Sabtu, 23 Juli 2022

Fatin si Anak mBarep

 

Fatin si Anak mBarep

Fatin Philia Hikmah. Begitulah nama lengkap anak pertama saya. Panggilan sehari-harinya cukup Fatin saja. Fatin lahir tgl 14 November 1995, di Rumah Bersalin ‘Aisyiyah Tongan, Malang. Semenjak masa kehamilan sampai dengan melahirkannya, saya nyaris tidak mengalami kesulitan berarti. Ketika mengandung Fatin, saya mengalami masa ngebo, yaitu masa di mana seorang ibu hamil tidak menolak semua jenis makanan. Ke-ngebo-an ini sangat memudahkan saya karena dengan ngebo, asupan gizi cukup sehingga badan menjadi sehat, dan akhirnya saya bisa beraktivitas seperti biasa. Kemudahan ini berlanjut dengan kelahirannya. Melahirkan Fatin tidak terlalu sulit. Dengan bobot 3.2kg, Fatin bisa lahir secara normal tanpa kesulitan yang berarti.

Masa-masa selanjutnya adalah masa yang normal seperti yang dialami anak lainnya. Yang agak berbeda adalah Fatin tidak mengalami merangkak (mbrangkang, Jawa red), tetapi ngesot, yaitu berjalan dengan menggunakan pantat. Apapun cara yang Fatin tempuh untuk bergerak dan berjalan, bagi saya tetap sangat menarik. Dan setiap progress yang dia raih melalui cara tersebut membuat saya sangat gembira dan berharap ada progress selanjutnya.

Fatin dan Pendidikan

Terlahir di Malang, Fatin menempuh pendidikan dari pra sekolah sampai SMA di kota tersebut. BA Baitul Makmur Sengkaling adalah TK di mana Fatin sekolah pertama kali. Di sekolah ini Fatin belajar banyak hal, termasuk cara berinteraksi dengan orang lain. Menyanyi, berdoa, makan dengan benar, shalat, dll adalah ilmu-ilmu dasar yang Fatin peroleh dari para guru. Fatin menimba ilmu di sekolah ini selama 2 tahun, tepatnya dari 1998-2000.

Setamat dari TK, Fatin melanjutkan studinya ke SD Dinoyo 2. Di SD ini Fatin mengalami banyak lompatan. Pada awalnya dia sangat pemalu seperti halnya ketika masih di TK. Lambat laun, dia mulai berubah dan lumayan aktif dengan banyak kegiatan hingga banyak murid dan guru yang mengenalnya.

Setamat SD, Fatin melanjtkan ke MTs Negeri I Malang, sebuah madrasah tsanawiyah yang cukup terkenal di Malang. Tidak banyak catatan yang bisa saya bagikan tentang masa2 ini. Selanjutnya, Fatin melanjutkan studi ke SMA Negeri 3 Malang. Di SMA ini dia aktif di Sie Kerohanian Islam (SKI). Di organisasi ini dia mengenal banyak teman yang menyukai organisasi. Sepemantauan saya, di organisasi inilah Fatin mulai menyukai buku-buku agama dan mulai punya ketertarikan pada masjid.

Ketertarikannya pada kegiatan keagamaan dan masjid semakin menguat ketika Fatin melanjutkan studi di UNAIR, tepatnya di Fakultas Psikologi. Di masjid Ulul Azmi, masjid kampus UNAIR, Fatin mendapat banyak teman yang sefrekuensi, yang sampai ketika dia menempuh S2 pun masih berlanjut.

 

Fatin dan Literasi

Fatin termasuk tipe anak yang suka membaca dan menulis. Dunia literasi diakrapinya sejak kelas I SD. Tulisan Fatin dimuat pertama kali di majalah BOBO Ketika dia masih kelas I. Tulisan tentang pengalamannya pergi ke dokter itu bisa membuat kepercayaan dirinya muncul. Sikap pemalunya sedikit demi sedikit mulai berkurang. Setelah tulisan pertama tersebut, Fatin semakin semangat menulis di BOBO. Salah satu tulisannya yang saya ingat adalah tentang pemilihan presiden secara langsung. Seingat saya dia menulis tentang beragamnya pilihan keluarga besar kami. Ada budhe yang memilih tokoh X, ada pula kerabat yang memilih tokoh Y. Begitulah kurang lebih tulisan Fatin waktu itu. Puncak prestasi literasi Fatin selama SD adalah ketika dia terpilih sebagai delegasi Konferensi Anak BOBO tahun 2007. Tulisan yang meloloskannya pada acara bergengsi tersebut adalah tentang peundungan atau bullying. Melalui konferensi ini Fatin bisa bertemu dengan Gubernur DKI Fauzi Bowo, Ibu Jusuf Kala (istri Wakil Presiden kala itu), dan akademisi sekaligus aktris Ninik L. Karim.

Setamat SD, Fatin masih aktif menulis. Salah satu karyanya berupa buku yang berjudul Setiap Detik Bersama Allah diterbitkan oleh Quanta. Buku ini lumayan diterima oleh khalayak. Selain itu, Fatin juga menerbitkan buku secara indie, yaitu Asyiknya belajar psikologi, dan Mondok yuk…... Buku yang terakhir terbit, berjudul Katarsis, ditulisnya secara kolaborasi dengan 2 sahabatnya, Khusnul dan Sita. Buku ini juga diterima sangat baik oleh khalayak. In nutshell, dunia literasi adalah salah satu passion Fatin. Semoga ke depan Fatin tetap konsisten menekuni bidang ini.

Fatin dan Orang Tua  

Bagaimanakah Fatin dengan orang tua? Fatin sangat dekat dengan kami, orang tuanya. Dia selama ini berusaha sedapat mungkin menjunjung tinggi adab terhadap orang tua. Dia sepertinya meyakini bahwa ridha ortu adalah pintu untuk mendapat ridha Allah. Fatin selalu berupaya untuk membuat hati saya nyaman. Misalnya, suatu saat dia pernah aktif di sebuah komunitas. Saya kurang sreg dengan komunitas tersebut, tapi saya tidak kewetu untuk melarangnya ketika dia minta ijin. Akhirnya dia saya ijinkan untuk bergabung ke dalamnya. Lambat laun dia menyadari akan apa yang saya sembunyikan dan akhirnya dia keluar dari komunitas tersebut.

Fatin juga berupaya taat adab untuk hal-hal kecil yang sebenarnya bagi saya tidak terlalu penting. Dia selalu berupaya mengambil makanan setelah saya atau ayahnya. Dia selalu mempersilakan kami untuk ambil makanan lebih dulu sebelum dia melakukannya. Ketika saya atau ayahnya memanggil, dia akan berupaya untuk menyahutnya walau serepot apapun dia. Singkat kata, menciptakan kenyamanan bagi ortu dan taat adab adalah salah satu ciri khas Fatin dalam berinteraksi dengan ortu.

Fatin dengan Guru

Fatin meyakini bahwa guru adalah satu sumber ilmu. Keberkahan hidup bisa diperoleh, salah satunya adalah melalui guru. Fatin yakin betul akan hal itu. Dengan guru yang dia yakini kelurusan ilmunya, maka dia akan sami’na waathakna. Dia akan manut sepenuhnya. Dia menyebut bunder ser adalah sikapnya terhadap gurunya. Kadang sulit dipahami ada generasi milenial yang masih punya pemikiran seperti. Saya menyaksikan sendiri betapa selama ini dia selalu berusaha berprasangka baik dengan gurunya, berupaya tidak pernah menyebut sisi negative gurunya, dan selalu berupaya mentaati apa yang sang guru sampaikan.

Fatin dan Masa Depan

Bagaimanakah Fatin menatap masa depan? Dengan bekal akademik dan skill yang dia miliki, serta ketaatannya pada ajaran agama, guru, dan ortu, semoga Fatin bisa menentukan langkah tepat untuk masa depannya. Keberaniannya dalam menentukan masa depan dia tunjukkan dengan melangkah ke pelaminan dengan pemuda asal Magetan, Ahmad Faizul Walida Ismani, pada tanggal 24 Juli 2022. Keputusan ini sempat membuat saya tersentak. Sepertinya baru beberapa pekan lalu saya menggendongnya ke rumah sakit untuk imunisasi, sekarang sudah menikah. Betapa manis kebersamaan saya dan Fatin selama ini hingga waktu seperempat abad lebih pun terasa sangat singkat. Sesulit apapun, pernikahan ini harus disambut dengan gembira dan teriring doa semoga Allah meridhai sehingga berbagai kesulitan yang mungkin muncul dalam rumah tangga nanti bisa terlampaui dengan sempurna.

                            Paper bag, salah satu saksi pernikahan Fatin dan Faiz

Bunda akan selalu mohon kepada Allah untuk keharmonisan dan kelanggengan rumah tanggamu, Fatin. Pertahankan semangat berliterasimu, tingkatkan kedekatanmu kepada Allah, dan pertahankan kekuatanmu dalam menjunjung tinggi adab terhadap ortu dan guru. Bunda akan selalu berdoa untukmu dan merasa senantiasa dekat walau setelah ini kita tidak bisa jalan-jalan sesering dulu. Selamat menempuh hidup baru, Fatin. Tulisan sederhana ini sengaja Bunda tulis sebagai hadiah perkawinanmu. I love you….

 

Malang, 23 Juli 2022

Kamis, 21 Juli 2022

Prof Nahiyah dan Bapak Dahlan Rais

 

Bu Nahiyah dan Bapak Dahlan Rais

Berwisata tidak harus mengunjungi tempat-tempat rekreasi semisal pantai, danau, taman kota, atau wahana permainan. Mengunjungi sahabat pun menurut saya bisa dianggap berwisata. Dengan mengunjungi sahabat, kita bisa saling bertukar kabar, saling memanjatkan doa, mengenang beberapa peristiwa lama yang mengesankan, dan tidak jarang membicarakan dan merancang masa depan. Kesemua itu bisa membuat pikiran segar, penuh optimisme, perasaan sering jadi adem, dan kadang berbunga-bunga. Ya,…itulah yang saya rasakan Ketika awal Juli 2022 saya bersama keluarga mengunjungi dua sahabat suami di Jogjakarta dan Surakarta.  

Prof Nahiyah

Prof Nahiyah Jahidi Faraz. Itulah nama dan gelar lengkap sahabat suami yang kami kunjungi di Jogjakarta tanggal 2 Juli 2022. Bertemu dan ngobrol dengan beliau layaknya berwisata di berbagai spot. Semangat di usia senja  adalah spot pertama yang saya singgahi. Prof Nahiyah menunjukkan bahwa usia dan semangat berkegiatan berbanding lurus. Semakin tinggi usia, maka semangat berkegiatan pun juga semakin tinggi. Di usianya yang sudah 70 lebih, beliau masih aktif mengajar di pascasarjana UNY, membimbing mahasiswa dalam menulis tesis dan disertasi, menguji tesis dan disertasi, serta masih aktif menulis buku. Kuantitas kegiatan akademik dan sosial yang beliau jalani di usia pensiun nyaris tidak berbeda dengan ketika belum pensiun.

Politik adalah spot berikutnya. Sebagai seseorang yang pernah menjadi anggota DPR, sangat dekat dengan keluarga Keraton, dan dekat dengan keluarga Gubernur DKI Anies Baswedan, maka beliau sangat paham politik, terutama situasi politik di negeri ini. Dengan Bahasa yang sangat mudah dipahami beliau menyampaikan harapan dan prediksinya tentang pilpres 2024. Ada tokoh yang saat ini sangat popular dan banyak orang yang mendambakannya untuk menjadi presiden. Berbeda dengan harapan banyak orang tersebut, menurut Prof Nahiyah, tokoh tersebut tidak mungkin bisa jadi presiden kecuali dengan campur tangan Allah. Campur tangan Allah adalah mutlak baginya bila ingin jadi presiden. Banyak hal yang tidak bisa dilogikan ketika sudah masuk dalam politik sehingga ketika ada seorang kepala daerah berkinerja bagus dan popular tidak serta merta bisa diterima mayoritas pemilih ketika dia nyapres. Begitulah garis besar pandangannya terhadap siapa yang akan memimpin negeri ini.

