Selasa, 06 Juni 2023

MILAD

 



MILAD

 

                Tahun ini, tepatnya 19 Mei 2023 ‘Aisyiyah merayakan hari jadinya (milad) yang ke 106 dengan tema  Mencerahkan Perempuan, Mencerdaskan Bangsa. Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten memperingatinya pada tanggal 28 Mei 2023 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Universitas Muhammadiyah Malang, dan saya bertugas di Sie Acara.

        Acara ini dihadiri perwakilan dari Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA), amal usaha ‘Aisyiyah, sesepuh 'Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), dan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur. Jumlah hadirin secara keseluruhan sekitar 300 orang. Pra acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan menampilkan seni tari oleh murid-murid TK ABA 5 Dau dan SD Muhamammadiyah 8 Dau. Sedangkan putri-putri SMP ABSM Lawang menampilkan parade semaphore.

Sebagian panitia dengan sebagian hadirin sebagai background 

        Selama pra acara tersebut kami mendapat kabar bahwa Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, M. Pd yang sedianya memberi sambutan tidak bisa hadir, dan diwakilkan kepada Bapak Dr. Muhammad Nur Hakim, M. Ag, Asisten Rektor bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Mendegar kabar ini, Ibu Titin selaku ketua panitia segera mengontak beliau untuk mengkonfirmasi kehadiran. Sedikit ketegangan terjadi diantara kami ketika kami mengetahui bahwa Bapak Nur Hakim bisa hadir paling cepat 30 menit lagi. Kami sedikit panik karena ruangan sudah penuh tamu undangan, sedangkan membuka acara tanpa kehadiran ‘tuan rumah’ rasanya tidak mungkin. Membiarkan sekian banyak orang menunggu selama 30 menit tentunya ‘sesuatu’ dan ini tidak bagus.

        Kondisi ini akhirnya membuat pra acara diperpanjang. Inilah yang akhirnya parade semaphore yang sedianya tampil siang hari akhirnya tampil di pagi hari. Putri-putri ABSM yang cantik-cantik itu tampil memikat dengan bendera semaphore-nya, dan penampilan mereka bisa mengundang tepuk tangan panjang dari para hadirin. Masa tunggu berikutnya diisi dengan pemutaran video profile SMP BASM. Selanjutnya diputarlah video berisi ucapan selamat milad dari para tokoh Muhammadiyah. Ketua PDM dan PDA Kabupaten Malang, perwakilan dari LazisMu, dan beberapa akademisi adalah seingat saya yang muncul dengan ucapan selamatnya.


  Salah satu ucapan Selamat Milad

        Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya acara dimulai pukul 09.00 meski perwkilan Rektor UMM belum hadir. Pembukaan, pembacaan ayat suci, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berjalan smooth, lancar dan nyaris tanpa kendala. Meski di rundown tertulis sambutan Rektor UMM sebelum pidato milad, tetapi dengan pertimbangan efisiensi dan kondusifitas suasana, maka pidato milad oleh Ibu Mursyidah selaku Ketua PDA Kabupaten Malang kami awalkan sembari menunggu yang ditunggu.

        Dalam pidato milad disebutkan bahwa milad tahun 2023 yang bertema Kepemimpinan Perempuan Mencerahkan Peradaban Bangsa bermaksud untuk meneguhkan dan mendorong kepemimpinan perempuan untuk membangun peradaban bangsa secara kolektif. Selain itu, milad tahun ini diharapkan bisa meningkatkan semangat ta’awun merawat persatuan dan menebar kebaikan bagi sesama.

    Pemberian bingkisan kepada sesepuh 'Aisyiyah dilakukan setelah pidato milad. Ada 3 orang sesepuh yang tahun ini diundang, yaitu: Ibu Siti Chotijah, Ibu Muyasaroh, dan Ibu Masruhatin. Mengundang sesepuh dalam acara milad sudah mentradisi di PDA Kabupaten Malang sebagai upaya penghormatan atas perjuangan mereka dalam ber-'Aisyiyah.


Pemberian tali asih kepada sesepuh--nomer empat, lima, enam--dari kiri


        Dalam sambutan sebagai wakil Rektor UMM, Bapak Muhammad Nur Hakim menyampaikan tentang sosok intelektual ‘Aisyiyah, salah satunya Ibu Siti Bariyah yang merupakan Ketua ‘Aisyiyah pertama. Selain sebagai ketua, Ibu Siti Bariyah juga terkenal dengan kecerdasannya yang terbukti salah satunya di tulisannya yang berjudul Tafsir Maksoed Moehammadijah yang dimuat di Mohammadijah edisi no.9 pada tanggal 4 september 1923.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Sekretari PDM Kabupaten Malang Dr Ridwan Joharmawan. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pentingnya peran ‘Aisyiyah dalam organisasi Muhammadiyah. Selain itu, beliau juga menyampaikan cerita bagaimana Ibunda yang aktivis ‘Aisyiyah menanamkan ideologi Muhammadiyah sewaktu beliau masih kecil yang kesemuanya membekas dan berdampak sampai sekarang.

Acara seremonial milad ditutup dengan doa oleh Wakil Ketua PDA Kabupaten Malang, Ibu Supraptiningsih. Seminar dengan tema Mengatasi Kecanduan Internet dengan narasumber dr. Zuhrotun Ulya, Sp.Kj, M.H. adalah acara selanjutnya. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh hadirin. Hadirin dengan patuh mengikuti arahan narasumber untuk melakukan self-assessment. Sesi tanya jawab juga sanagt diminati oleh audience. Beberapa hadirin menyampaikan kasus kecanduan internet di lingkungan mereka, dan direspons dengan sangat bagus oleh narsum hingga hadirin bisa terpuaskan dengan jawabannya.


Seminar Kesehatan Jiwa

Sesi seminar berakhir sekitar pukul 12.00, dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian resepsi milad ke 106 ‘Aisyiyah.


 Sebagian anggota PCA dan PDA

So what?

      Terselenggaranya resepsi milad dengan menghadirkan perwkilan dari PCA, pengurus PDA, PDM, PWA, sesepuh, dan AUA, menurut saya seperti me-recharge baterai laptop atau HP. Milad seperti recharging karena milad menyadarkan bahwa ‘Aisyiyah adalah organisasi besar. Anggotanya banyak, menyebar di berbagai penjuru. Kesadaran ini bisa menumbuhkan semangat yang kadang nglokro ketika kita mendapati sangat sedikit kader yang bisa digerakkan untuk menjalankan program kerja. Milad juga menyadarkan bahwa 'Aisyiyah adalah organisasi senior. 106 tahun alias satu abad lebih bukanlah waktu yang singkat. Hanya organisasi yang teruji dalam banyak aspek yang bisa bertahan dan eksis dalam kurun sedemikian panjang. Mengingat akan hal ini bisa membangkitkan semangat dalam menjalankan tugas-tugas organisasi.  

Milad layaknya ngisi baterai karena di acara ini kita bisa dapat banyak ilmu. Ilmu sejarah bisa didapat dari Bapak Muhammad Nur Hakim yang berbicara banyak tentang tokoh-tokoh intelektual ‘Aisyiyah. Ilmu strategi penguatan ideologi didapat dari Bapak Ridwan Joharmawan, sekretaris PDM. Ilmu Kesehatan jiwa didapat dari seminar tentang kecanduan internet.

