REUNI
Reuni pada
dasarnya adalah menyatukan kembali pihak-pihak yang terpisah atau terceraikan.
Reuni bisa diibaratkan upaya mengumpulkan tulang yang berserak. Acara reuni
biasanya dinamai dengan berbagai istilah semisal temu kangen, temu alumni,
dan lain2. Itulah yang dilakukan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
(FKIP) Unej, almamater S1 saya, tanggal 26 Desember 2022 yang lalu. Acara
tersebut diselenggarakan berbarengan dengan Musyawarah Nasional Keluarga Alumni FKIP (Munas KA FKIP).
Reuni
ini dilaksanakan secara luring dan daring. Kegiatan luring dilaksanakan di aula
Gedung H FKIP Unej, sedangkan yang daring dilaksanakan melalui zoom. Karena
satu dan lain hal, maka saya dan suami memilih daring. Reuni ini terbuka untuk
semua angkatan, makanya tidak mengherankan bila yang hadir sangat heterogen
dari sisi usia. Dari yang sudah setengah baya (angkatan 1980-an), sampai mereka
yang masih sangat belia (Angkatan 2017), atau dari generasi kolonial sampai generasi milenial ada semua.
Di
layar zoom saya bisa ‘bertemu’ beberapa teman sekelas saya yang sekarang sudah
menyebar di berbagai kota. Kebersamaan kami yang cukup lama selama menempuh
studi di Prodi Bahasa Inggris meninggalkan rekaman kuat di benak saya tentang
mereka sehingga sangat mudah bagi saya untuk mengenali mereka meski di layar
zoom. Selain teman sekelas, tidak banyak yang saya ketahui tentang ‘hadirin’
zoom karena memang saya tidak kenal mereka sebelumnya.
Acara
seremonial dibuka tepat jam 09.00. Ada cukup banyak sambutan di acara ini.
Dekan FKIP Prof Dr. Bambang Supeno memberikan sambutan cukup panjang. Ada 3 hal
penting yang bisa saya rangkum dari sambutan beliau, yaitu progress FKIP yang
sekarang sudah memiliki 19 Prodi, termasuk S2 dan S3, orientasi FKIP yang bukan
lagi output, melainkan outcome, dan pesan-pesan untuk kelancaran pelaksanaan
Munas.
Mendengar
sambutan beliau, saya semakin sadar bahwa zaman sudah berubah. Masa di mana
saya studi dulu, output menjadi prioritas, dan outcome masih belum banyak
terpikir. Sedangkan sekarang, outcome lah yang menjadi prioritas. Ketika output
menjadi prioritas, maka IP dan IPK menjadi issue yang cukup sentral. Terbayang kembali
betebarannya nilai C di KHS. Terbayang kembali pula banyaknya mahasiswa berpredikat
MASAKOM alias mahasiswa satu koma, dan teringat kembali pula berapa IPK di
akhir studi saya, yaitu 2.77. Selain bisa membuat saya mengembara pada
peristiwa masa lalu, sambutan Dekan juga bisa membuat saya tersenyum dan
semangat menatap masa depan. Bagaimana tidak, kampus tempat saya studi dulu
sekarang sudah bisa melahirkan master dan doctor, sesuatu yang ketika saya studi
dulu masih belum terbayang sama sekali.
Rektor
Unej, Dr Iwan Tirta, yang memberi sambutan setelah Dekan. Rektor menyampaikan
banyak hal, tetapi yang sangat beliau highlight adalah posisi strategis
alumni bagi lembaga. Menurut beliau, alumni adalah etalase institusi. Kinerja
alumni sedikit banyak mencerminkan kinerja institusi.
Acara
seremonial selesai sektiar pukul 10.30 dan dilanjutkan dengan acara Munas
Keluarga Alumni FKIP dengan agenda utama pemilihan ketua umum. Acara Munas ini dipimpin
oleh Dr Slamet Hariyadi, M. Si. Pembacaan laporan pertanggungjawaban pengurus
lama dilakukan oleh Ketua pengurus Harian Drs. H. Martius Afandi, M. Pd. Laporan
pertanggungjawaban dibacakan secara global, dan diterima dengan catatan.
Acara
berikutnya adalah pemilihan Ketua Umum Keluarga Alumni. Pimpinan siding
membacakan tata tertib pemilihan, yang tiga diantaranya adalah (1) setiap
anggota memiliki hak untuk dicalonkan dan mencalonkan; (2) hak bicara dimiliki
setiap anggota, dan (3) pemilihan dilakukan secara aklamasi, dan bila tidak
bisa mencapai kesepakatan, maka akan dilakukan lobbying, dan apabila
belum juga mencapai kesepakatan, maka akan dilakukan voting. Selanjutnya,
pimpinan sidang menyampaikan kriteria calon ketua dengan mengacu pada Ketua Umum
terdahulu, yaitu (a) tokoh nasional atau memiliki akses nasional; (b) masih
aktif di lembaganya; (c) punya kesanggupan; (d) terbukti loyal pada
kegiatan-kegiatan keluarga alumni.
