Ramadhan dan Idul fitri
yang biasanya identik dengan kegiatan ritual keagamaan tetapi dibarengi dengan
hal-hal yang berbau hedonisme semisal belanja dan mudik berbiaya tinggi, tahun
ini tampil dengan bentuk yang seharusnya, yakni hening dan senyap.
Membentuk pribadi yang bertakwa. Itulah tujuan akhir dari
puasa seperti yang secara eksplisit tersebut di dalam Al-Qur’an Surah
Al-Baqarah ayat 183. Takwa, dalam tafsir
Al-Azhar adalah pribadi yang bisa memelihara hubungan baik dengan Allah SWT,
yaitu memelihara untuk terjauh dari larangan-larangan-Nya dan memelihara diri
untuk senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya. Bagaimana pribadi takwa
bisa terbentuk? Puasa adalah salah satu jalan untuk bisa membentuk pribadi yang
bertakwa. Puasa adalah upaya pembersihan raga dan jiwa supaya senantiasa bisa
terpelihara. Raga dibersihkan dengan cara menjaga jarak dengan nafsu badaniyah,
yaitu makan, minum, dan seks. Jiwa dibersihkan dengan cara menjauhkan dari
pikiran buruk dan perbuatan maksiat yang bisa berujung pada dosa. Memperbanyak
ibadah sebagai upaya pendekatan diri terhadap Ilahi adalah upaya lain untuk
membersihkan jiwa. Pembersihan raga melalui material
distancing dan pembersihan jiwa melalui spiritual
approaching adalah paket komplit yang harus kita ambil bila kita ingin
meraih pribadi takwa. Melihat paket tersebut, bulan Ramadhan adalah bulan yang
seyogyanya senyap, hening, alias tintrim karena
kita harus mengambil jarak dengan hal-hal yang sifatnya bendawi dan pada saat
yang sama mendekat kepada Ilahi.
Akan
tetapi, seiring dengan perkembangan jaman dan perubahan gaya hidup masyarakat,
Ramadhan berubah menjadi bulan yang penuh dengan gegap gempita. Food festival sepertinya cocok untuk
melabeli bulan Ramadhan. Budaya buka puasa bersama dengan jumlah makanan berlimpah membudaya
di banyak komunitas. Menjamurnya penjual
takjil musiman di sepanjang jalan di banyak kota adalah bukti lain dari
meningkatnya konsumsi makanan masyarakat selama Ramdhan. Dinas Kebersihan DKI menyebutkan
bahwa ada kenaikan 10% volume sampah di 10 hari pertama Ramadhan dan itu
didominasi oleh sampah makanan (Suara.com 15 Mei 2018). Apa yang terjadi di
Malaysia tidak jauh beda. Malysiandigest.com
yang dilansir oleh Liputan 6 menyebutkan bahwa setiap Ramdhan rata-rata 9 ribu
ton makanan dibuang setiap hari di Malaysia. Data ini diperoleh dari penelitian
Limbah Padat Dan Perusahaan Umum Pembersih (SWCorp).
Data tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan yang di
dalamnya ada perintah untuk berpuasa tidak bedanya dengan bulan festival
makanan alias food festival.
Gegap gempitanya Ramadhan tidak berakhir di buka puasa
bersama. Di Indonesia, Ramadhan biasanya ditutup dengan tradisi mudik atau
pulang kampung. Puasa dan pulang kampung adalah paket komplit yang keduanya
harus ada. Puasa tanpa mudik ibarat sayur tak bergaram. Tradisi ini sudah
mengakar bertahun-tahun. Saking mengakarnya tradisi ini, pemerintah di bawah
kepemimpinan siapapun selalu memfasilitasi pemudik dengan berbagai kebijakan
yang memudahkan. Adanya cuti bersama, perbaikan dan pelebaran jalan, dan pengaturan lalulintas secara khusus untuk
menyambut Idul Fitri adalah bukti konkrit kepedulian pemerintah terhadap
tradisi mudik.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tradisi
mudik karena tujuan awalnya adalah menjalin silaturahim dengan kerabat dan
handai taulan di kampung yang sudah lama kita tinggalkan. Suatu niat baik yang
patut diapresiai. Akan tetapi, tradisi mudik ini perlu dikritisi ketika sudah
bergeser dari niat aslinya. Yang terlihat saat ini mudik bukan lagi sebatas
penguat tali silaturahim tetapi sudah mirip dengan festival tahunan yang
menghebohkan, menguras konsentrasi dan energi, dan berbiaya sangat tinggi. Kementerian
Perhubungan pernah memprediksi bahwa terjadi perputaran uang sebesar Rp 10.3
trilliun selama musim mudik 2019 (Kompas.com, 9 April 2019). Jumlah yang sangat
fantastis, bukan?. Uang sebesar tersebut digunakan pemudik untuk biaya
perjalanan, beli oleh-oleh untuk kerabat di kampung halaman, uang saku (angpao)
dan lain-lain.
Besarnya jumlah makanan terbuang selama Ramadhan,
kehebohan selama mudik, dan besarnya uang yang beredar pada musim tersebut
cukup membuktikan bahwa Ramadhan dan Idul Fitri sudah tercerabut dari
esensinya. Food festival dan cultural festival adalah gambaran yang
pas untuk bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Hal ini berbanding terbalik dengan
syariat yang mengajarkan kita untuk melakukan food distancing and spiritual
approaching selama Ramadhan. Ada
ketidaksinkronan antara syariat dengan respons terhadap syariat tersebut.
Blessing in Disguise
Pagebluk Covid-19
mengubah semuanya. Adanya himbauan untk melakukan social and physical distancing karena pandemi Covid-19 menjadikan Ramadhan
dan Idul Fitri 1441H/2020M jauh lebih tintrim
dari tahun-tahun sebelumnya. Nyaris tidak ada buka puasa bersama, yang
berarti nyaris tidak ada food festival. Larangan
mudik dari pemerintah mengakibatkan tidak adanya kehebohan layaknya festival
tahunan yang menyedot biaya, tenaga, dan konsentrasi. Kalaupun masih ada warga
yang nekat mudik, kenekatan mereka tidak terlalu menghebohkan dan tidak
mengurangi ketenangan Ramadhan. Himbauan untuk melakukan social and physical distancing tidak
hanya berimplikasi pada larangan berkumpul untuk buka bersama dan mudik, tetapi
sampai menyentuh pada tidak direkomendasikannya shalat berjamaah di masjid dan
musholla. Karena rekomendasi inilah banyak warga yang menjalankan shalat
tarawih bahkan shalat Ied di kediaman masing-masing.
Bagi pemburu keramaian dan festival, anjuran social dan physical distancing sangatlah
tidak mengenakkan. Sebaliknya, bagi pemburu predikat takwa yang sejati, ada
atau tidak himbauan pemerintaah tersebut bukan jadi soal. Bagi mereka, Ramadhan
adalah bulan penggemblengan diri, kawah candradimuka, dan masa karantina atau lockdown fisik dan mental. Kalangan ini
akan dengan suka rela melakukan social
and physical distancing serta spiritual
approaching demi terjaganya nafsu badaniyah dan batiniyah yang berujung
tercapainya pribadi yang takwa.
Ketika anjuran social
and physical distancing muncul
seperti tahun ini, kalangan ini menganggapnya sebagai bonus. Anjuran tersebut
mengurangi aktifitas manusia secara signifikan sehingga membuat suasana menjadi
sepi, lengang, dan senyap hingga memudahkan mereka untuk bertafakkur dan
berkontemplasi. Rekomendasi untuk shalat berjamaah di rumah akan diterima
dengan baik. Kalangan ini tetap meyakini bahwa shalat berjamaah di masjid
sangatlah mulia, tetapi pada situasi tidak normal seperti saat pandemi, shalat
di rumah pun tidak kalah mulia. Mereka berkeyakinan bahwa inilah kesempatan
untuk beribadah dalam senyap. Inilah saatnya memuji-muji Ilahi dalam hening dan
tanpa diketahui orang lain. Inilah waktunya untuk menangis, mengadu, dan mohon
ampun kepada Sang Rabb secara lebih leluasa karena privasi jauh lebih terjaga.
Anjuran untuk menjauhi kegiatan-kegiatan sosial pun
diterima dengan senyum. Kalangan ini adalah mereka yang sudah terbiasa memberi
dengan tanpa harus mengunggahnya di media sosial. Ketika anjuran social distancing harus diperlakukan,
bak gayung bersambut. Kebiasaan mereka memberi dalam hening akan dengan mudah
terlaksana. Hilangnya food festival bagi mereka tidak jadi
soal karena penyaluran sedekah secara hening jauh lebih baik mengingat potensi
riya’ dan ingin dipuji bisa ditekan semaksimal mungkin. Selain itu, anjuran social distancing bagi mereka kesempatan
untuk memperbanyak waktu ‘bercengkerama’ dengan Ilahi.
Anjuran atau bahkan larangan mudik pun diterima
dengan lapang dada karena keramaian dengan berbagai pernak perniknya bukanlah
tujuan mereka. Bersilaturahim dengan kerabat tidak harus heboh dan berbiaya
tinggi. Silaturahim bisa terjaga dalam hening melalui media virtual dan ini
memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar teknologi. Senyapnya silaturahim
melalui media virtual tidak menipiskan sentuhan emosi dan tidak pula
merenggangkan kedekatan psikologis dengan kerabat. In short, ada sisi manis dari sekian banyak sisi pahit dari pandemi
bagi orang-orang yang berfikir jernih.
Closing Remarks
Tahun ini
benar-benar tahun emas bagi pemburu predikat takwa sejati. Karena pandemi
Covid-19, ritual keagamaan dan ritual budaya di bulan Ramadhan dilakukan dengan
hening dan tanpa hingar bingar. Hening dan senyapnya Ramadhan dan Idul Fitri
karena pandemi tidak berarti sepi secara spiritual dan sosial. Ruang-ruang
spiritual dan sosial tetap hidup dan gemuruh di hati para pemburu takwa sejati.
Akhirnya, keheningan, dalam konteks apapun, termasuk konteks ibadah, dalam
bahasa Inggris disebut solitude.
Biodata Penulis
Penulis adalah dosen Tadris Bahasa Inggris IAIN
Tulungagung. Minat utamanya linguistik makro: pragmatik dan discourse analysis.
Matakuliah yang diampu saat ini Research Statistics dan Pragmatics in ELT.
Tulisan ini dipublikasikan di Antologi berjudul 'Lebaran di Tengah Pandemi (2): Nuansa Idul Fitri di Tengah Corona'.
Subhanallah.....trimakasih, tulisan ini sangat membantu sy pribadi sbg pembaca utk recharge spiritual menghadapi ramadhan dlm pandemi yg kurang lebih 100 hari lagi.
BalasHapus