Minggu, 31 Januari 2021

COVID-19, MEKANIS, DAN ANGKA PSIKOLOGIS

 

Covid-19, Mekanis, dan Angka Psikologis

 Awalnya heboh, kemudian datar alias biasa-biasa saja, kemudian nyaris tak terdengar, dan akhirnya senyap. Itulah gambaran respons masyarakat terhadap penambahan jumlah kasus positif covid-19. Ketika kasus pertama diumumkan Presiden awal Maret 2020, masyarakat menanggapinya dengan heboh dan penuh rasa horor. Hari-hari selanjutnya kehebohan masih saja terjadi sampai beberapa lama. Lambat laun, kasus positif baik yang di angka biasa maupun yang di angka psikologis ditanggapi dengan datar, tanpa kehebohan, tanpa rasa was-was, apalagi rasa horor.

Apa itu angka psikologis? Sederhananya, angka psikologis adalah angka yang biasanya menjadi target capaian keberhasilan, atau angka obsesi, atau angka impian. Ciri utamanya adalah dia angka bulat, cantik, dan mudah diingat, semisal 100, 1000, 10.000, dll. Kinerja seseorang yang menduduki jabatan tertentu biasanya kita lihat di 100 hari pertama. Bila di 100 hari pertama dia bisa kerja maksimal dan bisa membuat pihak lain terkesan, maka dia akan mudah menjalani hari-hari berikutnya. Sebaliknya, bila di 100 hari pertama dia kurang bisa membuat kesan positif, maka hari-hari berikutnya dia akan mendapatkan banyak catatan dari lingkungan sekitarnya. Jadi, dalam kasus ini 100 adalah angka psikologis baik bagi penilai maupun yang dinilai. Contoh lain, angka 1000 adalah angka impian bagi YouTuber karena 1000 adalah jumlah minimal pemirsa yang harus diraih untuk bisa  mendapatkan honor dari YouTube. Angka 1000 pertama bagi YouTuber secara psikologis sangatlah melegakan. Angka ini memotivasinya untuk bisa mencapai angka 2000, 3000, dan seterusnya. Angka target atau angka obsesi adalah angka yang bisa memberi efek psikologis bagi yang bisa meraihnya, makanya dia disebut angka psikologis.

Angka-angka cantik semisal 1000, 10.000 bila menembus jumlah kasus covid-19 bisa pula bisa menimbulkan dampak psikologis. Berbeda dengan dampak psikologis seperti yang diuraikan di atas, angka-angka psikologis dalam kasus covid-19 bisa menimbulkan keterkejutan, kecemasan, kekhawatiran, atau bahkan ketakutan. Hal ini karena angka-angka cantik tersebut bukanlah obsesi, bukan pula target yang ingin diraih, melainkan angka-angka yang sangat dihindari.

Baik dari sisi penambahan kasus harian maupun akumulasi jumlah kasus, kita sudah melampaui beberapa kali angka psikologis. Dalam hal penambahan kasus harian, angka ratusan bertahan cukup lama hingga akhirnya mencapai angka psikologis 1000. Kemudian menyentuh angka 5000-an di bulan November, dan akhirnya tembus 10.000-an ke atas mulai Januari 2021. Begitupun akumulasi kasus. Per 27 Juli 2020 kita menyentuh angka psikologis 100.000, dan angka psikologis 500.000 di bulan November, dan angka 1 juta tersentuh per 26 Januari 2021.

 Ketika kita menyentuh angka psikologis pertama kali, kita tersentak kaget, seolah tidak percaya kita bisa ‘meraihnya’. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin ‘akrab’-nya kita dengan corona, maka angka-angka penambahan kasus baik yang angka biasa maupun angka psikologis ditanggapi secara biasa-biasa saja oleh masyarakat. Angka-angka tersebut seperti sudah kehilangan daya magisnya. Masyarakat tidak lagi terhentak dengan angka cantik 500.000 atau bahkan 1.000.000. Angka-angka tersebut seperti tidak ada bedanya dengan jumlah penonton sepak bola atau jumlah pemudik di musim lebaran.

Mengapa demikian? Ada dua kemungkinan. Pertama, masyarakat sudah jenuh dengan kasus covid-19. Sebelas bulan bukanlah waktu yang singkat untuk kejadian yang tidak mengenakkan semacam pandemi. Durasi yang sedemikian lama membuat kita tidak kuat untuk konsentrasi penuh memikirkan covid-19. Banyaknya urusan yang harus diselesaikan menyebabkan kita me-nomorsekian-kan urusan pandemi. Karena itulah, data-data yang rutin dikeluarkan gugus tugas ditanggapi dengan biasa saja. Data covid bukan lagi sesuatu yang harus diburu.

Kedua, data harian yang rutin muncul selama 11 bulan membuatnya terkesan sangat mekanis. Kesan mekanis inilah yang akhirnya membuat angka-angka cantik memudar daya tariknya, dan angka psikologis kehilangan efek psikologisnya. Karenanya, angka-angka penambahan kasus covid-19 kita anggap sebatas data statistik yang tidak berimplikasi pada banyak hal. Kita sepertinya abai bahwa di balik angka-angka tersebut terdapat banyak pesan terkait dengan besarnya jumlah fasilitas kesehatan yang tersedia, berapa lama lagi sekolah harus tutup, berapa lama lagi WFO harus dibatasi, berapa lama lagi aktifitas sosial bisa normal seperti dulu, dll.  

Akhirnya, menjadi mekanis karena berhadapan dengan sesuatu yang berulang adalah hal yang natural. Akan tetapi, ke-mekanis-an tersebut seyogyanya tidak membuat kita nirhati dan nirperasaan sehingga kita tetap sadar bahwa di balik angka cantik satu juta kasus tersimpan duka mendalam (meminjam istilah Menteri Kesehatan). Wafatnya sekitar 600 tenaga kesehatan, wafatnya hampir 30 ribu saudara kita, lamanya sekolah harus tutup dan banyaknya PHK adalah titik-titik luka batin yang seyogyanya mebuat kita tidak mekanistis dalam menyikapi data. Semoga satu juta kasus adalah angka cantik dan angka psikologis terakhir yang kita ‘capai’ dalam kasus covid-19. Semoga.

 

Malang, 18 Jumadil Akhir 1442H/1 Februari 2021

Jumat, 29 Januari 2021

SKP dan BKD: Serupa tapi tak Sama

SKP dan BKD: Serupa tetapi tak Sama

 Setiap awal tahun, Pegawai Negeri Sipil, termasuk dosen diwajibkan menyelesaikan SKP(Sasaran Kerja Pegawai) dan Beban Kerja Dosen (BKD) dalam waktu yang hampir bersamaan. 

Setiap kali menyelesaikan SKP dan BKD, saya seperti dihadapkan pada teka teki serupa tapi tak sama, yaitu suatu permainan yang menuntut kita untuk bisa menemukan beberapa perbedaan dari dua gambar yang sangat mirip. Kemiripan dua gambar menyebabkan beberapa perbedaan kecil tidak tampak bila kita tidak benar-benar cermat dan jeli. Ada rasa penasaran setiap saat menemui permainan ini. Ada rasa tertantang bila ada perbedaan yang belum bisa ditemukan, dan ada rasa lega bila misteri tempat perbedaan telah bisa terkuak.

SKP dan BKD menurut saya juga memberikan sensasi itu. Istilah-istilah yang muncul di keduanya sangat mirip atau bahkan sama hingga membuat keduanya seperti sama. Ada pertanyaan yang sering muncul di benak setiap saat mengerjakan keduanya. Apa yang membedakannya? Paling tidak ada empat kesamaan sekaligus perbedaan di keduanya.

Dari konten atau isi, keduanya serupa tapi beda. Keduanya serupa karena sama-sama berisi rencana kerja beserta realisasinya. SKP dan BKD berisi rencana kerja dosen dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian pada masyarakat. Ketiga unsur tersebut wajib ada baik di SKP maupun di BKD.

Meski demikian, keduanya beda dalam hal target ketercapaian rencana. SKP secara eksplisit menyebutkan target yang meliputi waktu capaian, kuantitas capaian, dan kualitas capaian. Waktu capaian bisa satu semester, satu tahun, atau lebih dari itu. Target kuantitas bisa jumlah SKS, jumlah semester, jumlah mahasiswa, jumlah publikasi, jumlah kegiatan, dll. Target kualitas maksudnya ketuntasan pelaksanaan suatu rencana. BKD tidak mencantumkan target layaknya SKP. Di Rencana BKD hanya disebutkan besarnya SKS dari masing-masing kegiatan.

 Titik beda lain adalah tentang realisasi dari rencana kegiatan. Di SKP ketercapaian target dari masing-masing kegiatan ditulis dalam bentuk angka. Angka realisasi ini bisa sama persis, bisa di bawah, atau di atas angka yang ditargetkan. Sebaliknya, ketercapaian suatu kegiatan di BKD ditandai dengan rekomendasi selesai untuk kegiatan yang bisa tuntas dalam satu semester, lanjutkan untuk aktifitas yang belum bisa selesai, dan beban lebih bila kegiatan sudah tuntas tetapi jumlah SKS dalam semester tersebut sudah terpenuhi.

          Dari sisi waktu, SKP dan BKD berbeda. SKP dirancang untuk memantau kinerja selama satu tahun, sedangkan BKD dibuat untuk satu semester. Jadi, dalam satu tahun seorang dosen manghasilkan dua BKD dan satu SKP.

          Terkait dengan pembobotan, SKP dan BKD serupa tetapi tak sama. Keduanya serupa karena semua aktifitas di SKP dan BKD sama-sama diberi nilai atau grade dalam bentuk angka. Di SKP, aktifitas tri dharma perguruan tinggi dinilai dengan satuan angka kredit (AK). Di BKD, aktifitas dosen dinilai dengan SKS.  

          Dari sisi penilai, SKP dan BKD serupa tetapi berbeda. SKP diperiksa dan dinilai oleh atasan langsung dan atasan pejabat penilai. SKP saya diperiksa dan dinilai oleh Ketua Jurusan (Kajur) dan atasan dari Kajur (Dekan). Sedangkan rencana kerja di BKD diperiksa oleh Ketua Jurusan, dan laporan BKD diperiksa oleh asesor yang ditunjuk dan disahkan oleh Rektor.

          Ya,….itulah beberapa poin kemiripan dan perbedaan yang ada di SKP dan BKD. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu dicatat ketika menyelesaikan keduanya. Pertama, keduanya mengisyaratkan supaya kita terbiasa bertindak berdasar rencana, tidak dadakan. Rencana kegiatan yang ditulis dengan rinci menjadi guideline dalam melaksanakan kegiatan di lapangan. Selain itu, rencana yang tertulis ibarat janji yang diikrarkan sehingga bisa menjadi pengingat bagi yang membuatnya untuk senantiasa konsisten menjalankan apa yang sudah diikrarkan. Menulis apa yang akan dikerjakan dan mengerjakan apa yang sudah ditulis adalah pelajaran penting dari SKP dan BKD.

          Kedua, mengerjakan SKP dan BKD bukanlah pekerjaan yang memerlukan kajian teori yang sampai mengernyitkan dahi, bukan pula pekerjaan yang menuntut penerapan rumus-rumus statistik yang njlimet. Meski demikian, keduanya memerlukan konsentrasi penuh. Keduanya tidak bisa disambi-sambi. Menyeleraskan antara jenis kegiatan, nilai AK, jumlah SKS, nomor surat penugasan, bukti fisik kegiatan, plus ketrampilan mengoperasikan program excel memerlukan waktu dan tenaga khusus serta konsentrasi penuh.

          Ketiga, file yang rapi akan sangat membantu. Menyelesaikan keduanya memerlukan banyak dokumen. Nomor SK, nama matakuliah, jumlah mahasiswa, nama kegiatan, sertifikat, dll adalah data-data yang diperlukan untuk menyelesaikan SKP dan BKD. Bila dokumen yang berisi data-data yang dibutuhkan sudah di tangan, mengerjakan SKP dan BKD tentunya akan sangat ringan. Keduanya bisa terselesaikan dalam sekali duduk. Belajar rapi dan tertib dalam mengumpulkan file alias good at filing adalah pelajaran berharga lain yang bisa kita petik dari SKP dan BKD.

          Keempat, SKP dan BKD pada dasarnya berisi rencana menjalankan kegiatan tri dharma perguruan tinggi beserta realisasinya. Tujuan utama dari keduanya adalah sama, yaitu untuk memantau kinerja dosen. Karena itulah, saya berharap ke depan keduanya diintegrasikan. Rencana per semester masuk ke dalam rencana tahunan sehingga semua kegiatan dalam satu tahun bisa direncanakan dari awal.

          Terakhir, mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa SKP dan BKD yang notabene adalah bread and butter case alias permasalahan sehari-hari perlu ditulis? Bagi saya, menulis adalah aktifitas berbagi ide dengan sesama yang bisa membuat pikiran jadi lepas. Ide, sesederhana apapun dia, bila tidak tertuang dalam tulisan, dia akan menggelayut terus di pikiran, dan ini sangat mengganggu. Sebaliknya, bila ide bisa tertuang dalam rangkaian kalimat dan paragraf akan bisa membuat pikiran jadi ringan dan beban seolah hilang. Itulah yang terjadi pada SKB dan BKD di mata saya. Keduanya memang kegiatan rutin yang saking rutinnya keduanya terlihat sangat biasa. Dari dua hal yang terlihat sangat biasa tersebut, saya mendapatkan titik yang menarik, yaitu kemiripan dan perbedaan keduanya. Andai ide tersebut saya biarkan mengendap di kepala saya, dia akan menjadi beban saya. Oleh sebab itulah, akhirnya jadilah tulisan sederhana ini. Sesederhana apapun tulisan ini, tapi dia sudah membuat saya lepas dan relieved. Terimakasih sudah membaca tulisan ringan dan sederhana namun bisa membuat saya lega iniπŸ˜ŠπŸ’–.

 

Malang, 29 Januari 2021M/15 Jumadil Akhir 1442H 

Sabtu, 16 Januari 2021

SCORING AND GRADING

 

Scoring and Grading

Scoring yang dalam bahasa Indonesia berarti koreksi adalah tahapan di mana seorang guru/dosen mengoreksi atau memeriksa pekerjaan peserta ujian (baca: murid/mahasiswa). Dengan berdasar pada kunci jawaban yang telah disiapkan sebelumnya, guru/dosen mencermati jawaban murid/mahasiswa. Sesuai dan tidaknya jawaban peserta ujian dengan kunci jawaban akan menentukan besaran angka atau simbol apapun yang akan guru/dosen tulis di lembar jawaban. Salah benarnya jawaban untuk soal pilihan ganda biasanya ditandai dengan angka karena memang jenis soal ini memungkinkan untuk itu. Sebaliknya, salah benarnya jawaban untuk soal esai bisa ditandai dengan simbol yang lebih bervariasi. Ada yang suka memberi simbol dua bintang untuk jawaban sempurna dan satu bintang untuk jawaban setengah sempurna. Ada pula yang menandai dengan wajah senyum untuk jawaban sempurna dan wajah cemberut untuk jawaban yang kurang diharapkan. Pendek kata, scoring adalah proses pengolahan jawaban ujian yang banyak berdasarkan pada kunci jawaban. Jadi, menurut saya ini adalah tahapan yang mudah bagi penguji karena templat sudah ada. Bila sesuai templat berarti bagus, bila menyimpang dari templat berarti kurang bagus.

