Rabu, 31 Agustus 2022

BLOGGING

 

BLOGGING

By Nurul Chojimah

 What is blogging? In a simple term, I can define blogging as the activity of writing a composition and upload it in a blog. What can we upload in it? It can be any genre of writing. If you are a food lover, you can write anything about food such recipes, your favorite food, procedures of cooking the food, and others. If you are a traveler, you can pour your travelling experiences in short or long compositions. If you are a teacher, you can share your teaching materials in it. You can share anything, simple or complex things.

What is the benefit of blogging? At least, it can be the medium for sharpening our skill in writing. Writing is a skill. Skill needs consistent and long duration of training. The more frequent we learn, the more skillful we will be. Blogging facilitates the learning so that consistent blogging enables bloggers to be skillful in writing. Another benefit of blogging is that the blogger is ‘urged’ to be confident in their writing. Most new writers do not publish their writing because they are not confident with the quality of their writings. They are worried about negative comments from reviewers and the publisher’s rejection. Blogging does not require bloggers to pass the editor’s review, and it does not need the screening from the publisher. A blogger is the owner of the blog; she/he is the editor, the reviewer and also the publisher of the writing. Blogging enables bloggers to publish their writing without review and screening.


Relying on the benefits of blogging, I assign my students taking Creative Writing course to do the blogging. I assign them to write a short composition, be fiction or nonfiction, weekly and upload it in their blog. Their writing should be at least 10 sentences in length, and it should be away from the hate speech. They are not confined to the topic. I let them free to choose the topic. Their productivity and their commitment to learn in English writing is my main concern. They can write poetry, proses, letters, recipes, advertisement texts, diaries, prayers to Allah SWT, and others. Despite the importance of understanding theories in writing, consistent practice to write is the shortcut to be a writer (Naim, 2022). I truly agree with his opinion.

As they upload the writing in their blog, they have to share the blog link in the WhatsApp Group, so the members of the group can read it and share comments. The comments are required because they serve as the energizer for the writer.

Through blogging, my students are trained to be able to verbalize what they see, hear, and taste. Hopefully, verbalizing simple things surrounding them might change their impression on writing. Writing as a burden is transformed into writing as an enjoyment.

 Malang, September 1, 2022

Selasa, 02 Agustus 2022

MANTU

 

MANTU

Tanggal 24 Juli 2022/25 Dzulhijjah 1443H, hari Ahad, saya punya gawe, yaitu mantu anak mbarep—Fatin Philia Hikmah—yang menikah dengan Ahmad Faizul Walida Ismani. Bagi saya, gawe tersebut bukanlah gawe sederhana.

Secara sosial, mantu bukanlah gawe sederhana karena ini adalah pengumuman disahkannya hubungan Fatin dan Faiz sebagai suami istri. Terikatnya Fatin dan Faiz secara hukum agama dan negara berimplikasi pada banyak hal, tidak hanya implikasi di dunia, tetapi sampai di akhirat. Secara sosial pula, peristiwa mantu berarti menyatunya dua keluarga, yaitu keluarga saya dan keluarga besan yang tentunya berimplikasi pada penyesuaian dalam banyak hal. Secara ekonomi, mantu juga bukan peristiwa biasa. Sebagai event yang dihelat oleh institusi selevel rumah tangga, mantu bukanlah peristiwa biasa secara ekonomi. Event ini melibatkan banyak vendors, yang berarti pula banyak tenaga kerja terserap, dan itu berarti roda ekonomi berputar.

Nah, bagaimana gambaran peristiwa mantu yang saya dan keluarga helat tanggal 24 Juli 2022? Berikut gambarannya.

