Pengajian yang Menggembirakan,
Mendekatkan, Mengingatkan, dan Mencerahkan
Salah
satu agenda rutin Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang adalah
pengajian dua bulanan bagi warga persyarikatan dengan PCM sebagai tuan rumah.
Kegiatan rutin ini selain untuk memberi siraman ruhani bagi warga persyarikatan
juga media untuk konsolidasi organisasi. Tanggal 11 Juni 2023 agenda rutin
tersebut dilaksanakan di Gedung Serbaguna Karangkates dengan PCM Sumberpucung sebagai tuan
rumah. Ada sederet agenda penting yang digelar, tiga diantaranya adalah
pengukuhan Majelis dan Lembaga PDM periode 2022-2027, Halal Bihalal, dan
Pengajian yang disampaikan oleh dr. Agus Taufiqurrahman, Sp. S., M. Kes dari PP
Muhammadiyah.
Sebagai
gong alias acara pamungkas, pengajian yang dibawakan dr Agus Taufiqurrahman ini
terasa menggembirakan, mendekatkan, mengingatkan, dan mencerahkan.
Menggembirakan, karena dr Agus berceramah sembari menjadi entertainer. Dengan
kemampuan menyanyi dan ditopang suara merdu, dr Agus tidak canggung menyanyi
Mars ‘Aisyiyah, sebuah lagu yang identik dengan kaum ibu. Dengan luwes pula ia menirukan muadzin yang sedang adzan dengan nada tinggi, dan dengan nyaris
sempurna dia bisa menirukan gaya khas Syeikh Sudais, imam masjidil Haram yang
sangat popular, dalam membaca surah Al-Fatihah. Dengan kemampuannya berolah vocal
tersebut menjadikan pengajian yang dibawakannya terasa cair, tidak monoton,
tidak mengantukkan, melainkan menggembirakan. Hadirin jadi bersemangat
mengikuti hingga akhir.
dr.
Agus Taufiqurrahman, Sp. S., M. Kes
Selain menggembirakan, pengajian oleh dr Agus juga terasa mendekatkan. Nyaris tanpa jarak. Itulah deskripsi yang pas untuk menggambarkan bagaimana dr Agus berinteraksi dengan audience. Warga Muhammadiyah Kabupaten Malang cukup majemuk dalam banyak hal, termasuk pendidikan dan profesi. Kemajemukan ini didekati oleh dr Agus dengan bahasa yang bisa diterima semua kalangan. Kombinasi antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa kelas menengah dia gunakan untuk menyampaikan dakwah. Dengan cara berbahasa yang demikian, audience dari kalangan manapun merasa terakomodir. Bahasa menjadi jembatan pendekat antara penceramah dengan audience. Cara dr Agus berbahasa yang sejalur dengan bahasa audience menjadikannya dekat audience. Penceramah dan audience terasa menyatu.
Ceramah dr Agus juga bersifat
mengingatkan. Apa yang disampaikan dr Agus bukan sekedar jokes atau
guyonan yang bisa membuat audience tergelak panjang layaknya penonton
lawak. Di balik kalimat-kalimat ringan berbahasa campuran Jawa Indonesia
terdapat pesan yang sarat pengingat. Dia mengingatkan bahwa orang Islam,
khususnya warga Muhammadiyah seyogyanya: (1) suka mengaji alias suka baca
Al-Qur’an; (2) suka silaturahmi; (3) suka bersedekah; dan (4) suka beramal
shaleh. Meski keempat kebiasaan mulia tersebut sudah sangat sering kita dengar,
tetapi belum tentu keempatnya sudah menjadi gaya hidup kita. Perlu effort, perlu
pembiasaan dan konsistensi untuk menjadikannya sebagai keseharian kita. Karenanya,
pengingat seperti yang disampaikan dr Agus terasa sangat perlu.
Kedekatan
penceramah dengan sebagian audience
Tidak beda dengan jasmani yang selalu butuh nutrisi, ruhani kita juga perlu nutrisi. Nutrisi yang berkualitas bisa membuat jasmani sehat dan kuat. Ceramah dengan gaya santai, dengan pilihan diksi sederhana nan mudah dipahami, namun sarat pengingat sangatlah mencerahkan. Ceramah seperti ini bisa membuat audience sadar akan apa yang harus dilakukan tanpa merasa digurui. Mereka bisa sadar akan kewajiban tanpa diingatkan dan tanpa ancaman. Mereka tergerak untuk melakukan kebaikan tanpa imbalan.
Kami hadir ke sini dalam rangka menutrisi ruhani.
Hadir di pengajian adalah upaya kita untuk menutrisi ruhani kita. Supaya mendapatkan hasil yang maksimal, maka apa yang disampaikan di dalam pengajian haruslah sesuai dengan kebutuhan nutrisi ruhani kita. Apa yang disampaikan dr Agus dalam pengajian adalah contoh dari pengajian yang dibutuhkan oleh sebagian besar audience. Pesan-pesan kebaikan akan terasa layaknya nutrisi bila disampaikan dengan luwes dengan bahasa yang bisa diterima semua kalangan.
Malang, 30 Juni 2023 M/12 Dzulhijjah 1444 H

.jpeg)









