Jumat, 30 Juni 2023

Pengajian yang Menggembirakan, Mendekatkan, Mengingatkan, dan Mencerahkan

 

Pengajian yang Menggembirakan, Mendekatkan, Mengingatkan, dan Mencerahkan

 

        Salah satu agenda rutin Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang adalah pengajian dua bulanan bagi warga persyarikatan dengan PCM sebagai tuan rumah. Kegiatan rutin ini selain untuk memberi siraman ruhani bagi warga persyarikatan juga media untuk konsolidasi organisasi. Tanggal 11 Juni 2023 agenda rutin tersebut dilaksanakan di Gedung Serbaguna Karangkates dengan PCM Sumberpucung sebagai tuan rumah. Ada sederet agenda penting yang digelar, tiga diantaranya adalah pengukuhan Majelis dan Lembaga PDM periode 2022-2027, Halal Bihalal, dan Pengajian yang disampaikan oleh dr. Agus Taufiqurrahman, Sp. S., M. Kes dari PP Muhammadiyah.

Flyer untuk sosialisasi acara

        Sebagai gong alias acara pamungkas, pengajian yang dibawakan dr Agus Taufiqurrahman ini terasa menggembirakan, mendekatkan, mengingatkan, dan mencerahkan. Menggembirakan, karena dr Agus berceramah sembari menjadi entertainer. Dengan kemampuan menyanyi dan ditopang suara merdu, dr Agus tidak canggung menyanyi Mars ‘Aisyiyah, sebuah lagu yang identik dengan kaum ibu. Dengan luwes pula ia menirukan muadzin yang sedang adzan dengan nada tinggi, dan dengan nyaris sempurna dia bisa menirukan gaya khas Syeikh Sudais, imam masjidil Haram yang sangat popular, dalam membaca surah Al-Fatihah. Dengan kemampuannya berolah vocal tersebut menjadikan pengajian yang dibawakannya terasa cair, tidak monoton, tidak mengantukkan, melainkan menggembirakan. Hadirin jadi bersemangat mengikuti hingga akhir.

dr. Agus Taufiqurrahman, Sp. S., M. Kes

        Selain menggembirakan, pengajian oleh dr Agus juga terasa mendekatkan. Nyaris tanpa jarak. Itulah deskripsi yang pas untuk menggambarkan bagaimana dr Agus berinteraksi dengan audience. Warga Muhammadiyah Kabupaten Malang cukup majemuk dalam banyak hal, termasuk pendidikan dan profesi. Kemajemukan ini didekati oleh dr Agus dengan bahasa yang bisa diterima semua kalangan. Kombinasi antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa kelas menengah dia gunakan untuk menyampaikan dakwah. Dengan cara berbahasa yang demikian, audience dari kalangan manapun merasa terakomodir. Bahasa menjadi jembatan pendekat antara penceramah dengan audience. Cara dr Agus berbahasa yang sejalur dengan bahasa audience menjadikannya dekat audience. Penceramah dan audience terasa menyatu.

        Ceramah dr Agus juga bersifat mengingatkan. Apa yang disampaikan dr Agus bukan sekedar jokes atau guyonan yang bisa membuat audience tergelak panjang layaknya penonton lawak. Di balik kalimat-kalimat ringan berbahasa campuran Jawa Indonesia terdapat pesan yang sarat pengingat. Dia mengingatkan bahwa orang Islam, khususnya warga Muhammadiyah seyogyanya: (1) suka mengaji alias suka baca Al-Qur’an; (2) suka silaturahmi; (3) suka bersedekah; dan (4) suka beramal shaleh. Meski keempat kebiasaan mulia tersebut sudah sangat sering kita dengar, tetapi belum tentu keempatnya sudah menjadi gaya hidup kita. Perlu effort, perlu pembiasaan dan konsistensi untuk menjadikannya sebagai keseharian kita. Karenanya, pengingat seperti yang disampaikan dr Agus terasa sangat perlu.

Kedekatan penceramah dengan sebagian audience

        Tidak beda dengan jasmani yang selalu butuh nutrisi, ruhani kita juga perlu nutrisi.  Nutrisi yang berkualitas bisa membuat jasmani sehat dan kuat. Ceramah dengan gaya santai, dengan pilihan diksi sederhana nan mudah dipahami, namun sarat pengingat sangatlah mencerahkan. Ceramah seperti ini bisa membuat audience sadar akan apa yang harus dilakukan tanpa merasa digurui. Mereka bisa sadar akan kewajiban tanpa diingatkan dan tanpa ancaman. Mereka tergerak untuk melakukan kebaikan tanpa imbalan.

Kami hadir ke sini dalam rangka menutrisi ruhani.

        Hadir di pengajian adalah upaya kita untuk menutrisi ruhani kita. Supaya mendapatkan hasil yang maksimal, maka apa yang disampaikan di dalam pengajian haruslah sesuai dengan kebutuhan nutrisi ruhani kita. Apa yang disampaikan dr Agus dalam pengajian adalah contoh dari pengajian yang dibutuhkan oleh sebagian besar audience. Pesan-pesan kebaikan akan terasa layaknya nutrisi bila disampaikan dengan luwes dengan bahasa yang bisa diterima semua kalangan.

Malang, 30 Juni 2023 M/12 Dzulhijjah 1444 H


Selasa, 13 Juni 2023

WISUDA 232

 


WISUDA 232

 

        Wisuda 232 adalah wisuda Universitas Airlangga yang dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 3 Juni 2023. Putri pertama saya, Fatin Philia Hikmah, salah satu wisudawan S2 dan Profesi dari Fakultas Psikologi. Saya sekeluarga hadir di acara yang digelar di Airlangga Convention Center tersebut. Hadir di wisuda Unair kali ini merupakan pengalaman ketiga saya. Tahun 2018 Fatin wisuda S1, dan 2019 Opik wisuda, dan di keduanya saya hadir.


Fatin dengan toga hitamnya

Dengan berbekal undangan dengan nomor kursi 1603 dan 1604, saya dan suami memasuki ruang tempat berlangsungnya acara. Wali wisudawan ditempatkan di lantai dua dengan tribun berkursi sebagai tempat duduk. Rektor dan jajarannya, para wisudawan, wali mahasiswa berprestasi, dan undangan VIP ada di lantai bawah.

Ada kelegaan mendalam begitu melihat deretan wisudawan dengan toga hitam. Sejenak terbayang kembali bagaimana Fatin harus mengikuti kuliah luring selama beberapa saat, kemudian berpindah ke moda daring sampai semua teori habis. Terlintas juga bagaimana rebyek-nya mencari responden untuk penelitian tesis. Pasang poster di status, mengontak teman yang sekiranya punya relasi yang bisa digiring untuk dijadikan responden adalah salah satu dinamika yang harus Fatin lalui untuk menyelesaikan tesis.

Tensi meninggi ketika harus menyelesaikan tujuh kasus sebagai syarat mutlak untuk menyandang gelar psikolog professional. Dimulai dengan magang di PLP di Universitas Muhammadiyah Malang, dan dilanjutkan dengan mencari subyek berkasus yang penyelesaiannya diuji kebenarannya oleh dewan penguji. Mencari dan menyelesaikan tujuh kasus bukanlah pekerjaan mudah. Masing-masing kasus menuntut kajian teori mendalam, metodologi penyelesaian yang pas, keluwesan dalam menyelesaikan kendala teknis di lapangan, dan ketangguhan serta kemahiran berargumentasi ketika sidang. Saya tahu, Fatin jatuh bangun dalam menyelesaikan ini semua. Mengulang salah satu kasus yang sudah naik ke meja sidang adalah pengalaman kurang menyenangkan yang mengandung banyak hikmah. Menemukan bahwa suatu lembaga ternyata kurang tepat dijadikan sebagai tempat penyelesaian kasus setelah dilakukan observasi dalam kurun cukup lama adalah pengalaman lain yang menuntut kesabaran ekstra.

Terselesaikannya tujuh kasus bukanlah akhir, karena Fatin masih harus diuji kelayakannya oleh organisasi profesi, yaitu HIMPSI. Dalam ujian ini, Fatin diuji oleh Ibu Esti Hayu, psikolog dari Universitas Gadjah Mada. Ujian ini menjadi penanda berakhirnya serangkaian ujian yang harus Fatin lalui.

Kelelahan dan kegalauan yang sering menggelayut selama proses studi dan profesi terasa sirna begitu melihat Fatin bertoga hitam dengan kombinasi kuning dan biru muda. Alhamdulillah. Orang Inggris bilang every after cloud, there is a rainbow. Cloud alias mendung itu sudah berlalu, dan rainbow alias pelangi itu sudah hadir. Kehadiran pelangi dalam kehidupan Fatin yang disimbulkan dengan toga hitam itulah yang membuat saya lega dan wisuda 232 terasa sangat istimewa bagi saya.


Kebahagiaan Fatin kebahagiaan adiknya juga

***********

        Keistimewaan Wisuda 232 selain karena saya dan keluarga betul-betul engaged juga karena gaya MC dalam memandu acara. Seperti halnya wisuda di kampus lain, beberapa mahasiswa berprestasi diberi kesempatan berbicara di depan. Yang membedakan Wisuda 232 dengan wisuda lainnya adalah tugas memanggil mahasiswa berprestasi tersebut dilakukan oleh Rektor, Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak. dan bukan oleh MC. Dengan gayanya yang sangat santai, Rektor memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk tampil. Dengan tanpa menyebut nama dan fakultas, pemanggilan terlihat random, tapi saya yakin tidak random. Semuanya sudah disiapkan. List nama sudah ada di map Rektor. How did I know? Pertama, mereka yang maju sudah menyiapkan teks di HP masing-masing. Kedua, yang maju memiliki karakteristik yang sama: memiliki prestasi lebih atau keunikan lain. Ada yang berapi-api cerita tentang bagaimana dia bisa mendapatkan bea siswa bidik misi. Ada pula yang sangat bangga bagaimana dia bisa mendapat predikat mahasiswa termuda. Dengan usia yang baru 24 tahun mahasiswi tersebut sudah menyandang gelar doctor. Ada pula yang dengan PD-nya menyebutkan sederet prestasi nasional dan internasional yang diraihnya. Selain itu, ada pula yang dengan santainya menyebut bahwa dia maju bukan karena prestasi tetapi karena lamanya studi yang dia tempuh. Dengan polosnya dia menyebut bahwa meski IPK-nya tertinggi di fakultasnya, yaitu 3.87, dia tidak bisa dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi karena masa studinya mencapai 6 tahun. Tepuk tangan Panjang membahana begitu mahasiswa FISIP tersebut mengakhiri sambutannya. Mahasiswa tersebut sebagai satu-satunya mahasiswa yang maju ke depan yang orang tuanya tidak duduk di tribun kehormatan.

        Meski acara ini menyita cukup banyak waktu, tetapi peran MC yang digantikan oleh Rektor menjadikan acara wisuda terasa lebih cair, tidak terlalu kaku karena protokoler. Begitu acara ini selesai, acara selanjutnya adalah penyerahan ijazah yang mewajibkan wisudawan maju, menerima ijazah dari dekan, dan berjabat tangan dengan Dekan dan Rektor.


We are a full team

        Begitu Fatin sudah menerima ijazah, acara selanjutnya adalah foto bersama dan selanjutnya pulang. Dalam perjalanan pulang, saya berdialog dengan Gusti Allah dalam hati: terimakasih atas semua karunia-Mu, ya Allah. Berikanalah Ridha-Mu pada Fatin dan keluarganya, karuniakanlah keberkahan kepada ilmu yang sudah Fatin raih supaya bisa membawa kemudahan hidup di dunia dan akhirat, dan membawa manfaat bagi sesama. Aamiin….  

Malang, 13 Juni 2023

 

 

 


Jumat, 09 Juni 2023

MAJELIS TAKLIM, SAYA, BIOSKOP, DAN BUYA HAMKA

 


MAJELIS TAKLIM, SAYA, BIOSKOP, DAN BUYA HAMKA

 

        Berbicara di depan mahasiswa tentang linguistik, riset dan statistik, atau tentang ketrampilan berbahasa adalah hal lumrah bagi saya karena memang itu pekerjaan saya. Orang Jawa menyebutnya sega jangan, sedangkan orang Inggris menyebutnya bread and butter case. Menjadi hal yang tidaK biasa ketika berbicara di depan public harus saya lakukan di gedung bioskop dengan topik tentang sebuah film. Inilah yang saya alami beberapa saat lalu.

Belajar kebaikan melalui nonton bareng (Nobar) ‘Buya Hamka’ 

Saya diundang oleh empat majelis taklim yang ada di Malang: Majelis Taklim Perindu Surga, Majelis Taklim Al Hidayah Araya, Majelis Dhuha Ummida, dan Majelis Dhuha Azzahrah untuk memberi review atau catatan tentang Film Buya Hamka Volume 1 pada tanggal 31 Mei 2023. Saya senang dengan undangan ini karena: pertama, kebesaran nama Buya Hamka. Ketokohan Buya dan multitalenta yang dimilikinya menyebabkan pembicaraan tentangnya terasa mencerahkan dan menyejukkan. Yang lebih penting dari itu adalah saya ingin kecipratan kebaikan dan ketokohan Buya. Saya ingin dapat berkah dari kebaikan Buya. Ngalap berkah. Mungkin itulah istilah yang pas.  Alasan kedua, menurut saya, ini adalah kesempatan untuk bisa membuka jaringan kerjasama antara ‘Aisyiyah—organisasi di mana saya selama ini aktif—dengan komunitas lain. Ketiga, undangan ini bisa untuk refreshing. Membicarakan topik yang sama secara berulang dalam kurun yang sangat lama seperti yang selama ini saya lakukan di kampus kadang membuat saya jenuh. Pembicaraan tentang film yang tentunya sangat berbeda dengan topik keseharian saya di kampus ibarat halaman baru dengan rumput dan bebatuan yang serba baru. Hal ini tentunya sangat menyegarkan dan menyehatkan hati dan pikiran.

Dengan tiga alasan tersebut, saya dengan ringan menuju venue, yaitu MOPIC Cinemas di Jl Soekarno Hatta Malang. Sesampainya di lokasi, saya diberitahu Panitia bahwa saya dengan jamaah Majelis Taklim Perindu Surga dan Majelis Dhuha Ummida di Studio 2, sedangkan Ibu-ibu dari Majelis Taklim Al Hidayah Araya dan Majelis Dhuha Azzahrah dengan Ustdazah Maya Novita, Lc. MA sebagai reviewer di Studio 1. Dengan pembagian ini, saya segera menuju Studio 2 dengan sekitar 100 orang ibu yang membuat seluruh kursi di tempat tersebut fully seated.

Acara diawali dengan nonton bareng (nobar) film Buya Hamka Volume 1. Bagi saya ini adalah kali kedua saya menontonnya. Sebelumnya saya sudah menonton dengan keluarga. Pemutaran film berlangsung sekitar 2 jam, dan setelah itu saya diberi kesempatan untuk memberi review.

Begitu berdiri di depan, saya merasa siap sekaligus grogi. Saya siap, karena film ini sudah saya tonton sebelumnya dan review tentang film tersebut sudah saya tulis dan unggah di blog. Saya grogi karena saya ada di komunitas baru, yang jamaahnya belum ada satupun yang saya kenal. Saya grogi juga karena film bukanlah bidang saya. Pengetahuan saya akan film sangat terbatas. Review yang saya siapkan cenderung pada impresi saya terhadap tokoh utama dalam film tersebut (Buya Hamka), dan sangat sedikit yang terkait dengan film-nya.


Perasaan grogi tersebut saya atasi dengan menarik nafas panjang beberapa kali dan mengucapkan doa rabbishrahli shadri wayassirli amri wahlul uqdatan millisaani yaf qahu qaulii…. Alhamdulillah, perasaan grogi teratasi, dan saya perkenalkan diri saya dan ‘Aisyiyah. Meski saya yakin para hadirin sudah cukup familiar dengan ‘Aisyiyah, tapi saya merasa wajib mengenalkannya sebagai upaya untuk membuka pintu kolaborasi.


Gedung film sebagai titik awal kolaborasi

Begitu kalimat-kalimat ta’aruf selesai, saya mulai memberi catatan tentang film. Catatan terbagi dua: tentang Buya Hamka dan tentang filmnya. Terkait Buya Hamka, saya membuat highlight bahwa beliau adalah tokoh multitalenta dengan prestasi di atas rata-rata. Sebagai sastrawan, beliau outstanding. Dengan fasilitas mesin ketik manual dan ketrampilan mengetik ‘11’ jari, beliau bisa menghasilkan dua masterpieces: ‘Di bawah Lindungan Ka’bah’ dan ‘Tenggelamnya Kapal Van Der Wick’. Sebagai wartawan, beliau bisa menghasilkan tulisan laporan yang bisa membuat kaum penjajah kalang kabut. Sebagai leader, beliau punya jiwa leadership yang mumpuni, terbukti dengan kemampuannya memimpin Muhammadiyah Sumatra Timur yang bisa berkembang dan memiliki banyak cabang. Kepemimpinannya juga teruji ketika memimpin harian Pedoman Masyarakat, sebuah harian yang masih baru yang dengan kepemimpinan beliau bisa menembus oplah 5000 eksemplar per hari. Sebagai ulama, ke-ulama-annya teruji dengan kemampuannya menyebarkan ajaran Islam dengan berbagai cara, baik lisan maupun tertulis.


“Buya Hamka adalah tokoh multitalenta”

Terkait dengan posisinya sebagai ulama, ada satu hal yang saya lupa sampaikan di forum, yaitu keteguhan Buya dalam menjaga tegak lurusnya akidah. Dalam satu adegan Buya menolak perintah Gubernur Jepang untuk membungkukkan badan ke arah timur laut sebagai penghormatan kepada Kaisar Jepang. Buya menolaknya karena beliau tidak mau mengkontaminasi kemurnian akidah. Beliau anggap itu adalah sirik. Poin ini sebenarnya sangat relevan bila saya highlight di depan jamaah majelis taklim. Sangat disayangkan mengapa saya lupa pada waktu itu….

Selain itu, saya juga menggarisbawahi pribadi Buya sebagai suami dan ayah. Sebagai suami beliau sangat menghargai dan mencintai istri. Dan sebagai ayah, beliau adalah ayah yang sangat dekat dengan buah hatinya. Kepada mereka, Buya bersikap sangat lembut meskipun ketika kecil beliau mendapat perlakuan kasar dari Ayahanda.

Dari sisi film, saya sampaikan bahwa film biopic (film sejarah) ini menggunakan alur cerita yang tidak selazimnya cerita sejarah yang biasanya selalu kronologis. Kisah hidup Buya tidak dimulai dengan kelahiran dan masa kecilnya layaknya cerita sejarah lainnya. Film ini dimulai dengan kehidupan Buya ketika sudah menikah. Ini menjadikan film ini tidak membuat penonton ngantuk.

Hal lain yang saya beri catatan adalah film ini mengangkat Buya sebagai pribadi yang utuh, lengkap dengan sisi positif dan negatifnya. Pengakuan Buya bahwa beliau sudah terbujuk dengan janji-jani Nippon yang berujung pada penonaktifannya dari jabatan Ketua Muhammadiyah Sumatra Timur membuktikan bahwa Buya adalah manusia biasa yang tidak luput dari salah. Kepiawaian sutradara dalam menyandingkan prestasi Buya dengan pengakuan akan bujukan Nippon menjadikan film ini sarat akan penghormatan yang tanpa pengkultusan. Buya sangat dijunjung tinggi, tapi tidak dikultuskan.

Catatan lain dari saya adalah pemakaian Bahasa Minang yang sangat dominan. Sebagai penyuka linguistik, saya sampaikan bahwa saya sangat suka karena bisa memperkenalkan bahas local.

Akhirnya, saya sampaikan bahwa film yang mengupas habis akan prestasi dan kepribadian Buya secara utuh ini merupakan tontonan yang sarat akan tuntunan. Banyak hal yang bisa dipelajari dari film ini hingga rasanya tidak sabar untuk menanti kelanjutannya.

 

*************

      Puaskah saya dengan apa yang saya sampaikan? Jujur, saya kurang puas. Setahu saya, me-review adalah membaca kritis. Memberi catatan dengan kajian kritis adalah ciri khas dari review. Apa yang saya sampaikan dalam forum ini masih jauh dari kajian kritis. Apa yang saya sampaikan sebatas kesan saya terhadap apa yang disajikan di film berdasarkan common sense.

        Meski saya kurang puas dengan performa saya, saya cukup senang dengan kesempatan ini karena berbicara di depan public tentang film di Gedung bioskop telah sejenak mengeluarkan saya dari zona nyaman saya. Saya jadi tersadar bahwa topik linguistic dengan tokoh-tokohnya semisal Haliday, Norman Fairclough, Van Dijk, dan mimbar kampus bukanlah satu-satunya zona nyaman. Di luar kampus ternyata ada zona yang tidak kalah nyaman untuk dinikmati, yaitu film, gedung bioskop, dan tokoh agamis seperti Buya Hamka. 

An alternative comfort zone

Untuk itu, dengan ini saya sampaikan terimakasih kepada Ibu-ibu jamaah majelis taklim yang telah mengundang saya. Undangan itulah yang menyadarkan saya bahwa kenyamanan hati dan pikiran bisa didapat dari berbagai tempat, termasuk tempat hiburan semisal Gedung bioskop. Semoga Allah senantiasa meridhai gerak kita, termasuk dakwah di Gedung bioskop.

 

Commuter Line Kereta Penataran menuju Malang, 9 Juni 2023

 


Selasa, 06 Juni 2023

MILAD

 



MILAD

 

                Tahun ini, tepatnya 19 Mei 2023 ‘Aisyiyah merayakan hari jadinya (milad) yang ke 106 dengan tema  Mencerahkan Perempuan, Mencerdaskan Bangsa. Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten memperingatinya pada tanggal 28 Mei 2023 di Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Universitas Muhammadiyah Malang, dan saya bertugas di Sie Acara.

        Acara ini dihadiri perwakilan dari Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA), amal usaha ‘Aisyiyah, sesepuh 'Aisyiyah, organisasi otonom Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM), dan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur. Jumlah hadirin secara keseluruhan sekitar 300 orang. Pra acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan menampilkan seni tari oleh murid-murid TK ABA 5 Dau dan SD Muhamammadiyah 8 Dau. Sedangkan putri-putri SMP ABSM Lawang menampilkan parade semaphore.

Sebagian panitia dengan sebagian hadirin sebagai background 

        Selama pra acara tersebut kami mendapat kabar bahwa Rektor UMM, Prof. Dr. Fauzan, M. Pd yang sedianya memberi sambutan tidak bisa hadir, dan diwakilkan kepada Bapak Dr. Muhammad Nur Hakim, M. Ag, Asisten Rektor bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Mendegar kabar ini, Ibu Titin selaku ketua panitia segera mengontak beliau untuk mengkonfirmasi kehadiran. Sedikit ketegangan terjadi diantara kami ketika kami mengetahui bahwa Bapak Nur Hakim bisa hadir paling cepat 30 menit lagi. Kami sedikit panik karena ruangan sudah penuh tamu undangan, sedangkan membuka acara tanpa kehadiran ‘tuan rumah’ rasanya tidak mungkin. Membiarkan sekian banyak orang menunggu selama 30 menit tentunya ‘sesuatu’ dan ini tidak bagus.

        Kondisi ini akhirnya membuat pra acara diperpanjang. Inilah yang akhirnya parade semaphore yang sedianya tampil siang hari akhirnya tampil di pagi hari. Putri-putri ABSM yang cantik-cantik itu tampil memikat dengan bendera semaphore-nya, dan penampilan mereka bisa mengundang tepuk tangan panjang dari para hadirin. Masa tunggu berikutnya diisi dengan pemutaran video profile SMP BASM. Selanjutnya diputarlah video berisi ucapan selamat milad dari para tokoh Muhammadiyah. Ketua PDM dan PDA Kabupaten Malang, perwakilan dari LazisMu, dan beberapa akademisi adalah seingat saya yang muncul dengan ucapan selamatnya.


  Salah satu ucapan Selamat Milad

        Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya acara dimulai pukul 09.00 meski perwkilan Rektor UMM belum hadir. Pembukaan, pembacaan ayat suci, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berjalan smooth, lancar dan nyaris tanpa kendala. Meski di rundown tertulis sambutan Rektor UMM sebelum pidato milad, tetapi dengan pertimbangan efisiensi dan kondusifitas suasana, maka pidato milad oleh Ibu Mursyidah selaku Ketua PDA Kabupaten Malang kami awalkan sembari menunggu yang ditunggu.

        Dalam pidato milad disebutkan bahwa milad tahun 2023 yang bertema Kepemimpinan Perempuan Mencerahkan Peradaban Bangsa bermaksud untuk meneguhkan dan mendorong kepemimpinan perempuan untuk membangun peradaban bangsa secara kolektif. Selain itu, milad tahun ini diharapkan bisa meningkatkan semangat ta’awun merawat persatuan dan menebar kebaikan bagi sesama.

    Pemberian bingkisan kepada sesepuh 'Aisyiyah dilakukan setelah pidato milad. Ada 3 orang sesepuh yang tahun ini diundang, yaitu: Ibu Siti Chotijah, Ibu Muyasaroh, dan Ibu Masruhatin. Mengundang sesepuh dalam acara milad sudah mentradisi di PDA Kabupaten Malang sebagai upaya penghormatan atas perjuangan mereka dalam ber-'Aisyiyah.


Pemberian tali asih kepada sesepuh--nomer empat, lima, enam--dari kiri


        Dalam sambutan sebagai wakil Rektor UMM, Bapak Muhammad Nur Hakim menyampaikan tentang sosok intelektual ‘Aisyiyah, salah satunya Ibu Siti Bariyah yang merupakan Ketua ‘Aisyiyah pertama. Selain sebagai ketua, Ibu Siti Bariyah juga terkenal dengan kecerdasannya yang terbukti salah satunya di tulisannya yang berjudul Tafsir Maksoed Moehammadijah yang dimuat di Mohammadijah edisi no.9 pada tanggal 4 september 1923.

Sambutan terakhir disampaikan oleh Sekretari PDM Kabupaten Malang Dr Ridwan Joharmawan. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pentingnya peran ‘Aisyiyah dalam organisasi Muhammadiyah. Selain itu, beliau juga menyampaikan cerita bagaimana Ibunda yang aktivis ‘Aisyiyah menanamkan ideologi Muhammadiyah sewaktu beliau masih kecil yang kesemuanya membekas dan berdampak sampai sekarang.

Acara seremonial milad ditutup dengan doa oleh Wakil Ketua PDA Kabupaten Malang, Ibu Supraptiningsih. Seminar dengan tema Mengatasi Kecanduan Internet dengan narasumber dr. Zuhrotun Ulya, Sp.Kj, M.H. adalah acara selanjutnya. Kegiatan ini disambut dengan antusias oleh hadirin. Hadirin dengan patuh mengikuti arahan narasumber untuk melakukan self-assessment. Sesi tanya jawab juga sanagt diminati oleh audience. Beberapa hadirin menyampaikan kasus kecanduan internet di lingkungan mereka, dan direspons dengan sangat bagus oleh narsum hingga hadirin bisa terpuaskan dengan jawabannya.


Seminar Kesehatan Jiwa

Sesi seminar berakhir sekitar pukul 12.00, dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai penanda berakhirnya seluruh rangkaian resepsi milad ke 106 ‘Aisyiyah.


 Sebagian anggota PCA dan PDA

So what?

      Terselenggaranya resepsi milad dengan menghadirkan perwkilan dari PCA, pengurus PDA, PDM, PWA, sesepuh, dan AUA, menurut saya seperti me-recharge baterai laptop atau HP. Milad seperti recharging karena milad menyadarkan bahwa ‘Aisyiyah adalah organisasi besar. Anggotanya banyak, menyebar di berbagai penjuru. Kesadaran ini bisa menumbuhkan semangat yang kadang nglokro ketika kita mendapati sangat sedikit kader yang bisa digerakkan untuk menjalankan program kerja. Milad juga menyadarkan bahwa 'Aisyiyah adalah organisasi senior. 106 tahun alias satu abad lebih bukanlah waktu yang singkat. Hanya organisasi yang teruji dalam banyak aspek yang bisa bertahan dan eksis dalam kurun sedemikian panjang. Mengingat akan hal ini bisa membangkitkan semangat dalam menjalankan tugas-tugas organisasi.  

Milad layaknya ngisi baterai karena di acara ini kita bisa dapat banyak ilmu. Ilmu sejarah bisa didapat dari Bapak Muhammad Nur Hakim yang berbicara banyak tentang tokoh-tokoh intelektual ‘Aisyiyah. Ilmu strategi penguatan ideologi didapat dari Bapak Ridwan Joharmawan, sekretaris PDM. Ilmu Kesehatan jiwa didapat dari seminar tentang kecanduan internet.

Milad layaknya nge-charge relasi antara PDA dengan PCA, dan antar PCA. Jauhnya jarak antara PCA satu dengan lainnya menjadi salah satu kendala dalam menjalankan roda organisasi. Bertemunya anggota PCA dan pengurus PDA di satu simpul dalam resepsi milad bisa mendekatkan jarak yang jauh. Saling bertegur sapa, saling mengucapkan salam, dan saling memaanjatkan doa secara luring bisa memperkuat emosi dan mempererat persaudaraan antar anggota.

Akhirnya, semoga resepsi milad 106 ‘Aisyiyah bisa menjadi ajang konsolidasi yang bisa memperkuat organisasi sehingga program-program kerja keumatan bisa tertunaikan dengan sempurna. Ridha dan ampunan Allah adalah yang kita tuju dengan persyarikatan sebagai titian. Semoga milad 106 dengan berbagai kegiatannya bisa menjadi kran penderas ridha dan ampunan-Nya. Aamiin…

 

Malang, 7 Juni 2023

 


Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...