Milad layaknya nge-charge relasi antara PDA dengan PCA, dan antar PCA. Jauhnya jarak antara PCA satu dengan lainnya menjadi salah satu kendala dalam menjalankan roda organisasi. Bertemunya anggota PCA dan pengurus PDA di satu simpul dalam resepsi milad bisa mendekatkan jarak yang jauh. Saling bertegur sapa, saling mengucapkan salam, dan saling memaanjatkan doa secara luring bisa memperkuat emosi dan mempererat persaudaraan antar anggota.

Akhirnya, semoga resepsi milad 106 ‘Aisyiyah bisa menjadi ajang konsolidasi yang bisa memperkuat organisasi sehingga program-program kerja keumatan bisa tertunaikan dengan sempurna. Ridha dan ampunan Allah adalah yang kita tuju dengan persyarikatan sebagai titian. Semoga milad 106 dengan berbagai kegiatannya bisa menjadi kran penderas ridha dan ampunan-Nya. Aamiin…

 

Malang, 7 Juni 2023

 


Sabtu, 13 Mei 2023

FILM "BUYA HAMKA" Volume 1

 

FILM “BUYA HAMKA” Volume 1

 

Saya bukanlah movie lover, dan dengan sendirinya saya bukan movie goer. Sepanjang hidup saya, intensitas saya ke bioskop bisa dihitung dengan jari. Saya memberikan apresiasi tinggi terhadap pemain film yang bisa memainkan perannya secara total, tapi menonton kerja mereka dengan mendatangi bioskop selama ini belum menjadi prioritas saya. Segala sesuatunya menjadi berbeda ketika film Buya Hamka di-release menjelang lebaran 2023. Saya semangat pergi ke bioskop untuk menontonnya karena sosok Buya Hamka selalu mengingatkan saya pada almarhum Bapak saya. Beliau sangat suka membaca majalah Kiblat dan Panji Masyarakat, dua majalah Islam yang sangat lekat dengan Buya Hamka. Tidak jarang setelah selesai membacanya Bapak bilang ke saya bahwa Buya Hamka adalah figur yang sangat cerdas hingga Bapak sangat senang menikmati pemikirannya. Alasan kedua, setahu saya, Buya Hamka adalah salah satu kader terbaik Muhammadiyah. Sebagai warga Muhammadiyah, saya sangat bangga bila ada kader yang prestasinya mendapat pengakuan pihak lain. Mengangkat kehidupan Buya dalam sebuah film berarti pengakuan terhadap capaiannya, dan secara otomatis akan mengangkat nama persyarikatan.

Kegembiraan kami dalam menyambut film Buya Hamka

          Film ini berdurasi sangat Panjang, yaitu tujuh jam, dan karenanya film ini terbagi ke dalam tiga volume: volume 1, 2, dan 3. Pada awalnya saya mengira kehidupan Buya Hamka akan diceritakan secara kronologis dari volume satu sampai tiga. Ternyata dugaan saya keliru. Volume 1 mengangkat kehidupan Buya Hamka setelah menikah hingga tahun kemerdekaan, bukan mengangkat kehidupan masa kecilnya.

Volume 1 ini menggambarkan Buya Hamka dengan sangat komplit. Sebagai kepala keluarga, Buya Hamka  sangat dekat dengan istri dan keempat buah hatinya. Sebagai penulis, beliau sangat konsisten dalam berkarya. Hanya dengan mesin ketik manual, dan dengan dua jari beliau  bisa menghasilkan banyak tulisan. Beliau bukan penulis dengan semangat up and down alias kadang rajin dan kadang malas. Malam-malamnya banyak dihabiskan untuk menulis. Kedekatannya dengan dunia tulis menulis juga terbukti dengan kemampuannya memimpin Pedoman Masyarakat sebuah surat kabar yang di bawah kepemimpinannya bisa mencapai oplah 5000 eksemplar, sebuah prestasi yang belum ada satupun harian kala itu yang bisa mencapainya.  

Buya Hamka: ulama, sastrawan, wartawan, tokoh pergerakan dan persyarikatan

Dalam ber-Muhammadiyah, Buya bukan kader kaleng-kaleng. Beliau kader tulen. Beliau lahir dan besar di keluarga Muhammadiyah dan konsisten menjalankan ideologi Muhammadiyah. Beliau kader yang sangat bangga dengan ke-muhammadiyah-annya. Keseriusannya dalam mengurus persyarikatan mengantarnya pada posisi sebagai Ketua Muahammadiyah Sumatra Timur. Kecintaannya pada Muhammadiyah beliau tunjukkan, salah satunya dengan tetap menghadiri undangan Gubernur Jepang untuk melaksanakan sembahyang dengan menghadap ke timur sebagai peghormatan kepada kaisar Jepang. Buya menyadari bahwa hal tersebut syirik, tetapi bila undangan tersebut diabaikan, beliau khawatir Jepang akan menganggap semua warga Muhammadiyah sebagai pembangkang, dan ini tidak bagus. Sebab itulah beliau akhirnya memenuhi undangan Gubernur Jepang, tapi beliau tidak berkenan untuk membungkukkan badan menghadap ke timur seperti yang ‘disyariatkan’ oleh Jepang.

Sikap sangat dewasa beliau tunjukkan ketika beliau harus lengser dari jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur. Kedekatannya dengan Jepang menyebabkan fitnah yang menyebabkan suara pengurus terpecah: sebagian menganggap beliau telah berhianat, dan sebagian tetap yakin beliau masih lurus.  Dalam ‘persidangan’ oleh para pengurus, Buya menyebut bahwa tuduhan tersebut tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah, dan karenanya beliau dengan gentle  minta maaf. Kasus ini berujung dengan surat pemberhentiannya dari jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur.

Buya Hamka adalah sosok pembelajar sejati. Never too old to learn. Mungkin itu salah prinsip hidupnya. Menulis roman adalah hal yang lumrah baginya. Begitu beliau mencoba menulis tetang tasawuf, beliau merasa masih perlu berguru dengan Ayahanda, H. Rasul, yang ilmu agamanya jauh lebih tinggi. Kedatangan Buya pada Ayahanda untuk berguru agama selain menunjukkan semangat belajar Buya yang tidak pernah padam, juga menandakan beliau adalah anak yang berbakti dengan orang tua. Friksi yang terjadi antara beliau dengan Ayahanda tidak menghalanginya untuk tetap berkenan sowan dan sungkem kepada sang ayah.

Selain keteladanan, ada hal lain yang menarik dalam film ini, yaitu dari sisi linguistic. Dari sisi linguistic, film ini sangat menarik. Film ini menyuguhkan banyak dialog dalam Bahasa Minang yang sulit dipahami oleh mereka yang bukan dari Minang. Dialog antara Buya Hamka dengan istrinya hampir 100% menggunakan Bahasa Minang. Saya yang sama sekali tidak paham, sangat mengandalkan subtitle, dan hasilnya adalah saya mengerti makna dari sedikit kosa kata. Ambo (saya), rancak (bagus/indah), engku (tuan/mas) adalah tiga kosa kata yang saya mengerti artinya dari subtitle. Mengangkat Bahasa lokal dengan tetap memberi kemudahan bagi yang tidak paham dalam karya sebesar itu sangatlah bagus untuk kelestarian Bahasa lokal tersebut. Bahasa Minang yang dulunya dipahami hanya oleh orang Minang sekarang menjadi dikenal oleh siapapun yang menonton film ini, dan tidak terbatas pada orang Minang.

        Indahnya rangkaian kata dan kalimat yang diucapkan oleh Buya Hamka adalah aspek linguistic lain yang menarik. Buya Hamka seorang penulis. Beliau menulis berbagai genre: roman, news, hingga tulisan tentang tasawuf. Tidaklah mengherankan bila kata dan kalimat yang dirangkainya terasa indah dan enak didengar, menggugah hati dan pikiran hingga banyak yang bisa dijadikan quote. Ada beberapa quote penyemangat kerja di film ini, tapi yang paling saya ingat adalah: "Salah satu pekerjaan terkejam dalam hidup ialah membiarkan pemikiran cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas yang mendahulukan istirahat sebelum lelah" Kalimat ini seperti menampar saya. Saya tersadar betapa banyak waktu saya yang terbuang untuk rebahan, bercanda dan ngobrolkan yang kurang perlu, dan scroll WA yang sebenarnya isinya sudah diketahui yang karenanya banyak pekerjaan yang tertunda.

        Sebagai biopic atau film sejarah, film ini sangat enak untuk dinikmati. Jauh dari kesan monoton. Dengan mengangkat kehidupan Buya ketika sudah dewasa dan bukan mengangkat kelahiran dan kehidupan masa kecilnya sebagai pembuka, maka film ini tidak terasa flat alias lempeng. Dengan menampilkan Buya Hamka secara utuh baik sisi positif maupun maupun negative menjadikan penghargaan terhadap Buya terkesan natural dan tidak mengkultuskan. Keteladanan ucap dan sikap Buya yang bisa diperankan dengan sangat apik oleh para pemainnya menjadikan film ini sebagai tuntunan yang sangat enak untuk ditonton. Semoga penonton film ini bisa terinspirasi dengan keteladanan yang Buya tunjukkan sehingga bisa lahir banyak Buya Hamka baru.

 

Malang, 13 Mei 2023

        


Jumat, 28 April 2023

RECHARGING HATI DAN PIKIRAN

 

RECHARGING HATI DAN PIKIRAN

            Lebaran tahun ini terasa lebih istimewa dari biasanya karena diawali dengan adanya gerhana matahari campuran (hybrid solar eclipse) yang terjadi di hari terakhir Ramadhan (20 April 2023) sekitar pukul 10.00 WIB. Di hari tersebut saya mengikuti shalat kusuf di Masjid AR Fahruddin UMM. 

        Kami merayakan Iedul Fitri keesokan harinya, 21 April 2023, sedangkan warga masyrakat lain ada yang menjalankannya keesokan harinya (22 April 2023). Kami melaksanakan shalat Ied di SD Muhammadiyah 8 Dau.  Shalat tersebut diikuti banyak warga. tempat yang disediakan panitia semuanya terisi oleh jamaah. 


Setelah selesai shalat Ied di SD MAPAN

Lebaran tanpa mudik ibarat sayur tanpa garam. Saya dan keluarga mudik ke kampung halaman saya di Baron Nganjuk pada tanggal 21 April 2023. Di mudik kali ini saya sengaja tidak membawa laptop tapi saya tetap membawa satu buku bacaan, buku tulis dan alat tulis. Laptop sengaja saya tinggal dengan tujuan supaya bisa berjarak dengan tugas rutin. Laptop adalah tempat tersimpannya semua data pekerjaan. Di laptop tersimpan sederet buku referensi yang harus dibaca, di laptop juga tersimpan file draft skripsi dan tesis mahasiswa, dan di laptop pula tersimpan dengan rapi draft penelitian yang sangat ingin saya selesaikan dan submit ke jurnal. Laptop is work. Mungkin itulah deskripsi yang pas untuk laptop. Karena selama mudik saya sedang tidak bekerja, maka dia saya tinggal di rumah.

 Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 4 jam, sampailah saya di kampung halaman, di Baron Nganjuk. Keluarga besar sudah menunggu di sana. Kakak-kakak, keponakan dengan putra putrinya (yang berarti cucu saya) dengan sangat gembira menerima kami. Kehangatan semakin terasa ketika kami ngobrol berbagai hal yang enteng-enteng. Saling menanyakan dan menginfokan kabar kerabat yang lama tidak muncul cukup mendominasi pembicaraan kami. Selebihnya diisi dengan topik-topik yang kadang terkesan receh tapi bisa menghangatkan suasana.

Dengan keluarga kakak kedua


Dengan Mbakyu2 dan keponakan 

Kampung halaman bukanlah destinasi terakhir bagi saya dan keluarga karena kami berencana mengunjungi seorang teman dan dua kerabat yang sakit. Keesokan hari, 22 April 2023, kami melanjutkan perjalanan ke Surakarta sebagai destinasi bezoek pertama. Di kota ini kami bezoek seorang teman yang sakit. Kami tiba di kediamannya sekitar pukul 14.00. Beliau sakit sudah cukup lama. Beliau cerita banyak tentang penyakitnya dan upayanya sembuh dari sakit tersebut. Beliau menyebut banyak istilah medis yang sebelumnya tidak pernah saya dengar. Di tengah-tengah upayanya sembuh, beliau masih menjalankan tugas utamanya sebagai dosen, yaitu mengajar. Dengan moda daring, tugas tersebut tetap beliau jalani dengan semangat. Selain itu, beliau juga Menyusun Penetapan Angka Kredit (PAK) sebagai respons terhadap SE Permenpan RB terbaru.

Dari Surakarta, kami balik ke arah timur, ke Madiun. Di sini kami bezoek kerabat yang pernah sakit stroke dan masih berdampak sampai sekarang, yaitu menurunnya kemampuan berbicara. Beliau agak kesulitan setiap akan melisankan sesuatu. Meski demikian, beliau tetap terlihat ceria dan semangat menyambut kedatangan kami.

Dari Madiun kami meluncur ke Tulungagung untuk bezoek kerabat lain yang sakit sudah agak lama. Dengan beliaunya kami tidak bisa berkomunikasi karena memang kondisinya tidak memungkinkan. Melalui putra putrinya saya jadi tahu betapa berat perjuangan keluarga tersebut dalam menghadapi penyakit. Banyak hal detil yang mereka ceritakan yang tidak mungkin saya ungkap di sini.

Kunjungan ke kampung halaman di mana saya bisa ketemu dengan keluarga besar plus bezoek di tiga destinasi membuat saya seperti baterai yang baru di-recharge. Obrolan ringan dengan kakak dan keluarganya bisa menghilangkan kepenatan pikiran karena rutinitas. Obrolan tersebut juga bisa menjadi pembangkit energi yang tererosi oleh tugas-tugas yang kadang saya rasa sangat monoton. Dengan kondisi pikiran seperti ini, saya siap menyambut tugas rutin kembali: siap menyelesaikan penelitian yang sudah agak lama belum kelar dan insya Allah siap submit; siap pula merevisi diktat yang selama ini terbengkalai; dan juga siap membimbing anak bangsa dalam menyelesaikan studi mereka.

Recharging hati dan pikiran juga terjadi ketika saya mengunjungi kerabat dan teman yang sakit. Ketiganya menyadarkan saya bahwa kesehatan yang saya miliki bernilai tidak terhitung mahalnya. Saya tersadar ternyata bisa bergerak normal tanpa tergantung pada orang lain adalah anugerah. Bisa makan makanan padat adalah anugerah lain yang selama ini saya nikmati. Bisa mengajar dengan dua moda—daring atau luring—adalah precious gift. Bisa melisankan ide secara normal sehingga mudah dipahami orang lain adalah salah satu kenikmatan terindah yang setiap detik saya nikmati tanpa saya sadari. Semua ini semoga bisa me-reset ulang pikiran dan berimbas pada lisan dan tindakan. Keluh kesah yang sering menghiasi hati, pikiran, dan lisan semoga bisa berkurang, atau bahkan hilang sama sekali. Bezoek di hari lebaran semoga bisa mengubah focus perhatian dari yang belum dimiliki ke cara memaksimalkan apa yang sudah dimiliki.  

Salah satu anugerah terindah: kemampuan melisankan ide dengan sempurna sehingga bisa dipahami orang lain

Layaknya baterai HP, hati dan pikiran seyogyanya di-recharge secara berkala. Hati perlu di-recharge untuk menjaga kebeninganmya sehingga senantiasa peka dalam membedakan antara kebaikan dan keburukan . Pikiran juga harus di-recharge secara berkala supaya ketajaman berpikir senantiasa terjaga. Menjaga ketajaman pikiran dalam kebeningan hati bukanlah terlalu gampang tapi juga bukan hal yang tidak mungkin. Insya Allah bisa. 

Malang, 28 April 2023M/7 Syawal 1444H 



Rabu, 19 April 2023

Brodin Yang Saya Kenal

 


 

Brodin yang Saya Kenal

 

        Ahmad Bahrudin. Itulah nama salah satu teman sekelas saya ketika di S1 di Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Jember. Saya dan beberapa teman memanggilnya dengan sebutan yang lebih njawani, yaitu Brodin.

Saya mengenalnya sejak awal kuliah, tahun 1988. Kami satu kelompok di Penataran P4 Pola dukung 100 jam. Dalam kelompok tersebut ada sekitar 20 mahasiswa dari berbagai fakultas. Yang berasal dari FKIP seingat saya hanya saya dan Brodin. Durasi penataran yang sangat panjang memungkinkan kami untuk mengeksplorasi potensi dan kemampuan kami, terutama kemampuan dalam menalar kasus, kemampuan berargumentasi, dan kemampuan public speaking. Dari sinilah saya jadi tahu bahwa Brodin sangat potensial dalam public speaking. Tidak jarang meski dengan data dan kajian teori yang sangat terbatas dia bisa meyakinkan audience. Kepiawaiannya dalam memilih diksi, sense humor yang cukup tinggi, ditambah dengan geture yang tepat adalah modalnya dalam meyakinkan kami, teman2 sekelompok.

Karena kebetulan kami satu prodi, maka memudahkan bagi kami untuk tetap menjalin pertemanan meski penataran usai. Selanjutnya, hari-hari kami isi dengan aktifitas akademik dan non-akademik yang menuntut kami untuk siap kerjasama dengan berbagai pihak. Sepemantauan saya, Brodin termasuk mahasiswa yang bisa diterima banyak pihak. Baik dosen maupun mahasiswa menerimanya dengan tangan terbuka. Mungkin sikapnya yang supel dan ceria di segala suasana lah yang membuatnya mudah diterima semua pihak.


Keakraban Brodin (batik gelap) dengan sahabat lintas Angkatan: Thohir Affandi (depan) dan Ali Muafa (kemeja bergaris)

Selama perkuliahan, Brodin terlihat menonjol dalam hal public speaking, persis seperti yang ia tunjukkan ketika penataran. Di matakuliah apapun, bila dia berkesempatan berbicara, dia selalu menunjukkan kepiawaiannya dalam meyakinkan pendengarnya. Dengan kelebihan ini, dia pernah berseloroh sekaligus mengeluh kepada saya yang kurang lebih begini: “misalkan matkul Speaking sampai Speaking IV dan andai matku Structure hanya structure I, aku seneng banget.” Seloroh itu dia lontarkan karena dia merasa sangat kesulitan mengikuti kuliah Structure, sedangkan di matkul Speaking dia layaknya seniman yang mendapatkan panggung untuk menyalurkan potensinya.

Secara umum, layaknya Sebagian besar teman-teman sekelas saya, Brodin bisa meneyelesaikan studinya dengan cukup smooth. Setamat studi, saya tidak pernah kontak hingga sekitar tahun 2009 atau 2010 (tepatnya saya lupa) kami bertemu di Universitas Negeri Malang karena kebetulan kami sama-sama menempuh studi S3 di prodi yang berbeda. Brodin studi di Jurusan Teknologi Pembelajaran (TEP), sedangkan saya masih sangat setia dengan Pendidikan Bahasa Inggris. 

Nyaris tidak ada yang berubah pada diri Brodin yang saat itu sudah kandidat doctor. Dia tetap ceria, banyak cerita, dan selalu optimistis. Selama tinggal di Malang, dia sempat berkunjung ke rumah saya dan berkenalan dengan keluarga saya. Setamat studi S3 dan dia kembali ke Kalimantan, saya semakin tahu bahwa public speaking adalah jalannya. Kepiawaiannya berbicara di depan public ditopang dengan pendidikan paripurna menjadikannya sukses menjadi pembicara tentang teknologi pembelajaran sekaligus motivator.

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai guru, pembicara seminar, dan motivator, Brodin tidak lupa dengan kami, teman-temannya sekelas yang tergabung di grup WA. Dia termasuk anggota grup yang aktif di grup. Sesekali seloroh dan guyonan adalah yang paling sering dia lontarkan.


Brodin dengan salah satu teman sekelas, Rodliyah (Odiek)

Dengan adanya grup WA, kami bisa saling tahu kondisi kami masing-masing, terutama sepak terjang dan kondisi Brodin karena dia termasuk anggota yang tidak pelit info. Banyak hal tentang dirinya yang dia share ke kami, termasuk kondisi kesehatannya. Seingat saya, bulan Februari 2023 dia share info tentang kesehatannya yang menurun dan harus rawat inap. Hampir seluruh anggota grup merespons-nya dengan doa-doa terbaik untuk kesembuhannya. Saya sempat japri dia dan menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Dia membalas dengan menyebut nama penyakitnya dan minta doa.

Tidak berselang lama dari waktu tersebut, tepatnya tanggal 10 Maret 2023, kami, anggota grup, dikejutkan dengan berita duka atas wafatnya Brodin. Speechless. Hanya ungkapan innalillahi wainna ilaihi raajiun yang bisa saya ucapkan. Sekali lagi speechless. Meskipun kematian adalah keniscayaan bagi setiap yang bernyawa, tetapi ketika hal tersebut benar-benar menimpa orang dekat kita, kita pasti merasa belum siap, kaget, belum bisa menerima, dan speechless adalah reaksi yang lazim terjadi.

Kematian memang bukanlah topik yang enak untuk dibicarakan. Itulah salah satu sebab mengapa tulisan ini bisa saya selesaikan setelah berselang cukup lama dari wafatnya Brodin. Kematian identik dengan kesendirian, kegelapan, dan pertanggungjawaban. Kematian memisahkan pihak yang mati dengan siapapun di dunia ini termasuk orang-orang terdekatnya, dan menempatkannya di tempat yang menurut penglihatan manusia sangat sempit, tanpa fasilitas apapun, termasuk lampu penerangan, dan sidang pertanggungjawaban sudah menunggu di depan mata.

Secara fitrah, manusia berkeinginan untuk hidup lama. Doa-doa harian yang kita panjatkan salah satunya berbunyi Allahuma thawil umuruna alias Ya Allah, karuniakanlah kami umur panjang. Doa-doa ulang tahun selalu menyisipkan ucapan semoga panjang umur bagi yang berulang tahun. dengan gaya bahasa hiperbola, Khairil Anwar menyebut "aku ingin hidup 1000 tahun lagi" di salah satu puisinya. Itu semua adalah sekelumit bukti betapa besar keinginan manusia untuk sedapat mungkin terhindar dari kematian.

Betapapun besar keinginan manusia untuk berumur panjang, namun kematian adalah hak prerogratif Allah, dan karenanya kematian bisa terjadi kapanpun dan bisa menimpa siapapun. Kematian bisa terjadi ketika seseorang sudah menuntaskan semua tugas-tugasnya di dunia, bisa juga terjadi ketika seseorang sedang di puncak karir, bisa juga terjadi ketika seseorang belum menapaki karir.

Mengingat kematian sedemikian misterinya, maka saya angkat topi dengan Brodin yang (mungkin) tanpa sadar menyiapkan datangnya kematian dengan perbuatan-perbuatan baik yang terlihat kecil yang dia lakukan secara konsisten. Selalu menyapa duluan, selalu menyebarkan optimisme, sering menawarkan kesediaan berbagi ilmu dengan honor ala kadarnya, bahkan dengan gratis, menawarkan diri menjadi tuan rumah untuk reuni kelas dengan gratis adalah contoh perbuatan yang bisa membuat orang lain dengan rela melangitkan doa untuk kebaikannya sebagai balasan. Tulisan sederhana ini juga salah satu bentuk penghormatan saya kepadanya, ucapan terimakasih saya atas kesediaannya banyak membantu saya ketika kami masih studi di Tegalboto, juga ucapan terimakasih atas kesediannya mengunjungi saya dan mengenal keluarga saya. Tulisan ini juga sebagai bentuk penyesalan saya yang tidak bersedia merespons inisiatifnya menggelar reuni pasca lebaran 1444H ini.

Selamat jalan, Brodin. Semoga Allah menerima semua kebaikan dan mencatatnya sebagai amal ibadah bagimu. Semoga pula Allah mengampuni semua salah hilafmu dan semoga Allah menempatkanmu di tempat termulia di sisi-Nya. Aamiin.....


Malang, 19 April 2023M/28 Ramadhan 1444H

 


Sabtu, 15 April 2023

On-the-Road Iftar

 

On-the-Road Iftar

          Tanggal 15 April 2023 saya dan keluarga belanja beberapa bahan bangunan di Depo Bangunan (swalayanan khusus bahan-bahan bangunan). Kami berangkat pukul 15.30. Untuk antisipasi kemacetan yang memungkinkan kami masih di jalan ketika saat maghrib tiba, maka kami sengaja membawa bekal makanan ringan.

 Jalanan ternyata sangat ramai. Bahu kiri dan kanan jalan hampir penuh mobil dari berbagai kota yang membuat mobil bergerak pelan meski tidak merayap. Di pinggir jalan yang kami lalui banyak penjual takjil dengan berbagai dagangannya dan dengan pembeli yang berkerumun. Suasana sore benar-benar meriah. Saya dan keluarga yang tidak pernah ngabuburit, saat ini benar-benar merasakan ngabuburit itu.

Kami tiba di Depo Bangunan sekitar jam 16 lebih sedikit. Suasana di toko tersebut sepi karena tidak terlalu banyak pengunjung. Kami segera menuju counter barang-barang bangunan yang kami perlukan. Banyak hal yang harus dipertimbangkan ketika akan menentukan pilihan, sehingga aktivitas ini menyita cukup banyak waktu.

Begitu pilihan untuk semua jenis barang sudah kami tentukan, kami menuju kasir. Urusan pembayaran belum selesai di saat adzan maghrib berkumandang. Pihak Depo Bangunan menyediakan takjil ringan untuk pembeli yang berpuasa. Kami segera membatalkan puasa dengan menikmati takjil yang mereka sediakan.

Begitu pembayaran selesai, kami segera meninggalkan kasir dan menuju mobil. Di dalam mobil kami melanjutkan pembatalan puasa dengan menikmati makanan ringan yang kami bawa dari rumah. Ada sensasi tersendiri ketika kami mamiri (makan minum ringan) di mobil dalam rangka berbuka puasa.

Begitu urusan mamiri kami anggap cukup, kami segera keluar dari area Depo Bangunan dan segera menuju masjid yang terletak sekitar 500 meter dari Depo untuk melaksanakan shalat maghrib. Sesampainya di masjid tersebut, kami segera ambil air wudlu. Tempat wudlu-nya sangat representatif. Tempatnya luas dan bersih. Saya tidak sempat menghitung berapa kran wudlu yang tersedia, tapi yang jelas lebih dari sepuluh. Tempat wudlu tersebut bersih. Tidak ada sampah tercecer. Tidak ada air menggenang. Tidak ada pakaian yang tercentel di area tersebut, dan tidak ada pula tulisan-tulisan larangan atau himbauan di dinding. Clean and clear.  

Saya shalat di tempat khusus putri. Di tempat ini saya lihat beberapa orang yang juga melaksanakan shalat maghrib. Sepertinya mereka musafir yang akan melanjutkan perjalanan ke tempat yang (mungkin) jauh. Begitu shalat selesai saya tunaikan, saya segera beranjak meninggalkan tempat. Di pintu utama masjid saya ‘dihadang’ oleh dua remaja. Dengan sopan mereka mengulurkan paket buka puasa terbungkus stereofoam.   

Paket buka puasa tersebut saya buka di mobil, dan ternyata isinya mie pangsit. Selama ini saya bukan penyuka mie. Sangat jarang saya makan mie. Bagi saya, mie bukanlah makanan yang menarik. Dia tidak bisa menggugah selera makan saya layaknya nasi lalapan atau sayur asem plus tempe goreng. Akan tetapi, mie yang saya terima dari remaja masjid tersebut terlihat beda. Bentuknya yang kecil memanjang dengan warna mengkilap karena minyak, ditambah dengan taburan ayam tumbuk halus plus bawang merah goreng, dilengkapi dengan pangsit goreng sebagai topping dan sayur selada dan beberapa cabe mentah membuatnya terlihat sangat menarik. Appetizing alias sangat menggoda selera makan.

