WISUDA
232
Wisuda 232 adalah wisuda Universitas Airlangga yang dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 3 Juni 2023. Putri pertama saya, Fatin Philia Hikmah, salah satu wisudawan S2 dan Profesi dari Fakultas Psikologi. Saya sekeluarga hadir di acara yang digelar di Airlangga Convention Center tersebut. Hadir di wisuda Unair kali ini merupakan pengalaman ketiga saya. Tahun 2018 Fatin wisuda S1, dan 2019 Opik wisuda, dan di keduanya saya hadir.
Fatin dengan toga
hitamnya
Dengan
berbekal undangan dengan nomor kursi 1603 dan 1604, saya dan suami memasuki
ruang tempat berlangsungnya acara. Wali wisudawan ditempatkan di lantai dua
dengan tribun berkursi sebagai tempat duduk. Rektor dan jajarannya, para wisudawan,
wali mahasiswa berprestasi, dan undangan VIP ada di lantai bawah.
Ada
kelegaan mendalam begitu melihat deretan wisudawan dengan toga hitam. Sejenak terbayang kembali bagaimana Fatin harus mengikuti kuliah luring selama beberapa saat,
kemudian berpindah ke moda daring sampai semua teori habis. Terlintas juga
bagaimana rebyek-nya mencari responden untuk penelitian tesis. Pasang
poster di status, mengontak teman yang sekiranya punya relasi yang bisa
digiring untuk dijadikan responden adalah salah satu dinamika yang harus Fatin lalui untuk
menyelesaikan tesis.
Tensi
meninggi ketika harus menyelesaikan tujuh kasus sebagai syarat mutlak untuk
menyandang gelar psikolog professional. Dimulai dengan magang di PLP di
Universitas Muhammadiyah Malang, dan dilanjutkan dengan mencari subyek berkasus
yang penyelesaiannya diuji kebenarannya oleh dewan penguji. Mencari dan
menyelesaikan tujuh kasus bukanlah pekerjaan mudah. Masing-masing kasus
menuntut kajian teori mendalam, metodologi penyelesaian yang pas, keluwesan
dalam menyelesaikan kendala teknis di lapangan, dan ketangguhan serta kemahiran
berargumentasi ketika sidang. Saya tahu, Fatin jatuh bangun dalam menyelesaikan
ini semua. Mengulang salah satu kasus yang sudah naik ke meja sidang adalah
pengalaman kurang menyenangkan yang mengandung banyak hikmah. Menemukan bahwa
suatu lembaga ternyata kurang tepat dijadikan sebagai tempat penyelesaian kasus
setelah dilakukan observasi dalam kurun cukup lama adalah pengalaman lain yang
menuntut kesabaran ekstra.
Terselesaikannya
tujuh kasus bukanlah akhir, karena Fatin masih harus diuji kelayakannya oleh
organisasi profesi, yaitu HIMPSI. Dalam ujian ini, Fatin diuji oleh Ibu Esti
Hayu, psikolog dari Universitas Gadjah Mada. Ujian ini menjadi penanda berakhirnya
serangkaian ujian yang harus Fatin lalui.
Kelelahan dan kegalauan yang sering menggelayut selama proses studi dan profesi terasa sirna begitu melihat Fatin bertoga hitam dengan kombinasi kuning dan biru muda. Alhamdulillah. Orang Inggris bilang every after cloud, there is a rainbow. Cloud alias mendung itu sudah berlalu, dan rainbow alias pelangi itu sudah hadir. Kehadiran pelangi dalam kehidupan Fatin yang disimbulkan dengan toga hitam itulah yang membuat saya lega dan wisuda 232 terasa sangat istimewa bagi saya.
Kebahagiaan Fatin
kebahagiaan adiknya juga
***********
Keistimewaan Wisuda 232 selain karena
saya dan keluarga betul-betul engaged juga karena gaya MC dalam memandu
acara. Seperti halnya wisuda di kampus lain, beberapa mahasiswa berprestasi
diberi kesempatan berbicara di depan. Yang membedakan Wisuda 232 dengan wisuda
lainnya adalah tugas memanggil mahasiswa berprestasi tersebut dilakukan oleh
Rektor, Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak. dan bukan oleh MC. Dengan
gayanya yang sangat santai, Rektor memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk
tampil. Dengan tanpa menyebut nama dan fakultas, pemanggilan terlihat random, tapi
saya yakin tidak random. Semuanya sudah disiapkan. List nama sudah ada di map
Rektor. How did I know? Pertama, mereka yang maju sudah menyiapkan teks
di HP masing-masing. Kedua, yang maju memiliki karakteristik yang sama:
memiliki prestasi lebih atau keunikan lain. Ada yang berapi-api cerita tentang bagaimana dia bisa
mendapatkan bea siswa bidik misi. Ada pula yang sangat bangga bagaimana dia
bisa mendapat predikat mahasiswa termuda. Dengan usia yang baru 24 tahun
mahasiswi tersebut sudah menyandang gelar doctor. Ada pula yang dengan PD-nya
menyebutkan sederet prestasi nasional dan internasional yang diraihnya. Selain itu,
ada pula yang dengan santainya menyebut bahwa dia maju bukan karena prestasi
tetapi karena lamanya studi yang dia tempuh. Dengan polosnya dia menyebut bahwa
meski IPK-nya tertinggi di fakultasnya, yaitu 3.87, dia tidak bisa dinobatkan
sebagai mahasiswa berprestasi karena masa studinya mencapai 6 tahun. Tepuk tangan
Panjang membahana begitu mahasiswa FISIP tersebut mengakhiri sambutannya.
Mahasiswa tersebut sebagai satu-satunya mahasiswa yang maju ke depan yang orang
tuanya tidak duduk di tribun kehormatan.
Meski acara ini menyita cukup banyak
waktu, tetapi peran MC yang digantikan oleh Rektor menjadikan acara wisuda
terasa lebih cair, tidak terlalu kaku karena protokoler. Begitu acara ini selesai,
acara selanjutnya adalah penyerahan ijazah yang mewajibkan wisudawan maju, menerima
ijazah dari dekan, dan berjabat tangan dengan Dekan dan Rektor.
We are a full team
Begitu Fatin sudah menerima ijazah, acara selanjutnya adalah foto bersama dan selanjutnya pulang. Dalam perjalanan pulang, saya berdialog dengan Gusti Allah dalam hati: terimakasih atas semua karunia-Mu, ya Allah. Berikanalah Ridha-Mu pada Fatin dan keluarganya, karuniakanlah keberkahan kepada ilmu yang sudah Fatin raih supaya bisa membawa kemudahan hidup di dunia dan akhirat, dan membawa manfaat bagi sesama. Aamiin….
Malang, 13 Juni 2023

.jpeg)

MaasyaaAllah...
BalasHapusSukses untuk Mbak Fatin, semoga ilmunya barakah...
BalasHapus