Nah, bagaimana dengan grading alias penilaian? Ini adalah tahapan di mana guru/dosen memberikan nilai akhir kepada murid/mahasiswa. Ada banyak item yang dilibatkan dalam tahap ini, salah satunya adalah hasil scoring. Angka atau simbol-simbol yang dihasilkan di tahap scoring dipadu dengan angka dan simbul-simbul lain yang diperoleh dari aspek lain, semisal kehadiran, keaktifan, kemampuan kerjasama, dll. Perpaduan dari aspek-aspek itulah yang akhirnya mewujud menjadi nilai akhir atau grade.

Dari sinilah saya anggap bahwa grading lebih sulit bila dibanding dengan scoring. Scoring adalah pekerjaan yang semata-mata mengandalkan pikiran karena rujukannya jelas dan terukur, yaitu kunci jawaban. Ukuran benar dan salah sudah tergambar sangat jelas di kunci jawaban. Sebaliknya, grading mengharuskan guru/dosen memasukkan aspek lain yaitu attitude atau sikap murid/mahasiswa. Di tahap ini kehadiran dan keaktifan mahasiswa/murid diperhitungkan. Sikap mereka juga jadi bahan pertimbangan. Tidak jarang, saya mendapatkan angka hasil scoring lumayan tinggi, tetapi kehadiran dan keaktifan sangat minimal. Sering juga saya mendapatkan nilai dari scoring sangat membahagiakan, tetapi ada beberapa catatan attitude yang kurang menyenangkan. Bila data scoring dan aspek lain tidak berbanding lurus seperti itu, maka proses timbang sana timbang sini terjadi. Terjadilah dialog panjang antara pikiran dan perasaan. Pikiran mengakui bahwa si A excellent yang dibuktikan dengan angka scoring, tetapi perasaan kurang sreg mengingat beberapa catatan perilaku yang kurang mengenakkan. Tidak jarang, subjektifitas mengemuka dan bisa sedikit memudarkan kilau angka scoring. Ketidaksinkronan antara pikiran dan perasaan inilah yang terkadang bagi saya cukup menyiksa. Inilah yang saya maksud dengan menilai lebih rumit daripada mengoreksi karena melibatkan pikiran dan emosi. Grading is emotionally more challenging than scoring.

Tidak jarang pula saya mendapatkan data yang berbanding lurus, yaitu tinggi di angka scoring, dan tinggi pula di aspek-aspek yang lain.  Angka maksimal di kertas ujian dibarengi dengan kehadiran maksimal, dipadu dengan keaktifan yang bertanggung jawab di kelas, ditambah dengan kemampuan membangun human relation yang mengesankan membuat semuanya terasa mudah. Bisa pula minimnya angka di lembar jawaban senada dengan minimnya jumlah kehadiran, tiadanya keaktifan di kelas, dan hal-hal kurang mengenakkan lainnya. Pada kasus seperti ini, mengoreksi dan menilai sama-sama terasa mudah. Nilai maksimal (A- atau A) bisa dengan mudah dikeluarkan untuk kasus pertama, dan nilai minimal untuk kasus kedua. Dalam kasus apapun, bila pikiran dan perasaan klop, beban memang terasa sangat ringan.

Keadilan harus ditegakkan. Inilah prinsip yang harus dipegang teguh oleh siapapun, termasuk saya sebagai dosen. Tidak dibenarkan bila ketidaknyamanan karena catatan perilaku murid/mahasiswa yang kurang mengenakkan bisa menghilangkan haknya untuk mendapatkan nilai maksimal. Tetapi, tidak dibenarkan pula bila maksimalnya angka di kertas ujian membuat murid/mahasiswa abai terhadap aspek-aspek lain di luar nilai ujian. Murid/mahasiswa memiliki hak untuk mendapatkan nilai sesuai dengan usahanya di satu sisi, sementara di sisi lain mereka juga punya hak untuk mendapatkan pencerahan tentang nilai-nilai/values.  

 

Malang, 2 Jumadil Akhir 1442H/16 Januari 2021


Rabu, 13 Januari 2021

PROFESOR

Ada peristiwa menarik ketika saya mengajar matakuliah Philosophy of Language di Prodi S2 Tadris Bahasa Inggris IAIN Tulungagung, kelas internasional. Mahasiswa asing yang berjumlah 12 orang memanggil saya dengan sebutan profesor. Saya terhenyak ketika pertama kali mendengar sebutan tersebut ditujukan untuk saya. Terus terang, saya merasa tidak nyaman dengan sebutan tersebut.

Tidak nyaman karena saya merasa tidak pas dipanggil dengan sebutan tersebut. Yang saya tahu, profesor adalah sosok cendekiawan dengan prestasi yang jauh dari apa yang saya sudah capai selama ini. Profesor atau guru besar adalah sosok ilmuwan yang sudah lolos uji administrasi, akademik, dan sosial.  Uji administrasi adalah tahapan di mana seseoarang harus memenuhi syarat2 administrasi, semisal masa kerja, capaian jabatan akademik terakhir, jenjang pendidikan terakhir, dan lain-lain. Uji akademik adalah uji di mana seseorang harus menunjukkan kehandalannya dalam hal akademik yang dibuktikan dengan sederet karya ilmiah yang beberapa diantaranya harus terpublikasi di jurnal internasional bereputasi. Secara social, seseorang harus memperlihatkan keluwesannya dalam bermasyarakat yang dibuktikan dengan lolosnya berbagai uji termasuk approval dari senat. Singkat kata, yang saya ingat dan yang muncul di benak ketika sebutan profesor diperdengarkan adalah sosok ilmuwan dengan capaian di atas rata-rata.

Mengapa sosok seperti itu yang muncul di benak saya? Secara system, kita ini termasuk saya, sudah di-‘doktrin’ harus mengakui bahwa profesor adalah jabatan akademik tertinggi. UU Guru dan Dosen pasal 49 ayat 1 menyebutkan bahwa ‘profesor adalah jabatan akademik tertinggi pada satuan pendidikan tinggi yang mempunyai kewenangan membimbing calon doktor’. ‘Doktrin’ inilah yang akhirnya menggiring bawah sadar kita mengakui bahwa profesor adalah jabatan akademik tertinggi di dunia pendidikan. Ya, dia jabatan akademik tertinggi hingga tidak sembarang orang bisa mencpainya. Dia limited edition.

Selain itu, secara konstan saya mendengar dan menyaksikan proses terjal dan berliku yang dilalui teman-teman saya dalam upayanya memperoleh golden ticket ke panggung guru besar. Mengingat rumit dan berlikunya jalan untuk bisa memperoleh golden ticket ke panggung guru besar dan saya belum mampu meraihnya, maka begitu saya dipanggil dengan sebutan profesor, timbul ketidaknyamanan dalam batin saya dan ada protes dalam pikiran saya.  Dalam hati saya berbisik: I do not deserve that.

