, dan lain2. Itulah yang dilakukan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej, almamater S1 saya, tanggal 26 Desember 2022 yang lalu. Acara tersebut diselenggarakan berbarengan dengan Musyawarah Nasional  Keluarga Alumni FKIP (Munas KA FKIP).

Reuni ini dilaksanakan secara luring dan daring. Kegiatan luring dilaksanakan di aula Gedung H FKIP Unej, sedangkan yang daring dilaksanakan melalui zoom. Karena satu dan lain hal, maka saya dan suami memilih daring. Reuni ini terbuka untuk semua angkatan, makanya tidak mengherankan bila yang hadir sangat heterogen dari sisi usia. Dari yang sudah setengah baya (angkatan 1980-an), sampai mereka yang masih sangat belia (Angkatan 2017), atau dari generasi kolonial  sampai generasi milenial ada semua.

                  Reuni yang dikemas dalam Temu Alumni dan dibarengkan dengan Munas

Di layar zoom saya bisa ‘bertemu’ beberapa teman sekelas saya yang sekarang sudah menyebar di berbagai kota. Kebersamaan kami yang cukup lama selama menempuh studi di Prodi Bahasa Inggris meninggalkan rekaman kuat di benak saya tentang mereka sehingga sangat mudah bagi saya untuk mengenali mereka meski di layar zoom. Selain teman sekelas, tidak banyak yang saya ketahui tentang ‘hadirin’ zoom karena memang saya tidak kenal mereka sebelumnya.

Acara seremonial dibuka tepat jam 09.00. Ada cukup banyak sambutan di acara ini. Dekan FKIP Prof Dr. Bambang Supeno memberikan sambutan cukup panjang. Ada 3 hal penting yang bisa saya rangkum dari sambutan beliau, yaitu progress FKIP yang sekarang sudah memiliki 19 Prodi, termasuk S2 dan S3, orientasi FKIP yang bukan lagi output, melainkan outcome, dan pesan-pesan untuk kelancaran pelaksanaan Munas.

                       Dekan FKIP Prof Dr Bambang Supeno: Orientasi kita saat ini outcome

Mendengar sambutan beliau, saya semakin sadar bahwa zaman sudah berubah. Masa di mana saya studi dulu, output menjadi prioritas, dan outcome masih belum banyak terpikir. Sedangkan sekarang, outcome lah yang menjadi prioritas. Ketika output menjadi prioritas, maka IP dan IPK menjadi issue yang cukup sentral. Terbayang kembali betebarannya nilai C di KHS. Terbayang kembali pula banyaknya mahasiswa berpredikat MASAKOM alias mahasiswa satu koma, dan teringat kembali pula berapa IPK di akhir studi saya, yaitu 2.77. Selain bisa membuat saya mengembara pada peristiwa masa lalu, sambutan Dekan juga bisa membuat saya tersenyum dan semangat menatap masa depan. Bagaimana tidak, kampus tempat saya studi dulu sekarang sudah bisa melahirkan master dan doctor, sesuatu yang ketika saya studi dulu masih belum terbayang sama sekali.

Rektor Unej, Dr Iwan Tirta, yang memberi sambutan setelah Dekan. Rektor menyampaikan banyak hal, tetapi yang sangat beliau highlight adalah posisi strategis alumni bagi lembaga. Menurut beliau, alumni adalah etalase institusi. Kinerja alumni sedikit banyak mencerminkan kinerja institusi.

                   Rektor Unej Dr Iwan Taruna: Alumni adalah Etalase Institusi

Acara seremonial selesai sektiar pukul 10.30 dan dilanjutkan dengan acara Munas Keluarga Alumni FKIP dengan agenda utama pemilihan ketua umum. Acara Munas ini dipimpin oleh Dr Slamet Hariyadi, M. Si. Pembacaan laporan pertanggungjawaban pengurus lama dilakukan oleh Ketua pengurus Harian Drs. H. Martius Afandi, M. Pd. Laporan pertanggungjawaban dibacakan secara global, dan diterima dengan catatan.

Acara berikutnya adalah pemilihan Ketua Umum Keluarga Alumni. Pimpinan siding membacakan tata tertib pemilihan, yang tiga diantaranya adalah (1) setiap anggota memiliki hak untuk dicalonkan dan mencalonkan; (2) hak bicara dimiliki setiap anggota, dan (3) pemilihan dilakukan secara aklamasi, dan bila tidak bisa mencapai kesepakatan, maka akan dilakukan lobbying, dan apabila belum juga mencapai kesepakatan, maka akan dilakukan voting. Selanjutnya, pimpinan sidang menyampaikan kriteria calon ketua dengan mengacu pada Ketua Umum terdahulu, yaitu (a) tokoh nasional atau memiliki akses nasional; (b) masih aktif di lembaganya; (c) punya kesanggupan; (d) terbukti loyal pada kegiatan-kegiatan keluarga alumni.

Berdasarkan pada tata tertib sidang dan kriteria tersebut, maka ada dua calon ketua umum: Thohir Affandi, Bahasa Inggris 1989, dan Nur Wahid, PLS 1989. Menanggapi pencalonannya, Nur Wahid menyatakan tidak bersedia dengan berbagai pertimbangan, sedangkan Thohir Affandi menyatakan kesediannya. Pernyataan kesediaan ini menandai bahwa pemilihan ketua umum telah selesai dan Thohir Affandi terpilih secara aklamasi.

Dalam sambutan perdana sebagai ketua terpilih, Thohir Affandi menyampaikan beberapa hal. Latar belakang prodi dan tahun angkatan adalah hal pertama yang disampaikan, dan disusul dengan cerita tentang lika liku karir yang ditapakinya di Bappenas. Di akhir sambutan, disampaikannya tips untuk menjadi berhasil adalah komunikasi dan ketrampilan menjaga ekspektasi orang-orang sekitar kita.

                               Ketua Keluarga Alumni terpilih Thohir Affandi (kiri)

Terpilihnya Thohir Affandi (Dik Thofan, begitu biasanya saya memanggilnya), bukanlah hal yang aneh bagi saya. Leadership skill-nya sudah teruji sejak mahasiswa. Organisasi mahasiswa tingkat jurusan ESA (English Students’ Association) dan tingkat fakultas SEMA (Senat Mahasiswa) yang pernah dipimpinnya adalah jejak dari kematangannya dalam berorganisasi dan memimpin massa. Kedua organisasi mahasiswa tersebut juga menjadi bukti kepiawaiannya dalam menjaga ekspektasi orang-orang di sekitarnya seperti yang disampaikan dalam sambutan perdana.

 

So, What?

       Sebenarnya, apa sih manfaat adanya Keluarga Alumni seperti ini? Wadah alumni semacam ini sangat bermanfaat bagi lembaga. Seperti yang disampaikan Dekan, capaian kampus dalam menangani mahasiswa saat ini dilihat dari outcome, yaitu kiprah alumni pasca lulus. Cara mengukurnya adalah dengan melihat seberapa lama masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan atau melanjutkan studi. Semakin singkat masa tunggu semakin baik. Kampus akan relative lebih mudah untuk membuat pendataan bila alumni yang sudah menyebar di berbagai tempat bisa diwadahi dalam organisasi semacam Keluarga Alumni FKIP. So, bila  organisasi Keluarga Alumni berhasil membantu kampus dalam tracing keberdaan alumninya, maka Lembaga akan sangat terbantu.

          Lantas, apa manfaat Keluarga Alumni bagi alumni? Alumni akan merasa sangat terbantu bila KA bisa menjembatani komunikasi antara kampus dengan mereka. Alumni akan merasa sangat diorangkan bila kampus menjadikan alumni sebagai sparing partner dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi. Alangkah idealnya bila tercipta kolaborasi penelitian dan pengabdian antara kampus dengan Lembaga di mana para alumni saat ini bernaung. Keluarga Alumni menurut saya bisa menjembatani ini.

          Selain itu, secara sosial Keluarga Alumni sangatlah bermanfaat. Menjalin silaturahmi perbuatan mulia yang wajib dilestarikan. Sudah banyak yang mengupas kebaikan dari melestarikan silaturahmi, dan karenanya saya tidak elaborasi lebih jauh di sini.

          OK, menatap masa depan adalah wajib karena masa depan adalah masa yang akan kita hadapi, tetapi sesekali menoleh ke masa lalu juga perlu. Masa lalu mengajari banyak hal. Dengan belajar dari masa lalu, masa depan bisa kita songsong dengan lebih terarah dan lebih bijaksana. Untuk itulah, saya sambut dengan antusias temu alumni ini. Akhirnya, saya sampaikan terimakasih kepada panitia atas usaha kerasnya menyelenggarakan acara ini. Good job. Semoga Allah senantiasa mendatangkan ridha-Nya untuk kita. Aamiin…

 

Malang, 3 Januari 2023

 


Minggu, 18 Desember 2022

MENANGIS

 


MENANGIS

Guys, pernahkah Anda menangis? Menangis, bagi saya adalah respons sesaat atas suatu peristiwa yang menyebabkan kekecewaan mendalam, kesedihan ekstrim, maupun kepasrahan total. Saya biasanya menangis ketika hati saya benar-benar tersentuh sehingga menggetarkan emosi saya. Kekecewaan mendalam karena kenyataan tidak sesuai harapan meski ikhtiyar sudah sangat maksimal adalah contoh kasus yang bisa menggetarkan emosi dan membuat saya meneteskan air mata.  Gagalnya saya masuk ke sekolah yang saya impikan ketika saya remaja adalah contoh kekecewaan mendalam yang membuat saya menangis berkepanjangan. Kesedihan mendalam karena kehilangan orang terdekat adalah contoh kasus lain yang bisa menggetarkan emosi dan membuat saya menangis. Peristiwa wafatnya ibunda di tahun 1993 dan ayahanda di 2013 meninggalkan kesedihan yang sangat membekas dan membuat saya menangis. Tangisan juga akan muncul sebagai reaksi ketika saya menyadari keterbatasan dan kelemahan di depan sang Khaliq. Pada saat-saat yang sangat khusus saya bisa menangis ketika berdialog dengan-Nya dan meminta pertolongan-Nya.

Saya merasakan sangat lega setelah menangis. Apakah kekecewaan dan kesedihan serta merta hilang setelah saya menangis? Jelas tidak. Kecewanya saya tidak diterima di sekolah impian masih berlanjut sampai saya bisa menata hati dan pikiran dan meyakini bahwa pasti ada banyak kelebihan yang dimiliki oleh sekolah yang bukan pilihan saya. Kesedihan karena wafatnya Ibunda dan Ayahanda tetap bergelayut sampai saya benar-benar menyadari bahwa kematian  adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Tangisan di tengah kepasrahan tidak akan serta merta mendatangkan pertolongan-Nya sampai saya bergegas dan berikhtiyar maksimal sehingga pertolongan dalam bentuk ‘the invisible hand’ benar-benar hadir. Air mata yang tumpah sebagai respons sesaat atas peristiwa-peristiwa tersebut membuat dada yang sesak menjadi lega, membuat langkah yang berat menjadi ringan, mengubah jalan yang sempit menjadi terlihat lebar, dan menjadikan pandangan yang kabur menjadi terang. Singkat kata, saya merasakan banyak hal positif yang saya peroleh dengan menangis.

Selama ini sudah terbentuk keyakinan bahwa menangis selalu identik dengan perempuan. Sebagian masyarakat meyakini bahwa laki-laki tidak punya hak menangis karena diyakini bahwa laki-laki makhluk super power yang kuat menanggung beban seberat apapun. Maaf, Guys. Saya kurang sependapat dengan pendapat tersebut. Otot dan tulang laki-laki memang lebih kuat daripada otot dan tulang perempuan. Kulit laki-laki pun juga lebih tebal dari yang dimiliki perempuan. Akan tetapi, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hati yang bisa menggerakkan emosi. Karenanya, ketika laki-laki menghadapi kekecewaan mendalam, kesedihan ekstrim, maupun kepasrahan total, sangatlah wajar bila dia menangis. Ketika berhadapan dengan peristiwa-peristiwa tersebut, emosilah yang tersentuh, bukan otot, tulang, ataupun kulit, dan tangisan adalah respons yang sangat wajar muncul.

Mengingat bahwa laki-laki adalah makhluk yang juga memiliki hati, maka saya sangat memaklumi ketika ada bintang sepak bola Cristiano Ronaldo menangis di saat tim yang dipimpinnya kalah melawan timnas Maroko. Gagal mengantarkan timnya menjadi juara tentulah pengalaman mengecewakan yang sangat pahit. Kekalahan yang sangat pahit ini menggetarkan emosi dan ujungnya adalah tangisan di lapangan yang disaksikan jutaan pasang mata. Tangisan yang tidak bisa dibendung bukanlah bentuk kecengengan, tapi justru sebagai bentuk kelembutan hati. Tangisan sang bintang menandakan hatinya hidup karena dia bisa bereaksi atas peristiwa di sekitarnya. Dengan menangis, kesedihan sang bintang bisa sedikit terobati, kekecewaannya bisa sedikit diredam, dan semangatnya bisa mulai dibangkitkan.


                           Sang bintang dengan tangisannya di lapangan

In a nutshell, tangisan adalah respons sesaat atas suatu peristiwa yang menyentuh hati dan menggerakkan emosi. Tangisan bukanlah bentuk kecengengan, tapi sebagai bentuk kelembutan hati. Setujukah Anda dengan saya?

 

Malang, 18 Desember 2022




Rabu, 14 Desember 2022

My reflection on Philosophy-of-Language-and-Education Class

 

 

My Reflection on Philosophy-of-Language-and-Education Class


          Reflecting on what I have been doing in Philosophy of Language and Education course, I come to the conclusion that this course is an academic challenge.  It academically challenges because I know that this course for most of us sounds ‘dry’, dull, impractical, and difficult. Due to the negative perception toward it, it is plausible that most of us deny it. I am sure that if this course were an elective one, most of us would not take it. As the person who is in charge in it, I have the responsibility to make up my students’ mind. How to convert the dryness, the dullness, the impracticality, and the difficulty into the opposites is my task. This task is not as easy as having a piece of pie.

          Philosophy is defined as the study of the nature of reality and existence. Using this concept, we can define the philosophy of language and education as the study of the nature of language and the nature of education. In this course, the nature of language is discussed deeply. In language-skill-and-component courses, I defined sentence as a collection of words having a subject and predicate and expressing a full thought. As I am in this class, the concept of sentence which has been widely understood by all my students has to be superseded with philosophical concepts which sound abstract. I know that the abstractness of the concepts makes most my students stay in perplex.

          How did I minimize the perplexity? Requiring or ‘pushing’ them to present the summary of a book that I have selected was my first strategy to drive them read. By reading, I was sure that their horizon would enlarge. As they finished their presentation, I came forward and explained the topic they had presented. In this phase, I tried to simplify the philosophical concepts of language. Making a comparison between the concept proposed by grammarians and the one proposed by philosophers was one of techniques for simplification. Presenting daily examples was my other strategy.

          Did my strategies work? I was not sure. Responding to my presentation and strategies for the simplification, a few of my students were enthusiastic, but most of them were not. Most of them did nothing. They did not share any feedback to me even a single word.  Presenting without comments from my students was not a nice experience. On the basis of this, I came to the conclusion that I had to change the teaching materials.

    

                   Naming: one of the topics discussed in my philosophy of language class 

As all topics of language were done, I proceeded to the philosophy of education. Reflecting on my experience in teaching the nature of language, I did not teach the nature of education. I required my students to present the English language teaching systems in various countries. I was sure that such teaching topics are not as abstract as philosophy of language, so they could be internally driven to be more active in my course. It worked. The discussion on ELT in various countries seemed much more lively than the one on the nature of language. Most students were active; they raised questions, they shared experiences, and they contributed some ideas. 

Despite the students' positive response toward the topic, deep in my heart, I feel guilty because the topics are not in line with the name of the course: the philosophy of education. In this course, the nature of education is the topic should be deeply discussed. Topics related to ELT in various countries was my choice was because of practical consideration. I would like to minimize the dullness and the dryness of my class.  

Despite the difficulties that I encountered in this course, I find this class enjoyable. Meeting students with their various background might sharpen my academic, pedagogic, and social competence. 


Malang, December 10, 2022

   

   


Rabu, 07 Desember 2022

'SIAP, YANG MULIA'

 

“SIAP, YANG MULIA…”

Saya bukanlah orang yang suka mengikuti berita kriminal maupun berita hukum. Setiap kali membaca surat kabar, kolom berita tentang keduanya selalu saya lewati. Begitupun ketika menonton televisi. Setiap topik tentang keduanya muncul, saya selalu pindah ke channel lain, atau kalaupun saya tetap bertahan di channel tersebut, pikiran dan perhatian tidak tercurah ke arahnya. Akan tetapi, karena saat ini kita dihebohkan dengan kasus penembakan anggota Polri oleh anggota Polri lainnya di rumah dinas seorang jenderal polisi, dan berita tersebut benar-benar mendominasi media massa, maka mau tidak mau akhirnya saya menoleh dan mengikuti jalannya persidangan melalui channel media mainstream semisal Kompas TV, Metro TV, ataupun TV One.

          Sebagai orang bahasa, perhatian saya lebih banyak tertuju pada bahasa yang digunakan selama persidangan. Tindak tutur dan diksi yang digunakan baik oleh majelis hakim, para penasehat hukum, jaksa penuntut umum, para saksi, maupun para terdakwa adalah aspek bahasa yang bagi saya sangat menarik untuk dicermati.

Sebutan YANG MULIA bagi hakim adalah hal pertama yang bagi saya sangat menarik. Apapun posisinya, mereka yang ada di persidangan memanggil hakim dengan sebutan yang mulia. Jaksa penuntut umum, pengacara, saksi, maupun terdakwa semuanya menyebut hakim dengan sebutan ‘yang mulia’. Terkait dengan pangkat dan kedudukan, ‘mulia’ bermakna tinggi dan terhormat. Jadi, ketika seorang hakim disebut dengan ‘yang mulia’, maka dia dianggap sebagai figure yang sangat terhormat sehingga layak untuk dimuliakan.

Seorang hakim memang layak disebut ‘yang mulia’ karena kemuliaan tugasnya. Hakim bertindak sebagai penengah diantara pihak-pihak yang berseteru. Hakim juga bertindak sebagai pemutus perkara. Dia yang memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam sebuah perkara. Untuk menjadi adil bagi pihak yang berperkara bukanlah perkara yang mudah. Untuk bisa memutus perkara dengan adil hakim harus memilik kecerdasan pikiran, kebeningan hati, dan kelancaran lisan di atas rata-rata.

Dengan kecerdasan intelektual di atas rata-ratalah seorang hakim bisa menganalisis bukti-bukti berserak yang sepintas tidak saling berkaitan menjadi satu kesatuan hingga bisa menjadi bukti dengan kebenaran yang tidak terbantahkan. Hanya dengan kecerdasan di atas rata-ratalah seorang hakim bisa menjawab argumentasi dan bukti yang diajukan pihak-pihak yang berperkara. Dengan kebeningan hati, seorang hakim bisa menggunakan mata hatinya untuk melihat kebenaran. Hati yang bening bisa menembus ruang dan waktu. Hati yang bening bisa merasakan apakah seseorang berbohong atau jujur. Hati yang bening akan senantiasa berpihak pada kebenaran. Hati yang bening akan senantiasa mengikuti suara hati yang selalu berpihak pada kebenaran. Kelancaran lisan berkontribusi besar pada kelancaran hakim dalam memutus perkara. Lisan yang lancer memungkinkannya untuk mengartikulasikan argumentasi yang kuat untuk mematahkan pembenaran yang disampaikan pihak yang berperkara. Dengan lisan yang lancar, hakim bisa menyampaikan putusan dengan jelas sehingga bisa dipahami dan diterima semua pihak.

Dengan kelebihan tiga perkara tadi, hakim menjadi sosok yang tinggi di mata orang sekitarnya sehingga dia sangat disegani. Karena itulah, tidak mengherankan bila ‘yang mulia’ selalu dilekatkan pada diri seorang hakim. Jadi, sebutan ‘yang mulia’ yang disematkan kepada hakim mengandung pesan bahwa seorang hakim harus senantiasa mengedepankan kebenaran hingga keputusan yang diambil senantiasa berkeadilan bagi semua karena bukankah kebenaran dan  keadilan selalu berdampingan dengan kemuliaan?

Hal lain yang menarik dalam persidangan kasus Sambo adalah penggunaan kata ‘SIAP’ yang secara konsisten diucapkan oleh para saksi dan terdakwa yang berasal dari komunitas keluarga mantan Jenderal Polisi Ferdi Sambo. Perlu diketahui bahwa kasus ini menghadirkan banyak sekali saksi dan terdakwa yang notabene adalah ajudan dan asisten rumah tangga (ART) sang mantan Jenderal.

Selama persidangan, para ajudan dan ART sangat sering menggunakan kata SIAP ketika harus mengiyakan pertanyaan atau membenarkan pernyataan hakim, jaksa penuntut umum, maupun pengacara. Dialog antara Hakim Morgan Simanjuntak dengan terdakwa/saksi Richard Eliezer berikut salah satu contohnya:

Hakim          : kamu diperiksa berapa kali?

Richard        : Banyak kali, Yang Mulia…

Hakim          : Banyak kali..?

Richard        : Siap, Yang Mulia…

Di dialog tersebut, Hakim Morgan Simanjuntak mengkonfirmasi atau memastikan bahwa Richard diperiksa berkali-kali. Sebagai pertanyaan yang sifatnya penegasan, pertanyaan tersebut memerlukan jawaban ‘Ya’ atau ‘tidak’, bukan ‘siap’ seperti yang diperlihatkan oleh Richard.

                            Hakim Morgan Simanjuntak sedang berdialog dengan saksi/terdakwa Richard

Ketika digunakan dalam percakapan, kata ‘siap’ dipakai untuk merespons sebuah perintah, instruksi, atau saran. Dengan menyebut kata ‘siap’, maka yang bersangkutan menyatakan bahwa dia dalam kondisi yang serba memungkinkan untuk menjalankan perintah, instruksi, ataupun saran yang diberikan. Dengan karakteristik seperti ini, maka kata ‘siap’ adalah respons dari kalimat imperatif atau kalimat perintah, bukan kalimat penyataan yang sifatnya penegasan.

Pertanyaan berikutnya: mengapa kata ‘siap’ sangat sering digunakan untuk mengiyakan atau membenarkan peryataan di persidangan kasus yang menghebohkan ini? Hal ini bisa jadi karena relasi kuasa antara atasan dan bawahan di komunitas mereka sangat kuat. Kuatnya relasi secara tidak langsung seperti doktrin bahwa bawahan harus senantiasa siap menjalankan tugas dan perintah atasan, kapanpun, di manapun, dan dalam bentuk apapun. Hal inilah yang akhirnya membuat jawaban ‘siap’ seperti otomatis mereka ucapkan ketika harus merespons perkataan seseorang yang bersosial status lebih tinggi dari mereka. Relasi kuasa yang sangat kuat menjadikan mereka sangat mekanistis dalam berbahasa.

‘Yang mulia’ dan ‘siap’ adalah dua istilah yang sangat sering muncul di persidangan kasus yang menghebohkan ini. Terlepas dari menariknya membahas keduanya dan temuan-temuan linguitik lain di persidangan, saya berdoa semoga kasus ini segera selesai dengan penyelesaian yang berkeadilan karena berdasar pada kebenaran sehingga kemuliaan para penegak hukum benar-benar bisa tercapai. Semoga.

 

Malang, 7 Desember 2022 (Rabu)


Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...