Mengajar bahasa Indonesia di Jurusan Sejarah Fakultas Adab dan
Humaniora Universitas Sousse Tunisia adalah tugas utama saya ketika menjadi
peserta POSFI 2015. Di jurusan tersebut, bahasa Indonesia menjadi matakuliah
pilihan. Dengan status sebagai matakuliah pilihan, maka hanya mahasiswa yang
benar-benar berminatlah yang memprogramnya. Tercatat sekitar dua puluh
mahasiswa yang setiap minggunya hadir di kuliah saya.
Dari sisi materi, matakuliah ini tergolong ringan karena tingkat
kemahiran berbahasa mahasiswanya adalah pra dasar (pre elementary). Materi
yang saya ajarkan meliputi empat ketrampilan berbahasa—menyimak, berbicara,
membaca, menulis—dan dua komponen bahasa: tata bahasa dan kosa kata yang kesemuanya
saya ajarkan secara integratif. Sebagai penutur asli, materi ajar ketrampilan
berbahasa dan komponen bahasa pada tingkat pra dasar tentu tidak terlalu sulit.
Materi ajar yang saya sampaikan tidak sesulit teori-teori pragmatik maupun
analisis wacana, dan juga tidak serumit konsep-konsep penelitian maupun statistik,
yaitu matakuliah yang biasanya saya ampu di tanah air.
Akan tetapi, di balik mudah dan sederhananya materi yang saya
sampaikan, matakuliah ini ternyata mampu menciptakan suasana batin yang tidak
pernah saya rasakan ketika saya mengampu matakuliah linguitik, riset, maupun
statistik. Bahasa Indonesia yang saya ajarkan di salah satu sudut kampus di
kota Sousse ini mampu memunculkan rasa bangga (pride) dan ikut memiliki (sense
of belonging) terhadap keunggulan dan keunikan Indonesia. Sebenarnya ada
apa di balik bahasa Indonesia sehingga rasa bangga (pride) dan rasa
memiliki (sense of belonging) bisa menyeruak dan menguat?
Bahasa
sebagai Identitas
Secara singkat, identitas bisa dimaknai sebagai ciri khas yang bisa
membedakan antara sesuatu dengan yang lainnya. Bahasa, selain sebagai alat
komunikasi, juga bisa menjadi identitas manusia yang bisa membedakannya dengan
makhluk lain. Bahasa juga menjadi identitas suatu bangsa yang membedakannya
dengan bangsa lain.
Manusia memiliki kemampuan linguistik (linguistic capacity),
yaitu kemampuan untuk memahami dan menciptakan informasi kebahasaan dalam
jumlah yang tidak terbatas. Hal ini karena, seperti yang diyakini oleh Chomsky,
manusia dibekali dengan Linguistic Acquisition Device (LAD), suatu kemampuan
untuk memahami dan memproduksi bahasa. Dengan LAD, maka ketika menemukan
kalimat yang berbunyi Ibu mengajar di kelas, manusia bisa menentukan
bahwa Ibu mengajar membentuk satu unit, sedangkan mengajar di bukan.
Berbekal LAD pula, dengan contoh yang sangat terbatas, misalnya ayah pergi, seorang
anak akhirnya bisa membuat kalimat bunda mengajar, adik menangis, kakak
belajar, kakek mengaji, dll. Hal ini dikarenakan dengan LAD, manusia mampu
menemukan pola dari contoh yang ada sehingga ia mampu membuat kalimat dengan
pola yang sama dalam jumlah yang tidak terbatas. Dengan kata lain, bahasa bagi
manusia adalah kreatifitas, bukan sesuatu yang statis dan mekanis.
Hal ini berbeda dengan kemampuan berbahasa yang dimiliki burung beo
atau binatang lain. Dengan berbekal latihan intensif dengan pelatihnya, burung
beo, simpanse, dan orang utan terbukti bisa mengucapkan beberapa patah kata
atau bahkan mungkin beberapa kalimat sederhana. Akan tetapi, binatang-binatang
tersebut tidak bisa beranjak dari kosa kata ataupun kalimat sederhana yang
diajarkan pelatihnya. Hal ini karena binatang tidak dibekali LAD sehingga kemampuan
kebahasaannya bersifat sangat statis, mekanis, imitatif , dan tidak ada
kreatifitas sama sekali. Singkat kata, bahasa manusia yang identik dengan
kreatifitas menjadi salah satu pembeda anatara manusia dengan makhluk lain.
Bahasa juga bisa menjadi pembeda antara bangsa yang satu dengan
bangsa yang lain. Mengapa? Hal ini karena bahasa mengungkap banyak hal tentang
pemakainya, salah satunya adalah budaya. Budaya egaliter yang dianut pemakainya
bisa kita tangkap dari pemakaian kata ganti orang kedua dalam bahasa Inggris.
Kata ganti you bisa dipakai untuk semua mitra tutur tanpa memerhatikan
usia maupun status sosial. Sebaliknya, budaya tepa selira dan unggah
ungguh yang melekat erat pada masyarakat Indonesia bisa dilacak dari kata
ganti orang kedua yang memiliki banyak varian: kamu, engkau, Anda,
Bapak/Ibu, dan nama diri. Keberadaan pemerintahan masa lampau yang
berbentuk kerajaan bisa terlacak dari penggunaan kata ganti orang pertama dalam
bahasa Indonesia: saya yang berasal dari kata sahaya. Sahaya
adalah suatu istilah yang khusus untuk mereka yang mengabdikan dirinya pada
keluarga kerajaan. Penggunaan kata saya yang berasal dari sahaya mengisyaratkan
bahwa di masa lampau negara Indonesia pernah berbentuk kerajaan. Rincinya
istilah yang terkait dengan komputer dalam bahasa Inggris—keyboard, monitor,
memory, block, insert, dll—mennunjuukan bahwa pemakai bahasa tersebut
adalah masyarakat yang dekat dengan teknologi. Technology is the way of
their life. Banyaknya nama hasil pertanian dalam bahasa Indonesia dan tidak
ada dalam bahasa lain, semisal Inggris—rambutan, belimbing, durian, terung, salak,
dll—menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat agraris. Agriculture
is the way of our life. Singkat kata, di balik bahasa, ada banyak aspek
dari pemakainya yang bisa terungkap. Melalui bahasa, perbedaan budaya, sejarah,
mata pencaharian suatu bangsa bisa
terungkap.

Bahasa, ketika sudah dinobatkan sebagai bahasa nasional, maka dia
bisa berfungsi sebagai identitas nasional. Sebagai identitas nasional, bahasa
bisa merepresentasikan suatu bangsa layaknya bendera nasional. Keberadaan
bahasa nasional di negara lain berarti pengakuan terhadap keberadaan negara
pemilik bahasa nasional tersebut. Sebagai identitas nasional, bahasa bisa
menumbuhkan sikap primordial bagi pemakainya yang dikarenakan bahasa bisa memunculkan perasaan in-group
antar para pemakainya. Seseorang yang berada di luar negeri akan merasa
dekat dengan orang lain yang berbicara dengan bahasa nasional yang sama. Bahasa
nasional, layaknya simbol-simbol nasional lainnya bisa merekatkan keretakan dan
mendekatkan mereka yang berjauhan.
Berangkat dari fungsi bahasa sebagai identitas, maka saya
beranggapan bahwa tugas mengajar bahasa Indonesia di Tunisia bukanlah tugas
remeh. Terlepas dari status matakuliah tersebut yang hanya sebagai matakuliah
pilihan dengan peminat hanya sekitar 20 orang, tugas ini mengemban misi besar,
yaitu mengenalkan Indonesia dengan budaya, sejarah, pola pikir, dan berbagai
atribut yang melingkupinya. Menginagat bahasa nasional adalah salah satu
identitas nasional, maka mengajar bahasa Indonesia di negeri orang berarti
mengenalkan identitas bangsa kepada bangsa lain. Menyadari akan pentingnya
tugas tersebut, maka tidak heran ketika siapapun yang menjalankan tugas
tersebut mengalami suasana batin yang seperti saya sampaikan di awal tulisan
ini, yaitu perasaan bangga (pride) dan memiliki (sense of belonging) terhadap
bangsanya.
Identitas nasional memang bisa memunculkan dan menguatkan perasaan in-group.
Perasaan in-group akan semakin mengemuka di saat ada situasi sulit. Berada
di negeri seberang yang berjarak ribuan kilometer dari tanah air, yang memaksa
saya harus terpisah dari keluarga dan para sahabat bukanlah situasi mudah.
Tekanan psikhologis terasa semakin mengemuka karena perbedaan budaya yang
meliputi hampir semua lini. Makanan, bahasa, cuaca, bahkan cara mandi yang
berbeda dengan yang ada di tanah air memerlukan penyesuaian yang tidak mudah.
Dalam situasi seperti itu, ketergantungan saya terhadap tempat asal terasa
sedemikian kuat. Ketergantungan ini pada akhirnya bisa menguatkan rasa cinta
dan bangga terhadap apapun yang berkaitan dengan tanah air. Karenanya, tidak
mengherankan apabila tugas mengajar bahasa Indonesia di Tunisia bisa
memunculkan perasaan yang berbeda dengan tugas mengajar pragmatik, analisis
wacana, maupun statistik seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini.
Akhirnya, bahasa tidak semata-mata terkait dengan aspek ponemik, morfologis,
sintaksis, dan semantis. Budaya dan nasionalisme adalah aspek lain di balik
bahasa.
Luar biasa, Ibu Nurul. Banyak sekali sari-sari yang saya dapatkan dari membaca pengalaman Ibu di Tunisia. Rasa pride dan sense of belonging ikut terasa ketika Ibu, salah satu dosen terbaik mengenalkan bahasa Indonesia di negeri orang. Terima kasih inspirasinya, Ibu Nurul. 💕
BalasHapusThank you, Mbak Zahra...
BalasHapusSelalu bergizi as always😍
BalasHapus