Rabu, 06 Januari 2021

SOLITUDE

 

Ramadhan dan Idul fitri yang biasanya identik dengan kegiatan ritual keagamaan tetapi dibarengi dengan hal-hal yang berbau hedonisme semisal belanja dan mudik berbiaya tinggi, tahun ini tampil dengan bentuk yang seharusnya, yakni hening dan senyap.

Membentuk pribadi yang bertakwa. Itulah tujuan akhir dari puasa seperti yang secara eksplisit tersebut di dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183.  Takwa, dalam tafsir Al-Azhar adalah pribadi yang bisa memelihara hubungan baik dengan Allah SWT, yaitu memelihara untuk terjauh dari larangan-larangan-Nya dan memelihara diri untuk senantiasa menjalankan perintah-perintah-Nya. Bagaimana pribadi takwa bisa terbentuk? Puasa adalah salah satu jalan untuk bisa membentuk pribadi yang bertakwa. Puasa adalah upaya pembersihan raga dan jiwa supaya senantiasa bisa terpelihara. Raga dibersihkan dengan cara menjaga jarak dengan nafsu badaniyah, yaitu makan, minum, dan seks. Jiwa dibersihkan dengan cara menjauhkan dari pikiran buruk dan perbuatan maksiat yang bisa berujung pada dosa. Memperbanyak ibadah sebagai upaya pendekatan diri terhadap Ilahi adalah upaya lain untuk membersihkan jiwa. Pembersihan raga melalui material distancing dan pembersihan jiwa melalui spiritual approaching adalah paket komplit yang harus kita ambil bila kita ingin meraih pribadi takwa. Melihat paket tersebut, bulan Ramadhan adalah bulan yang seyogyanya senyap, hening, alias tintrim karena kita harus mengambil jarak dengan hal-hal yang sifatnya bendawi dan pada saat yang sama mendekat kepada Ilahi.

Akan tetapi, seiring dengan perkembangan jaman dan perubahan gaya hidup masyarakat, Ramadhan berubah menjadi bulan yang penuh dengan gegap gempita. Food festival sepertinya cocok untuk melabeli bulan Ramadhan. Budaya buka puasa bersama dengan jumlah makanan berlimpah membudaya di banyak komunitas.  Menjamurnya penjual takjil musiman di sepanjang jalan di banyak kota adalah bukti lain dari meningkatnya konsumsi makanan masyarakat selama Ramdhan. Dinas Kebersihan DKI menyebutkan bahwa ada kenaikan 10% volume sampah di 10 hari pertama Ramadhan dan itu didominasi oleh sampah makanan (Suara.com 15 Mei 2018). Apa yang terjadi di Malaysia tidak jauh beda.  Malysiandigest.com yang dilansir oleh Liputan 6 menyebutkan bahwa setiap Ramdhan rata-rata 9 ribu ton makanan dibuang setiap hari di Malaysia. Data ini diperoleh dari penelitian Limbah Padat Dan Perusahaan Umum Pembersih (SWCorp). Data tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan yang di dalamnya ada perintah untuk berpuasa tidak bedanya dengan bulan festival makanan alias food festival.

Gegap gempitanya Ramadhan tidak berakhir di buka puasa bersama. Di Indonesia, Ramadhan biasanya ditutup dengan tradisi mudik atau pulang kampung. Puasa dan pulang kampung adalah paket komplit yang keduanya harus ada. Puasa tanpa mudik ibarat sayur tak bergaram. Tradisi ini sudah mengakar bertahun-tahun. Saking mengakarnya tradisi ini, pemerintah di bawah kepemimpinan siapapun selalu memfasilitasi pemudik dengan berbagai kebijakan yang memudahkan. Adanya cuti bersama, perbaikan dan pelebaran jalan,  dan pengaturan lalulintas secara khusus untuk menyambut Idul Fitri adalah bukti konkrit kepedulian pemerintah terhadap tradisi mudik.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan tradisi mudik karena tujuan awalnya adalah menjalin silaturahim dengan kerabat dan handai taulan di kampung yang sudah lama kita tinggalkan. Suatu niat baik yang patut diapresiai. Akan tetapi, tradisi mudik ini perlu dikritisi ketika sudah bergeser dari niat aslinya. Yang terlihat saat ini mudik bukan lagi sebatas penguat tali silaturahim tetapi sudah mirip dengan festival tahunan yang menghebohkan, menguras konsentrasi dan energi, dan berbiaya sangat tinggi. Kementerian Perhubungan pernah memprediksi bahwa terjadi perputaran uang sebesar Rp 10.3 trilliun selama musim mudik 2019 (Kompas.com, 9 April 2019). Jumlah yang sangat fantastis, bukan?. Uang sebesar tersebut digunakan pemudik untuk biaya perjalanan, beli oleh-oleh untuk kerabat di kampung halaman, uang saku (angpao) dan lain-lain.  

Besarnya jumlah makanan terbuang selama Ramadhan, kehebohan selama mudik, dan besarnya uang yang beredar pada musim tersebut cukup membuktikan bahwa Ramadhan dan Idul Fitri sudah tercerabut dari esensinya. Food festival dan cultural festival adalah gambaran yang pas untuk bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Hal ini berbanding terbalik dengan syariat yang mengajarkan kita untuk melakukan food distancing and spiritual approaching selama Ramadhan. Ada ketidaksinkronan antara syariat dengan respons terhadap syariat tersebut.

 

Blessing in Disguise

            Pagebluk Covid-19 mengubah semuanya. Adanya himbauan untk melakukan social and physical distancing karena pandemi Covid-19 menjadikan Ramadhan dan Idul Fitri 1441H/2020M jauh lebih tintrim dari tahun-tahun sebelumnya. Nyaris tidak ada buka puasa bersama, yang berarti nyaris tidak ada food festival. Larangan mudik dari pemerintah mengakibatkan tidak adanya kehebohan layaknya festival tahunan yang menyedot biaya, tenaga, dan konsentrasi. Kalaupun masih ada warga yang nekat mudik, kenekatan mereka tidak terlalu menghebohkan dan tidak mengurangi ketenangan Ramadhan.  Himbauan untuk melakukan social and physical distancing tidak hanya berimplikasi pada larangan berkumpul untuk buka bersama dan mudik, tetapi sampai menyentuh pada tidak direkomendasikannya shalat berjamaah di masjid dan musholla. Karena rekomendasi inilah banyak warga yang menjalankan shalat tarawih bahkan shalat Ied di kediaman masing-masing.

Bagi pemburu keramaian dan festival, anjuran social dan physical distancing sangatlah tidak mengenakkan. Sebaliknya, bagi pemburu predikat takwa yang sejati, ada atau tidak himbauan pemerintaah tersebut bukan jadi soal. Bagi mereka, Ramadhan adalah bulan penggemblengan diri, kawah candradimuka, dan masa karantina atau lockdown fisik dan mental. Kalangan ini akan dengan suka rela melakukan social and physical distancing serta spiritual approaching demi terjaganya nafsu badaniyah dan batiniyah yang berujung tercapainya pribadi yang takwa.

Ketika anjuran social and physical distancing  muncul seperti tahun ini, kalangan ini menganggapnya sebagai bonus. Anjuran tersebut mengurangi aktifitas manusia secara signifikan sehingga membuat suasana menjadi sepi, lengang, dan senyap hingga memudahkan mereka untuk bertafakkur dan berkontemplasi. Rekomendasi untuk shalat berjamaah di rumah akan diterima dengan baik. Kalangan ini tetap meyakini bahwa shalat berjamaah di masjid sangatlah mulia, tetapi pada situasi tidak normal seperti saat pandemi, shalat di rumah pun tidak kalah mulia. Mereka berkeyakinan bahwa inilah kesempatan untuk beribadah dalam senyap. Inilah saatnya memuji-muji Ilahi dalam hening dan tanpa diketahui orang lain. Inilah waktunya untuk menangis, mengadu, dan mohon ampun kepada Sang Rabb secara lebih leluasa karena privasi jauh lebih terjaga.

Anjuran untuk menjauhi kegiatan-kegiatan sosial pun diterima dengan senyum. Kalangan ini adalah mereka yang sudah terbiasa memberi dengan tanpa harus mengunggahnya di media sosial. Ketika anjuran social distancing harus diperlakukan, bak gayung bersambut. Kebiasaan mereka memberi dalam hening akan dengan mudah terlaksana.  Hilangnya food festival bagi mereka tidak jadi soal karena penyaluran sedekah secara hening jauh lebih baik mengingat potensi riya’ dan ingin dipuji bisa ditekan semaksimal mungkin. Selain itu, anjuran social distancing bagi mereka kesempatan untuk memperbanyak waktu ‘bercengkerama’ dengan Ilahi.

Anjuran atau bahkan larangan mudik pun diterima dengan lapang dada karena keramaian dengan berbagai pernak perniknya bukanlah tujuan mereka. Bersilaturahim dengan kerabat tidak harus heboh dan berbiaya tinggi. Silaturahim bisa terjaga dalam hening melalui media virtual dan ini memberi kesempatan kepada mereka untuk belajar teknologi. Senyapnya silaturahim melalui media virtual tidak menipiskan sentuhan emosi dan tidak pula merenggangkan kedekatan psikologis dengan kerabat. In short, ada sisi manis dari sekian banyak sisi pahit dari pandemi bagi orang-orang yang berfikir jernih.

 

Closing Remarks

 Tahun ini benar-benar tahun emas bagi pemburu predikat takwa sejati. Karena pandemi Covid-19, ritual keagamaan dan ritual budaya di bulan Ramadhan dilakukan dengan hening dan tanpa hingar bingar. Hening dan senyapnya Ramadhan dan Idul Fitri karena pandemi tidak berarti sepi secara spiritual dan sosial. Ruang-ruang spiritual dan sosial tetap hidup dan gemuruh di hati para pemburu takwa sejati. Akhirnya, keheningan, dalam konteks apapun, termasuk konteks ibadah, dalam bahasa Inggris disebut solitude.

 

 

Biodata Penulis

Penulis adalah dosen Tadris Bahasa Inggris IAIN Tulungagung. Minat utamanya linguistik makro: pragmatik dan discourse analysis. Matakuliah yang diampu saat ini Research Statistics dan Pragmatics in ELT.

Tulisan ini dipublikasikan di Antologi berjudul 'Lebaran di Tengah Pandemi (2): Nuansa Idul Fitri di Tengah Corona'.

1 komentar:

  1. Subhanallah.....trimakasih, tulisan ini sangat membantu sy pribadi sbg pembaca utk recharge spiritual menghadapi ramadhan dlm pandemi yg kurang lebih 100 hari lagi.

    BalasHapus

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...