Berdasarkan
pada tata tertib sidang dan kriteria tersebut, maka ada dua calon ketua umum:
Thohir Affandi, Bahasa Inggris 1989, dan Nur Wahid, PLS 1989. Menanggapi
pencalonannya, Nur Wahid menyatakan tidak bersedia dengan berbagai
pertimbangan, sedangkan Thohir Affandi menyatakan kesediannya. Pernyataan
kesediaan ini menandai bahwa pemilihan ketua umum telah selesai dan Thohir
Affandi terpilih secara aklamasi.
Dalam
sambutan perdana sebagai ketua terpilih, Thohir Affandi menyampaikan beberapa
hal. Latar belakang prodi dan tahun angkatan adalah hal pertama yang
disampaikan, dan disusul dengan cerita tentang lika liku karir yang ditapakinya
di Bappenas. Di akhir sambutan, disampaikannya tips untuk menjadi berhasil
adalah komunikasi dan ketrampilan menjaga ekspektasi orang-orang sekitar kita.
Terpilihnya
Thohir Affandi (Dik Thofan, begitu biasanya saya memanggilnya), bukanlah hal
yang aneh bagi saya. Leadership skill-nya sudah teruji sejak mahasiswa. Organisasi
mahasiswa tingkat jurusan ESA (English Students’ Association) dan tingkat
fakultas SEMA (Senat Mahasiswa) yang pernah dipimpinnya adalah jejak dari
kematangannya dalam berorganisasi dan memimpin massa. Kedua organisasi
mahasiswa tersebut juga menjadi bukti kepiawaiannya dalam menjaga ekspektasi
orang-orang di sekitarnya seperti yang disampaikan dalam sambutan perdana.
So, What?
Sebenarnya, apa sih manfaat
adanya Keluarga Alumni seperti ini? Wadah alumni semacam ini sangat bermanfaat
bagi lembaga. Seperti yang disampaikan Dekan, capaian kampus dalam menangani
mahasiswa saat ini dilihat dari outcome, yaitu kiprah alumni pasca
lulus. Cara mengukurnya adalah dengan melihat seberapa lama masa tunggu lulusan
dalam mendapatkan pekerjaan atau melanjutkan studi. Semakin singkat masa tunggu
semakin baik. Kampus akan relative lebih mudah untuk membuat pendataan bila alumni
yang sudah menyebar di berbagai tempat bisa diwadahi dalam organisasi semacam
Keluarga Alumni FKIP. So, bila organisasi
Keluarga Alumni berhasil membantu kampus dalam tracing keberdaan
alumninya, maka Lembaga akan sangat terbantu.
Lantas, apa manfaat Keluarga Alumni
bagi alumni? Alumni akan merasa sangat terbantu bila KA bisa menjembatani
komunikasi antara kampus dengan mereka. Alumni akan merasa sangat diorangkan
bila kampus menjadikan alumni sebagai sparing partner dalam menjalankan
tridharma perguruan tinggi. Alangkah idealnya bila tercipta kolaborasi
penelitian dan pengabdian antara kampus dengan Lembaga di mana para alumni saat
ini bernaung. Keluarga Alumni menurut saya bisa menjembatani ini.
Selain itu, secara sosial Keluarga
Alumni sangatlah bermanfaat. Menjalin silaturahmi perbuatan mulia yang wajib
dilestarikan. Sudah banyak yang mengupas kebaikan dari melestarikan silaturahmi,
dan karenanya saya tidak elaborasi lebih jauh di sini.
OK, menatap masa depan adalah wajib
karena masa depan adalah masa yang akan kita hadapi, tetapi sesekali menoleh ke
masa lalu juga perlu. Masa lalu mengajari banyak hal. Dengan belajar dari masa
lalu, masa depan bisa kita songsong dengan lebih terarah dan lebih bijaksana.
Untuk itulah, saya sambut dengan antusias temu alumni ini. Akhirnya, saya sampaikan
terimakasih kepada panitia atas usaha kerasnya menyelenggarakan acara ini. Good
job. Semoga Allah senantiasa mendatangkan ridha-Nya untuk kita. Aamiin…
Malang, 3
Januari 2023
.png)
.png)
.png)
.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar