MENANGIS
Guys,
pernahkah Anda menangis? Menangis, bagi saya adalah respons sesaat atas suatu
peristiwa yang menyebabkan kekecewaan mendalam, kesedihan ekstrim, maupun
kepasrahan total. Saya biasanya menangis ketika hati saya benar-benar tersentuh
sehingga menggetarkan emosi saya. Kekecewaan mendalam karena kenyataan tidak
sesuai harapan meski ikhtiyar sudah sangat maksimal adalah contoh kasus yang
bisa menggetarkan emosi dan membuat saya meneteskan air mata. Gagalnya saya masuk ke sekolah yang saya
impikan ketika saya remaja adalah contoh kekecewaan mendalam yang membuat saya
menangis berkepanjangan. Kesedihan mendalam karena kehilangan orang terdekat
adalah contoh kasus lain yang bisa menggetarkan emosi dan membuat saya
menangis. Peristiwa wafatnya ibunda di tahun 1993 dan ayahanda di 2013 meninggalkan
kesedihan yang sangat membekas dan membuat saya menangis. Tangisan juga akan
muncul sebagai reaksi ketika saya menyadari keterbatasan dan kelemahan di depan
sang Khaliq. Pada saat-saat yang sangat khusus saya bisa menangis ketika berdialog
dengan-Nya dan meminta pertolongan-Nya.
Saya
merasakan sangat lega setelah menangis. Apakah kekecewaan dan kesedihan serta
merta hilang setelah saya menangis? Jelas tidak. Kecewanya saya tidak diterima
di sekolah impian masih berlanjut sampai saya bisa menata hati dan pikiran dan
meyakini bahwa pasti ada banyak kelebihan yang dimiliki oleh sekolah yang bukan
pilihan saya. Kesedihan karena wafatnya Ibunda dan Ayahanda tetap bergelayut sampai
saya benar-benar menyadari bahwa kematian adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa
dihindari. Tangisan di tengah kepasrahan tidak akan serta merta mendatangkan
pertolongan-Nya sampai saya bergegas dan berikhtiyar maksimal sehingga
pertolongan dalam bentuk ‘the invisible hand’ benar-benar hadir. Air mata yang
tumpah sebagai respons sesaat atas peristiwa-peristiwa tersebut membuat dada
yang sesak menjadi lega, membuat langkah yang berat menjadi ringan, mengubah
jalan yang sempit menjadi terlihat lebar, dan menjadikan pandangan yang kabur
menjadi terang. Singkat kata, saya merasakan banyak hal positif yang saya
peroleh dengan menangis.
Selama
ini sudah terbentuk keyakinan bahwa menangis selalu identik dengan perempuan. Sebagian
masyarakat meyakini bahwa laki-laki tidak punya hak menangis karena diyakini
bahwa laki-laki makhluk super power yang kuat menanggung beban seberat apapun.
Maaf, Guys. Saya kurang sependapat dengan pendapat tersebut. Otot dan tulang
laki-laki memang lebih kuat daripada otot dan tulang perempuan. Kulit laki-laki
pun juga lebih tebal dari yang dimiliki perempuan. Akan tetapi, laki-laki dan
perempuan sama-sama memiliki hati yang bisa menggerakkan emosi. Karenanya, ketika
laki-laki menghadapi kekecewaan mendalam, kesedihan ekstrim, maupun kepasrahan
total, sangatlah wajar bila dia menangis. Ketika berhadapan dengan
peristiwa-peristiwa tersebut, emosilah yang tersentuh, bukan otot, tulang,
ataupun kulit, dan tangisan adalah respons yang sangat wajar muncul.
Mengingat bahwa laki-laki adalah makhluk yang juga memiliki hati, maka saya sangat memaklumi ketika ada bintang sepak bola Cristiano Ronaldo menangis di saat tim yang dipimpinnya kalah melawan timnas Maroko. Gagal mengantarkan timnya menjadi juara tentulah pengalaman mengecewakan yang sangat pahit. Kekalahan yang sangat pahit ini menggetarkan emosi dan ujungnya adalah tangisan di lapangan yang disaksikan jutaan pasang mata. Tangisan yang tidak bisa dibendung bukanlah bentuk kecengengan, tapi justru sebagai bentuk kelembutan hati. Tangisan sang bintang menandakan hatinya hidup karena dia bisa bereaksi atas peristiwa di sekitarnya. Dengan menangis, kesedihan sang bintang bisa sedikit terobati, kekecewaannya bisa sedikit diredam, dan semangatnya bisa mulai dibangkitkan.
Sang bintang dengan tangisannya di lapangan
In a nutshell, tangisan adalah respons sesaat atas suatu peristiwa yang menyentuh hati dan menggerakkan emosi. Tangisan bukanlah bentuk kecengengan, tapi sebagai bentuk kelembutan hati. Setujukah Anda dengan saya?
Malang,
18 Desember 2022
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar