COVID-19
& CORONA RISTAWAN
Maaf, lagi-lagi
tentang Corona. Saat ini Corona memang makhluk Tuhan paling seksi di bumi
karena hari-hari ini tiada detik tanpa pembicaraan tentangnya. Tentunya
masing-masing orang punya parameter sendiri dalam menentukan keseksiannya.
Corona akan terlihat seksi bagi politisi bila dilihat dari perspektif bagaimana
pemerintah menanagani wabah ini, bagaimana pemerintah menggunakan anggaran
negara, dan bagaimana pemerintah menjalankan UU yang ada untuk memutus rantai
penyebarannya. Pebisnis akan melihatnya sangat seksi karena saat ini banyak
terbuka peluang bisnis baru meski banyak pula bisnis yang tutup karenanya.
Seperti halnya mereka, saya yang suka dengan ilmu linguistik pun melihat ada
yang menarik dari wabah corona, yaitu cerita di balik nama COVID-19.
COVID-19
Corona berasal dari bahasa Latin yang bermakna mahkota (crown), dan dia dijadikan nama virus
yang pertama kali ditemukan di tahun 1964 oleh seorang wanita Scotlandia
bernama June Almeida. Virus ini punya banyak varian, dua diantaranya menjadi
penyebab penyakit SARS dan MERS. Virus Corona yang saat ini lagi mewabah
merupakan jenis baru yang berbeda dengan yang menyebabkan SARS dan MERS.
Karenanya, beberapa bulan lalu pemerintah Cina sempat menyebutnya Novel Corona yang bermakna Corona jenis
baru. Per 23 Februari 2020, WHO mengumumkan secara resmi bahwa virus Corona
jenis baru yang pertama kali muncul di Wuhan akhir tahun 2019 disebut COVID-19
yang merupakan akronim dari Corona Virus Disease 2019. Jadi, nama
wabah yang saat ini lagi pandemi berawal dari Corona, kemudian menjadi Novel
Corona, dan akhirnya COVID-19.
Corona
Ristawan
Corona yang satu
ini bukan nama virus, melainkan nama seorang dokter yang aktif di sebuah rumah
sakit di Lamongan Jawa Timur. Namanya menjadi sangat relevan dibicarakan saat
ini karena kebetulan namanya sama persis dengan nama virus penyebab Covid-19.
Lebih menarik lagi karena dokter ini ternyata diamanati oleh PP Muhammadiyah
untuk menjadi ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Ini menjadi
menarik karena seseorang yang bernama Corona harus mengurusi virus Corona.
Keduanya memiliki nama yang sama. Bedanya yang satu manusia, dan yang satunya
virus.
Bagaimana dia bisa
bernama Corona? Usut punya usut, ternyata dia adalah putra ketiga, dan
karenanya orang tuanya berupaya mencari nama dengan C sebagai huruf pertama
mengingat putra pertama dan kedua sudah berawalan dengan huruf A dan B. Di saat
bingung mencari nama itulah, sang ayah membaca merk mobil Corona. Sang ayah
tertarik dengan nama itu karena berawalan dengan huru C, terdengar indah, dan
bermakna indah pula, yaitu mahkota. Akhirnya diambillah nama merk mobil
tersebut sebagai nama putra ketiga.
So,
What?
Ada pihak yang
meyakini bahwa nama hanyalah label yang bisa menjadi pembeda antara orang yang
satu dengan yang lain. Ungkapan legendaris Shakespeare what is in a name? di kisah Romeo and Juliet sepertinya mengikuti
aliran ini. Akan tetapi, ada pihak yang meyakini bahwa nama bukanlah semata-mata
label diri, melainkan branding diri. Kelompok ini meyakini bahwa citra diri,
kepercayaan diri, cara berpikir, dan perilaku seseorang bisa terbangun karena
nama yang disandangnya. Nama diri yang menyiratkan optimisme dan harapan akan
mendorong pemiliknya untuk berperilaku penuh semangat dalam bekerja dan pantang
menyerah. Saya ada di kelompok kedua karena sepengetahuan saya, selalu ada
banyak cerita di balik nama. Nama bisa merepresentasikan banyak hal,
diantaranya sejarah, bunyi, bentuk dan fungsi, bahkan doa.
Name is history alias nama
merepresentasikan sejarah. Tidak jarang nama menyiratkan peristiwa penting di
masa lampau, penemu sebuah temuan yang fenomenal, dan juga tahun ditemukannya
sebuah temuan penting. Mexican flu adalah nama penyakit yang disebabkan oleh
virus yang muncul pertama kalinya di kota Mexico. Nama ini menggambarkan dengan
jelas bahwa di suatu masa, di kota Mexico telah terjadi peristiwa besar, yaitu
munculnya virus penyebab penyakit yang mewabah di banyak negara. Contoh lain
dari nama yang merepresentasikan sejarah adalah nama skala suhu fahrenheit yang diambil dai nama
penemunya, yaitu ilmuwan Jerman Gabriel Fahrenheit (1636-1786). Dengan
diabadikannya nama penemu pada hasil temuannya, maka khalayak akan belajar
sejarah dari temuan tersebut, minimal mengetahui nama penemunya. Tahun temuan
adalah aspek lain dari sejarah yang bisa kita jumpai pada sebuah nama. Angka 19
di COVID-19 menandakan tahun tersebut
adalah tahun ditemukannya virus Corona jenis baru, yang menjadi penyebab
COVID-19. Dengan disematkannya angka 19, khalayak menjadi sadar bahwa tahun
2019 adalah tahun penting bagi epidemiologi karena di tahun tersebut ada virus
baru yang menyebabkan pandemi di seantero bumi dan merenggut banyak nyawa.
Jejak sejarah menjadi tergambar sangat jelas dengan menjadikan tahun kemunculan
virus sebagai bagian dari nama.
Name is the representation of sounds, shapes, and
functions alias nama merupakan representasi bunyi, bentuk dan fungsi. Keterkaitan
antara nama dengan bentuk atau fungsi tertentu sering kita jumpai. Binatang
melata di dinding kita namai cicak karena
bunyi yang dihasilkannya, dan kain penutup kepala disebut kerudung karena fungsinya mengerudungi. Keduanya adalah contoh dari
keterkaitan antara nama dengan bunyi dan fungsi dari benda yang dilabeli. Hal
senada terjadi pada virus Corona. Nama
Corona menyiratkan keterkaitan antara
nama dan bentuk. Virus ini bentuknya mirip dengan mahkota, maka oleh penemunya dia
diberi nama Corona yang bermakna
mahkota. Sedangkan nama Novel Corona menyiratkan
keterkaitan antara nama dan sifat. Novel,
diambil dari bahasa Inggris, bermakna baru. Maka nama Novel Corona berarti virus Corona jenis baru.
Name is hopes alias nama adalah doa.
Nama merepresentasikan harapan dan doa. Disadari atau tidak ternyata nama
bisa memengaruhi kepribadian, perkembangan emosi dan sifat pemiliknya. Nama
yang baik akan menciptakan citra diri yang baik bagi pemiliknya, dan begitu
sebaliknya. Orang akan cenderung berupaya berlaku sesuai dengan citra yang
diciptakan oleh namanya. Oleh sebab itu, ketika nama yang meyiratkan citra dan
harapan yang baik akan mendorong penyandangnya untuk berbuat terbaik sesuai
dengan makna dari namanya. Nama juga bisa membentuk image. Nama yang baik akan
menciptakan image yang baik bagi penyandangnya, dan begitu sebaliknya. Bila
seseorang diberi nama Mawar, maka
penyandang nama tersebut akan tercitrakan sebagai individu dengan tampilan
fisik yang memesona dengan kepribadian yang menarik layaknya bunga mawar. Inilah
yang terjadi pada kasus nama Corona
Ristawan yang saya angkat di awal tulisan ini. Dengan memberi nama putranya
Corona yang bermakna mahkota, sang orang tua berharap dan berdoa
semoga sang putra kelak menjadi anak yang penuh prestasi karena hanya individu
dengan prestasi terbaik yang biasanya mendapatkan mahkota (corona). Dengan
diangkatnya dr Corona Ristawan sebagai Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command
Center (MCCC) dan sekarang ditarik ke dalam Tim BNPB, menunjukkan bahwa mahkota
yang tersirat dalam namanya sudah terpasang di atas kepalanya.
Sebaliknya, nama
juga mencitrakan seseorang menjadi sangat buruk dan terstigma. Spanish Flu atau
flu Spanyol akan mencitrakan bangsa Spanyol sebagai sumber penyakit yang
menjadi pandemi di tahun 1920. Mungkin karena alasan inilah WHO menghindari
menyebut nama negara atau wilayah atau nama seseorang ketika akan memberi nama
penyakit yang saat ini sedang mewabah di seantero planet bumi. Misalnya nama
pandemi ini dinamai Wuhan Corona, maka hampir bisa dipastikan betapa
terstigmanya kota Wuhan dan ini akan berimplikasi pada munculnya sikap rasis
dan anti Wuhan. Sungguh, bukan situasi yang sehat baik secara mental maupun
sosial.
Nama bukanlah
sesuatu yang random. Mungkin begitulah kesimpulan yang pas untuk contoh-contoh
kasus di atas. Di baliknya ada pola, ada sejarah, dan ada doa. Mencermati nama,
kita bisa belajar banyak tentang keteraturan bahasa, kita bisa menggali
sejarah, kita juga bisa ‘mendengar’ doa yang terpanjat oleh pemberi nama. Name is not nothing, but something.
Akhirnya, bagaimana nama dengan segala cerita di baliknya bisa dihubungkan dengan WFH yang merupakan tema besar dari antologi yang akan memuat tulisan ini? Sepintas tulisan ini memang tidak terkait langsung dengan WFH karena di tulisan ini saya tidak menulis sama sekali tentang WFH dengan segala pernak perniknya. Akan tetapi, semua proses dari tulisan amat sederhana ini—mulai dari membaca sampai revisi—saya lakukan di rumah. Jadi, tulisan singkat sederhana ini tidak bercerita tentang WFH dengan segala dinamikanya, tetapi ini adalah produk dari WFH. Itulah kaitan antara keduanya. Semoga bisa dipahami. Terimakasih...... (Malang, 6 Januari 2021)
Catatan: Tulisan ini dimuat di Antologi Work From Home, IAIN Tulungagung Press, 2021.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar