MANTU
Tanggal 24 Juli
2022/25 Dzulhijjah 1443H, hari Ahad, saya punya gawe, yaitu mantu anak mbarep—Fatin
Philia Hikmah—yang menikah dengan Ahmad Faizul Walida Ismani. Bagi saya, gawe
tersebut bukanlah gawe sederhana.
Secara sosial,
mantu bukanlah gawe sederhana karena ini adalah pengumuman disahkannya hubungan
Fatin dan Faiz sebagai suami istri. Terikatnya Fatin dan Faiz secara hukum
agama dan negara berimplikasi pada banyak hal, tidak hanya implikasi di dunia,
tetapi sampai di akhirat. Secara sosial pula, peristiwa mantu berarti
menyatunya dua keluarga, yaitu keluarga saya dan keluarga besan yang tentunya
berimplikasi pada penyesuaian dalam banyak hal. Secara ekonomi, mantu juga
bukan peristiwa biasa. Sebagai event yang dihelat oleh institusi selevel rumah
tangga, mantu bukanlah peristiwa biasa secara ekonomi. Event ini melibatkan banyak
vendors, yang berarti pula banyak tenaga kerja terserap, dan itu berarti roda ekonomi
berputar.
Nah, bagaimana
gambaran peristiwa mantu yang saya dan keluarga helat tanggal 24 Juli 2022? Berikut
gambarannya.
Persiapan
Banyak sekali yang
harus dilakukan sebelum hari H. Hal pertama yang menjadi fokus perhatian pada
tahap ini adalah menentukan konsep acara. Setelah melalui banyak pembicaraan
dan dengan berbagai pertimbangan, maka SYUKURAN adalah konsep yang kami ambil.
Konsep ini menentukan banyak hal. Pertama jumlah undangan. Dengan
syukuran sebagai konsep acara, maka jumlah undangan sangat terbatas. Tanpa
berniat eksklusif dan tanpa mengurangi rasa hormat tehadap banyak kerabat dan
sahabat, maka undangan yang kami sebar sekitar 250 dengan estimasi sekitar 500
tamu. Kedua, dengan syukuran sebagai konsep, maka kami putuskan tidak
menerima uang sumbangan (buwuhan). Tujuan kami adalah menjadikan acara mantu ini sebagai media berbagi rasa bahagia
atas kesempatan yang Allah berikan kepada kami mengantarkan anak mbarep sampai
memasuki jenjang rumah tangga. Bisa membesarkan anak, mendampinginya sekolah
hingga pendidikan tinggi, dan menikahkannya sesuai sunnah Rasul adalah rahmat
dan karunia Allah yang wajib disyukuri. Salah satu bentuk syukur yang kami
ambil adalah berbagi dengan
kerabat dan sahabat dekat.

Undangan: salah satu bukti dan saksi dari ikatan suci Fatin & Faiz
Ketiga, konsep syukuran dan jumlah undangan yang
telah ditetapkan menjadi pijakan untuk melakukan persiapan yang sifatnya sangat
teknis, yaitu menentukan gedung sebagai venue, catering, dekor, make up,
Wedding Organizer, dll. Dengan berbagai pertimbangan, maka kami tetapkan
Convention Hall Sengkaling sebagai venue acara, Duta Catering sebagai penyedia
hidangan, dan Extra Ordinary WO sebagai pengatur acara. Sedangkan tempat
bermalam bagi kerabat dekat dan keluarga besan adalah Muslim Guest House dan
Putri Utari Guest House.
Pelaksanaan
Hari yang
ditunggu-tunggu, yaitu 24 Juli 2022 (Ahad) itu tiba juga. Acara ini terbagi
dalam dua sesi, yaitu akad nikah dan syukuran. Akad nikah diawali dengan penyambutan
calon mempelai pria oleh kami, keluarga calon mempelai perempuan. Dalam
penyambutan ini ada sesi saling berjabat tangan antar orang tua, sambutan kulanuwun
dari pihak pria yang disampaikan oleh Pakdhe-nya Faiz dan direspons
dengan sambutan selamat datang oleh Pakdhe-nya Fatin (Mas Yudi).
Selanjutnya adalah pengalungan melati ke calon mempelai pria oleh suami saya (ayah
mempelai perempuan), dan dilanjut dengan pemberian minum kepada calon mempelai
pria oleh saya.
Pengalungan melati: Salah satu prosesi dalam penyambutan
Begitu acara penyambutan
selesai, maka dilanjut dengan acara akad nikah. Yang terlibat dalam acara ini
adalah petugas pencatat dari KUA, saksi, dan suami saya selaku wali nikah.
Sebagai saksi dari pihak Fatin adalah Dik Samsu (adik suami, yang berarti
Om-nya Fatin), dan Ustadz Asrukhin menjadi saksi dari pihak pria. Maharnya berupa uang tunai sebesar dua juta empat ratus
tujuh puluh ribu rupiah (Rp 2.470.000).
Ijab kabul
dilaksanakan dalam Bahasa Arab. Kalimat-kalimat Bahasa Arab yang diucapkan oleh
suami saya selaku wali nikah disambut dengan sangat lancar oleh mempelai pria
hingga sekali ucap langsung dianggap sudah sah. Penyerahan mahar, penanda
tanganan buku nikah, dan pembacaan sighat taklik adalah acara selanjutnya
sekaligus penutup dari prosesi akad nikah. Pemasangan cincin dan sungkeman yang
notabene di luar prosesi nikah dilaksanakan langsung setelah akad nikah usai.
Ijab Kabul dalam Bahasa Arab oleh wali nikah
Fatin & Faiz sudah sah sebagai suami istri
Salah satu
cita-cita yang sering Fatin lontarkan adalah keinginannya menikah dengan
didampingi para gurunya. Alhamdu lillah, cita-cita terkabul. Kedua guru yang
selama ini menjadi panutan Fatin—Ustadz Afri Andiarto dari Ustadz Khaliel Anwar—bisa
hadir. Ustadz Afri Andiarto berkenan
memimpin doa untuk kedua mempelai dan dilanjutkan dengan tausiah oleh Ustadz
Khaliel Anwar.
Ustadz Afri Ardianto untuk dua mempelai
Tausiah Ustadz ini
menandai akhir dari prosesi acara akad nikah. Selanjutnya adalah acara syukuran
yang diisi dengan ramah tamah dan menikmati hidangan. Di sela-sela tersebut
adalah foto bersama dengan mempelai berdua. Hampir semua tamu mendapat
kesempatan untuk foto bersama.
Seluruh rangkaian
acara berakhir pada pukul 13.00. Semua acara berjalan lancar, nyaris tidak ada
kendala. Alhamdu lillah.
Closing
Remarks
Apa yang saya
rasakan ketika akan, sedang, dan sesudah mantu? Secara umum, saya merasa lega,
senang, dan bahagia. Sebagai orang tua, membesarkan, menyekolahkan anak sampai
jenjang pendidikan tinggi dirasa belum komplit bila belum mengantarkan anak ke
gerbang rumah tangga. Dengan terselenggaranya acara mantu seperti yang saya
paparkan di atas, maka tidaklah berlebihan bila saya merasa lega karena sudah
bisa menggenapi tugas besar sebagai orang tua.
Di sisi lain ada
juga perasaan kuatir kehilangan. Kami berempat sangat lah dekat. Saya merasa
kami berempat adalah tim yang sangat solid. Kegembiraan bagi salah satu dari
kami adalah kegembiraan bagi yang lain. Kesedihan bagi yang satu juga kesedihan
bagi yang lain. Kerepotan, kesedihan, dan kegembiraan bagi kami sifatnya sangat
kolektif. Dengan menikahnya Fatin dengan Faiz, ada kekhawatiran pada diri saya
bahwa kesolidan tersebut akan berkurang. Akan tetapi, sebagai ibu, saya harus melawan
perasaan khawatir tersebut dan menggantinya dengan keyakinan, harapan, dan doa
bahwa kehadiran Faiz dalam kehidupan Fatin dan kami akan menjadikan kami tim
yang lebih kuat dan lebih solid. Saya yakin Fatin dan Faiz adalah anak yang taat
adab, terutama adab terhadap orang tua dan keluarga.
Kami semakin solid
Muncul juga
perasaan takut sulit beradaptasi dengan kehadiran menantu. Saya tidak terbiasa
dengan anak laki-laki karena dua anak saya perempuan semua. Hadirnya Faiz
sebagai anak laki-laki menuntut saya untuk beradaptasi dalam banyak hal
mengingat karakter laki-laki dan perempuan banyak perbedaannya. Akan tetapi, perasaan ini bisa saya lawan dengan
keyakinan bahwa Faiz adalah anak yang supel, mudah bergaul dan mudah
beradaptasi. Sifat Faiz yang saya yakini lentur itu bisa menjadi pemudah bagi
kami untuk saling menyesuaikan. Saya yakin, siapapun orangnya yang jadi
menantu saya, saya akan tetap dituntut untuk beradaptasi. Adaptasi bagi sesuatu
yang baru adalah keniscayaan. Dengan keyakinan ini, saya terima Faiz dengan
sangat terbuka. Seiring dengan berjalannya waktu, kami bisa bersenyawa.
In a nutshell, mantu
adalah bukan gawe sederhana. Ada banyak ke-rebyek-an yang
mengiringinya. Namun demikian, di balik kerebyekan, ada perasaan lega, bahagia,
dan penuh syukur atas kesempatan yang Allah berikan untuk bisa mantu. Kekhawatiran
akan ditinggal anak yang dimantu dan kesulitan beradaptasi dengan menantu
adalah riak kecil yang bisa teratasi. Akhirnya, acara mantu ini adalah
dimulainya kehidupan baru bagi Fatin dan Faiz. Doa Bunda adalah semoga rumah tangga kalian nanti
bisa menjadi pintu penderas turunnya rahmat dan ridha Allah. Semoga kalian
nanti mendapatkan keturunan yang nyaman dipandang mata dan bisa menjadi
pemimpin kaum beriman. Aamiin……
Malang, 2 Agustus
2022