Brodin yang Saya Kenal
Ahmad
Bahrudin. Itulah nama salah satu teman sekelas saya ketika di S1 di Pendidikan
Bahasa Inggris FKIP Universitas Jember. Saya dan beberapa teman memanggilnya
dengan sebutan yang lebih njawani, yaitu Brodin.
Saya mengenalnya sejak awal
kuliah, tahun 1988. Kami satu kelompok di Penataran P4 Pola dukung 100 jam. Dalam kelompok
tersebut ada sekitar 20 mahasiswa dari berbagai fakultas. Yang berasal dari
FKIP seingat saya hanya saya dan Brodin. Durasi penataran yang sangat panjang memungkinkan
kami untuk mengeksplorasi potensi dan kemampuan kami, terutama kemampuan dalam
menalar kasus, kemampuan berargumentasi, dan kemampuan public speaking. Dari
sinilah saya jadi tahu bahwa Brodin sangat potensial dalam public speaking. Tidak
jarang meski dengan data dan kajian teori yang sangat terbatas dia bisa
meyakinkan audience. Kepiawaiannya dalam memilih diksi, sense humor yang
cukup tinggi, ditambah dengan geture yang tepat adalah modalnya dalam
meyakinkan kami, teman2 sekelompok.
Karena kebetulan kami satu prodi, maka memudahkan bagi kami untuk tetap menjalin pertemanan meski penataran usai. Selanjutnya, hari-hari kami isi dengan aktifitas akademik dan non-akademik yang menuntut kami untuk siap kerjasama dengan berbagai pihak. Sepemantauan saya, Brodin termasuk mahasiswa yang bisa diterima banyak pihak. Baik dosen maupun mahasiswa menerimanya dengan tangan terbuka. Mungkin sikapnya yang supel dan ceria di segala suasana lah yang membuatnya mudah diterima semua pihak.
Keakraban
Brodin (batik gelap) dengan sahabat lintas Angkatan: Thohir Affandi (depan) dan Ali Muafa (kemeja bergaris)
Selama perkuliahan, Brodin
terlihat menonjol dalam hal public speaking, persis seperti yang ia
tunjukkan ketika penataran. Di matakuliah apapun, bila dia berkesempatan
berbicara, dia selalu menunjukkan kepiawaiannya dalam meyakinkan pendengarnya. Dengan
kelebihan ini, dia pernah berseloroh sekaligus mengeluh kepada saya yang kurang
lebih begini: “misalkan matkul Speaking sampai Speaking IV dan andai matku Structure
hanya structure I, aku seneng banget.” Seloroh itu dia lontarkan karena dia merasa
sangat kesulitan mengikuti kuliah Structure, sedangkan di matkul Speaking dia
layaknya seniman yang mendapatkan panggung untuk menyalurkan potensinya.
Secara umum, layaknya Sebagian besar
teman-teman sekelas saya, Brodin bisa meneyelesaikan studinya dengan cukup smooth.
Setamat studi, saya tidak pernah kontak hingga sekitar tahun 2009 atau 2010
(tepatnya saya lupa) kami bertemu di Universitas Negeri Malang karena kebetulan
kami sama-sama menempuh studi S3 di prodi yang berbeda. Brodin studi di Jurusan
Teknologi Pembelajaran (TEP), sedangkan saya masih sangat setia dengan
Pendidikan Bahasa Inggris.
Nyaris tidak ada yang berubah pada
diri Brodin yang saat itu sudah kandidat doctor. Dia tetap ceria, banyak
cerita, dan selalu optimistis. Selama tinggal di Malang, dia sempat berkunjung
ke rumah saya dan berkenalan dengan keluarga saya. Setamat studi S3 dan dia kembali
ke Kalimantan, saya semakin tahu bahwa public speaking adalah jalannya. Kepiawaiannya
berbicara di depan public ditopang dengan pendidikan paripurna menjadikannya sukses menjadi pembicara tentang teknologi pembelajaran sekaligus
motivator.
Di tengah-tengah kesibukannya
sebagai guru, pembicara seminar, dan motivator, Brodin tidak lupa dengan kami, teman-temannya
sekelas yang tergabung di grup WA. Dia termasuk anggota grup yang aktif di
grup. Sesekali seloroh dan guyonan adalah yang paling sering dia lontarkan.
Brodin dengan salah satu teman
sekelas, Rodliyah (Odiek)
Dengan adanya grup WA, kami bisa
saling tahu kondisi kami masing-masing, terutama sepak terjang dan kondisi
Brodin karena dia termasuk anggota yang tidak pelit info. Banyak hal tentang
dirinya yang dia share ke kami, termasuk kondisi kesehatannya. Seingat saya,
bulan Februari 2023 dia share info tentang kesehatannya yang menurun dan harus rawat
inap. Hampir seluruh anggota grup merespons-nya dengan doa-doa terbaik untuk
kesembuhannya. Saya sempat japri dia dan menanyakan apa sebenarnya yang
terjadi. Dia membalas dengan menyebut nama penyakitnya dan minta doa.
Tidak berselang lama dari waktu
tersebut, tepatnya tanggal 10 Maret 2023, kami, anggota grup, dikejutkan dengan
berita duka atas wafatnya Brodin. Speechless. Hanya ungkapan innalillahi
wainna ilaihi raajiun yang bisa saya ucapkan. Sekali lagi speechless. Meskipun
kematian adalah keniscayaan bagi setiap yang bernyawa, tetapi ketika hal
tersebut benar-benar menimpa orang dekat kita, kita pasti merasa belum siap,
kaget, belum bisa menerima, dan speechless adalah reaksi yang lazim
terjadi.
Kematian memang bukanlah topik yang
enak untuk dibicarakan. Itulah salah satu sebab mengapa tulisan ini bisa saya
selesaikan setelah berselang cukup lama dari wafatnya Brodin. Kematian identik dengan
kesendirian, kegelapan, dan pertanggungjawaban. Kematian memisahkan pihak yang
mati dengan siapapun di dunia ini termasuk orang-orang terdekatnya, dan
menempatkannya di tempat yang menurut penglihatan manusia sangat sempit, tanpa
fasilitas apapun, termasuk lampu penerangan, dan sidang pertanggungjawaban sudah
menunggu di depan mata.
Secara fitrah, manusia
berkeinginan untuk hidup lama. Doa-doa harian yang kita panjatkan salah satunya
berbunyi Allahuma thawil umuruna alias Ya Allah, karuniakanlah kami umur panjang. Doa-doa ulang tahun selalu menyisipkan ucapan semoga panjang umur bagi
yang berulang tahun. dengan gaya bahasa hiperbola, Khairil Anwar menyebut "aku ingin
hidup 1000 tahun lagi" di salah satu puisinya. Itu semua adalah sekelumit bukti betapa besar
keinginan manusia untuk sedapat mungkin terhindar dari kematian.
Betapapun besar keinginan manusia
untuk berumur panjang, namun kematian adalah hak prerogratif Allah, dan karenanya
kematian bisa terjadi kapanpun dan bisa menimpa siapapun. Kematian bisa terjadi ketika seseorang sudah menuntaskan semua tugas-tugasnya di dunia, bisa juga
terjadi ketika seseorang sedang di puncak karir, bisa juga terjadi ketika seseorang
belum menapaki karir.
Mengingat kematian sedemikian misterinya,
maka saya angkat topi dengan Brodin yang (mungkin) tanpa sadar menyiapkan
datangnya kematian dengan perbuatan-perbuatan baik yang terlihat kecil yang dia lakukan
secara konsisten. Selalu menyapa duluan, selalu menyebarkan optimisme, sering
menawarkan kesediaan berbagi ilmu dengan honor ala kadarnya, bahkan dengan
gratis, menawarkan diri menjadi tuan rumah untuk reuni kelas dengan gratis
adalah contoh perbuatan yang bisa membuat orang lain dengan rela melangitkan
doa untuk kebaikannya sebagai balasan. Tulisan sederhana ini juga salah satu
bentuk penghormatan saya kepadanya, ucapan terimakasih saya atas kesediaannya banyak
membantu saya ketika kami masih studi di Tegalboto, juga ucapan terimakasih
atas kesediannya mengunjungi saya dan mengenal keluarga saya. Tulisan ini juga
sebagai bentuk penyesalan saya yang tidak bersedia merespons inisiatifnya
menggelar reuni pasca lebaran 1444H ini.
Selamat jalan, Brodin. Semoga Allah menerima semua kebaikan dan mencatatnya sebagai amal ibadah bagimu. Semoga pula Allah mengampuni semua salah hilafmu dan semoga Allah menempatkanmu di tempat termulia di sisi-Nya. Aamiin.....
Malang, 19 April 2023M/28 Ramadhan
1444H


Terimakasih, Opik....
BalasHapusSemoga beliau husnul khatimah. Artikel ini sangat penting sebagai bekal untuk selalu berbuat baik. Kita tidak tahu kapan dipanggil. Justru karena itulah kita harus terus berbuat baik. Terima kasih Bu.
BalasHapusMakasih banyak, Prof...
BalasHapus