Persiapan

Banyak sekali yang harus dilakukan sebelum hari H. Hal pertama yang menjadi fokus perhatian pada tahap ini adalah menentukan konsep acara. Setelah melalui banyak pembicaraan dan dengan berbagai pertimbangan, maka SYUKURAN adalah konsep yang kami ambil. Konsep ini menentukan banyak hal. Pertama jumlah undangan. Dengan syukuran sebagai konsep acara, maka jumlah undangan sangat terbatas. Tanpa berniat eksklusif dan tanpa mengurangi rasa hormat tehadap banyak kerabat dan sahabat, maka undangan yang kami sebar sekitar 250 dengan estimasi sekitar 500 tamu. Kedua, dengan syukuran sebagai konsep, maka kami putuskan tidak menerima uang sumbangan (buwuhan). Tujuan kami adalah menjadikan acara mantu ini sebagai media berbagi rasa bahagia atas kesempatan yang Allah berikan kepada kami mengantarkan anak mbarep sampai memasuki jenjang rumah tangga. Bisa membesarkan anak, mendampinginya sekolah hingga pendidikan tinggi, dan menikahkannya sesuai sunnah Rasul adalah rahmat dan karunia Allah yang wajib disyukuri. Salah satu bentuk syukur yang kami ambil adalah berbagi dengan kerabat dan sahabat dekat.


                     Undangan: salah satu bukti dan saksi dari ikatan suci Fatin & Faiz 

Ketiga, konsep syukuran dan jumlah undangan yang telah ditetapkan menjadi pijakan untuk melakukan persiapan yang sifatnya sangat teknis, yaitu menentukan gedung sebagai venue, catering, dekor, make up, Wedding Organizer, dll. Dengan berbagai pertimbangan, maka kami tetapkan Convention Hall Sengkaling sebagai venue acara, Duta Catering sebagai penyedia hidangan, dan Extra Ordinary WO sebagai pengatur acara. Sedangkan tempat bermalam bagi kerabat dekat dan keluarga besan adalah Muslim Guest House dan Putri Utari Guest House.

Pelaksanaan

Hari yang ditunggu-tunggu, yaitu 24 Juli 2022 (Ahad) itu tiba juga. Acara ini terbagi dalam dua sesi, yaitu akad nikah dan syukuran. Akad nikah diawali dengan penyambutan calon mempelai pria oleh kami, keluarga calon mempelai perempuan. Dalam penyambutan ini ada sesi saling berjabat tangan antar orang tua, sambutan kulanuwun dari pihak pria yang disampaikan oleh Pakdhe-nya Faiz dan direspons dengan sambutan selamat datang oleh Pakdhe-nya Fatin (Mas Yudi). Selanjutnya adalah pengalungan melati ke calon mempelai pria oleh suami saya (ayah mempelai perempuan), dan dilanjut dengan pemberian minum kepada calon mempelai pria oleh saya.


                    Pengalungan melati: Salah satu prosesi dalam penyambutan

Begitu acara penyambutan selesai, maka dilanjut dengan acara akad nikah. Yang terlibat dalam acara ini adalah petugas pencatat dari KUA, saksi, dan suami saya selaku wali nikah. Sebagai saksi dari pihak Fatin adalah Dik Samsu (adik suami, yang berarti Om-nya Fatin), dan Ustadz Asrukhin menjadi saksi dari pihak pria. Maharnya  berupa uang tunai sebesar dua juta empat ratus tujuh puluh ribu rupiah (Rp 2.470.000).

Ijab kabul dilaksanakan dalam Bahasa Arab. Kalimat-kalimat Bahasa Arab yang diucapkan oleh suami saya selaku wali nikah disambut dengan sangat lancar oleh mempelai pria hingga sekali ucap langsung dianggap sudah sah. Penyerahan mahar, penanda tanganan buku nikah, dan pembacaan sighat taklik adalah acara selanjutnya sekaligus penutup dari prosesi akad nikah. Pemasangan cincin dan sungkeman yang notabene di luar prosesi nikah dilaksanakan langsung setelah akad nikah usai.

                                         Ijab Kabul dalam Bahasa Arab oleh wali nikah


                                    

                                              Fatin & Faiz sudah sah sebagai suami istri

Salah satu cita-cita yang sering Fatin lontarkan adalah keinginannya menikah dengan didampingi para gurunya. Alhamdu lillah, cita-cita terkabul. Kedua guru yang selama ini menjadi panutan Fatin—Ustadz Afri Andiarto dari Ustadz Khaliel Anwar—bisa  hadir. Ustadz Afri Andiarto berkenan memimpin doa untuk kedua mempelai dan dilanjutkan dengan tausiah oleh Ustadz Khaliel Anwar.


                                        Ustadz Afri Ardianto untuk dua mempelai

Tausiah Ustadz ini menandai akhir dari prosesi acara akad nikah. Selanjutnya adalah acara syukuran yang diisi dengan ramah tamah dan menikmati hidangan. Di sela-sela tersebut adalah foto bersama dengan mempelai berdua. Hampir semua tamu mendapat kesempatan untuk foto bersama.

Seluruh rangkaian acara berakhir pada pukul 13.00. Semua acara berjalan lancar, nyaris tidak ada kendala. Alhamdu lillah.    

Closing Remarks

Apa yang saya rasakan ketika akan, sedang, dan sesudah mantu? Secara umum, saya merasa lega, senang, dan bahagia. Sebagai orang tua, membesarkan, menyekolahkan anak sampai jenjang pendidikan tinggi dirasa belum komplit bila belum mengantarkan anak ke gerbang rumah tangga. Dengan terselenggaranya acara mantu seperti yang saya paparkan di atas, maka tidaklah berlebihan bila saya merasa lega karena sudah bisa menggenapi tugas besar sebagai orang tua.

Di sisi lain ada juga perasaan kuatir kehilangan. Kami berempat sangat lah dekat. Saya merasa kami berempat adalah tim yang sangat solid. Kegembiraan bagi salah satu dari kami adalah kegembiraan bagi yang lain. Kesedihan bagi yang satu juga kesedihan bagi yang lain. Kerepotan, kesedihan, dan kegembiraan bagi kami sifatnya sangat kolektif. Dengan menikahnya Fatin dengan Faiz, ada kekhawatiran pada diri saya bahwa kesolidan tersebut akan berkurang. Akan tetapi, sebagai ibu, saya harus melawan perasaan khawatir tersebut dan menggantinya dengan keyakinan, harapan, dan doa bahwa kehadiran Faiz dalam kehidupan Fatin dan kami akan menjadikan kami tim yang lebih kuat dan lebih solid. Saya yakin Fatin dan Faiz adalah anak yang taat adab, terutama adab terhadap orang tua dan keluarga.


                                                Kami semakin solid

Muncul juga perasaan takut sulit beradaptasi dengan kehadiran menantu. Saya tidak terbiasa dengan anak laki-laki karena dua anak saya perempuan semua. Hadirnya Faiz sebagai anak laki-laki menuntut saya untuk beradaptasi dalam banyak hal mengingat karakter laki-laki dan perempuan banyak perbedaannya.  Akan tetapi, perasaan ini bisa saya lawan dengan keyakinan bahwa Faiz adalah anak yang supel, mudah bergaul dan mudah beradaptasi. Sifat Faiz yang saya yakini lentur itu bisa menjadi pemudah bagi kami untuk saling menyesuaikan. Saya yakin, siapapun orangnya yang jadi menantu saya, saya akan tetap dituntut untuk beradaptasi. Adaptasi bagi sesuatu yang baru adalah keniscayaan. Dengan keyakinan ini, saya terima Faiz dengan sangat terbuka. Seiring dengan berjalannya waktu, kami bisa bersenyawa.

In a nutshell, mantu adalah bukan gawe sederhana. Ada banyak ke-rebyek-an yang mengiringinya. Namun demikian, di balik kerebyekan, ada perasaan lega, bahagia, dan penuh syukur atas kesempatan yang Allah berikan untuk bisa mantu. Kekhawatiran akan ditinggal anak yang dimantu dan kesulitan beradaptasi dengan menantu adalah riak kecil yang bisa teratasi. Akhirnya, acara mantu ini adalah dimulainya kehidupan baru bagi Fatin dan Faiz. Doa Bunda adalah semoga rumah tangga kalian nanti bisa menjadi pintu penderas turunnya rahmat dan ridha Allah. Semoga kalian nanti mendapatkan keturunan yang nyaman dipandang mata dan bisa menjadi pemimpin kaum beriman. Aamiin……

 

Malang, 2 Agustus 2022    

Mbakyu Anjarwati

  Mbakyu Anjarwati                  Mbakyu adalah sebutan bagi perempuan yang lebih tua atau karena dianggap lebih tua. Kakak kandung pe...