On-the-Road
Iftar
Tanggal 15 April 2023 saya dan
keluarga belanja beberapa bahan bangunan di Depo Bangunan (swalayanan khusus
bahan-bahan bangunan). Kami berangkat pukul 15.30. Untuk antisipasi kemacetan
yang memungkinkan kami masih di jalan ketika saat maghrib tiba, maka kami
sengaja membawa bekal makanan ringan.
Jalanan ternyata sangat ramai. Bahu kiri dan
kanan jalan hampir penuh mobil dari berbagai kota yang membuat mobil bergerak
pelan meski tidak merayap. Di pinggir jalan yang kami lalui banyak penjual
takjil dengan berbagai dagangannya dan dengan pembeli yang berkerumun. Suasana sore
benar-benar meriah. Saya dan keluarga yang tidak pernah ngabuburit, saat ini benar-benar
merasakan ngabuburit itu.
Kami
tiba di Depo Bangunan sekitar jam 16 lebih sedikit. Suasana di toko tersebut
sepi karena tidak terlalu banyak pengunjung. Kami segera menuju counter
barang-barang bangunan yang kami perlukan. Banyak hal yang harus
dipertimbangkan ketika akan menentukan pilihan, sehingga aktivitas ini menyita
cukup banyak waktu.
Begitu
pilihan untuk semua jenis barang sudah kami tentukan, kami menuju kasir. Urusan
pembayaran belum selesai di saat adzan maghrib berkumandang. Pihak Depo
Bangunan menyediakan takjil ringan untuk pembeli yang berpuasa. Kami segera membatalkan
puasa dengan menikmati takjil yang mereka sediakan.
Begitu
pembayaran selesai, kami segera meninggalkan kasir dan menuju mobil. Di dalam
mobil kami melanjutkan pembatalan puasa dengan menikmati makanan ringan yang
kami bawa dari rumah. Ada sensasi tersendiri ketika kami mamiri (makan minum
ringan) di mobil dalam rangka berbuka puasa.
Begitu
urusan mamiri kami anggap cukup, kami segera keluar dari area Depo Bangunan dan
segera menuju masjid yang terletak sekitar 500 meter dari Depo untuk
melaksanakan shalat maghrib. Sesampainya di masjid tersebut, kami segera ambil
air wudlu. Tempat wudlu-nya sangat representatif. Tempatnya luas dan bersih. Saya
tidak sempat menghitung berapa kran wudlu yang tersedia, tapi yang jelas lebih
dari sepuluh. Tempat wudlu tersebut bersih. Tidak ada sampah tercecer. Tidak
ada air menggenang. Tidak ada pakaian yang tercentel di area tersebut, dan tidak
ada pula tulisan-tulisan larangan atau himbauan di dinding. Clean and clear.
Saya
shalat di tempat khusus putri. Di tempat ini saya lihat beberapa orang yang
juga melaksanakan shalat maghrib. Sepertinya mereka musafir yang akan melanjutkan
perjalanan ke tempat yang (mungkin) jauh. Begitu shalat selesai saya tunaikan,
saya segera beranjak meninggalkan tempat. Di pintu utama masjid saya ‘dihadang’
oleh dua remaja. Dengan sopan mereka mengulurkan paket buka puasa terbungkus stereofoam.
Paket
buka puasa tersebut saya buka di mobil, dan ternyata isinya mie pangsit. Selama
ini saya bukan penyuka mie. Sangat jarang saya makan mie. Bagi saya, mie
bukanlah makanan yang menarik. Dia tidak bisa menggugah selera makan saya
layaknya nasi lalapan atau sayur asem plus tempe goreng. Akan tetapi, mie yang
saya terima dari remaja masjid tersebut terlihat beda. Bentuknya yang kecil
memanjang dengan warna mengkilap karena minyak, ditambah dengan taburan ayam
tumbuk halus plus bawang merah goreng, dilengkapi dengan pangsit goreng sebagai
topping dan sayur selada dan beberapa cabe mentah membuatnya terlihat sangat
menarik. Appetizing alias sangat menggoda selera makan.
Akhirnya,
tanpa pikir panjang, saya pun menyantapnya dengan lahap, meski sejatinya saya
bukan penyuka mie. Mie tersebut terasa sangat sedap di lidah. Bumbunya terasa
kuat, tapi tidak terlalu spicy hingga bisa berdamai dengan indra pengecap saya.
Pangsitnya renyah hingga membuat suasana makan menjadi seru. Cabe mentahnya
kecil, sekecil mata burung, hingga terasa tidak terlalu pedas ketika diceplus.
Perpaduan antara rasa mie yang sedap, rasa lapar karena sudah sekian belas jam
tidak makan, dan suasana makan di jalanan membuat saya sangat lahap menyantap
mie tersebut. Saya menyantapnya sampai tuntas hingga serpihan mie terkahir.
Kenikmatan
menyantap mie yang saya ceritakan membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah bahwa
salah satu kegembiaraan orang yang berpuasa adalah ketika berbuka puasa. Antusiasme saya terhadap mie, makanan yang
selama ini tidak menarik bagi saya, seolah membenarkan ungkapan bahwa lauk
terenak adalah rasa lapar. Mamiri di swalayan bahan bangunan dan menikmati buka
puasa pemberian takmir masjid di mobil memberikan sensai tersendiri dan membuat
Ramadhan tahun ini menjadi lebih berwarna. Semoga Allah SWT menerima puasa dan
semua ibadah kita. Aamiin…..
Malang,
16 April 2023/26 Ramadhan 1444
Tidak ada komentar:
Posting Komentar