Sabtu, 02 Januari 2021

BAHASA INDONESIA DI TUNISIA

 

Mengajar bahasa Indonesia di Jurusan Sejarah Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Sousse Tunisia adalah tugas utama saya ketika menjadi peserta POSFI 2015. Di jurusan tersebut, bahasa Indonesia menjadi matakuliah pilihan. Dengan status sebagai matakuliah pilihan, maka hanya mahasiswa yang benar-benar berminatlah yang memprogramnya. Tercatat sekitar dua puluh mahasiswa yang setiap minggunya hadir di kuliah saya.

Dari sisi materi, matakuliah ini tergolong ringan karena tingkat kemahiran berbahasa mahasiswanya adalah pra dasar (pre elementary). Materi yang saya ajarkan meliputi empat ketrampilan berbahasa—menyimak, berbicara, membaca, menulis—dan dua komponen bahasa: tata bahasa dan kosa kata yang kesemuanya saya ajarkan secara integratif. Sebagai penutur asli, materi ajar ketrampilan berbahasa dan komponen bahasa pada tingkat pra dasar tentu tidak terlalu sulit. Materi ajar yang saya sampaikan tidak sesulit teori-teori pragmatik maupun analisis wacana, dan juga tidak serumit konsep-konsep penelitian maupun statistik, yaitu matakuliah yang biasanya saya ampu di tanah air.

Akan tetapi, di balik mudah dan sederhananya materi yang saya sampaikan, matakuliah ini ternyata mampu menciptakan suasana batin yang tidak pernah saya rasakan ketika saya mengampu matakuliah linguitik, riset, maupun statistik. Bahasa Indonesia yang saya ajarkan di salah satu sudut kampus di kota Sousse ini mampu memunculkan rasa bangga (pride) dan ikut memiliki (sense of belonging) terhadap keunggulan dan keunikan Indonesia. Sebenarnya ada apa di balik bahasa Indonesia sehingga rasa bangga (pride) dan rasa memiliki (sense of belonging) bisa menyeruak dan menguat?

Bahasa sebagai Identitas

Secara singkat, identitas bisa dimaknai sebagai ciri khas yang bisa membedakan antara sesuatu dengan yang lainnya. Bahasa, selain sebagai alat komunikasi, juga bisa menjadi identitas manusia yang bisa membedakannya dengan makhluk lain. Bahasa juga menjadi identitas suatu bangsa yang membedakannya dengan bangsa lain.

Manusia memiliki kemampuan linguistik (linguistic capacity), yaitu kemampuan untuk memahami dan menciptakan informasi kebahasaan dalam jumlah yang tidak terbatas. Hal ini karena, seperti yang diyakini oleh Chomsky, manusia dibekali dengan Linguistic Acquisition Device (LAD), suatu kemampuan untuk memahami dan memproduksi bahasa. Dengan LAD, maka ketika menemukan kalimat yang berbunyi Ibu mengajar di kelas, manusia bisa menentukan bahwa Ibu mengajar membentuk satu unit, sedangkan mengajar di bukan. Berbekal LAD pula, dengan contoh yang sangat terbatas, misalnya ayah pergi, seorang anak akhirnya bisa membuat kalimat bunda mengajar, adik menangis, kakak belajar, kakek mengaji, dll. Hal ini dikarenakan dengan LAD, manusia mampu menemukan pola dari contoh yang ada sehingga ia mampu membuat kalimat dengan pola yang sama dalam jumlah yang tidak terbatas. Dengan kata lain, bahasa bagi manusia adalah kreatifitas, bukan sesuatu yang statis dan mekanis.

Hal ini berbeda dengan kemampuan berbahasa yang dimiliki burung beo atau binatang lain. Dengan berbekal latihan intensif dengan pelatihnya, burung beo, simpanse, dan orang utan terbukti bisa mengucapkan beberapa patah kata atau bahkan mungkin beberapa kalimat sederhana. Akan tetapi, binatang-binatang tersebut tidak bisa beranjak dari kosa kata ataupun kalimat sederhana yang diajarkan pelatihnya. Hal ini karena binatang tidak dibekali LAD sehingga kemampuan kebahasaannya bersifat sangat statis, mekanis, imitatif , dan tidak ada kreatifitas sama sekali. Singkat kata, bahasa manusia yang identik dengan kreatifitas menjadi salah satu pembeda anatara manusia dengan makhluk lain.

Bahasa juga bisa menjadi pembeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Mengapa? Hal ini karena bahasa mengungkap banyak hal tentang pemakainya, salah satunya adalah budaya. Budaya egaliter yang dianut pemakainya bisa kita tangkap dari pemakaian kata ganti orang kedua dalam bahasa Inggris. Kata ganti you bisa dipakai untuk semua mitra tutur tanpa memerhatikan usia maupun status sosial. Sebaliknya, budaya tepa selira dan unggah ungguh yang melekat erat pada masyarakat Indonesia bisa dilacak dari kata ganti orang kedua yang memiliki banyak varian: kamu, engkau, Anda, Bapak/Ibu, dan nama diri. Keberadaan pemerintahan masa lampau yang berbentuk kerajaan bisa terlacak dari penggunaan kata ganti orang pertama dalam bahasa Indonesia: saya yang berasal dari kata sahaya. Sahaya adalah suatu istilah yang khusus untuk mereka yang mengabdikan dirinya pada keluarga kerajaan. Penggunaan kata saya yang berasal dari sahaya mengisyaratkan bahwa di masa lampau negara Indonesia pernah berbentuk kerajaan. Rincinya istilah yang terkait dengan komputer dalam bahasa Inggris—keyboard, monitor, memory, block, insert, dll—mennunjuukan bahwa pemakai bahasa tersebut adalah masyarakat yang dekat dengan teknologi. Technology is the way of their life. Banyaknya nama hasil pertanian dalam bahasa Indonesia dan tidak ada dalam bahasa lain, semisal Inggris—rambutan, belimbing, durian, terung, salak, dll—menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris. Agriculture is the way of our life. Singkat kata, di balik bahasa, ada banyak aspek dari pemakainya yang bisa terungkap. Melalui bahasa, perbedaan budaya, sejarah, mata pencaharian suatu bangsa  bisa terungkap.

Bahasa, ketika sudah dinobatkan sebagai bahasa nasional, maka dia bisa berfungsi sebagai identitas nasional. Sebagai identitas nasional, bahasa bisa merepresentasikan suatu bangsa layaknya bendera nasional. Keberadaan bahasa nasional di negara lain berarti pengakuan terhadap keberadaan negara pemilik bahasa nasional tersebut. Sebagai identitas nasional, bahasa bisa menumbuhkan sikap primordial bagi pemakainya yang  dikarenakan bahasa bisa memunculkan perasaan in-group antar para pemakainya. Seseorang yang berada di luar negeri akan merasa dekat dengan orang lain yang berbicara dengan bahasa nasional yang sama. Bahasa nasional, layaknya simbol-simbol nasional lainnya bisa merekatkan keretakan dan mendekatkan mereka yang berjauhan.   

Berangkat dari fungsi bahasa sebagai identitas, maka saya beranggapan bahwa tugas mengajar bahasa Indonesia di Tunisia bukanlah tugas remeh. Terlepas dari status matakuliah tersebut yang hanya sebagai matakuliah pilihan dengan peminat hanya sekitar 20 orang, tugas ini mengemban misi besar, yaitu mengenalkan Indonesia dengan budaya, sejarah, pola pikir, dan berbagai atribut yang melingkupinya. Menginagat bahasa nasional adalah salah satu identitas nasional, maka mengajar bahasa Indonesia di negeri orang berarti mengenalkan identitas bangsa kepada bangsa lain. Menyadari akan pentingnya tugas tersebut, maka tidak heran ketika siapapun yang menjalankan tugas tersebut mengalami suasana batin yang seperti saya sampaikan di awal tulisan ini, yaitu perasaan bangga (pride) dan memiliki (sense of belonging) terhadap bangsanya.

Identitas nasional memang bisa memunculkan dan menguatkan perasaan in-group. Perasaan in-group akan semakin mengemuka di saat ada situasi sulit. Berada di negeri seberang yang berjarak ribuan kilometer dari tanah air, yang memaksa saya harus terpisah dari keluarga dan para sahabat bukanlah situasi mudah. Tekanan psikhologis terasa semakin mengemuka karena perbedaan budaya yang meliputi hampir semua lini. Makanan, bahasa, cuaca, bahkan cara mandi yang berbeda dengan yang ada di tanah air memerlukan penyesuaian yang tidak mudah. Dalam situasi seperti itu, ketergantungan saya terhadap tempat asal terasa sedemikian kuat. Ketergantungan ini pada akhirnya bisa menguatkan rasa cinta dan bangga terhadap apapun yang berkaitan dengan tanah air. Karenanya, tidak mengherankan apabila tugas mengajar bahasa Indonesia di Tunisia bisa memunculkan perasaan yang berbeda dengan tugas mengajar pragmatik, analisis wacana, maupun statistik seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini. Akhirnya, bahasa tidak semata-mata terkait dengan aspek ponemik, morfologis, sintaksis, dan semantis. Budaya dan nasionalisme adalah aspek lain di balik bahasa.  


Tulisan ini bisa dipublikasikan di buku "Inspirasi dari Ruang Kuliah".

3 komentar:

  1. Luar biasa, Ibu Nurul. Banyak sekali sari-sari yang saya dapatkan dari membaca pengalaman Ibu di Tunisia. Rasa pride dan sense of belonging ikut terasa ketika Ibu, salah satu dosen terbaik mengenalkan bahasa Indonesia di negeri orang. Terima kasih inspirasinya, Ibu Nurul. 💕

    BalasHapus

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...