Kamis, 13 Mei 2021

Idul Fitri di Tengah Pandemi

 

Idul Fitri di tengah Pandemi

 

Idul Fitri selalu memiliki daya pikat yang luar biasa tinggi bagi umat Muslim, terutama umat Muslim di Indonesia. Antusiasme menyambutnya selalu sudah terasa mulai awal Ramadhan. Ornamen2 khas Idul Fitri semisal miniature ketupat dan bedug yang bertebaran di banyak tempat adalah bukti tingginya semangat warga menyambutnya. Ketika Idul Fitri harus jatuh di tengah masa pendemi yang memaksa orang untuk meminimalisir gerak pun, greget menyambutnya tetap terasa.

Ya, di tahun ini—tahun 2021M atau 1442H—Idul Fitri jatuh di masa pandemic. Aturan-aturan yang membatasi mobilitas warga menjadikan lebaran tahun ini terasa sangat berbeda. Salah satu perbedaan yang sangat menonjol adalah ketika shalat Ied. Seperti biasa, saya dan keluarga shalat Ied di kampus UMM. Kampus ini menyebarkan form pendaftaran bagi dosen dan karyawan yang berminat melaksanakan shalat Ied di kampus. Ini bukanlah hal yang lazim, karena selama sebelum pandemic, kampus ini selalu terbuka bagi warga sekitar yang berminat melaksanakan shalat Ied. Keterbukaan itu bisa dilihat dari banner atau spanduk yang berisi pengumuman tentang penyelenggaraan shalat Ied. Tahun ini, spanduk tersebut tidak ada, dan malah diganti dengan formulir online yang harus diisi oleh calon jamaah.

Perbedaan yang kedua adalah lokasi pelaksaan  shalat. Shalat Ied sekarang dilaksanakan di depan gedung kemahasiswaan dan area parkir, tidak di lapangan heliped seperti tahun-tahun sebelumnya. Perbedaan ketiga adalah penerapan protocol kesehatan di lokasi. Begitu masuk area shalat, jamaah disambut oleh petugas yang dengan sigap menyemprotkan hand sanitizer ke telapak tangan para jamaah, dan jamaah yang tidak mengenakan masker diberi masker. Di tengah alunan suara takbir, panitia tiada henti mengingatkan para jamaah untuk senantiasa patuh dengan prokes, termasuk jarak antar jamaah yang harus minimal satu meter. Perbedaan berikutnya adalah pendeknya ayat yang dibacakan oleh imam shalat. Seusai membaca Surah Al-Fatihah, di rakaat pertama Imam membaca Surah Al-Baqarah ayat 285, dan di rakaat kedua membaca surah yang sama, ayat 286.  Begitupun dengan khutbah setelah shalat. Sangat sebentar, kurang dari sepuluh menit. Durasi yang sangat pendek untuk ukuran shalat Ied, shalat sunat muakad yang hanya sekali dalam setahun.

Terlepas dari berbagai ketidaklaziman yang saya sebut tadi, shalat Ied tahun ini tetap terasa istimewa. Khutbah singkat tersebut sangat sarat akan pengingat. Sang khatib tersebut mengingatkan bahwa puasa memiliki dimensi internal dan eksternal. Secara internal, gemblengan selama sebulan diharapkan bisa membersihkan hati, yaitu hati yang bisa membedakan mana yang benar dan mana tidak. Secara eksternal, puasa mengajarkan kita untuk bisa berempati dengan penderitaan orang lain. Hanya orang yang pernah merasakan asin yang bisa merasakan manis. Hanya orang yang pernah merasakan lapar yang bisa berempati dengan kemiskinan orang lain. Puasa jangan sampai menjadikan kita menjadi pribadi yang terbelah, yaitu pribadi yang memiliki penegtahuan agama sangat memadai, memiliki ketaatan ibadah luar biasa tinggi tetapi tidak memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang sekitar.

 

                                                 Jamaah yang berjarak sekitar satu meter

Itulah rekaman dari salah satu keunikan Idul Fitri di tengah pandemic. Apapun kondisinya, Idul Fitri tetap terasa istimewa. Dia bukan hari besar biasa. Akhirnya, saya sampaikan Selamat Idul Fitri 1442H/2021M. Mohon Maaf lahir dan batin.

 

Malang, 13 Mei 2021/ 1 Syawal 1442


1 komentar:

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...