Akhirnya, tanpa pikir panjang, saya pun menyantapnya dengan lahap, meski sejatinya saya bukan penyuka mie. Mie tersebut terasa sangat sedap di lidah. Bumbunya terasa kuat, tapi tidak terlalu spicy hingga bisa berdamai dengan indra pengecap saya. Pangsitnya renyah hingga membuat suasana makan menjadi seru. Cabe mentahnya kecil, sekecil mata burung, hingga terasa tidak terlalu pedas ketika diceplus. Perpaduan antara rasa mie yang sedap, rasa lapar karena sudah sekian belas jam tidak makan, dan suasana makan di jalanan membuat saya sangat lahap menyantap mie tersebut. Saya menyantapnya sampai tuntas hingga serpihan mie terkahir.  

Kenikmatan menyantap mie yang saya ceritakan membenarkan apa yang disampaikan Rasulullah bahwa salah satu kegembiaraan orang yang berpuasa adalah ketika berbuka puasa.  Antusiasme saya terhadap mie, makanan yang selama ini tidak menarik bagi saya, seolah membenarkan ungkapan bahwa lauk terenak adalah rasa lapar. Mamiri di swalayan bahan bangunan dan menikmati buka puasa pemberian takmir masjid di mobil memberikan sensai tersendiri dan membuat Ramadhan tahun ini menjadi lebih berwarna. Semoga Allah SWT menerima puasa dan semua ibadah kita. Aamiin…..

 

Malang, 16 April 2023/26 Ramadhan 1444

  


Rabu, 08 Februari 2023

COVID-19 & CORONA RISTAWAN

 

COVID-19 & CORONA RISTAWAN


Maaf, lagi-lagi tentang Corona. Saat ini Corona memang makhluk Tuhan paling seksi di bumi karena hari-hari ini tiada detik tanpa pembicaraan tentangnya. Tentunya masing-masing orang punya parameter sendiri dalam menentukan keseksiannya. Corona akan terlihat seksi bagi politisi bila dilihat dari perspektif bagaimana pemerintah menanagani wabah ini, bagaimana pemerintah menggunakan anggaran negara, dan bagaimana pemerintah menjalankan UU yang ada untuk memutus rantai penyebarannya. Pebisnis akan melihatnya sangat seksi karena saat ini banyak terbuka peluang bisnis baru meski banyak pula bisnis yang tutup karenanya. Seperti halnya mereka, saya yang suka dengan ilmu linguistik pun melihat ada yang menarik dari wabah corona, yaitu cerita di balik nama COVID-19.

COVID-19

Corona berasal dari bahasa Latin yang bermakna mahkota (crown), dan dia dijadikan nama virus yang pertama kali ditemukan di tahun 1964 oleh seorang wanita Scotlandia bernama June Almeida. Virus ini punya banyak varian, dua diantaranya menjadi penyebab penyakit SARS dan MERS. Virus Corona yang saat ini lagi mewabah merupakan jenis baru yang berbeda dengan yang menyebabkan SARS dan MERS. Karenanya, beberapa bulan lalu pemerintah Cina sempat menyebutnya Novel Corona yang bermakna Corona jenis baru. Per 23 Februari 2020, WHO mengumumkan secara resmi bahwa virus Corona jenis baru yang pertama kali muncul di Wuhan akhir tahun 2019 disebut COVID-19 yang merupakan akronim dari Corona Virus Disease 2019. Jadi, nama wabah yang saat ini lagi pandemi berawal dari Corona, kemudian menjadi Novel Corona, dan akhirnya COVID-19.

 

Corona Ristawan

Corona yang satu ini bukan nama virus, melainkan nama seorang dokter yang aktif di sebuah rumah sakit di Lamongan Jawa Timur. Namanya menjadi sangat relevan dibicarakan saat ini karena kebetulan namanya sama persis dengan nama virus penyebab Covid-19. Lebih menarik lagi karena dokter ini ternyata diamanati oleh PP Muhammadiyah untuk menjadi ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC). Ini menjadi menarik karena seseorang yang bernama Corona harus mengurusi virus Corona. Keduanya memiliki nama yang sama. Bedanya yang satu manusia, dan yang satunya virus.

Bagaimana dia bisa bernama Corona? Usut punya usut, ternyata dia adalah putra ketiga, dan karenanya orang tuanya berupaya mencari nama dengan C sebagai huruf pertama mengingat putra pertama dan kedua sudah berawalan dengan huruf A dan B. Di saat bingung mencari nama itulah, sang ayah membaca merk mobil Corona. Sang ayah tertarik dengan nama itu karena berawalan dengan huru C, terdengar indah, dan bermakna indah pula, yaitu mahkota. Akhirnya diambillah nama merk mobil tersebut sebagai nama putra ketiga.

So, What?

Ada pihak yang meyakini bahwa nama hanyalah label yang bisa menjadi pembeda antara orang yang satu dengan yang lain. Ungkapan legendaris Shakespeare what is in a name?  di kisah Romeo and Juliet sepertinya mengikuti aliran ini. Akan tetapi, ada pihak yang meyakini bahwa nama bukanlah semata-mata label diri, melainkan branding diri. Kelompok ini meyakini bahwa citra diri, kepercayaan diri, cara berpikir, dan perilaku seseorang bisa terbangun karena nama yang disandangnya. Nama diri yang menyiratkan optimisme dan harapan akan mendorong pemiliknya untuk berperilaku penuh semangat dalam bekerja dan pantang menyerah. Saya ada di kelompok kedua karena sepengetahuan saya, selalu ada banyak cerita di balik nama. Nama bisa merepresentasikan banyak hal, diantaranya sejarah, bunyi, bentuk dan fungsi, bahkan doa.  

Name is history alias nama merepresentasikan sejarah. Tidak jarang nama menyiratkan peristiwa penting di masa lampau, penemu sebuah temuan yang fenomenal, dan juga tahun ditemukannya sebuah temuan penting. Mexican flu adalah nama penyakit yang disebabkan oleh virus yang muncul pertama kalinya di kota Mexico. Nama ini menggambarkan dengan jelas bahwa di suatu masa, di kota Mexico telah terjadi peristiwa besar, yaitu munculnya virus penyebab penyakit yang mewabah di banyak negara. Contoh lain dari nama yang merepresentasikan sejarah adalah nama skala suhu fahrenheit yang diambil dai nama penemunya, yaitu ilmuwan Jerman Gabriel Fahrenheit (1636-1786). Dengan diabadikannya nama penemu pada hasil temuannya, maka khalayak akan belajar sejarah dari temuan tersebut, minimal mengetahui nama penemunya. Tahun temuan adalah aspek lain dari sejarah yang bisa kita jumpai pada sebuah nama. Angka 19 di COVID-19 menandakan tahun tersebut adalah tahun ditemukannya virus Corona jenis baru, yang menjadi penyebab COVID-19. Dengan disematkannya angka 19, khalayak menjadi sadar bahwa tahun 2019 adalah tahun penting bagi epidemiologi karena di tahun tersebut ada virus baru yang menyebabkan pandemi di seantero bumi dan merenggut banyak nyawa. Jejak sejarah menjadi tergambar sangat jelas dengan menjadikan tahun kemunculan virus sebagai bagian dari nama.

Name is the representation of sounds, shapes, and functions alias nama merupakan representasi bunyi, bentuk dan fungsi. Keterkaitan antara nama dengan bentuk atau fungsi tertentu sering kita jumpai. Binatang melata di dinding kita namai cicak karena bunyi yang dihasilkannya, dan kain penutup kepala disebut kerudung karena fungsinya mengerudungi. Keduanya adalah contoh dari keterkaitan antara nama dengan bunyi dan fungsi dari benda yang dilabeli. Hal senada terjadi pada virus Corona. Nama Corona menyiratkan keterkaitan antara nama dan bentuk. Virus ini bentuknya mirip dengan mahkota, maka oleh penemunya dia diberi nama Corona yang bermakna mahkota. Sedangkan nama Novel Corona menyiratkan keterkaitan antara nama dan sifat. Novel, diambil dari bahasa Inggris, bermakna baru. Maka nama Novel Corona berarti virus Corona jenis baru.

Name is hopes alias nama adalah doa. Nama merepresentasikan harapan dan doa. Disadari atau tidak ternyata nama bisa memengaruhi kepribadian, perkembangan emosi dan sifat pemiliknya. Nama yang baik akan menciptakan citra diri yang baik bagi pemiliknya, dan begitu sebaliknya. Orang akan cenderung berupaya berlaku sesuai dengan citra yang diciptakan oleh namanya. Oleh sebab itu, ketika nama yang meyiratkan citra dan harapan yang baik akan mendorong penyandangnya untuk berbuat terbaik sesuai dengan makna dari namanya. Nama juga bisa membentuk image. Nama yang baik akan menciptakan image yang baik bagi penyandangnya, dan begitu sebaliknya. Bila seseorang diberi nama Mawar, maka penyandang nama tersebut akan tercitrakan sebagai individu dengan tampilan fisik yang memesona dengan kepribadian yang menarik layaknya bunga mawar. Inilah yang terjadi pada kasus nama Corona Ristawan yang saya angkat di awal tulisan ini. Dengan memberi nama putranya Corona yang bermakna mahkota, sang orang tua berharap dan berdoa semoga sang putra kelak menjadi anak yang penuh prestasi karena hanya individu dengan prestasi terbaik yang biasanya mendapatkan mahkota (corona). Dengan diangkatnya dr Corona Ristawan sebagai Ketua Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC) dan sekarang ditarik ke dalam Tim BNPB, menunjukkan bahwa mahkota yang tersirat dalam namanya sudah terpasang di atas kepalanya.

Sebaliknya, nama juga mencitrakan seseorang menjadi sangat buruk dan terstigma. Spanish Flu atau flu Spanyol akan mencitrakan bangsa Spanyol sebagai sumber penyakit yang menjadi pandemi di tahun 1920. Mungkin karena alasan inilah WHO menghindari menyebut nama negara atau wilayah atau nama seseorang ketika akan memberi nama penyakit yang saat ini sedang mewabah di seantero planet bumi. Misalnya nama pandemi ini dinamai Wuhan Corona, maka hampir bisa dipastikan betapa terstigmanya kota Wuhan dan ini akan berimplikasi pada munculnya sikap rasis dan anti Wuhan. Sungguh, bukan situasi yang sehat baik secara mental maupun sosial.

Nama bukanlah sesuatu yang random. Mungkin begitulah kesimpulan yang pas untuk contoh-contoh kasus di atas. Di baliknya ada pola, ada sejarah, dan ada doa. Mencermati nama, kita bisa belajar banyak tentang keteraturan bahasa, kita bisa menggali sejarah, kita juga bisa ‘mendengar’ doa yang terpanjat oleh pemberi nama. Name is not nothing, but something. 

Akhirnya, bagaimana nama dengan segala cerita di baliknya bisa dihubungkan dengan WFH yang merupakan tema besar dari antologi yang akan memuat tulisan ini? Sepintas tulisan ini memang tidak terkait langsung dengan WFH karena di tulisan ini saya tidak menulis sama sekali tentang WFH dengan segala pernak perniknya. Akan tetapi, semua proses dari tulisan amat sederhana ini—mulai dari membaca sampai revisi—saya lakukan di rumah. Jadi, tulisan singkat sederhana ini tidak bercerita tentang WFH dengan segala dinamikanya, tetapi ini adalah produk dari WFH. Itulah kaitan antara keduanya. Semoga bisa dipahami. Terimakasih...... (Malang, 6 Januari 2021)


Catatan: Tulisan ini dimuat di Antologi Work From Home, IAIN Tulungagung Press, 2021.



Senin, 02 Januari 2023

REUNI

 


REUNI

Reuni pada dasarnya adalah menyatukan kembali pihak-pihak yang terpisah atau terceraikan. Reuni bisa diibaratkan upaya mengumpulkan tulang yang berserak. Acara reuni biasanya dinamai dengan berbagai istilah semisal temu kangen, temu alumni, dan lain2. Itulah yang dilakukan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unej, almamater S1 saya, tanggal 26 Desember 2022 yang lalu. Acara tersebut diselenggarakan berbarengan dengan Musyawarah Nasional  Keluarga Alumni FKIP (Munas KA FKIP).

Reuni ini dilaksanakan secara luring dan daring. Kegiatan luring dilaksanakan di aula Gedung H FKIP Unej, sedangkan yang daring dilaksanakan melalui zoom. Karena satu dan lain hal, maka saya dan suami memilih daring. Reuni ini terbuka untuk semua angkatan, makanya tidak mengherankan bila yang hadir sangat heterogen dari sisi usia. Dari yang sudah setengah baya (angkatan 1980-an), sampai mereka yang masih sangat belia (Angkatan 2017), atau dari generasi kolonial  sampai generasi milenial ada semua.

                  Reuni yang dikemas dalam Temu Alumni dan dibarengkan dengan Munas

Di layar zoom saya bisa ‘bertemu’ beberapa teman sekelas saya yang sekarang sudah menyebar di berbagai kota. Kebersamaan kami yang cukup lama selama menempuh studi di Prodi Bahasa Inggris meninggalkan rekaman kuat di benak saya tentang mereka sehingga sangat mudah bagi saya untuk mengenali mereka meski di layar zoom. Selain teman sekelas, tidak banyak yang saya ketahui tentang ‘hadirin’ zoom karena memang saya tidak kenal mereka sebelumnya.

Acara seremonial dibuka tepat jam 09.00. Ada cukup banyak sambutan di acara ini. Dekan FKIP Prof Dr. Bambang Supeno memberikan sambutan cukup panjang. Ada 3 hal penting yang bisa saya rangkum dari sambutan beliau, yaitu progress FKIP yang sekarang sudah memiliki 19 Prodi, termasuk S2 dan S3, orientasi FKIP yang bukan lagi output, melainkan outcome, dan pesan-pesan untuk kelancaran pelaksanaan Munas.

                       Dekan FKIP Prof Dr Bambang Supeno: Orientasi kita saat ini outcome

Mendengar sambutan beliau, saya semakin sadar bahwa zaman sudah berubah. Masa di mana saya studi dulu, output menjadi prioritas, dan outcome masih belum banyak terpikir. Sedangkan sekarang, outcome lah yang menjadi prioritas. Ketika output menjadi prioritas, maka IP dan IPK menjadi issue yang cukup sentral. Terbayang kembali betebarannya nilai C di KHS. Terbayang kembali pula banyaknya mahasiswa berpredikat MASAKOM alias mahasiswa satu koma, dan teringat kembali pula berapa IPK di akhir studi saya, yaitu 2.77. Selain bisa membuat saya mengembara pada peristiwa masa lalu, sambutan Dekan juga bisa membuat saya tersenyum dan semangat menatap masa depan. Bagaimana tidak, kampus tempat saya studi dulu sekarang sudah bisa melahirkan master dan doctor, sesuatu yang ketika saya studi dulu masih belum terbayang sama sekali.

Rektor Unej, Dr Iwan Tirta, yang memberi sambutan setelah Dekan. Rektor menyampaikan banyak hal, tetapi yang sangat beliau highlight adalah posisi strategis alumni bagi lembaga. Menurut beliau, alumni adalah etalase institusi. Kinerja alumni sedikit banyak mencerminkan kinerja institusi.

                   Rektor Unej Dr Iwan Taruna: Alumni adalah Etalase Institusi

Acara seremonial selesai sektiar pukul 10.30 dan dilanjutkan dengan acara Munas Keluarga Alumni FKIP dengan agenda utama pemilihan ketua umum. Acara Munas ini dipimpin oleh Dr Slamet Hariyadi, M. Si. Pembacaan laporan pertanggungjawaban pengurus lama dilakukan oleh Ketua pengurus Harian Drs. H. Martius Afandi, M. Pd. Laporan pertanggungjawaban dibacakan secara global, dan diterima dengan catatan.

Acara berikutnya adalah pemilihan Ketua Umum Keluarga Alumni. Pimpinan siding membacakan tata tertib pemilihan, yang tiga diantaranya adalah (1) setiap anggota memiliki hak untuk dicalonkan dan mencalonkan; (2) hak bicara dimiliki setiap anggota, dan (3) pemilihan dilakukan secara aklamasi, dan bila tidak bisa mencapai kesepakatan, maka akan dilakukan lobbying, dan apabila belum juga mencapai kesepakatan, maka akan dilakukan voting. Selanjutnya, pimpinan sidang menyampaikan kriteria calon ketua dengan mengacu pada Ketua Umum terdahulu, yaitu (a) tokoh nasional atau memiliki akses nasional; (b) masih aktif di lembaganya; (c) punya kesanggupan; (d) terbukti loyal pada kegiatan-kegiatan keluarga alumni.

Berdasarkan pada tata tertib sidang dan kriteria tersebut, maka ada dua calon ketua umum: Thohir Affandi, Bahasa Inggris 1989, dan Nur Wahid, PLS 1989. Menanggapi pencalonannya, Nur Wahid menyatakan tidak bersedia dengan berbagai pertimbangan, sedangkan Thohir Affandi menyatakan kesediannya. Pernyataan kesediaan ini menandai bahwa pemilihan ketua umum telah selesai dan Thohir Affandi terpilih secara aklamasi.

Dalam sambutan perdana sebagai ketua terpilih, Thohir Affandi menyampaikan beberapa hal. Latar belakang prodi dan tahun angkatan adalah hal pertama yang disampaikan, dan disusul dengan cerita tentang lika liku karir yang ditapakinya di Bappenas. Di akhir sambutan, disampaikannya tips untuk menjadi berhasil adalah komunikasi dan ketrampilan menjaga ekspektasi orang-orang sekitar kita.

                               Ketua Keluarga Alumni terpilih Thohir Affandi (kiri)

Terpilihnya Thohir Affandi (Dik Thofan, begitu biasanya saya memanggilnya), bukanlah hal yang aneh bagi saya. Leadership skill-nya sudah teruji sejak mahasiswa. Organisasi mahasiswa tingkat jurusan ESA (English Students’ Association) dan tingkat fakultas SEMA (Senat Mahasiswa) yang pernah dipimpinnya adalah jejak dari kematangannya dalam berorganisasi dan memimpin massa. Kedua organisasi mahasiswa tersebut juga menjadi bukti kepiawaiannya dalam menjaga ekspektasi orang-orang di sekitarnya seperti yang disampaikan dalam sambutan perdana.

 

So, What?

       Sebenarnya, apa sih manfaat adanya Keluarga Alumni seperti ini? Wadah alumni semacam ini sangat bermanfaat bagi lembaga. Seperti yang disampaikan Dekan, capaian kampus dalam menangani mahasiswa saat ini dilihat dari outcome, yaitu kiprah alumni pasca lulus. Cara mengukurnya adalah dengan melihat seberapa lama masa tunggu lulusan dalam mendapatkan pekerjaan atau melanjutkan studi. Semakin singkat masa tunggu semakin baik. Kampus akan relative lebih mudah untuk membuat pendataan bila alumni yang sudah menyebar di berbagai tempat bisa diwadahi dalam organisasi semacam Keluarga Alumni FKIP. So, bila  organisasi Keluarga Alumni berhasil membantu kampus dalam tracing keberdaan alumninya, maka Lembaga akan sangat terbantu.

          Lantas, apa manfaat Keluarga Alumni bagi alumni? Alumni akan merasa sangat terbantu bila KA bisa menjembatani komunikasi antara kampus dengan mereka. Alumni akan merasa sangat diorangkan bila kampus menjadikan alumni sebagai sparing partner dalam menjalankan tridharma perguruan tinggi. Alangkah idealnya bila tercipta kolaborasi penelitian dan pengabdian antara kampus dengan Lembaga di mana para alumni saat ini bernaung. Keluarga Alumni menurut saya bisa menjembatani ini.

          Selain itu, secara sosial Keluarga Alumni sangatlah bermanfaat. Menjalin silaturahmi perbuatan mulia yang wajib dilestarikan. Sudah banyak yang mengupas kebaikan dari melestarikan silaturahmi, dan karenanya saya tidak elaborasi lebih jauh di sini.

          OK, menatap masa depan adalah wajib karena masa depan adalah masa yang akan kita hadapi, tetapi sesekali menoleh ke masa lalu juga perlu. Masa lalu mengajari banyak hal. Dengan belajar dari masa lalu, masa depan bisa kita songsong dengan lebih terarah dan lebih bijaksana. Untuk itulah, saya sambut dengan antusias temu alumni ini. Akhirnya, saya sampaikan terimakasih kepada panitia atas usaha kerasnya menyelenggarakan acara ini. Good job. Semoga Allah senantiasa mendatangkan ridha-Nya untuk kita. Aamiin…

 

Malang, 3 Januari 2023

 


Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...