Di sisi lain, mengapa para mahasiswa asing tersebut dengan santainya menyebut saya dengan sebutan profesor dan bukan Ma’am atau Madam? Profesor di benak mereka tidak seheboh yang ada di benak kita. Hal ini karena di banyak negara tertentu termasuk Amerika dan Kanada, istilah profesor bisa dimaknai sebagai pertama, seseorang yang sudah mencapai prestasi akademik tertinggi seperti yang terjadi di Indonesia. Kedua, profesor juga bisa dimaknai sebagai seseorang yang telah menyelesaikan studi S3 dan mengajar di peruruan tinggi. Hal ini berarti profesor adalah sama dengan dosen di Indonesia yang sudah menyelesaikan studi S3. Bahkan, profesor juga bisa disandingkan dengan istilah assistant hingga menjadi assistant professor (asisten professor) dan bisa pula dipadukan dengan associate hingga menjadi associate professor (calon professor). Keduanya—assistant professor dan associate professor—tidak dikenal di Indonesia.

Dari sini bisa diketahui bahwa istilah profesor dimaknai secara lebih fleksibel. Istilah ini bisa merujuk kepada seseorang yang sudah mencapai prestasi akademik tertinggi, bisa pula untuk meraka yang menyandang gelar Ph.D atau Doktor dan mengajar di perguruan tinggi, serta mereka yang menjadi asisten profesor dan mereka yang calon professor. Karena pemaknaan terhadap istilah profesor yang sedemikian longgar dan fleksibel, maka tidak heran kalau mereka dengan santai memanggil saya dengan sebutan profesor karena saya memang sudah menyandang gelar doctor dan mengajar di perguruan tinggi hingga layak dipanggil professor seperti halnya mahasiswa Indonesia memanggil saya Bu, atau Ma’am. Pemahaman mereka akan profesor cukup simple dan fleksibel hingga mengesankan bahwa professor is not something special. It is a bread and butter case in the academic realm.

  Catatan yang relevan dalam hal ini adalah adanya perbedaan pemaknaan terhadap satu intilah—professor—antara saya dan mereka. Perbedaan pemaknaan tersebut memperlihatkan bahwa bahasa bisa dibentuk oleh lingkungan. ‘Doktrin’ yang ada di UU Guru dan Dosen pasal 49 ayat 1 menjadikan makna dari kata professor menjadi sedemikian sempit dan terbatas. Karenanya, figur yang menyandangnya pun juga sangat terbatas. Hal ini berbeda dengan yang dialami oleh para mahsiswa asing tersebut. Di tempat mereka sebutan professor bisa disematkan ke beberapa pihak, tidak bersifat mono, sehingga menjadikan makna profesor menjadi longgar dan fleksibel. Implikasi dari ini adalah mereka menganggap bahwa banyak pihak yang layak disebut professor, dari yang memiliki prestasi outstanding hingga yang masih calon professor pun bisa dipanngil professor. Itulah bahasa. Kadang dia sangat lentur dan manut dengan lingkungan, tetapi terkadang dia pula yang bisa mengatur dan membentuk lingkungan.  

Perbedaan pemaknaan terhadap satu istilah sangat mungkin terjadi dalam komunikasi antar budaya. Munculnya suatu istilah dan maknanya sangat dipengaruhi oleh budaya dan lingkungan. Perbedaan budaya di mana bahasa berada memungkinkan timbulnya perbedaan dalam memahami suatu istilah. Negara dengan 4 musim memiliki istilah yang berbeda dengan negara dengan 2 musim. Lingkungan agraris akan memungkinkan munculnya banyak istilah pertanian beserta maknanya. Kedekatan masyarakat dengan kehidupan teknologi akan memunculkan banyak istilah teknologi beserta maknanya. Pemahaman lintas budaya (cross cultural understanding) bagi pemakai bahasa menjadi sangat perlu untuk mengurangi kesalahpahaman dan kegagalan komunikasi.

Terakhir, makna dibentuk oleh pikiran yang dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan. Perbedaan lingkungan dan pengalaman yang dimiliki pemakai bahasa memungkinkan satu istilah memiliki variasi makna. Pemahaman budaya pemakai bahasa menjadi sangat penting untuk bisa mengurangi kesalahpahaman dan ketidaknyamanan komunikasi. Terimakasih.

 

Malang, 12 Januari 2021

 

 

 

                                  

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 06 Januari 2021

SOLITUDE

 

Ramadhan dan Idul fitri yang biasanya identik dengan kegiatan ritual keagamaan tetapi dibarengi dengan hal-hal yang berbau hedonisme semisal belanja dan mudik berbiaya tinggi, tahun ini tampil dengan bentuk yang seharusnya, yakni hening dan senyap.

Membentuk pribadi yang bertakwa. Itulah tujuan akhir dari puasa seperti yang secara eksplisit tersebut di dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183.  Takwa, dalam tafsir Al-Azhar adalah pribadi yang bisa memelihara hubungan baik dengan Allah SWT, yaitu memelihara untuk terjauh dari larangan-larangan-Nya dan memelihara diri untuk senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya. Bagaimana pribadi takwa bisa terbentuk? Puasa adalah salah satu jalan untuk bisa membentuk pribadi yang bertakwa. Puasa adalah upaya pembersihan raga dan jiwa supaya senantiasa bisa terpelihara. Raga dibersihkan dengan cara menjaga jarak dengan nafsu badaniyah, yaitu makan, minum, dan seks. Jiwa dibersihkan dengan cara menjauhkan dari pikiran buruk dan perbuatan maksiat yang bisa berujung pada dosa. Memperbanyak ibadah sebagai upaya pendekatan diri terhadap Ilahi adalah upaya lain untuk membersihkan jiwa. Pembersihan raga melalui material distancing dan pembersihan jiwa melalui spiritual approaching adalah paket komplit yang harus kita ambil bila kita ingin meraih pribadi takwa. Melihat paket tersebut, bulan Ramadhan adalah bulan yang seyogyanya senyap, hening, alias tintrim karena kita harus mengambil jarak dengan hal-hal yang sifatnya bendawi dan pada saat yang sama mendekat kepada Ilahi.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan jaman dan perubahan gaya hidup masyarakat, Ramadhan berubah menjadi bulan yang penuh dengan gegap gempita. Food festival sepertinya cocok untuk melabeli bulan Ramadhan. Budaya buka puasa bersama dengan jumlah makanan berlimpah membudaya di banyak komunitas.  Menjamurnya penjual takjil musiman di sepanjang jalan di banyak kota adalah bukti lain dari meningkatnya konsumsi makanan masyarakat selama Ramdhan. Dinas Kebersihan DKI menyebutkan bahwa ada kenaikan 10% volume sampah di 10 hari pertama Ramadhan dan itu didominasi oleh sampah makanan (Suara.com 15 Mei 2018). Apa yang terjadi di Malaysia tidak jauh beda.  Malysiandigest.com yang dilansir oleh Liputan 6 menyebutkan bahwa setiap Ramdhan rata-rata 9 ribu ton makanan dibuang setiap hari di Malaysia. Data ini diperoleh dari penelitian Limbah Padat Dan Perusahaan Umum Pembersih (SWCorp). Data tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan yang di dalamnya ada perintah untuk berpuasa tidak bedanya dengan bulan festival makanan alias food festival.

Gegap gempitanya Ramadhan tidak berakhir di buka puasa bersama. Di Indonesia, Ramadhan biasanya ditutup dengan tradisi mudik atau pulang kampung. Puasa dan pulang kampung adalah paket komplit yang keduanya harus ada. Puasa tanpa mudik ibarat sayur tak bergaram. Tradisi ini sudah mengakar bertahun-tahun. Saking mengakarnya tradisi ini, pemerintah di bawah kepemimpinan siapapun selalu memfasilitasi pemudik dengan berbagai kebijakan yang memudahkan. Adanya cuti bersama, perbaikan dan pelebaran jalan,  dan pengaturan lalulintas secara khusus untuk menyambut Idul Fitri adalah bukti konkrit kepedulian pemerintah terhadap tradisi mudik.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tradisi mudik karena tujuan awalnya adalah menjalin silaturahim dengan kerabat dan handai taulan di kampung yang sudah lama kita tinggalkan. Suatu niat baik yang patut diapresiai. Akan tetapi, tradisi mudik ini perlu dikritisi ketika sudah bergeser dari niat aslinya. Yang terlihat saat ini mudik bukan lagi sebatas penguat tali silaturahim tetapi sudah mirip dengan festival tahunan yang menghebohkan, menguras konsentrasi dan energi, dan berbiaya sangat tinggi. Kementerian Perhubungan pernah memprediksi bahwa terjadi perputaran uang sebesar Rp 10.3 trilliun selama musim mudik 2019 (Kompas.com, 9 April 2019). Jumlah yang sangat fantastis, bukan?. Uang sebesar tersebut digunakan pemudik untuk biaya perjalanan, beli oleh-oleh untuk kerabat di kampung halaman, uang saku (angpao) dan lain-lain.  

Besarnya jumlah makanan terbuang selama Ramadhan, kehebohan selama mudik, dan besarnya uang yang beredar pada musim tersebut cukup membuktikan bahwa Ramadhan dan Idul Fitri sudah tercerabut dari esensinya. Food festival dan cultural festival adalah gambaran yang pas untuk bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Hal ini berbanding terbalik dengan syariat yang mengajarkan kita untuk melakukan food distancing and spiritual approaching selama Ramadhan. Ada ketidaksinkronan antara syariat dengan respons terhadap syariat tersebut.

 

Blessing in Disguise

            Pagebluk Covid-19 mengubah semuanya. Adanya himbauan untk melakukan social and physical distancing karena pandemi Covid-19 menjadikan Ramadhan dan Idul Fitri 1441H/2020M jauh lebih tintrim dari tahun-tahun sebelumnya. Nyaris tidak ada buka puasa bersama, yang berarti nyaris tidak ada food festival. Larangan mudik dari pemerintah mengakibatkan tidak adanya kehebohan layaknya festival tahunan yang menyedot biaya, tenaga, dan konsentrasi. Kalaupun masih ada warga yang nekat mudik, kenekatan mereka tidak terlalu menghebohkan dan tidak mengurangi ketenangan Ramadhan.  Himbauan untuk melakukan social and physical distancing tidak hanya berimplikasi pada larangan berkumpul untuk buka bersama dan mudik, tetapi sampai menyentuh pada tidak direkomendasikannya shalat berjamaah di masjid dan musholla. Karena rekomendasi inilah banyak warga yang menjalankan shalat tarawih bahkan shalat Ied di kediaman masing-masing.

Bagi pemburu keramaian dan festival, anjuran social dan physical distancing sangatlah tidak mengenakkan. Sebaliknya, bagi pemburu predikat takwa yang sejati, ada atau tidak himbauan pemerintaah tersebut bukan jadi soal. Bagi mereka, Ramadhan adalah bulan penggemblengan diri, kawah candradimuka, dan masa karantina atau lockdown fisik dan mental. Kalangan ini akan dengan suka rela melakukan social and physical distancing serta spiritual approaching demi terjaganya nafsu badaniyah dan batiniyah yang berujung tercapainya pribadi yang takwa.

Ketika anjuran social and physical distancing  muncul seperti tahun ini, kalangan ini menganggapnya sebagai bonus. Anjuran tersebut mengurangi aktifitas manusia secara signifikan sehingga membuat suasana menjadi sepi, lengang, dan senyap hingga memudahkan mereka untuk bertafakkur dan berkontemplasi. Rekomendasi untuk shalat berjamaah di rumah akan diterima dengan baik. Kalangan ini tetap meyakini bahwa shalat berjamaah di masjid sangatlah mulia, tetapi pada situasi tidak normal seperti saat pandemi, shalat di rumah pun tidak kalah mulia. Mereka berkeyakinan bahwa inilah kesempatan untuk beribadah dalam senyap. Inilah saatnya memuji-muji Ilahi dalam hening dan tanpa diketahui orang lain. Inilah waktunya untuk menangis, mengadu, dan mohon ampun kepada Sang Rabb secara lebih leluasa karena privasi jauh lebih terjaga.

Anjuran untuk menjauhi kegiatan-kegiatan sosial pun diterima dengan senyum. Kalangan ini adalah mereka yang sudah terbiasa memberi dengan tanpa harus mengunggahnya di media sosial. Ketika anjuran social distancing harus diperlakukan, bak gayung bersambut. Kebiasaan mereka memberi dalam hening akan dengan mudah terlaksana.  Hilangnya food festival bagi mereka tidak jadi soal karena penyaluran sedekah secara hening jauh lebih baik mengingat potensi riya’ dan ingin dipuji bisa ditekan semaksimal mungkin. Selain itu, anjuran social distancing bagi mereka kesempatan untuk memperbanyak waktu ‘bercengkerama’ dengan Ilahi.

Anjuran atau bahkan larangan mudik pun diterima dengan lapang dada karena keramaian dengan berbagai pernak perniknya bukanlah tujuan mereka. Bersilaturahim dengan kerabat tidak harus heboh dan berbiaya tinggi. Silaturahim bisa terjaga dalam hening melalui media virtual dan ini memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar teknologi. Senyapnya silaturahim melalui media virtual tidak menipiskan sentuhan emosi dan tidak pula merenggangkan kedekatan psikologis dengan kerabat. In short, ada sisi manis dari sekian banyak sisi pahit dari pandemi bagi orang-orang yang berfikir jernih.

 

Closing Remarks

 Tahun ini benar-benar tahun emas bagi pemburu predikat takwa sejati. Karena pandemi Covid-19, ritual keagamaan dan ritual budaya di bulan Ramadhan dilakukan dengan hening dan tanpa hingar bingar. Hening dan senyapnya Ramadhan dan Idul Fitri karena pandemi tidak berarti sepi secara spiritual dan sosial. Ruang-ruang spiritual dan sosial tetap hidup dan gemuruh di hati para pemburu takwa sejati. Akhirnya, keheningan, dalam konteks apapun, termasuk konteks ibadah, dalam bahasa Inggris disebut solitude.

 

 

Biodata Penulis

Penulis adalah dosen Tadris Bahasa Inggris IAIN Tulungagung. Minat utamanya linguistik makro: pragmatik dan discourse analysis. Matakuliah yang diampu saat ini Research Statistics dan Pragmatics in ELT.

Tulisan ini dipublikasikan di Antologi berjudul 'Lebaran di Tengah Pandemi (2): Nuansa Idul Fitri di Tengah Corona'.

Selasa, 05 Januari 2021

COVID-19 & CORONA RISTAWAN

  

Maaf, lagi-lagi tentang Corona. Saat ini Corona memang makhluk Tuhan paling seksi di bumi karena hari-hari ini tiada detik tanpa pembicaraan tentangnya. Tentunya masing-masing orang punya parameter sendiri dalam menentukan keseksiannya. Corona akan terlihat seksi bagi politisi bila dilihat dari perspektif bagaimana pemerintah menanagani wabah ini, bagaimana pemerintah menggunakan anggaran negara, dan bagaimana pemerintah menjalankan UU yang ada untuk memutus rantai penyebarannya. Pebisnis akan melihatnya sangat seksi karena saat ini banyak terbuka peluang bisnis baru meski banyak pula bisnis yang tutup karenanya. Seperti halnya mereka, saya yang suka dengan ilmu linguistik pun melihat ada yang menarik dari wabah corona, yaitu cerita di balik nama COVID-19.

COVID-19

Corona berasal dari bahasa Latin yang bermakna mahkota (crown), dan dia dijadikan nama virus yang pertama kali ditemukan di tahun 1964 oleh seorang wanita Scotlandia bernama June Almeida. Virus ini punya banyak varian, dua diantaranya menjadi penyebab penyakit SARS dan MERS. Virus Corona yang saat ini lagi mewabah merupakan jenis baru yang berbeda dengan yang menyebabkan SARS dan MERS. Karenanya, beberapa bulan lalu pemerintah Cina sempat menyebutnya Novel Corona yang bermakna Corona jenis baru. Per 23 Februari 2020, WHO mengumumkan secara resmi bahwa virus Corona jenis baru yang pertama kali muncul di Wuhan akhir tahun 2019 disebut COVID-19 yang merupakan akronim dari Corona Virus Disease 2019. Jadi, nama wabah yang saat ini lagi pandemi berawal dari Corona, kemudian menjadi Novel Corona, dan akhirnya COVID-19.

 

Corona Ristawan

Corona yang satu ini bukan nama virus, melainkan nama seorang dokter yang aktif di sebuah rumah sakit di Lamongan Jawa Timur. Namanya menjadi sangat relevan dibicarakan saat ini karena kebetulan namanya sama persis dengan nama virus penyebab Covid-19. Lebih menarik lagi karena dokter ini ternyata diamanati oleh PP Muhammadiyah untuk menjadi ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Ini menjadi menarik karena seseorang yang bernama Corona harus mengurusi virus Corona. Keduanya memiliki nama yang sama. Bedanya yang satu manusia, dan yang satunya virus.

Bagaimana dia bisa bernama Corona? Usut punya usut, ternyata dia adalah putra ketiga, dan karenanya orang tuanya berupaya mencari nama dengan C sebagai huruf pertama mengingat putra pertama dan kedua sudah berawalan dengan huruf A dan B. Di saat bingung mencari nama itulah, sang ayah membaca merk mobil Corona. Sang ayah tertarik dengan nama itu karena berawalan dengan huru C, terdengar indah, dan bermakna indah pula, yaitu mahkota. Akhirnya diambillah nama merk mobil tersebut sebagai nama putra ketiga.

So, What?

Ada pihak yang meyakini bahwa nama hanyalah label yang bisa menjadi pembeda antara orang yang satu dengan yang lain. Ungkapan legendaris Shakespeare what is in a name?  di kisah Romeo and Juliet sepertinya mengikuti aliran ini. Akan tetapi, ada pihak yang meyakini bahwa nama bukanlah semata-mata label diri, melainkan branding diri. Kelompok ini meyakini bahwa citra diri, kepercayaan diri, cara berpikir, dan perilaku seseorang bisa terbangun karena nama yang disandangnya. Nama diri yang menyiratkan optimisme dan harapan akan mendorong pemiliknya untuk berperilaku penuh semangat dalam bekerja dan pantang menyerah. Saya ada di kelompok kedua karena sepengetahuan saya, selalu ada banyak cerita di balik nama. Nama bisa merepresentasikan banyak hal, diantaranya sejarah, bunyi, bentuk dan fungsi, bahkan doa.  

Name is history alias nama merepresentasikan sejarah. Tidak jarang nama menyiratkan peristiwa penting di masa lampau, penemu sebuah temuan yang fenomenal, dan juga tahun ditemukannya sebuah temuan penting. Mexican flu adalah nama penyakit yang disebabkan oleh virus yang muncul pertama kalinya di kota Mexico. Nama ini menggambarkan dengan jelas bahwa di suatu masa, di kota Mexico telah terjadi peristiwa besar, yaitu munculnya virus penyebab penyakit yang mewabah di banyak negara. Contoh lain dari nama yang merepresentasikan sejarah adalah nama skala suhu fahrenheit yang diambil dai nama penemunya, yaitu ilmuwan Jerman Gabriel Fahrenheit (1636-1786). Dengan diabadikannya nama penemu pada hasil temuannya, maka khalayak akan belajar sejarah dari temuan tersebut, minimal mengetahui nama penemunya. Tahun temuan adalah aspek lain dari sejarah yang bisa kita jumpai pada sebuah nama. Angka 19 di COVID-19 menandakan tahun tersebut adalah tahun ditemukannya virus Corona jenis baru, yang menjadi penyebab COVID-19. Dengan disematkannya angka 19, khalayak menjadi sadar bahwa tahun 2019 adalah tahun penting bagi epidemiologi karena di tahun tersebut ada virus baru yang menyebabkan pandemi di seantero bumi dan merenggut banyak nyawa. Jejak sejarah menjadi tergambar sangat jelas dengan menjadikan tahun kemunculan virus sebagai bagian dari nama.

Name is the representation of sounds, shapes, and functions alias nama merupakan representasi bunyi, bentuk dan fungsi. Keterkaitan antara nama dengan bentuk atau fungsi tertentu sering kita jumpai. Binatang melata di dinding kita namai cicak karena bunyi yang dihasilkannya, dan kain penutup kepala disebut kerudung karena fungsinya mengerudungi. Keduanya adalah contoh dari keterkaitan antara nama dengan bunyi dan fungsi dari benda yang dilabeli. Hal senada terjadi pada virus Corona. Nama Corona menyiratkan keterkaitan antara nama dan bentuk. Virus ini bentuknya mirip dengan mahkota, maka oleh penemunya dia diberi nama Corona yang bermakna mahkota. Sedangkan nama Novel Corona menyiratkan keterkaitan antara nama dan sifat. Novel, diambil dari bahasa Inggris, bermakna baru. Maka nama Novel Corona berarti virus Corona jenis baru.

Name is hopes alias nama adalah doa. Nama merepresentasikan harapan dan doa. Disadari atau tidak ternyata nama bisa memengaruhi kepribadian, perkembangan emosi dan sifat pemiliknya. Nama yang baik akan menciptakan citra diri yang baik bagi pemiliknya, dan begitu sebaliknya. Orang akan cenderung berupaya berlaku sesuai dengan citra yang diciptakan oleh namanya. Oleh sebab itu, ketika nama yang meyiratkan citra dan harapan yang baik akan mendorong penyandangnya untuk berbuat terbaik sesuai dengan makna dari namanya. Nama juga bisa membentuk image. Nama yang baik akan menciptakan image yang baik bagi penyandangnya, dan begitu sebaliknya. Bila seseorang diberi nama Mawar, maka penyandang nama tersebut akan tercitrakan sebagai individu dengan tampilan fisik yang memesona dengan kepribadian yang menarik layaknya bunga mawar. Inilah yang terjadi pada kasus nama Corona Ristawan yang saya angkat di awal tulisan ini. Dengan memberi nama putranya Corona yang bermakna mahkota, sang orang tua berharap dan berdoa semoga sang putra kelak menjadi anak yang penuh prestasi karena hanya individu dengan prestasi terbaik yang biasanya mendapatkan mahkota (corona). Dengan diangkatnya dr Corona Ristawan sebagai Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) dan sekarang ditarik ke dalam Tim BNPB, menunjukkan bahwa mahkota yang tersirat dalam namanya sudah terpasang di atas kepalanya.

Sebaliknya, nama juga mencitrakan seseorang menjadi sangat buruk dan terstigma. Spanish Flu atau flu Spanyol akan mencitrakan bangsa Spanyol sebagai sumber penyakit yang menjadi pandemi di tahun 1920. Mungkin karena alasan inilah WHO menghindari menyebut nama negara atau wilayah atau nama seseorang ketika akan memberi nama penyakit yang saat ini sedang mewabah di seantero planet bumi. Misalnya nama pandemi ini dinamai Wuhan Corona, maka hampir bisa dipastikan betapa terstigmanya kota Wuhan dan ini akan berimplikasi pada munculnya sikap rasis dan anti Wuhan. Sungguh, bukan situasi yang sehat baik secara mental maupun sosial.

Nama bukanlah sesuatu yang random. Mungkin begitulah kesimpulan yang pas untuk contoh-contoh kasus di atas. Di baliknya ada pola, ada sejarah, dan ada doa. Mencermati nama, kita bisa belajar banyak tentang keteraturan bahasa, kita bisa menggali sejarah, kita juga bisa ‘mendengar’ doa yang terpanjat oleh pemberi nama. Name is not nothing, but something. 

Akhirnya, bagaimana nama dengan segala cerita di baliknya bisa dihubungkan dengan WFH yang merupakan tema besar dari antologi yang akan memuat tulisan ini? Sepintas tulisan ini memang tidak terkait langsung dengan WFH karena di tulisan ini saya tidak menulis sama sekali tentang WFH dengan segala pernak perniknya. Akan tetapi, semua proses dari tulisan amat sederhana ini—mulai dari membaca sampai revisi—saya lakukan di rumah. Jadi, tulisan singkat sederhana ini tidak bercerita tentang WFH dengan segala dinamikanya, tetapi ini adalah produk dari WFH. Itulah kaitan antara keduanya. Semoga bisa dipahami. Terimakasih......

 

Biodata Penulis

Penulis adalah dosen Tadris Bahasa Inggris IAIN Tulungagung. Minat utamanya linguistik makro: pragmatik dan discourse analysis. Matakuliah yang diampu saat ini Research Statistics dan Pragmatics in ELT.

Tulisan ini dimuat di Antologi 'Work from Home'

 

Senin, 04 Januari 2021

WISATA BAHASA DI TUNISIA

Wisata Bahasa. Istilah ini mengacu pada segala aktifitas yang memungkinkan peserta POSFI menggunakan bahasa setempat baik secara aktif maupun pasif. Membaca petunjuk arah, memperhatikan daftar harga di pasar swalayan, tawar menawar dengan pedagang di pasar tradisional, menanyakan arah angkot kepada sang sopir, berdialog dengan dosen dan mahasiswa di kampus adalah contoh kegiatan wisata bahasa.

Dari wisata bahasa yang saya lakukan selama hampir tiga minggu di Tunisia, saya menyimpulkan bahwa masyarakat Tunisia secara kebahasaan sangat unik (linguistically unique). Pertama, adanya dualisme dominasi antara bahasa resmi dan bahasa kedua. Berdasarkan konstitusi, bahasa resmi (official language) Tunisia adalah bahasa Arab, dan bahasa Perancis sebagai bahasa kedua (second language). Faktanya, bahasa kedua tidak kalah dominan dari bahasa resmi, atau bahkan lebih dominan. Banyak dokumen resmi, semisal surat yang dikeluarkan oleh instansi pemerintah, pengumuman di kampus, jadwal kuliah, dll yang ditulis dalam bahasa Perancis. Nama-nama gedung dan bangunan ditulis dalam bahasa Arab dan Perancis, yang menyiratkan bahwa bahasa Perancis kedudukannya setara dengan bahasa Arab.

Kedua, masyarakat Tunisia memiliki bahasa komunikasi yang mereka sebut bahasa Darija. Ini adalah variasi bahasa Arab yang banyak berbeda dengan bahasa Arab standar yang dipakai di negara berbahasa Arab (Arabic speaking countries). Perbedaan yang sangat menonjol dari keduanya adalah pada aspek morfologi atau bentukan kata. Kata-kata dalam bahasa Darija banyak dipengaruhi oleh bahasa Perancis dan bahasa-bahasa lain yang ada di Tunisia. Kalau Arab standar ada kata thayyib yang berarti komentar positif terhadap sesuatu atau setara dengan OK, maka di Darija ada dakurdoo. Terima kasih yang dalam bahasa Arab standar syukran, dalam bahasa Darija disebut mershee. Keberadaan kata-kata sejenis dakurdoo, mershee, dan kata-kata lainnya merupakan kreatifitas masyarakat Tunisisa yang banyak dipengaruhi oleh posisinya sebagai multiple linguistic community. Dibutuhkan kajian morfologis yang mendalam untuk mengetahui pola pembentukan kata-kata dalam bahasa Darija.

Wisata bahasa yang saya lakukan berakhir pada kesimpulan bahwa ada ‘perang’ pengaruh antara Perancis dan Arab. Keduanya seolah olah sama-sama berupaya menarik hati masyarakat Tunisia meskipun mungkin masyarakat sendiri tidak menyadarinya. Bahasa adalah salah satu representasi dari budaya. Maka, penguasaan bahasa berarti penguasaan budaya, termasuk di dalamnya pola pikir atau bahkan ideologi. Dominannya bahasa Perancis di Tunisia apakah berarti dominan pula budaya Perancis di negeri tersebut, memang masih memerlukan kajian sosiologis yang lebih jauh. (Nurul IAIN Tulungagung, Peserta POSFI 2015 Tunisia).


Tulisan ini dimuat di Website Diktis Kemenag RI, tanggal 6 November 2015 (http://diktis.kemenag.go.id/NEW/index.php?berita=detil&jenis=news&jd=565#.XeMYjsJ7nug

Sabtu, 02 Januari 2021

BAHASA INDONESIA DI TUNISIA

 

Mengajar bahasa Indonesia di Jurusan Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Sousse Tunisia adalah tugas utama saya ketika menjadi peserta POSFI 2015. Di jurusan tersebut, bahasa Indonesia menjadi matakuliah pilihan. Dengan status sebagai matakuliah pilihan, maka hanya mahasiswa yang benar-benar berminatlah yang memprogramnya. Tercatat sekitar dua puluh mahasiswa yang setiap minggunya hadir di kuliah saya.

Dari sisi materi, matakuliah ini tergolong ringan karena tingkat kemahiran berbahasa mahasiswanya adalah pra dasar (pre elementary). Materi yang saya ajarkan meliputi empat ketrampilan berbahasa—menyimak, berbicara, membaca, menulis—dan dua komponen bahasa: tata bahasa dan kosa kata yang kesemuanya saya ajarkan secara integratif. Sebagai penutur asli, materi ajar ketrampilan berbahasa dan komponen bahasa pada tingkat pra dasar tentu tidak terlalu sulit. Materi ajar yang saya sampaikan tidak sesulit teori-teori pragmatik maupun analisis wacana, dan juga tidak serumit konsep-konsep penelitian maupun statistik, yaitu matakuliah yang biasanya saya ampu di tanah air.

Akan tetapi, di balik mudah dan sederhananya materi yang saya sampaikan, matakuliah ini ternyata mampu menciptakan suasana batin yang tidak pernah saya rasakan ketika saya mengampu matakuliah linguitik, riset, maupun statistik. Bahasa Indonesia yang saya ajarkan di salah satu sudut kampus di kota Sousse ini mampu memunculkan rasa bangga (pride) dan ikut memiliki (sense of belonging) terhadap keunggulan dan keunikan Indonesia. Sebenarnya ada apa di balik bahasa Indonesia sehingga rasa bangga (pride) dan rasa memiliki (sense of belonging) bisa menyeruak dan menguat?

Bahasa sebagai Identitas

Secara singkat, identitas bisa dimaknai sebagai ciri khas yang bisa membedakan antara sesuatu dengan yang lainnya. Bahasa, selain sebagai alat komunikasi, juga bisa menjadi identitas manusia yang bisa membedakannya dengan makhluk lain. Bahasa juga menjadi identitas suatu bangsa yang membedakannya dengan bangsa lain.

Manusia memiliki kemampuan linguistik (linguistic capacity), yaitu kemampuan untuk memahami dan menciptakan informasi kebahasaan dalam jumlah yang tidak terbatas. Hal ini karena, seperti yang diyakini oleh Chomsky, manusia dibekali dengan Linguistic Acquisition Device (LAD), suatu kemampuan untuk memahami dan memproduksi bahasa. Dengan LAD, maka ketika menemukan kalimat yang berbunyi Ibu mengajar di kelas, manusia bisa menentukan bahwa Ibu mengajar membentuk satu unit, sedangkan mengajar di bukan. Berbekal LAD pula, dengan contoh yang sangat terbatas, misalnya ayah pergi, seorang anak akhirnya bisa membuat kalimat bunda mengajar, adik menangis, kakak belajar, kakek mengaji, dll. Hal ini dikarenakan dengan LAD, manusia mampu menemukan pola dari contoh yang ada sehingga ia mampu membuat kalimat dengan pola yang sama dalam jumlah yang tidak terbatas. Dengan kata lain, bahasa bagi manusia adalah kreatifitas, bukan sesuatu yang statis dan mekanis.

Hal ini berbeda dengan kemampuan berbahasa yang dimiliki burung beo atau binatang lain. Dengan berbekal latihan intensif dengan pelatihnya, burung beo, simpanse, dan orang utan terbukti bisa mengucapkan beberapa patah kata atau bahkan mungkin beberapa kalimat sederhana. Akan tetapi, binatang-binatang tersebut tidak bisa beranjak dari kosa kata ataupun kalimat sederhana yang diajarkan pelatihnya. Hal ini karena binatang tidak dibekali LAD sehingga kemampuan kebahasaannya bersifat sangat statis, mekanis, imitatif , dan tidak ada kreatifitas sama sekali. Singkat kata, bahasa manusia yang identik dengan kreatifitas menjadi salah satu pembeda anatara manusia dengan makhluk lain.

Bahasa juga bisa menjadi pembeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Mengapa? Hal ini karena bahasa mengungkap banyak hal tentang pemakainya, salah satunya adalah budaya. Budaya egaliter yang dianut pemakainya bisa kita tangkap dari pemakaian kata ganti orang kedua dalam bahasa Inggris. Kata ganti you bisa dipakai untuk semua mitra tutur tanpa memerhatikan usia maupun status sosial. Sebaliknya, budaya tepa selira dan unggah ungguh yang melekat erat pada masyarakat Indonesia bisa dilacak dari kata ganti orang kedua yang memiliki banyak varian: kamu, engkau, Anda, Bapak/Ibu, dan nama diri. Keberadaan pemerintahan masa lampau yang berbentuk kerajaan bisa terlacak dari penggunaan kata ganti orang pertama dalam bahasa Indonesia: saya yang berasal dari kata sahaya. Sahaya adalah suatu istilah yang khusus untuk mereka yang mengabdikan dirinya pada keluarga kerajaan. Penggunaan kata saya yang berasal dari sahaya mengisyaratkan bahwa di masa lampau negara Indonesia pernah berbentuk kerajaan. Rincinya istilah yang terkait dengan komputer dalam bahasa Inggris—keyboard, monitor, memory, block, insert, dll—mennunjuukan bahwa pemakai bahasa tersebut adalah masyarakat yang dekat dengan teknologi. Technology is the way of their life. Banyaknya nama hasil pertanian dalam bahasa Indonesia dan tidak ada dalam bahasa lain, semisal Inggris—rambutan, belimbing, durian, terung, salak, dll—menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris. Agriculture is the way of our life. Singkat kata, di balik bahasa, ada banyak aspek dari pemakainya yang bisa terungkap. Melalui bahasa, perbedaan budaya, sejarah, mata pencaharian suatu bangsa  bisa terungkap.

Bahasa, ketika sudah dinobatkan sebagai bahasa nasional, maka dia bisa berfungsi sebagai identitas nasional. Sebagai identitas nasional, bahasa bisa merepresentasikan suatu bangsa layaknya bendera nasional. Keberadaan bahasa nasional di negara lain berarti pengakuan terhadap keberadaan negara pemilik bahasa nasional tersebut. Sebagai identitas nasional, bahasa bisa menumbuhkan sikap primordial bagi pemakainya yang  dikarenakan bahasa bisa memunculkan perasaan in-group antar para pemakainya. Seseorang yang berada di luar negeri akan merasa dekat dengan orang lain yang berbicara dengan bahasa nasional yang sama. Bahasa nasional, layaknya simbol-simbol nasional lainnya bisa merekatkan keretakan dan mendekatkan mereka yang berjauhan.   

Berangkat dari fungsi bahasa sebagai identitas, maka saya beranggapan bahwa tugas mengajar bahasa Indonesia di Tunisia bukanlah tugas remeh. Terlepas dari status matakuliah tersebut yang hanya sebagai matakuliah pilihan dengan peminat hanya sekitar 20 orang, tugas ini mengemban misi besar, yaitu mengenalkan Indonesia dengan budaya, sejarah, pola pikir, dan berbagai atribut yang melingkupinya. Menginagat bahasa nasional adalah salah satu identitas nasional, maka mengajar bahasa Indonesia di negeri orang berarti mengenalkan identitas bangsa kepada bangsa lain. Menyadari akan pentingnya tugas tersebut, maka tidak heran ketika siapapun yang menjalankan tugas tersebut mengalami suasana batin yang seperti saya sampaikan di awal tulisan ini, yaitu perasaan bangga (pride) dan memiliki (sense of belonging) terhadap bangsanya.

Identitas nasional memang bisa memunculkan dan menguatkan perasaan in-group. Perasaan in-group akan semakin mengemuka di saat ada situasi sulit. Berada di negeri seberang yang berjarak ribuan kilometer dari tanah air, yang memaksa saya harus terpisah dari keluarga dan para sahabat bukanlah situasi mudah. Tekanan psikhologis terasa semakin mengemuka karena perbedaan budaya yang meliputi hampir semua lini. Makanan, bahasa, cuaca, bahkan cara mandi yang berbeda dengan yang ada di tanah air memerlukan penyesuaian yang tidak mudah. Dalam situasi seperti itu, ketergantungan saya terhadap tempat asal terasa sedemikian kuat. Ketergantungan ini pada akhirnya bisa menguatkan rasa cinta dan bangga terhadap apapun yang berkaitan dengan tanah air. Karenanya, tidak mengherankan apabila tugas mengajar bahasa Indonesia di Tunisia bisa memunculkan perasaan yang berbeda dengan tugas mengajar pragmatik, analisis wacana, maupun statistik seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini. Akhirnya, bahasa tidak semata-mata terkait dengan aspek ponemik, morfologis, sintaksis, dan semantis. Budaya dan nasionalisme adalah aspek lain di balik bahasa.  


Tulisan ini bisa dipublikasikan di buku "Inspirasi dari Ruang Kuliah".

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...