Senin, 02 Januari 2023

REUNI

 


REUNI

Reuni pada dasarnya adalah menyatukan kembali pihak-pihak yang terpisah atau terceraikan. Reuni bisa diibaratkan upaya mengumpulkan tulang yang berserak. Acara reuni biasanya dinamai dengan berbagai istilah semisal temu kangen, temu alumni, dan lain2. Itulah yang dilakukan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej, almamater S1 saya, tanggal 26 Desember 2022 yang lalu. Acara tersebut diselenggarakan berbarengan dengan Musyawarah Nasional  Keluarga Alumni FKIP (Munas KA FKIP).

Reuni ini dilaksanakan secara luring dan daring. Kegiatan luring dilaksanakan di aula Gedung H FKIP Unej, sedangkan yang daring dilaksanakan melalui zoom. Karena satu dan lain hal, maka saya dan suami memilih daring. Reuni ini terbuka untuk semua angkatan, makanya tidak mengherankan bila yang hadir sangat heterogen dari sisi usia. Dari yang sudah setengah baya (angkatan 1980-an), sampai mereka yang masih sangat belia (Angkatan 2017), atau dari generasi kolonial  sampai generasi milenial ada semua.

                  Reuni yang dikemas dalam Temu Alumni dan dibarengkan dengan Munas

Di layar zoom saya bisa ‘bertemu’ beberapa teman sekelas saya yang sekarang sudah menyebar di berbagai kota. Kebersamaan kami yang cukup lama selama menempuh studi di Prodi Bahasa Inggris meninggalkan rekaman kuat di benak saya tentang mereka sehingga sangat mudah bagi saya untuk mengenali mereka meski di layar zoom. Selain teman sekelas, tidak banyak yang saya ketahui tentang ‘hadirin’ zoom karena memang saya tidak kenal mereka sebelumnya.

Acara seremonial dibuka tepat jam 09.00. Ada cukup banyak sambutan di acara ini. Dekan FKIP Prof Dr. Bambang Supeno memberikan sambutan cukup panjang. Ada 3 hal penting yang bisa saya rangkum dari sambutan beliau, yaitu progress FKIP yang sekarang sudah memiliki 19 Prodi, termasuk S2 dan S3, orientasi FKIP yang bukan lagi output, melainkan outcome, dan pesan-pesan untuk kelancaran pelaksanaan Munas.

                       Dekan FKIP Prof Dr Bambang Supeno: Orientasi kita saat ini outcome

Mendengar sambutan beliau, saya semakin sadar bahwa zaman sudah berubah. Masa di mana saya studi dulu, output menjadi prioritas, dan outcome masih belum banyak terpikir. Sedangkan sekarang, outcome lah yang menjadi prioritas. Ketika output menjadi prioritas, maka IP dan IPK menjadi issue yang cukup sentral. Terbayang kembali betebarannya nilai C di KHS. Terbayang kembali pula banyaknya mahasiswa berpredikat MASAKOM alias mahasiswa satu koma, dan teringat kembali pula berapa IPK di akhir studi saya, yaitu 2.77. Selain bisa membuat saya mengembara pada peristiwa masa lalu, sambutan Dekan juga bisa membuat saya tersenyum dan semangat menatap masa depan. Bagaimana tidak, kampus tempat saya studi dulu sekarang sudah bisa melahirkan master dan doctor, sesuatu yang ketika saya studi dulu masih belum terbayang sama sekali.

Rektor Unej, Dr Iwan Tirta, yang memberi sambutan setelah Dekan. Rektor menyampaikan banyak hal, tetapi yang sangat beliau highlight adalah posisi strategis alumni bagi lembaga. Menurut beliau, alumni adalah etalase institusi. Kinerja alumni sedikit banyak mencerminkan kinerja institusi.

                   Rektor Unej Dr Iwan Taruna: Alumni adalah Etalase Institusi

Acara seremonial selesai sektiar pukul 10.30 dan dilanjutkan dengan acara Munas Keluarga Alumni FKIP dengan agenda utama pemilihan ketua umum. Acara Munas ini dipimpin oleh Dr Slamet Hariyadi, M. Si. Pembacaan laporan pertanggungjawaban pengurus lama dilakukan oleh Ketua pengurus Harian Drs. H. Martius Afandi, M. Pd. Laporan pertanggungjawaban dibacakan secara global, dan diterima dengan catatan.

Acara berikutnya adalah pemilihan Ketua Umum Keluarga Alumni. Pimpinan siding membacakan tata tertib pemilihan, yang tiga diantaranya adalah (1) setiap anggota memiliki hak untuk dicalonkan dan mencalonkan; (2) hak bicara dimiliki setiap anggota, dan (3) pemilihan dilakukan secara aklamasi, dan bila tidak bisa mencapai kesepakatan, maka akan dilakukan lobbying, dan apabila belum juga mencapai kesepakatan, maka akan dilakukan voting. Selanjutnya, pimpinan sidang menyampaikan kriteria calon ketua dengan mengacu pada Ketua Umum terdahulu, yaitu (a) tokoh nasional atau memiliki akses nasional; (b) masih aktif di lembaganya; (c) punya kesanggupan; (d) terbukti loyal pada kegiatan-kegiatan keluarga alumni.

Berdasarkan pada tata tertib sidang dan kriteria tersebut, maka ada dua calon ketua umum: Thohir Affandi, Bahasa Inggris 1989, dan Nur Wahid, PLS 1989. Menanggapi pencalonannya, Nur Wahid menyatakan tidak bersedia dengan berbagai pertimbangan, sedangkan Thohir Affandi menyatakan kesediannya. Pernyataan kesediaan ini menandai bahwa pemilihan ketua umum telah selesai dan Thohir Affandi terpilih secara aklamasi.

Dalam sambutan perdana sebagai ketua terpilih, Thohir Affandi menyampaikan beberapa hal. Latar belakang prodi dan tahun angkatan adalah hal pertama yang disampaikan, dan disusul dengan cerita tentang lika liku karir yang ditapakinya di Bappenas. Di akhir sambutan, disampaikannya tips untuk menjadi berhasil adalah komunikasi dan ketrampilan menjaga ekspektasi orang-orang sekitar kita.

                               Ketua Keluarga Alumni terpilih Thohir Affandi (kiri)

Terpilihnya Thohir Affandi (Dik Thofan, begitu biasanya saya memanggilnya), bukanlah hal yang aneh bagi saya. Leadership skill-nya sudah teruji sejak mahasiswa. Organisasi mahasiswa tingkat jurusan ESA (English Students’ Association) dan tingkat fakultas SEMA (Senat Mahasiswa) yang pernah dipimpinnya adalah jejak dari kematangannya dalam berorganisasi dan memimpin massa. Kedua organisasi mahasiswa tersebut juga menjadi bukti kepiawaiannya dalam menjaga ekspektasi orang-orang di sekitarnya seperti yang disampaikan dalam sambutan perdana.

 

So, What?

       Sebenarnya, apa sih manfaat adanya Keluarga Alumni seperti ini? Wadah alumni semacam ini sangat bermanfaat bagi lembaga. Seperti yang disampaikan Dekan, capaian kampus dalam menangani mahasiswa saat ini dilihat dari outcome, yaitu kiprah alumni pasca lulus. Cara mengukurnya adalah dengan melihat seberapa lama masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan atau melanjutkan studi. Semakin singkat masa tunggu semakin baik. Kampus akan relative lebih mudah untuk membuat pendataan bila alumni yang sudah menyebar di berbagai tempat bisa diwadahi dalam organisasi semacam Keluarga Alumni FKIP. So, bila  organisasi Keluarga Alumni berhasil membantu kampus dalam tracing keberdaan alumninya, maka Lembaga akan sangat terbantu.

          Lantas, apa manfaat Keluarga Alumni bagi alumni? Alumni akan merasa sangat terbantu bila KA bisa menjembatani komunikasi antara kampus dengan mereka. Alumni akan merasa sangat diorangkan bila kampus menjadikan alumni sebagai sparing partner dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi. Alangkah idealnya bila tercipta kolaborasi penelitian dan pengabdian antara kampus dengan Lembaga di mana para alumni saat ini bernaung. Keluarga Alumni menurut saya bisa menjembatani ini.

          Selain itu, secara sosial Keluarga Alumni sangatlah bermanfaat. Menjalin silaturahmi perbuatan mulia yang wajib dilestarikan. Sudah banyak yang mengupas kebaikan dari melestarikan silaturahmi, dan karenanya saya tidak elaborasi lebih jauh di sini.

          OK, menatap masa depan adalah wajib karena masa depan adalah masa yang akan kita hadapi, tetapi sesekali menoleh ke masa lalu juga perlu. Masa lalu mengajari banyak hal. Dengan belajar dari masa lalu, masa depan bisa kita songsong dengan lebih terarah dan lebih bijaksana. Untuk itulah, saya sambut dengan antusias temu alumni ini. Akhirnya, saya sampaikan terimakasih kepada panitia atas usaha kerasnya menyelenggarakan acara ini. Good job. Semoga Allah senantiasa mendatangkan ridha-Nya untuk kita. Aamiin…

 

Malang, 3 Januari 2023

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...