RECHARGING HATI DAN PIKIRAN
Kami merayakan Iedul Fitri keesokan harinya, 21 April 2023, sedangkan warga masyrakat lain ada yang menjalankannya keesokan harinya (22 April 2023). Kami melaksanakan shalat Ied di SD Muhammadiyah 8 Dau. Shalat tersebut diikuti banyak warga. tempat yang disediakan panitia semuanya terisi oleh jamaah.
Setelah
selesai shalat Ied di SD MAPAN
Lebaran tanpa mudik ibarat sayur tanpa garam. Saya
dan keluarga mudik ke kampung halaman saya di Baron Nganjuk pada tanggal 21
April 2023. Di mudik kali ini saya sengaja tidak membawa laptop tapi saya tetap
membawa satu buku bacaan, buku tulis dan alat tulis. Laptop sengaja saya
tinggal dengan tujuan supaya bisa berjarak dengan tugas rutin. Laptop adalah
tempat tersimpannya semua data pekerjaan. Di laptop tersimpan sederet buku
referensi yang harus dibaca, di laptop juga tersimpan file draft skripsi dan
tesis mahasiswa, dan di laptop pula tersimpan dengan rapi draft penelitian yang
sangat ingin saya selesaikan dan submit ke jurnal. Laptop is work. Mungkin
itulah deskripsi yang pas untuk laptop. Karena selama mudik saya sedang tidak
bekerja, maka dia saya tinggal di rumah.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam, sampailah saya di kampung halaman, di Baron Nganjuk. Keluarga besar sudah menunggu di sana. Kakak-kakak, keponakan dengan putra putrinya (yang berarti cucu saya) dengan sangat gembira menerima kami. Kehangatan semakin terasa ketika kami ngobrol berbagai hal yang enteng-enteng. Saling menanyakan dan menginfokan kabar kerabat yang lama tidak muncul cukup mendominasi pembicaraan kami. Selebihnya diisi dengan topik-topik yang kadang terkesan receh tapi bisa menghangatkan suasana.
Dengan
Mbakyu2 dan keponakan
Kampung halaman bukanlah destinasi terakhir bagi saya dan keluarga karena kami berencana mengunjungi seorang teman dan dua kerabat yang sakit. Keesokan hari, 22 April 2023, kami melanjutkan perjalanan ke Surakarta sebagai destinasi bezoek pertama. Di kota ini kami bezoek seorang teman yang sakit. Kami tiba di kediamannya sekitar pukul 14.00. Beliau sakit sudah cukup lama. Beliau cerita banyak tentang penyakitnya dan upayanya sembuh dari sakit tersebut. Beliau menyebut banyak istilah medis yang sebelumnya tidak pernah saya dengar. Di tengah-tengah upayanya sembuh, beliau masih menjalankan tugas utamanya sebagai dosen, yaitu mengajar. Dengan moda daring, tugas tersebut tetap beliau jalani dengan semangat. Selain itu, beliau juga Menyusun Penetapan Angka Kredit (PAK) sebagai respons terhadap SE Permenpan RB terbaru.
Dari Surakarta, kami balik ke arah timur, ke
Madiun. Di sini kami bezoek kerabat yang pernah sakit stroke dan masih
berdampak sampai sekarang, yaitu menurunnya kemampuan berbicara. Beliau agak
kesulitan setiap akan melisankan sesuatu. Meski demikian, beliau tetap terlihat
ceria dan semangat menyambut kedatangan kami.
Dari Madiun kami meluncur ke Tulungagung untuk
bezoek kerabat lain yang sakit sudah agak lama. Dengan beliaunya kami tidak
bisa berkomunikasi karena memang kondisinya tidak memungkinkan. Melalui putra
putrinya saya jadi tahu betapa berat perjuangan keluarga tersebut dalam
menghadapi penyakit. Banyak hal detil yang mereka ceritakan yang tidak mungkin
saya ungkap di sini.
Kunjungan ke kampung halaman di mana saya bisa
ketemu dengan keluarga besar plus bezoek di tiga destinasi membuat saya seperti
baterai yang baru di-recharge. Obrolan ringan dengan kakak dan
keluarganya bisa menghilangkan kepenatan pikiran karena rutinitas. Obrolan
tersebut juga bisa menjadi pembangkit energi yang tererosi oleh tugas-tugas
yang kadang saya rasa sangat monoton. Dengan kondisi pikiran seperti ini, saya
siap menyambut tugas rutin kembali: siap menyelesaikan penelitian yang sudah
agak lama belum kelar dan insya Allah siap submit; siap pula merevisi diktat
yang selama ini terbengkalai; dan juga siap membimbing anak bangsa dalam
menyelesaikan studi mereka.
Recharging hati dan pikiran juga terjadi ketika saya mengunjungi kerabat dan teman yang sakit. Ketiganya menyadarkan saya bahwa kesehatan yang saya miliki bernilai tidak terhitung mahalnya. Saya tersadar ternyata bisa bergerak normal tanpa tergantung pada orang lain adalah anugerah. Bisa makan makanan padat adalah anugerah lain yang selama ini saya nikmati. Bisa mengajar dengan dua moda—daring atau luring—adalah precious gift. Bisa melisankan ide secara normal sehingga mudah dipahami orang lain adalah salah satu kenikmatan terindah yang setiap detik saya nikmati tanpa saya sadari. Semua ini semoga bisa me-reset ulang pikiran dan berimbas pada lisan dan tindakan. Keluh kesah yang sering menghiasi hati, pikiran, dan lisan semoga bisa berkurang, atau bahkan hilang sama sekali. Bezoek di hari lebaran semoga bisa mengubah focus perhatian dari yang belum dimiliki ke cara memaksimalkan apa yang sudah dimiliki.
Salah
satu anugerah terindah: kemampuan melisankan ide dengan sempurna sehingga bisa dipahami orang lain
Layaknya baterai HP, hati dan pikiran seyogyanya di-recharge secara berkala. Hati perlu di-recharge untuk menjaga kebeninganmya sehingga senantiasa peka dalam membedakan antara kebaikan dan keburukan . Pikiran juga harus di-recharge secara berkala supaya ketajaman berpikir senantiasa terjaga. Menjaga ketajaman pikiran dalam kebeningan hati bukanlah terlalu gampang tapi juga bukan hal yang tidak mungkin. Insya Allah bisa.
Malang, 28 April 2023M/7 Syawal 1444H



.png)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar