Rabu, 08 Februari 2023

COVID-19 & CORONA RISTAWAN

 

COVID-19 & CORONA RISTAWAN


Maaf, lagi-lagi tentang Corona. Saat ini Corona memang makhluk Tuhan paling seksi di bumi karena hari-hari ini tiada detik tanpa pembicaraan tentangnya. Tentunya masing-masing orang punya parameter sendiri dalam menentukan keseksiannya. Corona akan terlihat seksi bagi politisi bila dilihat dari perspektif bagaimana pemerintah menanagani wabah ini, bagaimana pemerintah menggunakan anggaran negara, dan bagaimana pemerintah menjalankan UU yang ada untuk memutus rantai penyebarannya. Pebisnis akan melihatnya sangat seksi karena saat ini banyak terbuka peluang bisnis baru meski banyak pula bisnis yang tutup karenanya. Seperti halnya mereka, saya yang suka dengan ilmu linguistik pun melihat ada yang menarik dari wabah corona, yaitu cerita di balik nama COVID-19.

COVID-19

Corona berasal dari bahasa Latin yang bermakna mahkota (crown), dan dia dijadikan nama virus yang pertama kali ditemukan di tahun 1964 oleh seorang wanita Scotlandia bernama June Almeida. Virus ini punya banyak varian, dua diantaranya menjadi penyebab penyakit SARS dan MERS. Virus Corona yang saat ini lagi mewabah merupakan jenis baru yang berbeda dengan yang menyebabkan SARS dan MERS. Karenanya, beberapa bulan lalu pemerintah Cina sempat menyebutnya Novel Corona yang bermakna Corona jenis baru. Per 23 Februari 2020, WHO mengumumkan secara resmi bahwa virus Corona jenis baru yang pertama kali muncul di Wuhan akhir tahun 2019 disebut COVID-19 yang merupakan akronim dari Corona Virus Disease 2019. Jadi, nama wabah yang saat ini lagi pandemi berawal dari Corona, kemudian menjadi Novel Corona, dan akhirnya COVID-19.

 

Corona Ristawan

Corona yang satu ini bukan nama virus, melainkan nama seorang dokter yang aktif di sebuah rumah sakit di Lamongan Jawa Timur. Namanya menjadi sangat relevan dibicarakan saat ini karena kebetulan namanya sama persis dengan nama virus penyebab Covid-19. Lebih menarik lagi karena dokter ini ternyata diamanati oleh PP Muhammadiyah untuk menjadi ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Ini menjadi menarik karena seseorang yang bernama Corona harus mengurusi virus Corona. Keduanya memiliki nama yang sama. Bedanya yang satu manusia, dan yang satunya virus.

Bagaimana dia bisa bernama Corona? Usut punya usut, ternyata dia adalah putra ketiga, dan karenanya orang tuanya berupaya mencari nama dengan C sebagai huruf pertama mengingat putra pertama dan kedua sudah berawalan dengan huruf A dan B. Di saat bingung mencari nama itulah, sang ayah membaca merk mobil Corona. Sang ayah tertarik dengan nama itu karena berawalan dengan huru C, terdengar indah, dan bermakna indah pula, yaitu mahkota. Akhirnya diambillah nama merk mobil tersebut sebagai nama putra ketiga.

So, What?

Ada pihak yang meyakini bahwa nama hanyalah label yang bisa menjadi pembeda antara orang yang satu dengan yang lain. Ungkapan legendaris Shakespeare what is in a name?  di kisah Romeo and Juliet sepertinya mengikuti aliran ini. Akan tetapi, ada pihak yang meyakini bahwa nama bukanlah semata-mata label diri, melainkan branding diri. Kelompok ini meyakini bahwa citra diri, kepercayaan diri, cara berpikir, dan perilaku seseorang bisa terbangun karena nama yang disandangnya. Nama diri yang menyiratkan optimisme dan harapan akan mendorong pemiliknya untuk berperilaku penuh semangat dalam bekerja dan pantang menyerah. Saya ada di kelompok kedua karena sepengetahuan saya, selalu ada banyak cerita di balik nama. Nama bisa merepresentasikan banyak hal, diantaranya sejarah, bunyi, bentuk dan fungsi, bahkan doa.  

Name is history alias nama merepresentasikan sejarah. Tidak jarang nama menyiratkan peristiwa penting di masa lampau, penemu sebuah temuan yang fenomenal, dan juga tahun ditemukannya sebuah temuan penting. Mexican flu adalah nama penyakit yang disebabkan oleh virus yang muncul pertama kalinya di kota Mexico. Nama ini menggambarkan dengan jelas bahwa di suatu masa, di kota Mexico telah terjadi peristiwa besar, yaitu munculnya virus penyebab penyakit yang mewabah di banyak negara. Contoh lain dari nama yang merepresentasikan sejarah adalah nama skala suhu fahrenheit yang diambil dai nama penemunya, yaitu ilmuwan Jerman Gabriel Fahrenheit (1636-1786). Dengan diabadikannya nama penemu pada hasil temuannya, maka khalayak akan belajar sejarah dari temuan tersebut, minimal mengetahui nama penemunya. Tahun temuan adalah aspek lain dari sejarah yang bisa kita jumpai pada sebuah nama. Angka 19 di COVID-19 menandakan tahun tersebut adalah tahun ditemukannya virus Corona jenis baru, yang menjadi penyebab COVID-19. Dengan disematkannya angka 19, khalayak menjadi sadar bahwa tahun 2019 adalah tahun penting bagi epidemiologi karena di tahun tersebut ada virus baru yang menyebabkan pandemi di seantero bumi dan merenggut banyak nyawa. Jejak sejarah menjadi tergambar sangat jelas dengan menjadikan tahun kemunculan virus sebagai bagian dari nama.

Name is the representation of sounds, shapes, and functions alias nama merupakan representasi bunyi, bentuk dan fungsi. Keterkaitan antara nama dengan bentuk atau fungsi tertentu sering kita jumpai. Binatang melata di dinding kita namai cicak karena bunyi yang dihasilkannya, dan kain penutup kepala disebut kerudung karena fungsinya mengerudungi. Keduanya adalah contoh dari keterkaitan antara nama dengan bunyi dan fungsi dari benda yang dilabeli. Hal senada terjadi pada virus Corona. Nama Corona menyiratkan keterkaitan antara nama dan bentuk. Virus ini bentuknya mirip dengan mahkota, maka oleh penemunya dia diberi nama Corona yang bermakna mahkota. Sedangkan nama Novel Corona menyiratkan keterkaitan antara nama dan sifat. Novel, diambil dari bahasa Inggris, bermakna baru. Maka nama Novel Corona berarti virus Corona jenis baru.

Name is hopes alias nama adalah doa. Nama merepresentasikan harapan dan doa. Disadari atau tidak ternyata nama bisa memengaruhi kepribadian, perkembangan emosi dan sifat pemiliknya. Nama yang baik akan menciptakan citra diri yang baik bagi pemiliknya, dan begitu sebaliknya. Orang akan cenderung berupaya berlaku sesuai dengan citra yang diciptakan oleh namanya. Oleh sebab itu, ketika nama yang meyiratkan citra dan harapan yang baik akan mendorong penyandangnya untuk berbuat terbaik sesuai dengan makna dari namanya. Nama juga bisa membentuk image. Nama yang baik akan menciptakan image yang baik bagi penyandangnya, dan begitu sebaliknya. Bila seseorang diberi nama Mawar, maka penyandang nama tersebut akan tercitrakan sebagai individu dengan tampilan fisik yang memesona dengan kepribadian yang menarik layaknya bunga mawar. Inilah yang terjadi pada kasus nama Corona Ristawan yang saya angkat di awal tulisan ini. Dengan memberi nama putranya Corona yang bermakna mahkota, sang orang tua berharap dan berdoa semoga sang putra kelak menjadi anak yang penuh prestasi karena hanya individu dengan prestasi terbaik yang biasanya mendapatkan mahkota (corona). Dengan diangkatnya dr Corona Ristawan sebagai Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) dan sekarang ditarik ke dalam Tim BNPB, menunjukkan bahwa mahkota yang tersirat dalam namanya sudah terpasang di atas kepalanya.

Sebaliknya, nama juga mencitrakan seseorang menjadi sangat buruk dan terstigma. Spanish Flu atau flu Spanyol akan mencitrakan bangsa Spanyol sebagai sumber penyakit yang menjadi pandemi di tahun 1920. Mungkin karena alasan inilah WHO menghindari menyebut nama negara atau wilayah atau nama seseorang ketika akan memberi nama penyakit yang saat ini sedang mewabah di seantero planet bumi. Misalnya nama pandemi ini dinamai Wuhan Corona, maka hampir bisa dipastikan betapa terstigmanya kota Wuhan dan ini akan berimplikasi pada munculnya sikap rasis dan anti Wuhan. Sungguh, bukan situasi yang sehat baik secara mental maupun sosial.

Nama bukanlah sesuatu yang random. Mungkin begitulah kesimpulan yang pas untuk contoh-contoh kasus di atas. Di baliknya ada pola, ada sejarah, dan ada doa. Mencermati nama, kita bisa belajar banyak tentang keteraturan bahasa, kita bisa menggali sejarah, kita juga bisa ‘mendengar’ doa yang terpanjat oleh pemberi nama. Name is not nothing, but something. 

Akhirnya, bagaimana nama dengan segala cerita di baliknya bisa dihubungkan dengan WFH yang merupakan tema besar dari antologi yang akan memuat tulisan ini? Sepintas tulisan ini memang tidak terkait langsung dengan WFH karena di tulisan ini saya tidak menulis sama sekali tentang WFH dengan segala pernak perniknya. Akan tetapi, semua proses dari tulisan amat sederhana ini—mulai dari membaca sampai revisi—saya lakukan di rumah. Jadi, tulisan singkat sederhana ini tidak bercerita tentang WFH dengan segala dinamikanya, tetapi ini adalah produk dari WFH. Itulah kaitan antara keduanya. Semoga bisa dipahami. Terimakasih...... (Malang, 6 Januari 2021)


Catatan: Tulisan ini dimuat di Antologi Work From Home, IAIN Tulungagung Press, 2021.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...