                    Kami dengan Prof Nahiyah di taman belakang kediaman beliau

Spot lain adalah spot perpaduan dua budaya, Arab dan Jawa. Prof Nahiyah adalah WNI berdarah Arab. Suasana Arab sangat terasa ketika berada di kediaman beliau. Perabot rumah tangga yang ada di ruang tamu, ruang makan, dan taman belakang bernuansa sangat Arab. Furniture dengan ukuran besar, kaligrafi, lampu kristal, tempat minum dan wadah gula yang tersaji di meja tamu semuanya sangat khas Arab. Suasana Jawa sangat terasa dengan caranya dalam menerima kami. Anjuran budaya Jawa untuk senantiasa gupuh, lungguh dan suguh ketika menerima tamu benar-benar beliau terapkan. Antusiasme dan kehangatan natural yang beliau tunjukkan ketika menerima kami adalah wujud gupuh dalam filosofi Jawa. Diterimanya kami di tempat yang nyaman lengkap dengan camilan dan makan malam adalah perwujudan dari lungguh, dan suguh.

Bagaimana menjaga semangat kerja dan berkarya, bagaimana mencermati dan menyikapi situasi politik di tanah air, dan bagaimana memperlakukan tamu adalah 3 pelajaran berharga yang bisa saya petik dari Prof Nahiyah. Kesemua itu bisa memperkaya batin dan mencerdaskan pikiran.

Bapak Dahlan Rais

Pelajaran senada juga saya peroleh dari sahabat lain, yang tinggal di Surakarta, yaitu Bapak Dahlan Rais, yang kami kunjungi pada hari Senin tgl 4 Juli 2022. Pak Dahlan Rais adalah dosen FKIP Prodi Bahasa Inggris Universitas Negeri Solo (UNS) yang saat ini sudah purna tugas. Bertemu dan berbincang dengan Pak Dahlan Rais sangatlah menarik. Seperti halnya Prof Nahiyah, Pak Dahlan Rais menunjukkan semangat kerja dan berkarya yang masih sangat tinggi di usia senjanya. Purna tugas sebagai ASN tidak berarti purna mengabdi pada sesama. Saat ini beliau masih aktif sebagai ketua Badan Pertimbangan Harian(BPH) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Selain aktif di kedua universitas tersebut, beliau juga masih aktif sebagai pengurus di PP Muhammadiyah, dan saat ini menjadi Ketua Dewan Formatur Mukatamar ke 48 Muhammadiyah. Usia senja tetapi kerja dan karya muda. Mungkin itulah yang pas untuk mendeskripsikan semangat kerja beliau.

Seperti halnya Prof Nahiyah, filosofi Jawa gupuh, lungguh, suguh pun diterapkan betul oleh Pak Dahlan. Dengan hangatnya kami diterima dan diajak keliling kampus UMS, kampus yang salah satu inisiator berdirinya adalah Ibu beliau. Kunjungan kami menjadi seperti campus tour. Pertama, kami dibawa untuk melihat Gedung Edutorium K.H Ahmad Dahlan. Gedung dengan kapasitas sekitar 8.000 orang ini akan menjadi venue kegiatan Muktamar ke 48 Muhammadiyah bulan November 2022.   Pak Dahlan menjelaskan bahwa Gedung yang dibiayai secara swadana tersebut dirancang oleh dosen UMS sendiri. Peruntukan Gedung ini adalah untuk acara-acara besar semisal wisuda, konferensi, dan lain-lain.

Dirasa puas melihat Edutorium, kami diajak berkeliling kampus UMS yang ternyata sangat luas. Saya tidak tahu persis berapa luas areal kampus tersebut. Luasnya areal membuat kampus tersebut menjadi seperti kampus negeri yang biasanya berlahan sangat luas. Saking luasnya lahan, kampus tersebut sampai memiliki 4 masjid untuk memudahkan sivitas akademika menjalankan shalat.

Kampus ini sepertinya menganut paham green campus. Sepanjang jalan penghubung antara gedung satu dengan lainnya dipenuhi dengan pohon yang terawat dengan baik hingga terasa asri. Pemisahan antara sampah organik dan non-organik terlihat di mana-mana. Banyaknya papan bertulis UMS Kampus Cantik tanpa Plastik semakin menguatkan dugaan saya akan konsep go green yang dianut oleh kampus tersebut. Dugaan saya semakin terbukti ketika saya tiba di Gedung Induk Siti Walidah, tempat di mana Pak Dahlan ngantor. Gedung tersebut didesain sedemikian rupa hingga bisa hemat energi. Gedung ini semaksimal mungkin menggunakan matahari sebagai sumber pencahayaan dan menggunakan mungkin angin sebagai sumber penghawaan. Prinsip hemat energi diupayakan semaksimal mungkin di gedung ini.

                      Kami diapit Bapak/Ibu Dahlan Rais di Editorium KH Ahmad Dahlan

Konsep ramah lingkungan ternyata juga diterapkan oleh Pak Dahlan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di kampus tersebut, beliau memberi teladan kepada sivitas akademika yang lain dalam bersikap ramah lingkungan. Beliau menerapkan hidup dengan minimalis dalam pemakaian plastic. Ketika kami makan pagi di Edupark, rumah makan di lingkungan Edutorium, saya tahu bahwa beliau menghindari air mineral botol. Beliau memilih air mineral dari galon yang dituang di gelas. Usut punya usut, ternyata hal tersebut telah menjadi lifestyle beliau. Hal ini sangat berbeda dengan kebiasaan saya yang sangat suka minum air mineral botol sekali pakai sehingga dalam sehari saya bisa memakai dan membuang 4 botol plastic. Betapa tidak ramahnya saya terhadap lingkungan…….

Closing Remarks

Dua sahabat senior tersebut menurut saya memiliki kesamaan, yaitu sikap rendah hati alias humble. Keduanya menunjukkan bahwa dengan bersikap rendah hati, seseorang bukannya terlihat rendah, teapi malah terlihat ‘tinggi’. Keduanya adalah figure yang sudah memiliki semuanya. Status sosial yang beliau pegang memungkinkannya untuk mendapatkan berbagai kemudahan (privileges) dari sekitarnya. Dengan privileges tersebut sangat wajar bagi beliau untuk lupa dengan sahabat lama seperti suami saya yang tidak memiliki daya untuk bisa membuat keduanya semakin berkibar. Akan tetapi, hal tersebut tidak beliau lakukan. Kami, yang notabene orang sangat biasa, diterima dengan sangat baik, lengkap dengan tiga sikap yang diajarkan filosofi Jawa dalam menerima tamu, yaitu gupuh, lungguh, suguh. Bahkan beliau menyampaikan terimakasih karena kami berkenan berkunjung.  Prof Nahiyah dan Bapak Dahlan Rais dalam pandangan saya adalah figure yang bisa melampaui sesuatu yang sangat rendah tetapi sulit dicapai banyak orang, yaitu rendah hati. Dalam hati saya berdoa semoga ridha Allah SWT senantiasa mengalir bagi beliau berdua, dan semoga saya dan keluarga bisa meneladani keduanya. Aamiin…..

 

Malang, 22 Juli 2022


Jumat, 15 Juli 2022

BUKAN MASJID YANG MAINSTREAM

 

 


 

 

Bukan Masjid yang Mainstream

     Jogokariyan. Itulah nama masjid yang saya kunjungi tanggal 2 Juli 2022 (2 Dzulhijjah 1443) lalu. Masjid yang tidak terletak di pusat kota tetapi popularitasnya mendunia ini memang memiliki keunikan yang tidak dimiliki masjid pada umumnya.

Pertama, nama masjid ini keluar dari pakem nama masjid di Indonesia pada umumnya yang cenderung menggunakan Bahasa Arab, semisal At-Taqwa, Baiturrahman, Baitussalam, dll. Nama masjid ini diambil dari nama kampung dan sekaligus nama jalan di mana masjid tersebut berdiri, yaitu Jogokariyan. Nama masjid yang sangat njawani dan tidak berbau Arab sama sekali adalah keunikan pertama dari masjid ini.

          Nama masjid dengan menggunakan nama daerah setempat mengingatkan kita pada masjid Kuba, yaitu masjid yang didirikan oleh Rasulullah di daerah Kuba.  Dengan mengambil nama daerah setempat sebagai nama masjid, maka masyarakat setempat akan merasakan bahwa masjid tersebut benar-benar bagian dari mereka. Sense of belonging atau perasaan ikut memiliki masjid yang tumbuh subur di kalangan masyarakat akan berdampak positif. Kegiatan masjid akan sepenuhnya didukung sehingga masjid tidak akan sepi kegiatan. Masjid menjadi ramai dan hidup. Masjid menjadi bagian dari masyarakat karena masyarakat menjadi concern utama masjid, sesuai dengan salah satu program kerja takmir masjid tersebut, yaitu memasyarakatkan masjid dan memasjidkan masyarakat. Keberhasilan program kerja tersebut, salah satunya adalah karena pemberian nama masjid yang sangat lokal.   



Masjid Jogokariyan yang ditulis dengan tiga jenis huruf: aksara Jawa, Arab, dan Latin

Keunikan kedua masjid ini adalah keterbukaan masjid selama 24 jam. Masjid yang sudah sedemikian popular ini terbuka bagi siapapun yang ingin menjalankan salat ataupun hanya sekedar singgah untuk beristirahat. Takmir masjid tidak memiliki kekhawatiran akan adanya barang hilang atau rusak bila masjid dibuka di luar jam salat. Keterbukaan menjadi lebih sempurna karena pengunjung disiapkan air mineral gratis yang bisa dinikmati pengunjung. Keterbukaan dan keramahan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Keunikan ketiga terletak pada program-program kerja takmir, salah satunya adalah pendekatan kesejahteraan dalam dakwah. Kesejahteraan jamaah sepertinya menjadi isu sentral selain kegiatan-kegiatan yang sifatnya ubudiah. Dalam bulan Ramadhan, program pensejahteraan jamaah sangat nyata karena masjid ini bisa menyediakan ribuan porsi buka bersama gratis. Selain bulan Ramadhan, program yang sifatnya lebih berkesinambungan sangat tampak terlihat dengan adanya ATM beras. Yaitu suatu anjungan untuk menyalurkan sedekah beras untuk para dhuafa.


                                ATM alias Anjungan Terima Mandiri Beras untuk dhuafa

Selain ATM beras, upaya menyentuh masyarakat secara langsung bisa dilihat dari banyaknya kotak amal dengan peruntukan yang berbeda-beda. Di masjid pada umumnya kita temukan satu atau dua kotak amal yang sudah bisa ditebak peruntukannya, yaitu untuk operasional masjid. Nah, di masjid ini berbeda. Ada banyak kotak amal di sana dengan peruntukan yang berbeda-beda. Kotak infaq darurat kebencanaan, kotak shodaqoh beras, kotak infaq operasional masjid, infaq air minum, kotak infaq dunia Islam adalah sebagian kotak amal yang saya temui di teras masjid tersebut. Selain itu, ada ATM beras, yaitu suatu anjungan yang bisa digunakan menyalurkan sedekah beras untuk dhuafa.  

Merangkul jamaah dengan mensejahterakan mereka memang sejalan dengan visi masjid tersebut, yaitu terbentuknya masyarakat sejahtera lahir batin yang diridhai Allah melalui kegiatan kemasyarakatan yang berpusat di masjid. Kesadaran akan pentingnya keseimbangan antara hablumminallah dan hablumminannas mungkin yang menggerakkan pengelola masjid hingga masjid ini hidup dengan kegiatan-kegiatan ubudiah dan muamalah. Kesadaran akan menyeimbangkan keduanya akan bisa menjaga ke-istiqomah-an kita dalam mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai bentuk ibadah ritual yang telah di-syariat-kan yang akhirnya tereflesikan dalam perilaku luhur terhadap sesama. Menyeimbangkan keduanya dalam program kerja masjid menjadikan agama menjadi hidup, membumi, dan solutif.  Itulah pelajaran berharga yang bisa saya petik dari kunjungan singkat saya ke masjid Jogokariyan, sebuah masjid kampung yang mendunia, sebuah masjid yang berbeda dengan kebanyakan masjid lainnya, sebuah masjid yang anti mainstream.

 

Malang, 9 Juli 2022/10 Dzulhijjah 1443

 

 

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...